Aku menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Sesekali aku menggoyang-goyangkan kakiku, sementara roda pikiranku masih terus berputar cepat. Entah untuk yang keberapa kalinya aku mengingat kejadian sore tadi, aku tidak tahu. Tetapi, yang jelas aku kembali mengingatnya, memutar kembali kejadian itu bagaikan kaset yang sudah rusak karena terus-menerus diputar. Bagaikan slide presentasi guruku di sekolah.
Ah, sialan. Kalau ia ingin membuatku resah karena kata-katanya, well, kurasa ia berhasil melakukannya. Kata-katanya itu benar-benar berhasil mengusikku. Seperti tulang ikan yang tersangkut di kerongkongan, atau seperti bulu mata yang tak sengaja masuk ke dalam mata.
Mengganggu.
Ah, sialan, rutukku lagi dalam hati. Well, sebenarnya aku benci mengakui ini, tapi dia benar. Dan sekarang aku tidak tahu, apakah seharusnya aku berterima kasih karena kata-katanya yang membuatku serasa ditonjok di perut, atau memaki-maki karena ia telah berhasil membuatku tak bisa tidur.
Aku memejamkan mataku, dan kembali mengingat kejadian sore tadi.
***
“Dasar erotomania.”
Aku melotot, menatapnya tidak terima. “Tidak!” seruku kesal.
Laki-laki itu melakukan tendangan 540° sebelum akhirnya menjawab, “Bodoh,” ia menatapku acuh tak acuh dan melanjutkan, “Tidak perlu menjadi seseorang yang jenius untuk mengetahuinya.”
Aku masih menatapnya kesal. Siapa yang bisa menerima kata-katanya?
Ia kembali melakukan tendangan 540°, masih dengan semangat yang membara. Ah, dia hebat sekali. Tendanganku saja masih lemah.
Akhirnya ia menghentikan latihannya, dan duduk di sampingku. “Kau bisa percaya padaku, Zevannya Daniella,” ujarnya sambil mengeringkan dahinya yang basah oleh keringat. Bahkan dobok-nya[1] pun sudah basah kuyup. “Dia tidak pantas untukmu.”
Aku menatapnya acuh tak acuh, tetapi ia tak mempedulikannya dan melanjutkan, “Kau itu erotomania, kau tahu? Dia sama sekali tidak menyayangimu,” ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku dan melirikku. “Khayalanmu terlalu tinggi.”
Aku menatapnya, dan ia membalas tatapanku. Ia menghela napas, mengembuskannya pelan, dan berkata, “Semua hal yang ia lakukan padamu lebih dari cukup untuk membuktikan kalau ia tidak menyayangimu, Vannya. Aku yakin, kau pasti sudah tahu itu. Tapi, kenapa kau masih saja melihatnya?” ia kembali menghela napas, sebelum akhirnya melanjutkan dengan suara yang nyaris tak terdengar olehku, “kapan kau akan melihatku?”
“Aku melihatmu, Jonatan,” ujarku.
Jonatan mengembuskan napasnya pelan. “Kau benar-benar bodoh, Vannya,” gumamnya. Ia bangkit dari bangku, berjalan menjauh.
Dan aku hanya bisa diam, menatap punggungnya yang semakin menjauh.
***
Aku menghembuskan napas dengan kasar. Kata-kata terakhirnya kini terngiang-ngiang di telingaku. Kapan kau akan melihatku?
Dan apa katanya? Aku bodoh?
Yang benar saja. Aku tidak bodoh. Aku masih cukup pintar untuk tahu apa maksud kata-katanya.
Yah, memang harus kuakui, laki-laki itu memang tidak menyayangiku, seperti kata Jonatan. Dan dengan bodohnya aku masih menyayanginya.
Dan harus kuakui, Jonatan sudah seperti tambatan hatiku. Aku selalu menceritakan apapun padanya, bersandar dan menangis di pundaknya, dan ia selalu memelukku, membiarkanku mendengarkan detak jantungnya yang menenangkan, yang—tanpa kusadari—menjadi favoritku, entah sejak kapan.
Kini wajahnya berenang-renang di otakku. Senyumnya yang manis. Wajahnya yang tampan, Pelukannya yang hangat.
Ah, aku merindukanmu, Jonatan.
[1] Seragam taekwondo