Loading...
Logo TinLit
Read Story - BUKAN MIMPIMU
MENU
About Us  

Hidup seorang diri, ditinggal ibu di balik jeruji besi, ditinggal bapak lari dari polisi, sungguh malang anak ini. Mungkin semalang itu aku dimata orang. Sehingga tatapan mereka kepadaku penuh belas kasih. Memang sudah lama aku tidak tinggal dengan orang tuaku melainkan dengan tanteku. Karena orangtuaku memang meninggalkanku di sini sejak aku masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Yang kuingat kala itu ayah dan ibu mengajakku pergi dari rumahku yang ada di Sumatera. Mereka meninggalkanku di sebuah stasiun di Yogyakarta kemudian tante dan paman menjemputku dan aku tinggal bersama mereka. Ya hanya sesederhana itu alasan kenapa aku tinggal dengan tanteku. Kegiatanku saat awal tinggal di sini hanya membantu tante di sawah, cari siput untuk dijual, dan itu saja. Aku tidak mau di rumah sendiri hanya karena takut ada orang-orang yang bertanya di mana bapak mu dimana ibu mu. Mereka adalah rentenir. Kenapa aku tidak di sekolahkan saja oleh tanteku ? bukan tidak hanya saja belum, karena persyaratan masuk sekolah ada di sumatra , aku sama sekali tidak mempunyai surat identitas. Sampai akhirnya tanteku memohon pada kepala sekolah SD terdekat untuk menerimaku. Dengan negosiasi yang lama dan penuh persyaratan akhirnya Aku sekolah juga. Aku menikmati hidup dengan tanteku di jawa karena di sini banyak orang yang sayang kepadaku, mungkin lebih tepatnya mengasianiku. Aku tidak ingin tahu dimana kedua orang tuaku supaya ketika aku ditanya orang "Di mana bapak ibumu?" aku bisa menjawab "Aku tidak tahu," dengan begitu aku berharap mereka tidak akan menyakiti kedua orang tuaku. Ada perasaan sedih di dalam tapi tidak di mata tanteku,pamanku,saudara-saudaraku.. Aku menghilangkan rasa sedih itu menjadi benci, dengan begitu aku tidak akan merasakan rindu kepada kedua orang tuaku (itu hanya nampaknya). Waktu berlalu begitu cepat sampai aku sudah ada di bangku SMA dan masih belum ada kabar dari kedua orangtuaku. Sampai akhirnya sepulang sekolah rumah tante begitu ramai, tatapan penuh kasihan itu tertuju lagi kepadaku. " yang sabar ya nak, yang penting kamu sekolah yang pintar, orang tuamu gak usah dipikirkan", aku masih bingung ada apa lagi ini. aku tidak ingin bertanya "ada apa" kesekelilingku karena aku takut mereka akan memberiku kabar buruk. sehingga kala itu aku memilih untuk mengabaikan mereka dan makan di dapur. Tanteku mendatangiku dan menceritakan bahwa Ibuku di tangkap polisi dan bapakku jadi buronan. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dan menahan air mata. Jangan sampai tanteku mengira aku sedih. Tapi kala itu air mataku tetap terjatuh karena semua orang di rumah, tetanggaku yang datang ke rumah melihatku dengan penuh haru. " Aku tidak apa-apa, memang seperti inilah ujianku". Begitulah latar belakang keluargaku,aku Nita si anak NAPI.

Hidupku lebih hidup setelah mendapat ujian yang cukup berat dari Yang Kuasa tersebut.

" Makni.." begitu aku memanggil tanteku,"Makni lulus SMA aku mau lanjut kuliah ya ?"

Makniku tidak pernah memang tidak pernah mematahkan mimpiku,"Iya dong, kalo bisa kuliah saja Nit, makni pasti setuju, hanya saja makni tidak bisa membantu secara finansial"

" Tenang Mak Nita akan cari beasiswa,"

" Sip, minta  sama Allah, pasti dikasih." Bersyukurnya aku punya tante yang selalu mendukungku. Tapi hanya beliau yang setuju sedangkan saudara yang lain menyuruh untuk langsung bekerja saja. Bukan hanya menolak kuliah, keluargaku selain Makni bahkan menyuruhku putus sekolah sejak SMA. Dari SD-SMP sekolah masih gratis so aku masih dibolehin msekolah. Namun saat SMA hanya Makniku yang memperbolehkanku melanjutkan sekolah. Dengan restu Makni aku bisa menyelesaikan sekolahku tanpa keluar biaya sepeserpun. Sekolah memberiku keringanan bebas biaya ditambah lagi asrama gratis dan uang bulanan. Selalu ada jalan keluar untuk niat yang baik.

" Segeralah mencari kerja," Bukan pernyataan seperti itu yang sebenarnya aku harapkan. Tapi kenyataan semua orang yang ada di ruamg keluarga itu (Makni,Paman,Bude,Kakak keponakan) setuju dengan pernyataan itu.

" Bukankah ini belum cukup ?"

" Janganlah nengok ke atas, lihat kemampuanmu."

" Nita tetap mau kuliah bukan untuk kesenangan Nita saja kok,"

" Nak. kali ini Makni lebih menyarankanmu untuk mencari kerja saja."

" Kenapa Makni, Nita janji tidak akan minta biaya dari keluarga. Nita akan berusaha sendiri, hanya restu yang Nita perlukan."

" Anak kalau gengsian ya seperti itu, susah dibilangin. Kerja saja lah pokoknya,"

" Bude..." Aku menjelaskan alasan kenapa aku harus tetap kuliah. " Aku ini lulusan SMA, aku tidak ada keterampilan yang bernilai. Kalau aku kerja mungkin hanya jadi penjaga toko atau buruh pabrik. Apa dengan pekerjaan itu aku bisa mengembalikan Bapak dan Ibuku. Nita juga ingin kumpul lagi dengan keluarga tanpa ada yang ditakuti tanpa ada rentenir bahkan polisi. Nita juga harus menyejahterakan keluarga ini. Hutang budi Nita ke kalian itu sangat besar. Jadi Nita mohon izinkan Nita meraih mimpi Nita untuk menjadi seorang Dosen."

Semua orang di tempat itu tiba-tiba hening, bahkan aku tidak tahu apakah mereka masih tetap menolah mimpiku atau memberi lampu hijau. Yang aku tahu aku tetap akan mempersiapkan kuliahku.Kecuali keluargaku memberikan alasan yang bisa aku terima.

" Nita,"

" Iya Paman,"

" setelah kami bermusyawarah tadi, kami rasa alasanmu benar juga Nak. Kami yakin kamu adalah penerang dalam kegelapan, tapi maaf sekali Nak kami tidak bisa membantu secara materi, kami hanya bisa mendoakanmu Nak," Entah mengapa mendengar jawaban Paman membuatku ingin meneteskan air mata. Aku merasa ini saatnya aku membuka jalan keluar. Aku sangat berterimakasi dengan keluarga ini.

***

Allah memang maha Adil dan maha memberi kemudahan, Aku masuk di perguruan tinggi negeri dan semua biaya kuliah dan kehidupanku ditanggung oleh negara. Akan tetapi aku tetap bekerja menjadi tentor les privat supaya aku juga bisa sedikit memberi uang kepada keluargaku di desa. Di kamar kosku tertempel banyak sekali mimpi mimpi yang ingin kucapai. Sampai suatu ketika teman kampusku datang ke kos,

" Haha awas lo Nit kalau mimpi jangan terlalu tinggi nanti sakit loh kalau jatuh."

" Mimpi dan sholawat itu mudah dan gratis Esti, sayang kalau cuma kecil. sekalian aja mimpi yang besar yang penting dipertanggungjawabkan."

" Bukannya lo tu Bapak Ibu aja kagak ada ya ? masih beraninya mimpi mau kuliah S2 lah di luar negeri lagi. Pembual lo tu," Bukan hanya Esti banyak teman-teman lain yang berpikir serupa. Aku di kampus memang tidak punya teman dekat, teman-teman ke kosku hanya untuk minta diajari mengerjakan tugas. Kalau mereka selesai dan nggak butuh aku lagi mereka seperti tidak mengenalku.

" InsyaAllah aku seriusin mimpiku kok Es, tenang aja itu juga mimpiku bukan mimpimu. Doakan saja aku mampu berusaha dengan keras untuk mimpiku ini."

" Terserah lu lah, makasi tugasnya. Gua mau cabut dulu. Dan selamat bersenang-senang dengan mimpimu hahaha" Dia pulang dengan meninggalkan doa untukku. Meskipun nada bicaranya membully tapi aku yakin itu Do'a untukku.

***

" Ini aku," pagi itu aku mendapat pesan singkat dari nomer yang tidak aku kenal. Aku abaikan saja pesan itu, dan siap-siap untuk tempur ke kampus. Berangkat ke kampus-bantu teman-teman difabel-masuk kelas-pulang mampir perpustakaan tercinta-ngeles sampai jam sembilan malam. Kuliah memang asyik , tidak ada waktu yang akan terbuang sia-sia.

" Nita kabar baik ?" Ini nomer yang sama dengan nomer yang tadi pagi. Aku telfon saja biar jelas. " Assalamualaikum, maaf ini Nita bicara dengan siapa ya? apa ada yang bisa dibantu?" Sinyal buruk di dalam kamar aku keluar naik ke lantai atas. " Ini Aku Nita," Aku ingat suara itu. Apa itu," Ibu ?" Apa itu dia ? Aku tidak tahu harus bernada benci atau mengungkapkan rasa rindu. " Iya Nita, Ibu kangen" Hatiku tersayat mendengar suara Ibuku yang selama ini tidak pernah aku cari. Akhirnya aku tidak bisa membohongi diri, aku menangis mengungkapkan rasa rindu dan menceritakan keadaanku kepada ibuku. Dan Ibu ternyata sudah lama keluar dari penjara, Bapak juga sudah bebas dari kejaran polisi. Ibu bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan ayah bekerja sebagai sopir. Aku lega mereka baik-baik saja Allah masih melindungi mereka. Hanya saja mereka sudah tidak punya rumah,tanah untuk tinggal karena sudah disita oleh bank.

" Tunggu Nita sukses ya Bu, Nita akan belikan kalian rumah. Doakan nita segera mendapat gelar master dan mendapat pekerjaan yang mapan ya Bu."

" Pasti Nak, kamu pasti bisa mengangkat derajat orang tuamu ini." Semangatku semakin membara dengan restu kedua orang tuaku. Meski banyak yang ingin mematahkan mimpiku. Itu tidak lebih kuat dari restu keluargaku dan saudara saudaraku. Aku hanya perlu berusaha sekeras mungkin dengan selalu melibatkan Allah disetiap keputusan.

***

Setelah berhasil menyandang gelar S.Pd, aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan kuliah S2 di London. Entah apa lagi yang harus kuungkapkan pada Tuhanku, Dia memberiku tantangan dalam hidup dengan hadiah yang luar biasa besarnya. Setelah tepat satu tahun aku pulang ke Indonesia. Dan pekerjaanku sekarang adalah menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi negeri. Orang tuaku sudah mendapatkan rumah yang mereka inginkan. Inilah hidup semakin berat Tuhan memberikan tantangan kepada umatnya pasti semakin besar pula balasannya ketika kita mampu berusaha lebih keras untuk melewati tantangan tersebut. Hal yang perlu dilakukan hanya tidak menunda untuk berbuat baik dalam hidup, selalu berpikir positif tentang apa yang terjadi. Selalu yakin Allah pasti akan memberikan yang terbaik menurut-Nya untuk umat-Nya. Never give up great thing takes time.

 

 

How do you feel about this chapter?

1 0 0 0 0 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Sarah
604      450     2     
Short Story
Sarah, si gadis paling populer satu sekolahan. Sarah yang dijuluki sebagai Taylor Swift SMU Kusuma Wijaya, yang mantannya ada dimana-mana. Sarah yang tiba-tiba menghilang dan \'mengacaukan\' banyak orang. Sarah juga yang berhasil membuat Galih jatuh cinta sebelum akhirnya memerangkapnya...
Tanda Tanya
747      448     3     
Short Story
Saat Tidak Semua Pertanyaan Butuh jawaban
Jane and His Zombie
538      400     0     
Short Story
This story is about a girl who meet a zombie and she fell in love with the zombie
Meja Makan dan Piring Kaca
66127      12933     53     
Inspirational
Keluarga adalah mereka yang selalu ada untukmu di saat suka dan duka. Sedarah atau tidak sedarah, serupa atau tidak serupa. Keluarga pasti akan melebur di satu meja makan dalam kehangatan yang disebut kebersamaan.
Till Death Due Us Part
674      412     1     
Short Story
I hold your hand Reminisce of our time together The walks on the park The beautiful sunset that we would watch together But now I watch it alone
Premium
GUGUR
16495      2577     9     
Romance
Ketika harapan, keinginan, dan penantian yang harus terpaksa gugur karena takdir semesta. Dipertemukan oleh Kamal adalah suatu hal yang Eira syukuri, lantaran ia tak pernah mendapat peran ayah di kehidupannya. Eira dan Kamal jatuh dua kali; cinta, dan suatu kebenaran yang menentang takdir mereka untuk bersatu. 2023 © Hawa Eve
Hello Aruna
19      18     0     
Short Story
Ketika hati diciptakan untuk terus merasakan patah hati.
Moira
29624      4786     5     
Romance
Diana adalah seorang ratu yang tidak dicintai rajanya sendiri, Lucas Jours Houston, raja ketiga belas Kerajaan Xavier. Ia dijodohkan karena pengaruh keluarganya dalam bidang pertanian dan batu bara terhadap perekonomian Kerajaan Xavier. Sayangnya, Lucas sudah memiliki dambaan hati, Cecilia Barton, teman masa kecilnya sekaligus salah satu keluarga Barton yang terkenal loyal terhadap Kerajaan Xavie...
Kompilasi Frustasi
4763      1623     3     
Inspirational
Sebuah kompilasi frustasi.
Niscala
498      368     14     
Short Story
Namanya Hasita. Bayi yang mirna lahirkan Bulan Mei lalu. Hasita artinya tertawa, Mirna ingin ia tumbuh menjadi anak yang bahagia meskipun tidak memiliki orang tua yang lengkap. Terima kasih, bu! Sudah memberi kekuatan mirna untuk menjadi seorang ibu. Dan maaf, karena belum bisa menjadi siswa dan anak kebanggaan ibu.