Loading...
Logo TinLit
Read Story - Pesta Merah
MENU
About Us  

Hujan membuat tubuhku melemah, karena tubuhku memang tersusun dari zat yang bertolak belakang dengan air. Itulah alasannya mengapa aku tak dapat menghadiri pesta ulang tahun ke-lima seorang anak dirumah putihnya.

Kini aku hanya dapat menatap keluar jendela seorang diri. Aku bekerja sebagai badut penghibur anak-anak di pesta perayaan ulang tahun, walaupun aku hanya bekerja sebagai badut, bayaran yang kuperoleh cukup banyak untuk keperluanku yang terlalu sedikit sebagai seorang manusia.

Aku tinggal sebatang kara dirumah ini. Istriku membunuh anakku dan dirinya sendiri dengan linggis di pekarangan rumah ini dikarenakan depresi akut akibat minimnya keuangan. Itulah sebab mengapa aku menyukai anak-anak dan uang, tapi entah mengapa aku juga menyukai benda yang merenggut nyawa istri dan anakku, linggis. Sebenarnya tak hanya tiga hal itu yang aku sukai, ada satu hal lain yang mungkin menurut banyak orang sediki aneh dan menyeramkan, yaitu darah yang menetes.

Bunyi detikan jarum jam yang tergantung di dinding kusam kamarku adalah satu-satunya hal yang menemaniku ketika menunggu pesta selanjutnya datang, yaitu pesta yang akan diselenggarakan esok hari dirumah besar yang berhadapan dengan rumahku.

Penantian panjang yang kujalani berakhir dengan dentangan bel gereja yang berbunyi dua puluh kali, yang menandakan bahwa waktu telah menunjukkan jam delapan malam. Aku bergegas mengambil barang-barang yang kubutuhkan untuk menghibur anak-anak, tak lupa aku juga membawa linggis dengan cara memasukkannya kedalam kostum badutku. Kostum badut dan tubuh yang kupakai tiga tahun terakhir ini memudahkanku untuk menyembunyikan ataupun membawa barang karena ukurannya yang lumayan besar.

Setelah membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan, kini aku sudah siap untuk berangkat. Entah mengapa aku sangat bersemangat untuk menghadiri pesta tetanggaku ini, pasti ada suatu alasan mengapa diriku bersemangat, tetapi mungkin alasan itu sudah tertimbun oleh waktu yang terus mendorongnya jauh ke dalam memoriku, sampai-sampai sekarang alasan itu sudah semakin kabur.

Kaki gempal ini melangkah mengantarkan tubuhku menuju rumah yang sudah ramai oleh anak-anak dan mereka menyambut hangat diriku yang kini mulai melakukan beberapa trik sulap untuk menghibur mereka. Sejenak kemudian anak yang baru saja berulang tahun ke-enam itu keluar dari balik tirai, dengan spontan semua temannya mulai menyanyikan lagu ‘selamat ulang tahun’. Saat teman-temannya sampai pada bait ‘potong kuenya’, anak enam tahun itu langsung menggenggam pisau dapur besi dan memotong kue ulang tahun penuh krim-nya.

Memang cukup berbahaya bagi seorang anak yang baru berumur enam tahun memegang pisau tajam sendirian, namun aku sendiripun tak kuasa untuk menghetikan atau hanya sekedar menunda kebahagiaan mereka.

Teman-temannya langsung berebut untuk mengambil kue yang masih dipotong oleh anak enam tahun itu, seharusnya ada orangtua yang mengawasi dan mengkondisikan pesta itu tapi sedari tadi aku tak melihat satu orang dewasa-pun yang datang.

Entah mengapa walaupun suasananya sekarang lebih gaduh, tetap saja aku menganggap hal ini mengasyikkan karena anak-anak sangatlah lucu apabila sedang bertengkar. Melihat kelakuan anak-anak ini, aku jadi teringat anakku yang pasti juga sudah berumur enam tahun apabila masih hidup hingga sekarang.

Tess…

Telingaku tiba-tiba saja mendengar sesuatu dengan sangat jelas, bunyi sesuatu yang menetes. Mataku terfokus pada cairan merah yang keluar dari salah satu jari anak yang berebut mengambil kue itu, rupanya sedikit dorongan dari teman disampingnyalah yang menyebabkan anak itu terluka.

Seketika pikiranku melayang dan berhenti pada kejadian menyeramkan tiga tahun lalu, dimana istriku membunuh anak semata wayang kami dan membunuh dirinya sendiri didepan mataku, mereka mati bersimbah luka dan darah dihadapanku karena kami sudah tidak memiliki uang dan sedikitpun harta disaat para penagih hutang berteriak dan mengancam di balik pintu rumah yang sengaja kami kunci.

Aku teringat jelas bagaimana istri yang sangat aku sayangi menangis dan menatapku dengan tatapan putus asa, sedangkan aku tak dapat melakukan apapun. Setelah itu dan sampai sekarangpun aku selalu menyesali diriku yang tak menyadari istriku selalu berfikir bahwa keuangan dan juga hutang-hutang kami akan membaik apabila dirinya tak ada. Sama halnya dengan aku tak bisa memaafkan diriku yang tidak melakukan apa-apa ketika istriku membunuh anak kami ketika menghalangi dirinya ingin bunuh diri.

Sekejap kemudian pikiranku kembali melayang, dan kemudian berhenti lagi di potongan memori yang menjelaskan alasan mengapa ingatan itu kembali. Yaitu memori di hari sebelum hari mengerikan itu datang, dan ternyata dalam ingatanku aku berada disini, berdiri persis ditempat yang sama dengan yang hari ini aku datangi, dirumah ini.

Aku melihat istriku sedang berlutut memohon kepada tetanggaku yang kaya raya itu, memohon hingga mengorbankan harga dirinya jatuh dengan bersujud dihadapannya, tetapi tetap saja orang berlimpah harta itu menegakkan kepalanya dan merendahkan kami, melupakan hutang budi mereka ketika istriku mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan anak konglomerat itu dari sungai dengan arus kuat.

Pastilah peristiwa mengerikan dihari selanjutnya tidak akan terjadi apabila keluarga kaya raya itu mau meminjamkan uang pada kami, hutang kami bahkan tidak sampai semahal vas bunga di meja mereka, tapi mereka dengan angkuhnya menolak meminjamkan uang pada kami.

Sekarang alasan itu semakin jelas, tak hanya alasan mengapa aku bersemangat malam ini, tapi juga alasan mengapa aku masih berada di dunia fana ini hingga sekarang, yaitu karena diriku yang sudah hancur itu tersusun kembali oleh dendam yang terus tumbuh, dan alasan mengapa aku bersemangat adalah karena sekarang aku berdiri di tempat semuanya dimulai, tempat dimana keluarga berhati dingin ini menyuruh istriku berhutang pada orang yang kejam, dan juga tempat dimana mereka menolak meminjamkan uang pada kami.

Kini aku tahu alasan aku hidup kembali, yaitu untuk membalaskan dendam yang semakin membuat panas hatiku.

Kau tahu? Ibarat ketika seseorang memakai narkoba, seharusnya bukan hanya orang itu yang ditangkap. Tetapi juga orang yang menyuruhnya memakan narkoba, orang yang membuat narkoba, orang yang membungkusnya, orang yang mengantarkannya, orang yang menjualnya, dan semua yang bersangkutan. Namun tetap saja, tidak akan ada orang yang menjual bila tak ada yang membuat, dan tak akan ada orang yang membuat bila tak ada yang memberinya ide. Jadi siapakah yang seharusnya pertama ditangkap?

Aku mengambil linggis yang kusembunyikan dan menghampiri anak enam tahun itu, kulayangkan berkali-kali linggis milikku ke kepala kecilnya hingga terbuka dan memperlihatkan otak menjijikannya yang lembek dan berlendir.

Tiba-tiba otot lenganku menghentikan kegiatan menyenangkan ini karena seorang anak perempuan berteriak ketakutan melihat diriku membunuh temannya hingga bersimbah darah. Teriakan itu ternyata juga merangsang indra pendengar milik nyonya dan tuan rumah di dalam kamarnya.

Mereka keluar dari balik tirai sebagaimana yang anaknya lakukan sebelumnya. Seperti yang sudah kukira, wajah mereka tak berubah dari semenjak aku terakhir bertemu, hanya saja ekspresi angkuh dan merendahkan yang dahulu terpampang jelas kini hilang tak bersisa, meninggalkan ekspresi ketakutan berada sendirian di wajahnya.

Perempuan dengan rambut tertata rapih itu berjalan menuju arahku dengan langkah kecil dan tarikan nafas yang terhambat, ia yang awalnya datang dengan tangan kosong itu mengambil pisau penuh krim dari atas meja dengan pelan, matanya memerah ketika melihat wajah anaknya yang sudah tak berbentuk. Ia kembali menoleh kepadaku dengan cepat, dan dengan tangan yang gemetar ia menuju kearahku dengan langkah besar lalu menusukkan pisau dapur itu ke dada kiriku.

Aku tersentak dan sejenak terdiam, menunggu luka yang dibuatnya tertutup kembali.

Ia ingin membunuhku karena melihat anaknya dibunuh dengan sadis seperti itu. Aku tahu kini hatinya sedang sangat sakit, tapi aku tak peduli.

Hal ini membuatku kesal karena sangat membuang waktu dan aku tak suka menunda pekerjaan, apalagi hal menyenangkan seperti ini. Akupun langsung melanjutkan mengayun linggis berkarat yang ada dalam genggamanku ke kepala perempuan itu dan sekujur tubuhnya. Setelah melihat begitu banyaknya darah yang keluar membuatku ingin tersenyum, senang rasanya kini ia dapat mati seperti istriku.

Setelah tubuhnya tak lagi berbentuk akupun kembali berjalan mengitari ruangan itu, mencari sang tuan rumah.

Tuan.

Tuan.

Keluarlah.

Aku menemukannya di balik rak kayu, wajahnya yang ketakutan semakin memerah ketika melihatku berada di sampingnya. Tangan gempalku menariknya dengan paksa sedangkan kedua tangannya terus menerus memohon, tetapi tetap saja aku tak mengampuninya.

Aku mulai memukulinya dengan linggisku yang sudah berlumur darah anak dan istrinya, dan akan terus memukulinya hingga tak ada lagi darah yang masih terpompa. Memukul wajahnya hingga mata keabuannya keluar, memukuli dadanya hingga semua rusuknya patah, dan memukuli kakinya hingga dagingnya terlihat jelas. Itu yang kulakukan.

Aku melangkahkan kakiku dengan keras di lantai yang kini sudah tergenang darah diatasnya, bau darah ini membuat seakan belenggu yang ada di tubuhku lepas seutuhnya. Namun tiba-tiba aku melihat sesuatu, istri dan anakku diluar sana, di balik jendela.

Mereka melihatku, tapi wajahnya tak bahagia sama sekali, seakan mereka tak menyukai hal yang telah ku kerjakan. Dan aku melihat istriku mengeluarkan air matanya lagi, ekspresi yang sama ketika ia melihat wajah si perempuan angkuh itu.

Hidung harus diganti hidung, telinga harus diganti telinga, dan nyawa harus diganti nyawa. Ketika semua orang melakukan itu, maka semuanya akan menanggung dosa yang sama.

Kakiku melemas dan aku terjatuh.

Aku menyesal dengan apa yang sudah ku lakukan. Aku menyesal dengan jalan yang aku pilih. Ketenangan yang kukira akan kudapatkan setelah ini ternyata hanyalah fatamorgana, tak ada yang bernama ketenangan setelah merenggut hidup seseorang. Dan tak ada yang bernama bahagia setelah membalas dendam.

Malam itu seharusnya aku mendengarkan istriku.

Malam itu seharusnya aku ikut bersama mereka ke langit.

Malam itu seharusnya aku tak memilih kembali untuk ini semua.

Sesungguhnya malam itu yang mati tak hanya istri dan anakku, tetapi aku juga. Namun aku memilih untuk kembali dengan dendam yang kugenggam erat, yang membuat kini aku harus menjadi makhluk yang lebih rendah dari mereka, makhluk yang memiliki dendam.

 

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 0 1
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Dunia Sasha
8847      3373     1     
Romance
Fase baru kehidupan dimulai ketika Raisa Kamila sepenuhnya lepas dari seragam putih abu-abu di usianya yang ke-17 tahun. Fase baru mempertemukannya pada sosok Aran Dinata, Cinta Pertama yang manis dan Keisha Amanda Westring, gadis hedonisme pengidap gangguan kepribadian antisosial yang kerap kali berniat menghancurkan hidupnya. Takdir tak pernah salah menempatkan pemerannya. Ketiganya memiliki ...
Doa
511      386     3     
Short Story
Berhati-hatilah dengan segala pemikiran gelap di dalam kepalamu. Jika memang sebabnya adalah doa mereka ....
You be Me
590      405     0     
Short Story
Bagaimana rasa nya bertukar raga dengan suami? Itulah yang kini di alami oleh Aktari dan Rio. Berawal dari pertengkaran hebat, kini kedua nya harus menghadapi kondisi yang sulit.
Premium
Whispers in the Dark
3758      832     7     
Fantasy
A whisper calls your name from an empty room. A knock at your door—when you weren’t expecting company. This collection of bite-sized nightmares drags you into the the unsettling, and the unseen.
The Investigator : Jiwa yang Kembali
2310      1033     5     
Horror
Mencari kebenaran atas semuanya. Juan Albert William sang penyidik senior di umurnya yang masih 23 tahun. Ia harus terbelenggu di sebuah gedung perpustakaan Universitas ternama di kota London. Gadis yang ceria, lugu mulai masuk kesebuah Universitas yang sangat di impikannya. Namun, Profesor Louis sang paman sempat melarangnya untuk masuk Universitas itu. Tapi Rose tetaplah Rose, akhirnya ia d...
Rêver
7781      2344     1     
Fan Fiction
You're invited to: Maison de rve Maison de rve Rumah mimpi. Semua orang punya impian, tetapi tidak semua orang berusaha untuk menggapainya. Di sini, adalah tempat yang berisi orang-orang yang punya banyak mimpi. Yang tidak hanya berangan tanpa bergerak. Di sini, kamu boleh menangis, kamu boleh terjatuh, tapi kamu tidak boleh diam. Karena diam berarti kalah. Kalah karena sudah melepas mi...
Little Riding Hood Alternative Universe
515      365     1     
Short Story
Little Riding Hood yang harus dihadapkan pada sebuah perintah. Ia tak mampu berkutik untuk melawan karena ia hanya anak pungut, namun perintah yang sederhana itu adalah sebuah ketakutan yang tak mampu digambarkan dengan kata-kata. Pic Source : -pexels.com/@stacey-resimont-183655 -rs9seoul Edited with : -Picsart Cerita ini diikutsertakan untuk mengikuti thwc18
U&I - Our World
475      344     1     
Short Story
Pertama. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu indah, manis, dan memuaskan. Kedua. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu menyakitkan, penuh dengan pengorbanan, serta hampa. Ketiga. Bagi sebagian orang, kisah cinta itu adalah suatu khayalan. Lalu. Apa kegunaan sang Penyihir dalam kisah cinta?
KELAM - CERITA DIBALIK PINTU 402
3847      1459     3     
Horror
Pai, Mahasiswi yang baru saja pindah ke sebuah apartemen murah namun super lengkap fasilitasnya yang berada persis di belakang kampus. Awalnya sih dia senang karena harga sewa yang menurutnya murah itu bisa membuat dia merasakan hidup mewah seperti teman-temannya itu. Sampai suatu hari, dia dikejutkan dengan beberapa kejanggalan seperti suara tangisan di malam hari, suara kaca jendela yang sepert...
TENTANG WAKTU
2199      969     6     
Romance
Elrama adalah bintang paling terang di jagat raya, yang selalu memancarkan sinarnya yang gemilang tanpa perlu susah payah berusaha. Elrama tidak pernah tahu betapa sulitnya bagi Rima untuk mengeluarkan cahayanya sendiri, untuk menjadi bintang yang sepadan dengan Elrama hingga bisa berpendar bersama-sama.