"Sial sial, Dhala kalau kita telat gimana?"
"Dhala huwee, gua enggak mau dijemur lebih lama lagi, bawanya ngebut cepetan, Dhal-- Ahh! Sialan!" Nayya semakin melingkarkan dua tangannya pada perut Dhala ketika Dhala menancap gas semakin tinggi.
"Ngebut mode on. Pegangan kuat-kuat Nay kalau lo enggak mau terbang, soalnya kalau lo jatuh gua enggak mau bantu. Buruan pegangan!"
Tahan. Nayya ingin mengumpati dan menjambak rambut Dhala habis-habisan, namun tunggu sebentar, ini bukan saatnya untuk membuang lagi waktu, maka yang ia lakukan hanyalah menurut. Dibalik helm nya, Dhala tersenyum penuh kemenangan, disela-sela jantungnya berdegup kencang, ia membelah kerumunan jalan dan sampai ke sekolah dengan waktu yang pas.
Pukul tujuh lewat lima menit, semua siswa mulai berhamburan untuk pergi ke lapangan, Nayya turun dari atas motor, langsung aja melenggang pergi, namun baru tiga langkah, Dhala sudah mencekal tangannya lebih dulu.
"Ck, apa? Oh iya lo sadar diri juga, gua belum pukul pukul lo tadi, bawa motor kaya orang mabok lo, sini gua pukul!" Nayya memukul lengan Dhala dengan tas kecilnya. Sedangkan laki-laki itu terkekeh tak habis pikir.
"Lepasin woy, gua mau ke kelas simpan tas, Dhala sialan, jelek, ngeselin, tukang ngibul, lepasin gua! Wah ini namanya pencitraan lo terhadap perempuan," kata Nayya menaikkan sedikit nada bicaranya.
"Gua mewakili seluruh dunia mengucapkan, bodo amat, tapi tunggu." Dhala semakin mendekat pada Nayya.
Gadis itu mundur beberapa langkah sampai tubuhnya mengenai tembok besar sekolah. "Dha--Dhala lo mau ngapain anjir!"
Dua mata tajam milik Dhala menelisik inci wajah Nayya. Jarak mereka semakin dekat, Nayya memejamkan mata kuat-kuat, lalu setelah itu, ia bisa merasakan, kepalanya yang sedikit tertoleh, rupanya, Dhala hanya mengambil helm yang masih menempel pada kepalanya itu.
"Helm. Enggak nyadar lo? Padahal pake helm kepala terasa berat, atau jangan-jangan lo itu bukan manusia lo si--"
Dua mata Dhala membulat saat tangan Nayya membekap mulutnya. Kembali, dua mata mereka saling bertemu, dan menciptakan debaran aneh, baik Nayya maupun Dhala masih dalam posisi yang sama, juga perasaan yang tak karuan.
Disela-sela keromantisan, seseorang mengejutkan mereka membuat keduanya sama-sama berdehem dan memalingkan wajah mencari sebuah alasan.
"A--aduh, duh, Bapak! Kok saya dicubit sih." Dhala menggaduh sambil mengusap lengannya yang terasa perih.
"Heh Dhala! Ini tuh masih pagi, udah pacaran, mana ditempat umum, 'kan jiwa jomblo saya meronta-ronta minta dinikahin gitu lho, iya enggak Nayya?"
Nayya yang mendengarnya cengengesan, sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Dih, ingat umur Pak, bapak ini duda anak satu mau nikahin Nayya yang masih perawan? Hih, tamatlah dunia ini. Udahlah, ayo Nay pergi, virus Pak Wawan bisa terciprat nanti." Dhala menarik tangan Nayya menjauhi tempat tadi, dengan Pak Wawan yang masih teriak-teriak memangil nama Dhala dan Nayya bergantian.
Dengan Dhala yang menarik napas, lalu membuang napas menahan kesal. Nayya justru mencuri-curi pandang terus menerus, dalam batinnya, Dhala kenapa? Seperti orang yang terlihat kesal.
Nayya tersenyum jahil, ia mundur dua langkah lalu membiarkan Dhala berjalan sendirian tanpa menyadari jika Nayya sudah tertinggal di belakang. Gadis itu menahan tawa, lalu bersembunyi dibalik tembok kelas.
"Nay, lo tahu toko kue yang rekomendasiin kue buat penderita deabet?"
"Nay?" Dhala berhenti berjalan, merasakan tidak ada orang disampingnya, kemudian menoleh. Kosong, tidak ada siapapun.
"Nayya?!"
"Nayyanika! Woy!"
Nayya tertawa, pelan sekali. Menyadari langkah kaki Dhala yang kembali mendekat, Nayya membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara apapun, bayangan Dhala sudah terlihat, laki-laki itu celingak-celinguk di belakang Nayya. Melangkah pelan, Nayya menarik rambut belakang Dhala membuat sang empu dengan nyaring berteriak.
"Ngapain sih woy! Lo-"
"Udah-udah gua cuman, cuman bosan, enggak ada kerjaan jadi begini. Udahlah, buruan ke kelas simpan tas. Lo bilang jangan buang-buang waktu, waktu adalah uang, uang adalah duit, dan duit bisa bikin perut gua kenyang dengan membeli semangkuk batagor."
Gadis itu? Ck. Dhala mengumpat dalam hati, lalu ikut mengejar Nayya. Kembali ada drama dipagi hari yang kerap kali membuat orang-orang, sudah menganggap dua sejoli itu memang memiliki sebuah hubungan khusus. Padahal lama mereka berjumpa atau bahkan dekat, itu sudah belasan tahun lamanya.
Membuang waktu kurang lebih setengah jam, atau bahkan lebih, berdiri didepan tiang bendera, dan berbaris setiap kelas, dibawah panasnya sinar matahari, Dhala menutup dua telinga mendengar ocehan-ocehan siswi yang katanya pegal lah, kulitnya terbakar lah, dan masih banyak lagi.
"Bubar jalan!"
Helaan napas semua siswa terdengar lega. Dhala berjalan ke sisi lapangan, mencari tempat teduh setelah pagi-pagi seperti ini harus panas-panasan.
"Dhala, lo tadi bawa jaket 'kan ya?" ia berjinjit, kaget, tiba-tiba saja Nayya sudah berdiri dan berjalan disampingnya.
"Hooh, bawa kenapa?"
"Mau pinjam." Nayya tercengir, membuat Dhala gemas. Tanpa sadar tangannya terangkat, dan mengusak rambut Nayya yang terurai panjang.
"Ini 'kan gerah Nay, ngapain lo mau pinjam jaket gua?" tanya Dhala sedikit heran.
"Ya enggak sekarang juga dong dipake nya, nanti gua ikut ke kelas lo dulu ya, ngambil jaket lo," ujarnya dibalas anggukan oleh Dhala.
Berjalan menuju kelas 12 IPA 3. Nayya berdiri didepan pintu sambil menunggu-nunggu Dhala keluar dari kelas, tidak berselang lama karena setelah itu Dhala sudah kembali muncul dan menyodorkan apa yang Nayya pinta.
"Makasiihh sepupuku, kalau gitu gua balik ke kelas ya, byee."
Nayya berbalik, dan kejadian tidak terduga terjadi. Ia ditabrak seseorang, membuat keduanya jatuh. Mendengar dentuman suara orang jatuh, Dhala membalikan badan, dan mendapati Nayya dengan seorang laki-laki yang ia baru lihat hari ini. Seragamnya juga beda dari seragam siswa lain, ia tebak, laki-laki itu siswa baru.
Dhala membantu Nayya berdiri, begitupun orang baru itu. Sempat saling diam. Sebelum pada akhirnya si lelaki itu lebih memilih berjalan meninggalkan keduanya tanpa sepatah kata pun, Nayya yang memang ceplas ceplos langsung saja berteriak lantang tidak terima.
"Ada ya orang yang udah nabrak duluan enggak ada ucapan maaf, apa kek basa-basi. Murid baru, belagu lo!"
"Enggak usah diladenin. Sana masuk kelas," ucap Dhala menengahi. Ia tepikal orang yang malas berurusan dengan masalah yang dibuat dan dibangun sendiri. Jadi untuk mengindari konflik antara Nayya dan orang tadi, ia tidak ingin Nayya lebih banyak berurusan dengan orang tadi.
Lagipun, tidak ada yang tahu. Sikap dan sifatnya seperti apa bukan? Bisa saja diam-diam begitu, tumbuh menjadi dendam dan menghancurkan kehidupan Nayya seperti kejadian tidak terduga tadi. Tidak ada yang tahu nasib kedepannya seperti apa.
"Pagi-pagi bikin gua abrasi!"
"Emosi Nay, emosi, lo kata pengikisan tanah!"
"Iya itu maksudnya, yaudahlah gua balik ke kelas. Awas aja itu cowok kalau ketemu gua lagi, geprek pala nya langsung, ish!"
Dhala membuang napas, melihat gerutuan Nayya sepanjang gadis itu berjalan. Kembali, lembar ketiga ditutup oleh suasana hati Nayya yang berantakan, dan sebuah perasaan aneh muncul secara tiba-tiba pada sosok Mandhala ini.
Kenapa ya?
Semangat ❤️❤️❤️
Comment on chapter Bab 3