Loading...
Logo TinLit
Read Story - Sepertujuhbelas #Part2
MENU
About Us  

***

Beberapa bulan usai cekcok antara Rin dan aku, Rin putus sekolah. Konstan. Ia masih belum berubah. Malah Ia sering mengajak teman nongkrongnya ke rumah. Ibu dan Bapak menanggapinya acuh kali ini. Mereka kehabisan tenaga. Kehabisan tenaga mengurusi Rin yang sulit diatur.

Rin sering nongkrong, kelayapan malam pulang fajar. Ia juga terkadang tidak pulang ke rumah.

Kebiasaan buruk Rin membuat nama keluarga sedikit kotor di pandangan masyarakat. Orang-orang sering menggunjingnya.

Bahkan masyarakat selalu membeda-bedakan antara Rin dan aku. Aku semakin cemas. Aku tahu, Rin pasti sedang kacau sekarang.

“Rin, kamu baik-baik saja? Maafkan aku, Rin. Mari kita perbaiki bersama.” Kataku membelakanginya. Kami berada di ruang tamu, ketika hujan lebat malam itu.

Rin diam. Tidak menjawabku. Ia sepertinya tidak mendengarkanku.

Aku tidak tahu, Ia di belakangku sedang menyimpan sesuatu. Aneh. Ia menyembunyikannya dari pandanganku.

“Apa yang kamu bawa? Kok disembunyikan seperti itu, Rin?” Aku pun berbalik dengan penasaran.

“Apa sih?! Ini bukan urusanmu!” Bentaknya.

“Sudah Rin, cukup! Berhenti di sini. Aku sudah tahu sejak awal. Kamu membuat hidupmu sendiri hancur. Hidupmu kacau! Ayo kita akhiri sekarang.” Bentakku kepada Rin.

“Jangan ikut campur hidupku! Jangan sok  tahu tentang jalan hidupku. Aku tidak peduli apapun katamu! Ini sudah jauh, aku terlambat untuk berhenti.” Teriak Rin, lebih terdengar seperti kalimat minta tolong di telingaku.

Tangan mulusnya itu tiba-tiba melayang di wajahku. Ia hendak menamparku, tapi seketika aku berusaha menepisnya. Menghalaunya dan melindungi diriku sendiri. 

Entahlah, di waktu yang bersamaan pikiranku terbang bebas, aku hilang kontrol. Hanya suara hujan kala itu yang menjadi saksi perang kecil kami. Rasa iba ku menjadi raja di sana. Aku tidak tega, seperti luka yang belum sempat sembuh malah tertuang air garam.

Aku enggan lagi melihat belahan jiwaku kacau, aku ingin sekali menghapus perihnya.

Meskipun dengan cara... 

Tiba-tiba...

***

BRAKK!! Suara hantaman tabung gitar melesat di kepala Rin malam itu.

Ia pingsan beberapa waktu...

Setelah aku pastikan, ternyata, tinggal jasad Rin di sana.

Aku segera memanggil Ibu dan Bapak, membangunkan mereka segera.

Banjir tangis di sana, Ibu terkejut. Amat terkejut.

“Ini, kenapa Ini! Kok bisa kepalanya sampai berdarah gini! Maria! Rin kenapa?” Tanya Ibu dengan menangis keras.

Aku diam seribu bahasa. Mereka sempat memaksa membawa Rin ke Rumah Sakit, akan tetapi jantung Rin sudah mendetakkan kesempatannya yang terakhir kala itu.

“Bu, Rin over dosis! Aku sudah mencegahnya, tapi dia acuh! Aku bingung, Bu! Aku takut!” Jelasku menerangkan sambil menangis.

“Apa katamu! Over dosis?! Ini kepalanya berdarah, mulutnya tidak berbusa, Maria! Mana mungkin over dosis seperti ini, Nak?!” Ibuku mencoba memastikan.

“Dia over dosis, Bu!  Katanya sakit semua badannya, karena itu dia minum melebihi dosis. Maafkan aku, Bu.” Aku menguatkan.

“Kamu kan saudaranya! Pemikiranmu lebih matang dari dia. Kamu seharusnya bisa menjaganya. Kamu ini bagaimana?!” Ibu marah padaku. Tak terkendali. Ibu tenggelam.

Keesokannya, di hari pemakaman seolah bumi terpecah menjadi puluhan bagian. Lemah. Tak berdaya. Air mata membekukan suasana di sana.

BOOM!!

Di pemakaman, Bapak mengungkapkan insiden tentang kematian Rin. Aku tak sungguh tahu, bahwa ternyata Bapak semalam juga berada di sana, menguntit  Rin dan aku. Dan mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Seketika, suasana berubah panas. Meluap. Menatapku tajam, benci, kecewa. Terlukis di bola mata mereka, Ibu dan Bapak seperti ingin menyergapku. Aku lari jauh.

Entahlah, remote kontrolku di ambil alih.

Sial! Bapakku sudah menelepon polisi.

Ya! Terdengar tidak masuk akal, Bapak kandung menjebloskan anaknya sendiri ke penjara. Tapi, memang itu yang menimpaku.

Aku diborgol, tanganku di pegangi amat erat dan kencang higga tampak merah kulitku.

Aku takut.

***

Istana baruku, gelap, sempit, dingin, pengap. Ya, benar, tempat yang membuat semua memoriku memuntahkan isinya. Renungan. Memperbaiki diri.

Aku lunglai, terperosok amat dalam, sendiri. Hening dan sunyi.

***

Di satu sisi, aku mendapati diriku merasakan pembaruan setelah beberapa tahun melewatinya di penjara. 

Tapi di sisi lain, aku adalah seorang narapidana. Namaku tercoreng.

***

Satu hal yang tak terdefinisikan. Rasa rinduku tak terbalaskan. Aku mencari-cari Ibu dan Bapak yang selama bertahun-tahun tak pernah datang  membesuk meskipun sekali.

Aku pulang bersama senja, dengan aku yang baru kali ini.

“Assalamualaikum Ibu, Bapak. Maria pulang.” Wajahku sumringah.

Aku bertanya-tanya, rumah tidak di kunci, sepi. Kemana Ibu dan Bapak pergi.

“Nak, cari siapa?” Tanya seorang Bapak dari rumah sebelah, mengagetkanku.

“Maaf, Pak. Ini saya anak yang punya rumah ini. Ngomong-ngomong mereka pergi kemana ya? Biasanya jam segini mereka selalu di rumah.” Aku penasaran dengan jawaban Bapak tadi. Seingatku namanya Pak Ulil. Benar.

“Lho! Kamu belum dengar beritanya? Ibu dan Bapak kamu sudah meninggal, Nak. Dua tahun lalu. Mereka kecelakaan saat ingin membesukmu di penjara. Kecelakaan hebat itu berhasil merenggut nyawa mereka.” Terang Pak Ulil.

“Apa, Pak?! Kenapa saya baru tahu! Pihak kepolisian juga tidak memberi informasi apapun selama 8 tahun saya di penjara.” Tangisanku meluap, aku tersungkur di lantai teras rumah.

“Maaf, Nak. Bapak juga kurang tahu kalau tentang itu. Yang Bapak tahu, dua tahum lalu seorang warga yang melihat insiden kecelakaan Ibu dan Bapakmu menemukan amlpop merah muda terjatuh di sekitar TKP. Dan amplop tersebut dititipkan Bapak supaya diberikan kepadamu. Mungkin, sebelum insiden mereka ingin membesuk sekaligus menyampaikan amplop tersebut kepadamu.” Pak Ulil menyodorkan sebuah amplop merah muda kepadaku. Matanya berkunang.

Aku membaca amplop merah muda itu, seketika jiwaku menjerit kencang. Berharap ada gema yang menimpaliku.

Di dalam amplop tersebut terdapat surat, di sana tertulis permohonan maaf Ibu dan Bapak kepada Rin dan aku. Karena keteledoran mereka, Rin dan aku menjadi salah jalur dan lintasan seperti ini. Mereka amat menyesal atas hal tersebut.

Dadaku sesak, nafasku berat, mataku buram, lemas sekali rasanya membaca surat dari mereka.

Rindu...

***

Aku rindu celetukan belahan jiwaku. Aku rindu omelan Ibu. Aku rindu asap rokok Bapak. Aku rindu minum teh lemon bersama mereka.

Fatal. Aku sebatang kara sekarang.

Ketidaksengajaanku merenggut nyawa orang-orang tercintaku. Aku tak mampu. Aku tak sempat bersimpuh di lutut mereka.

Apa yang telah aku lakukan?  Aku menguliti tubuhku sendiri. Menyiksa.

Tunggu aku Rin, Bu, Pak! Tunggu aku di nirwana. Ijinkan aku bersimpuh di kaki kalian. Aku bersumpah akan menemui kalian, dan menebus semua yang belum terbayar.

***

Biar waktu membeku dan aku dihakimi, dalam seperenam belas detik ini ku sulut munajat bersama apa yang tersisa di lembah hatiku.

Tiada yang mampu menembus waktu, meramal masa depan, menuntut nasib. Sebab, bukan lagi manusia yang memilih takdir, tetapi takdir yang memilih mereka. Memilih bersama siapa Ia akan terbang kemudian jatuh, terbang lagi dan jatuh lagi.

Kisah masing-masing insan, sudah terpati dan mengakar pada diri mereka.  

Dalam sepertujuh belas detik berikutnya, aku akan lahir, menjadi reinkarnasi dari makhluk Tuhan yang paling sempurna. Di dunia kedua, ketiga, atau keempat...

 

*** END ***

How do you feel about this chapter?

0 1 11 0 0 0
Submit A Comment
Comments (4)
  • Ayuning

    Wow mar.. Good bgt

  • AlfaniM

    Up rin. Ima waiting the another one.

  • yeyya

    This was a light read. Kinda bored tbh, bc i sorta expected it but yeah, a good read. Keep writing!

  • septiana

    Kok jadi baper ya 😢

Similar Tags
Monologue
10186      6676     1     
Romance
Anka dibuat kesal, hingga nyaris menyesal. Editor genre misteri-thriller dengan pengalaman lebih dari tiga tahun itu, tiba-tiba dipaksa menyunting genre yang paling ia hindari: romance remaja. Bukan hanya genre yang menjijikkan baginya, tapi juga kabar hilangnya editor sebelumnya. Tanpa alasan. Tanpa jejak. Lalu datanglah naskah dari genre menjijikkan itu, dengan nama penulis yang bahkan...
Cinta dalam Diam
801      490     2     
Short Story
Jika aku mencintai seseorang maka aku harus merelakan ia bahagia, meski pun tidak denganku
WulanaVSurya
519      382     1     
Romance
Terimakasih, kamu hadir kembali dalam diri manusia lain. Kamu, wanita satu-satunya yang berhasil meruntuhkan kokohnya benteng hatiku. Aku berjanji, tidak akan menyia-nyiakan waktu agar aku tidak kecewa seperti sedia kala, disaat aku selalu melewatkanmu.
Berhargakah Sebuah Jiwa???
747      525     6     
Short Story
Apakah setiap jiwa itu berharga? Jika iya, maka berapa nilai dari sebuah jiwa?, terlebih bila itu jiwa-mu sendiri.
Broken Wings
1571      1003     0     
Inspirational
Hidup dengan serba kecukupan dan juga kemewahan itu sudah biasa bagiku. Jelas saja, kedua orang tuaku termasuk pengusaha furniture ternama dieranya. Mereka juga memberiku kehidupan yang orang lain mungkin tidak mampu membayangkannya. Namun, kebahagiaan itu tidak hanya diukur dengan adanya kekayaan. Mereka berhasil jika harus memberiku kebahagian berupa kemewahan, namun tidak untuk kebahagiaan s...
PENGAGUM RAHASIA DARI KAMAR 111
643      509     4     
Short Story
Vayla tiba-tiba mendapat kiriman buket bunga dan cokelat dari seorang pengagum rahasia. Rupanya dia bukan sekedar pengagum rahasia biasa. Sebab dia mampu menuntun Vayla untuk melihat rahasia terbesar hidupnya. Rahasia tentang kisah hidupnya yang berakhir mengenaskan.
3.12am
798      513     2     
Short Story
the story of a girl that has been experiencing weird things in her house and around her. she tried fixing the situation, she fixed it. but can she end it?
Gareng si Kucing Jalanan
19129      7344     0     
Fantasy
Bagaimana perasaanmu ketika kalian melihat banyak kucing jalanan yang sedang tertidur sembarangan berharap ketika bangun nanti akan menemukan makanan Kisah perjalanan hidup tentang kucing jalanan yang tidak banyak orang yang mau peduli Itulah yang terjadi pada Gareng seekor kucing loreng yang sejak kecil sudah bernasib menjadi kucing jalanan Perjuangan untuk tetap hidup demi anakanaknya di tengah...
Rinai dan Sudut Lampu Kota
736      588     1     
Short Story
Teruntuk mereka, kaki-kaki kecil yang berjalan di persimpangan lampu merah, juga petikan gitar usang pencari nafkah. Terimakasih pada kalian yang tidak terlahir manja, pada kalian yang rela tersita masa kecilnya. Pada kalian yang sanggup bertahan hidup meski dilema, apakah hari ini bisa makan? apakah esok bisa makan? Belajar pada mereka, bocah-bocah lampu merah, yang bahkan diuji apapun dan tid...
About us
34367      4452     3     
Romance
Krystal hanya bisa terbengong tak percaya. Ia sungguh tidak dirinya hari ini. CUP~ Benda kenyal nan basah yang mendarat di pipi kanan Krystal itulah yang membuyarkan lamunannya. "kita winner hon" kata Gilang pelan di telinga Krystal. Sedangkan Krystal yang mendengar itu langsung tersenyum senang ke arah Gilang. "gue tau" "aaahh~ senengnya..." kata Gila...