Read More >>"> HABLUR (HABLUR (3)) - TinLit
Loading...
Logo TinLit
Read Story - HABLUR
MENU
About Us  

Tentu saja. Seberkuasa apa pun dia. Jika merajalela Hanya ada satu kata: Lawan! 

"Kok Ruby nggak lo undang?" tanya seorang teman kepada gadis yang tadi membagikan undangan di kelas. Mereka jalan di koridor menuju kantin.

Sang gadis yang juga primadona sekolah hanya tertawa kecil. "Gue undang pakai mulut aja nanti. Nggak yakin gue, kalau dia mau datang. Kayak nggak tahu gimana dia?"

Si teman ikut tertawa. "Iya, sih. Kata bokap gue, kalau diundang itu wajib datang. Nah, dia, saban diundang nggak pernah datang. Apa dia nggak punya baju kali, ya? Atau nggak mampu beli kado?"

"Maybe," ujar Cleopatra. Gadis yang akan berulang tahun itu berjalan sambil memandangi kukunya yang baru selesai didandani kemarin. "Aduh!"

Sesosok tubuh kurus menabraknya.

"Lo nggak lihat kalau jalan? Hah!" bentaknya kesal. Cat kukunya tergores!

"Maaf, Cleo. Tapi lo yang nggak lihat jalan," jawab Ruby tenang. Tadinya ia ingin diam saja, tetapi bentakan Cleopatra menyentil lubuk hatinya.

"Ck! Kuku gue jadi rusak nih gara-gara ditabrak lo!" Cleopatra berang. Teman di sebelahnya juga ikut memperhatikan kuku Cleopatra.

"Gue dari tadi di sini, Cleo. Nggak ada nabrak lo." Ruby sedari tadi memang menatap Mading dengan berdiri tegak, tidak bergerak.

Cleopatra memberengut. Kuku indah yang disiapkan untuk pesta ulang tahun ke tujuh belasnya menjadi rusak. "Susah emang ngomong sama Olive Oyl kayak lo. Udah bego, pengkhianat pula."

Ruby hanya diam menatap kepergian Cleopatra dan temannya. Sebisa mungkin, diaturnya napas yang ada agar tenang. Mudah terpelatuk bukanlah seorang Ruby.

Semenjak kejadian yang lalu, cap pengkhianat dari Rimba memengaruhi beberapa murid lain dalam kelas. Ruby yakin tidak semua berpikir sama. Namun, yang lain juga tidak berani berkomentar. Kuasa Rimba mengalahkan segalanya.

Kalau biasanya orang mengira gelar Peringkat Satu Pararel nan tersohor itu diraih oleh anak yang pintar, rajin, kutu buku, kaku dan segudang cerita tentang anak nerd. Belantara Rimba jelas tidak seperti itu. Untuk pintar, okelah Rimba pintar. Kalau tidak pintar, tidak mungkin menggondol predikat teratas, 'kan? Masa iya hasil jampi-jampi atau pakai Dukun?

Mana mungkin? -Bu Hartini mode : ON-

Rimba tidak rajin, tidak juga kutu buku, jauh dari kata kaku apalagi nerd. Sesuai nama, pemuda itu adalah pecinta kebebasan yang kerjanya naik turun gunung, masuk keluar hutan. Tak jarang bolos sekolah untuk ekspedisi.

Ruby mendeteksi itu, karena hilangnya Rimba bersamaan dengan melenyapnya beberapa anak yang setipe.

Tapi tahu apa yang jenius? Rimba punya stok surat sakit bertanda tangan Dokter yang bisa dikeluarkannya kapan saja ia butuh. Ya iyalah, kabarnya rumah sakit terbesar di kota ini milik keluarga Rimba.

Ruby melengos. Kalau di Twitter -sosmed yang suka dibacanya-, Rimba pasti akan terdepak jika ia mengaku sebagai sobat misqueen. Dia berkompeten untuk mengaku sebagai Paduqa meski nanti akan dihujat pengikut setianya Ikram Marki.

Rimba ketua Pasuspala, organisasi pecinta alam di sekolah. Ia mematahkan mitos bahwa anak-anak pecinta alam adalah anak yang selalu bernilai rapor merah. Jarang masuk, tidak pernah terlihat lama membaca buku, duduk di belakang dan jarang mencatat, tetapi hasil ulangan bagus terus. Peringkat satu pula.

Kadang Ruby berpikir, apa Rimba nyontek? Nggak mungkin! Rimba pernah dites guru untuk mengerjakan soal susah di papan tulis dan berhasil dijawabnya.

Atau waktu masih kecil dahulu Rimba dicekokkan susu dengan kandungan omega tiga lebih banyak melebihi anak seusianya?

Entahlah. Bagaimana Rimba bisa pintar? Itu masih rahasia. Hanya Rimba dan Tuhan yang tahu jawabannya. Tidak mungkin Ruby ikut Payung Teduh untuk tertawa dan menangis pada gunung dan laut agar mendapat jawaban, 'kan? Atau ikut Ebiet G. Ade, bertanya kepada rumput yang bergoyang?

Jangan, dia sudah cukup dianggap alien. Nanti ia bisa benar-benar dideportasi ke luar angkasa. Menyusul Pluto yang dianggap bukan planet dan dicoret dari tata surya.

Ruby menarik pelan rambutnya. Mulutnya memang diam, tetapi benaknya sangat riuh. Tidak banyak yang tahu bahwa orang yang terlihat pendiam, sangat ramai di dalam.

Pikirannya kembali ke Rimba. Memang sih Rimba tidak pernah pelit. Kalau ulangan, ia sering bocorkan rumus tanpa memberitahu jawaban. Itu membuat beberapa orang seolah ingin berusaha mendekat. Bahkan menjilat. Ketika orang-orang itu melihat Rimba mulai tidak menyukai Ruby, mereka memilih ikut mencibir atau diam. Seolah diam adalah pilihan terbaik.

Padahal menurut gerakan mahasiswa, diam malah dianggap pengkhianatan. Kalau kata Soe Hok Gie, "Tunduk ditindas atau bangkit melawan. Sebab diam adalah pengkhianatan."

Ruby tersenyum tipis. Kalau sudah begini, siapa yang harusnya dibilang pengkhianat? batinnya teriak. Dia atau orang-orang hipokrit di kelas?

Ruby kembalikan tatapan dan pikiran ke Mading, membaca sebuah syarat-syarat.

***

Sebuah kertas terkepal jatuh tepat berselisih dua senti dari muka Ruby, saat ia akan masuk kelas. Terdengar ribut-ribut dari bangku belakang.

Ruby melirik kertas itu, kertas folio berlogo khusus untuk ulangan. Meski bentuk kertas itu sudah membulat seperti bola, tetap saja angka 100 dari bolpoin merah milik guru, terbaca olehnya.

Matanya menoleh ke yang lain. Beberapa sibuk mengeluh bahkan tidak terima dengan nilai ulangan yang dibagikan. Ruby beranjak ke mejanya dan meraih kertas ulangan. Nilai ulangan fisikanya hanya 80.

"Belagu amat, njir. Nilai cepek kok dibuang. Kalo fisika gue dapet nilai seratus kayak lo bakal gue bingkai di kamar," ujar Untung.

Seharusnya, itu hanya pembicaraan biasa dua orang di belakang. Seharusnya, kelas yang ricuh membuat percakapan itu tidak terdengarnya. Entah mengapa, telinganya kali ini sangat awas bahkan seperti memanjang ke belakang.

Ruby ingin mencari jawab atas pernyataan Rimba. Ia ingin tahu bagaimana cara pemuda itu meraih posisi pertama.

Percakapan mereka didengarnya dengan saksama. Ia berpura-pura membaca hasil ulangan dengan menajamkan indra pendengarannya.

"Nggak penting nilainya, yang penting lo ngerti apa enggak," jawab Rimba malas. Ia memangku sebelah kakinya.

"Etdah. Penting, geblek. Dari nilai-nilai itu hasil rapor tertulis. Tsaaaah, bahasa gue."

"Nggak salah lo bilang gue geblek?" Rimba tersenyum sarkastik.

Sombongnya kau, anak muda! bisik hati Ruby mengomentari percakapan itu.

"Sombongnya kau, anak kuda!" Untung menyeletuk seperti ikut menyuarakan bisikan Ruby.

Tidak berapa lama, terdengar suara keplakan, menyusul ringisan dari mulut Untung. Dapat Ruby tebak bahwa Rimba barusan menepuk kepala di sebelahnya.

"Eh, undangan dari Cleo tadi gue taruh laci lo." Untung masih mengelus kepalanya. "Gue pikir, gue nggak diundang. Ternyata diundang, njir. Aduduh, Dek Cleo. Jadi bergetar hati Abwang!"

"Barusan ngomong gitu, mulut lo bergetar juga nggak?"

"Dikate gue ngomong pake hidung?!" Untung mencibir.

Tangan Rimba merogoh isi laci, menarik undangan tebal berwarna merah muda. Ia buka ikatan pitanya dan mulai membaca isi undangan.

Setelah selesai, ia membalik undangan sambil bergumam, "Sayang banget, buat begini aja sampe ngehabisin stok pohon di hutan."

Untung tergelak. "Asiaaaap! Barusan gue mendengar celoteh seorang penggiat lingkungan. Besok lo nulis di batu atau daun lontar aja, Rim."

Rimba menepuk kepala Untung lagi. "Lutung gunung!"

"Alas roban!" sahut Untung tidak terima namanya diplesetkan Rimba. Ia juga mulai menamai Rimba dengan nama sebuah hutan yang terkenal angker di Jawa Tengah. "Eh, Las. Tapi lo dateng, 'kan?"

"Nggak usah ganti nama gue, monyet!" protes Rimba.

"Lo duluan ganti nama gue, utan!"

Rimba terbahak menyadari kesalahannya. "Set, Untung sensi. Kayak cewek PMS."

Tidak memedulikan bahasan barusan, Untung kembali ke pertanyaan awal. "Lo dateng nggak acara Cleo?"

Belum sempat Rimba menjawab, sang pembuat acara sudah lebih dahulu jalan di lorong ke arah mereka. "Rim, undangan buat lo udah dikasih Untung, 'kan?"

Rimba mengangguk sebagai jawaban.

"Dateng ya, Rim." Mata bulat Cleopatra seolah memohon agar sang pemuda pujaan datang ke acaranya. "Eh, lo dateng juga ya, Tung. Kalian dateng, ya? Oke? Oke?"

Rimba menarik segaris senyum. Ia tidak begitu akrab dengan lawan jenis kecuali yang satu organisasi dengannya. Itu pun dianggapnya saudara. Senyum Rimba diartikan Cleopatra sebagai jawaban positif.

Ruby yang sedari tadi menguping menjadi tertegun. Dengan badan tegak, tangannya menyapu isi laci. Syukurlah, tidak didapatkan undangan Cleopatra di sana. Sejujurnya, Ruby tidak suka berada di tengah pesta.

Tapi rasa syukur Ruby hanya singgah sebentar. Orang yang tadi mencak-mencak karena cat kukunya tergores, sudah ada di samping mejanya. "Hei, Liv. Gue juga undang lo, loh. Tapi sori, undangan gue habis. Acaranya tanggal 30, minggu depan. Nanti gue share location di WA grup kok. Lo juga dateng, ya!"

Sepertinya Ruby perlu bergelas stok saliva agar tenggorokan tidak mendadak tersendat seperti sekarang. Cleopatra langsung pergi setelah bicara barusan, tidak menunggu jawaban darinya.

"Liv, lo dateng?" Pertanyaan Untung membuat Ruby menoleh ke samping kiri belakang.

Ia hanya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis. "Kemungkinan nggak," jawabnya singkat lalu membalik badan lagi.

Ruby hanya berusaha hargai penanya tadi. Walaupun ia juga menghindari berinteraksi dengan sang Alas Roban. Sudah cukup belakangan ini, ia menjadi bulan-bulanan seorang Rimba.

Memang tidak pernah ada kekerasan fisik, tetapi gangguan kerap kali datang. Selain kejadian minyak, Ruby pernah dikirimi kecoak di dalam laci, pernah mendapati tasnya digantung di tiang bendera, dan sudah puas mendengar sindiran Rimba yang tertuju kepadanya.

Kalau Rimba bisa tega, Ruby bisa batu. Kalau Rimba bisa jahat, Ruby bisa dingin. Itu rapalan kuat-kuat dalam hati Ruby, yang memenangkannya lewati kejadian tidak menyenangkan dari Rimba.

Apalagi menjelang UAS seperti ini, Ruby sudah tidak peduli. Selama Rimba tidak main kasar, ia biarkan saja. Ia harap Rimba puas dengan semua pelampiasannya.

"Cleo, si Olive nggak mau dateng ke acara lo," seru Rimba ke tengah kelas. Membuat kumpulan ciwik-ciwik menoleh ke arah mereka.

Mata Cleopatra membulat, tidak terima. "Dateng dong, Liv. Bawa pacar lo juga." Gadis itu berkacak pinggang.

"Ngejek apa gimana, lo?" Rimba masih berbicara dengan kekuatan suara dua oktaf. Beberapa tertawa menanggapi jawaban Rimba. Semua juga tahu, tidak ada yang mau berteman dekat apalagi pacaran dengan Ruby.

Cleopatra menaikkan dagunya, "Liv, lo dateng ya! Gue bayarin deh taksinya."

Suara meremehkan khas Cleopatra yang terdengar di telinga Ruby, hanya menuai sebuah senyuman datar. "Lihat nanti. Gue usahain, ya. Thanks undangannya."

Ruby beralih memasang earphones di telinga. Menandakan ia tidak mau diganggu siapa pun dan tidak peduli kalimat yang akan datang setelah kalimatnya tadi.

"Sok oke banget!" dengkus Cleopatra, melipat tangan di dada. Serentak, geng gosip mulai berbisik mesra menjadikan Ruby sasaran baru.

Melihat itu, Rimba menarik segaris senyum sinis. Ia gagal lagi mengerjai Ruby. Anak aneh itu seperti memiliki tameng yang tidak diketahuinya. Entah apa.

Tanpa bisa dicegah, di luar kesadarannya, Rimba menduduki bangku kosong sebelah Ruby. Ia menutup buku yang sedang dibaca sang Maneken Hidup, tangannya menarik penutup telinga Ruby. "Jangan sombong banget jadi orang. Lo itu kayak maneken hidup tahu nggak? Putih, kurus, diam penuh keangkuhan."

Ruby menyandarkan punggung di bangku. Suasana kelas masih ramai. Semua sibuk sendiri-sendiri. Biasanya pun ia dibiarkan sendiri. Kenapa kali ini Rimba sampai agresi ke wilayahnya? Ia meraih kembali earphones sebelah kiri yang dibuka Rimba.

Tangannya ditahan Rimba. "Gue ngomong sama lo, lo patung apa maneken hidup?"

"Apa lo bilang?" Ruby mengemam, dalam hatinya berisik. Tunduk ditindas atau bangkit melawan. Sebab diam adalah pengkhianatan.

"Budek? Lo itu maneken hidup!"

Sebab diam adalah pengkhianatan.
Sebab diam adalah pengkhianatan.
Sebab diam adalah pengkhianatan.

Seolah mantra, kalimat itu diulangnya tiga kali sebelum menoleh ke Rimba.

"Nggak nyangka gue, Peringkat Satu Pararel kayak lo nggak tahu kalo tindakan mengejek atau menghina fisik seseorang bisa terancam hukuman pidana empat tahun dan denda 750 juta." Ruby menentang mata Rimba. Jangan dipikir, dia diam karena tidak berani melawan.

"Bisa ngomong panjang juga lo."

"Jelas bisa. Gue punya mulut. Tapi gue selalu saring dulu apa yang mau gue omongin." Kali ini tatapan mereka sama-sama tajam. Tidak ada lagi Ruby yang biasanya menghindar. "Yang harusnya nggak bisa ngomong panjang itu justru lo, karena bukti body shaming lo udah gue rekam."

Ruby mengangkat ponsel hitamnya.

Tidak untuk hari ini dan hari berikutnya. Ia akan melawan segala bentuk kesewenangan Rimba.

Tentu saja, seberkuasa apa pun dia. Jika merajalela, hanya ada satu kata. LAWAN!

How do you feel about this chapter?

0 0 0 0 1 0
Submit A Comment
Comments (0)

    No comment.

Similar Tags
Sacrifice
6305      1602     3     
Romance
Natasya, "Kamu kehilangannya karena itu memang sudah waktunya kamu mendapatkan yang lebih darinya." Alesa, "Lalu, apakah kau akan mendapatkan yang lebih dariku saat kau kehilanganku?"
Teman Berbagi
2725      1069     0     
Romance
Sebingung apapun Indri dalam menghadapi sifatnya sendiri, tetap saja ia tidak bisa pergi dari keramaian ataupun manjauh dari orang-orang. Sesekali walau ia tidak ingin, Indri juga perlu bantuan orang lain karena memang hakikat ia diciptakan sebagai manusia yang saling membutuhkan satu sama lain Lalu, jika sebelumnya orang-orang hanya ingin mengenalnya sekilas, justru pria yang bernama Delta in...
Mimpi Milik Shira
486      269     6     
Short Story
Apa yang Shira mimpikan, tidak seperti pada kenyataannya. Hidupnya yang pasti menjadi tidak pasti. Begitupun sebaliknya.
Nadine
5345      1355     4     
Romance
Saat suara tak mampu lagi didengar. Saat kata yang terucap tak lagi bermakna. Dan saat semuanya sudah tak lagi sama. Akankah kisah kita tetap berjalan seperti yang selalu diharapkan? Tentang Fauzan yang pernah kehilangan. Tentang Nadin yang pernah terluka. Tentang Abi yang berusaha menggapai. dan Tentang Kara yang berada di antara mereka. Masih adakah namaku di dalam hatimu? atau Mas...
REMEMBER
4173      1260     3     
Inspirational
Perjuangan seorang gadis SMA bernama Gita, demi mempertahankan sebuah organisasi kepemudaan bentukan kakaknya yang menghilang. Tempat tersebut dulunya sangat berjasa dalam membangun potensi-potensi para pemuda dan pernah membanggakan nama desa. Singkat cerita, seorang remaja lelaki bernama Ferdy, yang dulunya pernah menjadi anak didik tempat tersebut tengah pulang ke kampung halaman untuk cuti...
AUNTUMN GARDENIA
129      113     1     
Romance
Tahun ini, dia tidak datang lagi. Apa yang sedang dia lakukan? Apa yang sedang dia pikirkan? Apakah dia sedang kesulitan? Sweater hangat berwarna coklat muda bermotif rusa putih yang Eliza Vjeshte kenakan tidak mampu menahan dinginnya sore hari ini. Dengan tampang putus asa ia mengeluarkan kamera polaroid yang ada di dalam tasnya, kemudian menaiki jembatan Triste di atas kolam ikan berukura...
BIYA
2961      980     3     
Romance
Gian adalah anak pindahan dari kota. Sesungguhnya ia tak siap meninggalkan kehidupan perkotaannya. Ia tak siap menetap di desa dan menjadi cowok desa. Ia juga tak siap bertemu bidadari yang mampu membuatnya tergagap kehilangan kata, yang tak pernah ia sangka sebelumnya. Namun kalimat tak ada manusia yang sempurna adalah benar adanya. Bidadari Gian ternyata begitu dingin dan tertutup. Tak mengij...
Rinai Kesedihan
772      515     1     
Short Story
Suatu hal dapat terjadi tanpa bisa dikontrol, dikendalikan, ataupun dimohon untuk tidak benar-benar terjadi. Semuanya sudah dituliskan. Sudah disusun. Misalnya perihal kesedihan.
Pesona Hujan
990      535     2     
Romance
Tes, tes, tes . Rintik hujan kala senja, menuntun langkah menuju takdir yang sesungguhnya. Rintik hujan yang menjadi saksi, aku, kamu, cinta, dan luka, saling bersinggungan dibawah naungan langit kelabu. Kamu dan aku, Pluviophile dalam belenggu pesona hujan, membawa takdir dalam kisah cinta yang tak pernah terduga.
When I\'m With You (I Have Fun)
620      352     0     
Short Story
They said first impression is the key of a success relationship, but maybe sometimes it\'s not. That\'s what Miles felt upon discovering a hidden cafe far from her city, along with a grumpy man she met there.