Average Rating :
Title: SITINGGIL : Kembang Dukuh Kromasan
Category: Horror
Language: Bahasa Indonesia
Published: February 2019
Total Hits: 2071
Total Readers: 823
Status : On-Going
Total Pages: 140
Written by: HeruP

Gayatri adalah kembang dukuh Kromasan. Ia menjalin cinta dengan Panjali. Sayang cintanya itu harus terkekang oleh adat karena di tempat tinggalnya ada larangan pacaran bagi sesama warga dukuh Kromasan. Terpaksa mereka menjalin asmara secara sembunyi-sembunyi.
Suatu saat dukuh Kromasan menggelar acara Bersih Desa dengan menampilkan seni Kuda Lumping. Tapi acara itu harus berakhir dengan terror yang sangat mengerikan. Acara menginjak dan makan beling yang biasanya jadi tontonan paling seru, kali ini justru memakan korban. Hal itu terjadi lantaran ada dua pemuda yang mengusik makam keramat Sitinggil. Mereka meminum air kelapa muda yang dijadikan sesajen. Bahkan mengencingi pohon beringin tua yang dipercaya sebagai batu nisan.
Tak ayal, hantu kepala glundung mulai menebar terror. Menghisap darah setiap orang yang diincarnya. Dukuh Kromasan menjadi mencekam. Sebab kemunculan hantu kepala glundung berarti lepasnya cincin merah delima yang menjadi segel di lidah hantu kepala yang haus darah itu. Dan cincin merah delima itu pasti akan meminjam raga seorang gadis untuk melampiaskan dendam dan haus darahnya.
Tragedi ini dimanfaatkan oleh Jonet, anak juragan tembakau terkaya yang juga mencintai Gayatri, untuk memfitnah Panjali sebagai biang keladi atas semua kengerian yang terjadi selama ini. Akibatnya Panjali pun diusir dari dukuh Kromasan. Dia dituduh melanggar adat dan sekaligus mendalami ilmu hitam. Kepergian Panjali dimanfaatkan Jonet untuk lebih mendekati Gayatri. Walau sayang setiap kali Jonet berusaha mengadakan pendekatan, ia selalu dihantui oleh bayangan hantu wanita yang menyeramkan.
Para sesepuh desa mencoba mencari cara guna menghentikan terror itu. Namun korban tetap berjatuhan dengan tubuh kering dan gosong. Bahkan salah satu jenasah warga ada yang berubah menjadi kumpulan cumplung ketika hendak dimakamkan.
Dan puncak terror terjadi justru pada saat Mbah Sadikun tahu bahwa cincin merah delima itu bersemayam di tubuh Retno Gayatri. Betapa tidak! Jika ingin terror berhenti, Mbah Sadikun harus melenyapkan cincin merah delima itu di area Sitinggil dengan sebuah upacara sakral yang bisa saja merenggut nyawa Gayatri, cucu kesayangannya itu. Dan jika upacara itu tidak dilaksanakan Gayatri juga akan tetap menjadi korban.
Pada saat yang tepat, Panjali yang dalam pembuangan telah sampai di hutan jati Brongkos dan bertemu orang pintar dari gunung Pranti yang bersedia membantu proses penghancuran cincin merah delima itu. Dengan ilmunya yang linuwih Ki Sapto Dipo berhasil menghancurkan cincin merah delima tanpa harus mengorbankan Gayatri. Walau untuk itu mereka harus bergelut dengan maut dalam lautan darah yang membanjiri area makam Sitinggil.
Pada saat yang sama, Jonet yang ternyata berambisi mendapatkan cincin merah delima guna memikat hati Gayatri, justru ditemukan tewas dalam kondisi mengenaskan. Mayatnya terapung di kali Tempur dengan dada penuh sayatan luka yang membentuk tulisan Sitinggil.
Kehancuran cincin merah delima ternyata juga menjadi hari hancurnya segala benda keramat yang ada di Sitinggil. Di awali dengan goncangan yang sangat hebat, area Sitinggil menjadi rata dengan tanah sekitarnya. Tempat yang dulunya dianggap angker itu serta merta berubah menjadi taman bunga yang bermandikan cahaya teramat indah.
Dan Gayatri bersama Panjali ada di tengah taman bunga itu sebagai sepasang kekasih yang telah berhasil mematahkan kungkungan adat dengan kekuatan cinta mereka. Cinta beraroma dupa yang kini bernuansa melati symbol kesucian janji.




Begin Reading  Add Review