Tepat pukul 00.00 malam itu. Kriiing.. kriing..., handphone Vanya berdering cukup keras, hingga membangunkannya.
“Happy Birthday, Vanya!”, dengan mata mengantuk Vanya menerima telepon itu. Nomor tidak dikenal. Namun, semakin ia mencoba menutup matanya, semakin terbayang seseorang yang meneleponnya itu. Sepertinya Vanya mengenalinya. Suara pria, dengan lembut mengucapkan ulang tahun pada Vanya. Dialah orang pertama yang mengucapkan ulang tahun pada Vanya hari ini.
***
Pagi hari di sekolah, seperti biasa Jojo nongkrong di depan kelas, bersama Aldo dan Jerry
“Berhasil ga misi yang kemaren?” tanya Jerry.
“Gue sih berhasil." Jawab Aldo sambil menarik kerah seragam SMAnya.
"Gue juga yakin bakal berhasil." balas Jojo tidak mau kalah.
“Seperti kesepakatan, tepat HSS gue tiga hari lagi lo yang berhasil, mobil gue buat lo, tapi kalo gue yang berhasil gue ga minta apa-apa dari lo.” ingat Aldo sambil menepuk bahu Jojo. Sambil tertawa lepas
“Siap. Gue yakin bakal berhasil.” Ulang Jojo.
***
Vanya masuk kelas sambil terengah-engah kehabisan napas. Vanya terlambat lagi. Bu Sisil hampir memulai pelajaran. Bu Sisil yang sudah tahu kebiasaan Vanya ini seakan tak peduli lagi. Bu Sisil dan guru-guru yang lain menaruh prihatin pada Vanya. Ayahnya telah tiada sejak kecil. Bunda Vanya kerja keras sendirian demi sekolah Vanya. Setiap pagi, Vanya membantu bundanya menyiapkan dagangan untuk di titipkan di kantin sekolah Vanya. Inilah yang membuat Vanya sering terlambat.
“Bu, maaf saya telat.” ucap Vanya terpatah-patah.
Vanya duduk di sebelah Jojo. Jojo dikenal yang paling baik diantara sahabat-sahabatnya. Tapi, hanya Vanya lah yang bersikap jutek pada Jojo.
Ketika itu, Vanya bersama bundanya berada di kantin sekolah Vanya, ingin menitipkan barang dagangan untuk pertama kalinya. Datanglah Jojo beserta kedua sahabatnya melihat Vanya dan bunda, dan pada saat itulah Jojo dan sahabatnya membuat hati Vanya pedih.
“Van, lo telat lagi ya?” Jojo membuka percakapan.
“Gue jemput ya besok? “ sambung Jojo
“Ga perlu, Jo.” Jawab Vanya.
“Lo jutek banget sih, Van sama gue.” Keluh Jojo pada Vanya, tapi Vanya diam.
***
Bel istirahat berbunyi, buru-buru Dita, sahabat baik Vanya mengajaknya ke kantin. Dita memang juaranya unuk keluar kelas paling pertama.
"Van, ke kantin yuk. Gue laper nih, hari ini gue traktir lo." Rayu Dita pada sahabatnya itu.
"Yaudah yuk, gue juga suntuk di kelas" Balas Vanya bersemangat.
Kantin saat itu penuh, tak ada bangku tersisa.
"Van, Dit, ayo sini!" ajak Jojo.
"Nah, itu sebelah Jojo kosong. Gabung aja yuk, daripada gue kelaperan." bisik Dita pada Vanya.
"Gue jadi ga mood. Gue balik ke kelas aja ya." balas Vanya lemas.
"Yah, yaudah entar gue bungkusin aja."
"Oke."
Vanya melangkah ke kelas dengan gontai. Ia menjadi ingat kejadian waktu itu di kantin.
Vanya masuk ke kelas, saat itu kelas sepi, para penghuninya sedang mengisi bahan bakar otak mereka. Saat Vanya melihat ke laci mejanya, Vanya melihat sebuah bungkusan, bungkusan yang sangat rapi, dan sebuah surat di sebelahnya.
***
Bel pulang sudah berbunyi. Jojo dengan cepat mencegat Vanya dengan menarik tangan Vanya saat hendak meninggalkan bangkunya.
“Apaan sih, Jo.” Bantah Vanya.
“Pulang sama gue ya." Pinta Jojo
Vanya berusaha menarik tangannya namun gagal.
“Lo kenapa sih jutek sama gue. ” tanya Jojo polos.
“Lo lupa?” sontak Vanya memandang Jojo dengan wajah yang penuh emosi.
“Karena lo udah ngejek gue sama bunda gue waktu di kantin. Puas lo!” Bentak Vanya sambil menepis tangan Jojo. Emosi Vanya meluap-luap seketika, seluruh mata memandang mereka berdua.
Vanya pergi meninggalkan kelas. Disusul Dita, sahabat Vanya. Dengan muka yang masih merah padam, Vanya menuju kantin mengambil sisa barang dagangan dan hasil penjualan. Hari ini, Vanya ke kantin dengan malas.
***
"Van, Jojo lagi ya?" Tanya Dita. Tanpa Vanya menjawabpun, sebenarnya Dita sudah tahu.
“Van, sini gue bantu.” Pinta Dita.
“Makasih ya, Dit. Lo emang sahabat gue.” jawab Vanya yang mendapat balasan senyum manis dari Dita.
"Van, hari ini kayanya gue ga bisa pulang bareng lo. Gue ada perlu soalnya."
"Gapapa, Dit. Lo bantuin gue beberes aja gue udah makasih banyak." Balas Vanya sambil tersenyum.
"Kalo gitu gue duluan ya, Van. Udah selesai kan?"
"Udah kok, Dit. Makasih ya, bye." Ucap Vanya sambil melambaikan tangan.
Ketika Vanya ingin melangkahkan kaki keluar kantin...
"Van, gue minta maaf" tiba-tiba Jojo sudah muncul di hadapan Vanya.
Vanya melenggang begitu saja tanpa membalas permintaan maaf Jojo. Jojo mematung. Ia tahu Vanya begitu marahnya padanya sehingga tidak menganggap dirinya. Setelah tersadar dari lamunannya, buru-buru Jojo mengikuti Vanya. Namun, Jojo bertemu Aldo.
"Lo mau kemana, Jo?" Tanya Aldo sambil mencekal tangan Jojo. Jojo terpaksa berhenti mengikuti Vanya.
"Vanya." Jawab Jojo sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Aldo.
"Kenapa Vanya?" Tanya Aldo heran.
"Bukan urusan lo. Permisi.” Jojo menghentak tangannya, sehingga cengkraman terlepas dan Jojo mengejar Vanya kembali.
"Waktu tinggal dua hari lagi. Kita liat siapa yang berhasil." teriak Aldo
Namun, sampai di gerbang, Jojo tidak menemukan seorangpun disana.
***
"Jam 10. Masih ada waktu." Batin Jojo.
Jojo mengambil ponselnya, jarinya bergerak-gerak mengikuti pola yang telah dibuatnya. Jojo menyapukan jarinya ke kanan dan ke kiri diatas layar. 'Klik', ia membuka Whatsapp nya. Jojo kembali menyapukan jarinya di atas layar, namun kali ini ke atas dan ke bawah. Tangan Jojo berhenti saat membaca sebuah nama. 'Klik', Jojo menelepon seseorang.
"Oo, itu lo, dia kira gue. Barusan dia WA gue." kata seseorang di seberang sana.
***
Di dalam kamarnya, Vanya mencari jawaban atas siapa yang memberi ucapan di tengah malam, kado dan surat.
"Oh, iya! Surat." Tiba-tiba Vanya bangun mencari surat yang belum dibacanya itu. Kamar yang awalnya rapi menjadi berantakan.
Kado dan surat itu masi rapi, belum dibuka Vanya. Vanya membuka kado tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah boneka anjing kecil yang sangat lucu. Vanya suka anjing. Juga terdapat sebuah gaun yang sangat bagus. Vanya yakin gaun itu mahal harganya. Vanya mencari-cari siapa pengirimnya dalam kado tersebut, tetapi nihil. Lalu Vanya membuka surat itu.
"Happy Birthday, Vanya. Pakai gaun ini setelah kamu dapat surat selanjutnya. I LOVE YOU."
Vanya membelalak. Ia terkejut, siapakah yang memberinya surat. Ia membolak-balikan surat itu, namun ia tak menemukan nama pengagum rahasia itu.
"Hanya ucapan ulang tahun. Kenapa tidak ada nama pengirimnya?" batin Vanya dalam hati.
Vanya tidak bisa tidur.
"Masih jam 8." pikir Vanya. Vanya menyambar ponselnya. Dita. Jarinya menari amat cepat di atas layar
***
Pagi itu, Vanya kaget. Saat ia sedang membereskan dagangan dan bersiap-siap ke sekolah, sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Seorang pria berseragam SMA turun dari pintu kemudi. Aldo.
"Aldo, lo ngapain?" tanya Vanya sambil mengernyitkan dahi.
"Jemput lo." ucap Aldo sambil membantu Vanya membereskan barang dagangan Vanya.
"Tan, kita berangkat dulu. Permisi." ucap Aldo pada bunda sambil tersenyum ramah dan melambaikan tangan pada bunda. Seperti terhipnotis, Vanya mengikuti gerakan Aldo begitu saja, tanpa banyak bertanya.
Di dalam mobil, Vanya menjadi teringat pada surat dan kado. Ia berpikir keras.
"Apa Aldo yang kasih?" pikir Vanya.
Sepanjang perjalanan, terjadi pergulatan di dalam pikiran dan hati Vanya. Hingga tak terasa, mereka sudah memasuki gerbang sekolah.
"Sial." ucap seseorang yang melihat Vanya bersama Aldo.
***
Sore hari di rumah, Vanya membuka tas nya. Ia mendapati surat di dalamnya.
"Hai, Vanya. Semoga kamu suka gaun kemarin. Ini surat kedua. Pakai gaun itu beberapa hari lagi. Tunggu surat selanjutnya. I LOVE YOU, Vanya."
Vanya menutup kembali surat itu.
***
"Malam ini kalian jangan lupa. Pake baju yang bener, bawain gue kado yang banyak." ucap Aldo mengingatkan, sambil tertawa.
"Siap, bos!" jawab Jerry. Hari ini Jojo hanya tersenyum.
***
"Van, ayo gue anter pulang." Jojo menawarkan pada Vanya di gerbang sekolah. Vanya hanya diam di tempat, tidak menggubris Jojo. Jojo pun menunggu hingga Vanya menjawabnya. Karena tak ada kendaraan yang lewat, terpaksa Vanya menumpang Jojo hari ini.
***
"Pakai gaun itu malam ini, dan kamu akan terlihat cantik. Aku sudah menyiapkan kendaraan untuk kamu, Van. Jam 6 kamu siap ya, Van.
Dari : teman dari orang yang menunggumu di luar nanti."
Vanya menurut.
***
"Dita?!" ucap Vanya setengah kaget di dalam taksi.
"Masa Dita yang selama ini kasih gue surat. Ga mungkin." pikirnya.
Vanya turun dan langsung menghampiri Dita. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Dita menarik tangan Vanya dan pergi menuju sebuah taman kecil di tempat itu. Tempat yang sedikit terpencil dari keramaian pesta saat itu. Tempat yang sangat romantis, dikelilingi bunga warna-warni dan kelap-kelip lilin kecil.
Tiba-tiba, datang seorang pria, berkemeja warna biru tua, celana jeans, sepatu vans. Pria ini benar-benar menawan penampilannya. Vanya sampai ternganga dibuatnya. Jojo.
Jojo membuka percakapan dengan berdeham.
"Van, lo cantik hari ini." puji Jojo tulus. Vanya hanya senyum tersipu malu.
"Hmmm, surat-surat itu dari lo? Boneka anjing itu dari lo?" tanya Vanya bingung.
"Seperti yang lo liat Van. Gue... suka sama lo. Will you be my girlfriend?"
Vanya ternganga. Ia tak yakin bahwa yang didengarnya itu berasal dari seorang Jojo, orang yang paling ia benci. Jojo pun meninggalkan Vanya sendirian di taman itu, karena Vanya tak segera berbicara.
***
Tiba-tiba dari sumber suara di acara tersebut, nama Vanya dipanggil. Aldo disana. Belum terjawab kebingungan sebelumnya, sekarang ia dibuat bertambah bingung. Setelah Vanya sampai ke atas panggung...
"Vanya, maukah jadi pacar aku?" kali ini Aldo.
Vanya dibuat tambah bingung, ia kehabisan kata-kata. Karena tak kunjung mendapat kejelasan dan menahan malu, Vanya turun dari panggung.
Jojo cemburu. Ia menghampiri Vanya, disusul Aldo, disusul Dita. Terjadi perdebatan diantara Aldo dan Jojo. Dita dan Vanya dibuat bingung. Setelah tahu semuanya, Dita marah pada Jojo.
"Oo, gini ya Jo lo selama ini. Gue kira lo bener-bener sayang sama Vanya. Ternyata!" ucap Dita sambil mendorong Jojo.
"Tau gitu gue ga bantu lo selama ini. Lo bener-bener kurang ajar!" lanjut Dita berapi-api.
Setelah itu Vanya dan Dita langsung berbalik badan. Mereka tak peduli pada seribu pasang mata yang memandang mereka. Kericuhan itu tak sadar membuag suasana jadi tegang di pesta itu.
***
Tiga hari yang lalu.
"Dit, gue dapet kado sama surat. Itu dari lo ya?" menjadi pesan pembuka WA antara Vanya dan Dita.
"Bukan gue, Van." balas Dita.
Percakapan mereka sangat panjang. Diketahui bahwa ternyata Vanya selama ini mengharapkan permintaan maaf Jojo, Vanya ingin hubungan mereka baik-baik saja.
Beberapa waktu kemudian, pada hari yang sama.
"Hallo." sapa Dita.
"Ini gue Jojo."
" Ada apa, Jo?"
"Hmm gini, Dit. Tadi Vanya bentak gue. Iya sih gue yang salah." cerita Jojo pada Dita dengan suara pelan.
"Terus lo nelpon gue kenapa?" tanya Dita heran.
"Gue sayang sama Vanya. Gue gamau liat Vanya benci sama gue. Gue mau perbaikin hubungan sama Vanya. Sekalian, gue mau nembak Vanya." Jojo berterus terang.
"Kalo lo yakin dan berniat baik gue bantu."
"Oh iya, lo tau soal kado sama surat Vanya?" tanya Dita seperti menyelidik.
"O itu dari gue, Dit. Surprise." jelas Jojo.
"Oo, itu lo, dia kira gue. Barusan dia WA gue." percakapan berakhir.
***
Vanya tak kuasa menahan tangis. Dita, dan bunda sampai khawatir. Tiba-tiba...
"Vanya keluar! Gue sama Jojo mau jelasin semuanya." teriak Aldo di depan rumah Vanya.
"Van, tadi mereka WA gue, nyuruh lo keluar. Mereka bener-bener mau jelasin sesuatu. Gue udah tau. Tapi mereka bilang, biar lo yang denger langsung. Plis Van." Dita menjelaskan.
Setelah mengusap air matanya, Vanya keluar dengan masih sesenggukan.
"Van, maaf sebelumnya. Ini memang rencana kita bertiga awalnya. Tapi, seiring berjalannya waktu, Jojo lah yang emang bener-bener sayang sama lo. Tadi, dia bener-bener ngungkapin perasaannya. Kalo gue, engga Van. Sebenernya Jojo ngerasa bersalah banget soal masalah di kantin waktu itu. Kita minta maaf. Kalo lo gamau maafin kita gapapa Van, itu wajar." ucap Aldo cepat setelah Vanya keluar.
Jojo tiba-tiba menghampiri Vanya, berlutut.
"Maafin gue, Van. Sekarang gue ulangi, dan saat ini gue serius. Will you be my girlfriend?" ucap Jojo.
"Jo, asal lo tau. Gue juga sebenernya pengen kita ga musuhan lagi. Tapi kalo gini caranya gue ga sudi baikan sama lo. Gausah ganggu gue lagi, Jo. Lo gausah ngejer-ngejer gue lagi." jawab Vanya sambil menangis. Setelah selesai berbicara, Vanya langsung masuk ke rumah, berlari. Masuk ke kamar dan menguncinya. Vanya sangat kecewa. Vanya tak sanggup membendung air matanya. Vanya benci Jojo.
"Jo, mungkin lo ga jodoh sama Vanya. Mending lo pulang aja." ucap Dita cuek dan dingin.
"Tapi kalo lo bener-bener sayang sama Vanya, buktiin. Sekarang udah malem, kalian berdua pulang." lanjut Dita
Dan, hari ini berakhir dengan air mata. Namun, semua belum terlambat. Masih ada hari esok...