Kalian pasti setuju bahwa setiap orang di dunia ini pasti memiliki rahasia. Aku juga memiliki sebuah rahasia antara aku, dia, dan Tuhan. Aku sering tergoda untuk menceritakan rahasia ini kepada orang lain, tapi aku ingat bahwa ini bukanlah rahasiaku sendiri melainkan rahasianya juga.
Hari ini dengan mengenakan pakaian serba hitam, aku datang ke pemakamannya untuk mengenang rahasia kami. Jadi sekarang aku sudah berjongkok di samping batu nisannya, membaca nama di atas batu nisan itu, dan mencabuti rerumputan liar di sekitar makamnya.
Sebelum aku berdoa, suara seseorang yang tidak kukenal mengusikku.
“Kau ini sudah membuang waktuku. Untuk apa kau menuntunku ke makam orang yang tidak kukenal? Bukan makam orang yang kucari,” protes pria yang berdiri di depanku saat ini.
Aku tersenyum kecil. “Berjongkoklah dan berdoa, tunjukkan rasa hormatmu. Aku bahkan belum bercerita padamu, bukan?”
Dengan wajah sebal dia berjongkok di sebelahku. Aku mendengarnya berguman pelan, “Dasar cewek aneh, untuk apa aku berdoa demi orang yang tidak kukenal?”
Lagi-lagi aku tersenyum, “Berdoalah untuk cinta pertamamu. Kau mencariku untuk menemuinya, bukan?”
Tanpa menoleh, aku sudah tahu pipi pria itu sudah memerah. Aku memenjamkan mataku lalu berdoa. Hari ini aku akan berbagi rahasia terbesarku kepada seseorang yang tidak kukenal.
***
Beberapa tahun yang lalu …
Namanya Liliana, sosok gadis kecil yang ramah. Kami sudah mengenal satu sama lain sejak lama sekali. Kami berkenalan saat aku meminta Papa dan Mama untuk merayakan ulang tahunku yang ke-9 di sebuah panti asuhan. Ya, dia adalah anak yatim piatu. Aku terkejut begitu mengetahui bahwa dia bersekolah di sekolah yang sama denganku. Sejak itu kami berteman baik.
Beberapa bulan setelah pertemuan pertama kami, aku bermaksud untuk mengajaknya bermain ke rumahku. Hari itu aku dan Mama menjemput Liliana dari panti asuhannya. Aku ingat sekali waktu itu aku memakai gaun biru selutut dan lengan pendek favoritku. Setelah mendapatkan izin dari pengurus panti asuhan—Ibu Rinda—akhirnya Liliana pergi ke rumah kami.
“Kalian memang diperbolehkan untuk bermain, tetapi ingat ya, jangan terlalu lama,” ujar Mama sambil menyetir mobilnya menuju rumah.
“Memangnya kenapa?” tanyaku penasaran.
“Liliana belum bercerita kepadamu, Fransiska?” Aku menatap Liliana kebingungan. 
“Hari ini aku akan dijemput oleh kedua orang tua angkatku.”
Aku menutup mulutku kaget. “Astaga! Kenapa kamu tidak menceritakannya kepadaku sejak dulu?”
Liliana tersenyum hangat, “Biar jadi kejutan, hehe.”
“Kamu sudah pernah bertemu dengan mereka?” tanyaku iseng.
Liliana menggeleng. “Ibu Rinda hanya menceritakannya kepadaku. Mereka masih muda katanya. Tenang saja, mereka baik dan ramah, kok. Aku punya fotonya loh.”
“Boleh kulihat?”
Liliana merogoh kantong celananya dan memberikanku sebuah foto sepasang suami istri yang masih muda. Mereka tampak bahagia dan tersenyum ke arah kamera. Menurutku mereka memang orang baik.
“Kamu boleh simpan foto mereka. Supaya kamu kenal orang tua angkatku.”
Mendengar berita seperti ini aku jadi ikut senang. Aku memang tidak tahu bagaimana rasanya hidup di panti asuhan, tetapi menurutku hidup bersama orang tua lebih menyenangkan. Kalau dipikir-pikir, hari ini akan menjadi hari pertama Liliana bertemu dengan orang tua angkatnya. Hmm, aku punya ide.
“Kamu akan bertemu orang tua angkatmu untuk pertama kali, bukan? Kalau begitu, kamu harus memakai baju yang bagus,” usulku.
“Tapi kamu kan tahu aku tidak memiliki baju yang bagus.”
Aku berpikir sejenak sebelum akhirnya bertanya kepada Mama, “Ma, bolehkah aku meminjamkan bajuku untuk Liliana?”
“Boleh saja, kok,” jawab Mama.
“Begitu sampai di rumahku, kamu harus pilih baju-bajuku ya! Kamu boleh pinjam yang mana saja.”
Liliana mengangguk senang.
***
“Aku tidak suka yang ini,” kata Liliana cemberut.
Aku berkacang pinggang kebingungan. Aku sudah mengeluarkan seluruh isi gaunku tetapi tidak ada yang cocok untuk Liliana.
“Semua gaun tidak ada yang cocok, hanya tinggal gaun biru yang tadi kupakai.”
“Bagaimana kalau aku coba gaun biru itu?” ujar Liliana.
“Eh? Tapi ini bekas aku pakai loh.”
Liliana menggeleng pelan, “Tidak apa-apa. Aku coba dulu bagaimana?”
“Baiklah.”
Aku pun mengambil gaun biru yang tadinya sudah kutaruh di keranjang baju bekas. Itu adalah gaun favoritku, mungkin Liliana suka. Aku berbaring telentang di kasur sambil menunggu Liliana mencoba gaun biruku. Aku menatap langit-langit kamarku yang dipasang chandelier. Aku memang terlahir di keluarga yang berkecukupan. Aku tidak pernah tahu rasanya kekurangan apalagi rasanya hidup tanpa kedua orang tua.
“Bagus banget!” pekik Liliana keluar dari kamar mandi. Aku memiringkan kepala ke arah kamar mandi.
Aku buru-buru bangkit duduk dan mataku membelalak. Gaun biru favoritku terlihat jauh lebih pas ketika dipakai oleh Liliana.
“Kamu cantik banget!” pujiku. “Gaunnya untuk kamu saja deh, kalau dipakai kamu jadinya lebih cocok.”
Liliana tersipu, pipinya memerah. “Jangan gitu, aku malu nih.”
Aku tertawa pelan. Liliana pun duduk di sampingku.
“Main petak umpet, yuk,” ajak Liliana.
“Aku yang sembunyi ya.”
Liliana pun segera berjalan menuju tembok dan menutup matanya. Ketika dia mulai berhitung mundur dari sepuluh, aku berkeliling kamar untuk mencari tempat persembunyian yang strategis. Di bawah kasur tidak mungkin, jangan di kamar mandi, atau di balik lemari baju?
Tepat ketika hitungan mundur habis, aku sudah menjejalkan diriku ke balik lemari baju. Beruntung aku memiliki tubuh mungil yang bisa masuk ke dalam sela-sela lemari. Aku berdoa Liliana tidak akan menemukanku karena aku berhasil menutup pintu lemari dengan sempurna.
“Kamu dimana sih?” tanya Liliana.
Ketika Liliana sedang sibuk mencariku, aku mendengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah. Tak lama, bel rumah ditekan. Beberapa menit kemudian, aku mendengar suara jeritan seorang wanita yang kukenal, Mama. Secara refleks aku mendorong pintu lemari untuk berlari keluar. Sayangnya, Liliana mendorong pintu lemari sehingga aku tidak bisa keluar.
“Aku menemukanmu,” kata Liliana.
“Liliana, tolong buka pintunya. Kamu dengar kan Mamaku menjerit? Aku harus mengeceknya,” rintihku sambil terus berusaha mendorong pintu.
Tak lama Liliana mengunci pintu lemari dan segala usahaku sia-sia. Aku berusaha menendang, memukul, dan mendorong dengan putus asa. “Apa-apaan ini Liliana?”
“Fransiska, tolong berjanji padaku. Apapun yang terjadi padaku, jangan keluar dari lemari ini, tolong,” Liliana memohon dengan suara memelas.
“Maksudmu apa?”
Suara Liliana mulai bergetar. “Semenjak kamu datang ke panti asuhan, aku sadar ada pria asing yang mengintai panti asuhanku. Ibu Rinda pikir pria itu mengincar kami tapi ternyata salah, Fransiska.”
“Salah?”
“Mereka mengincarmu sejak awal.”
Aku menelan air liurku. Mengapa sejak dulu aku tidak sadar akan hal ini? Apa yang sudah dilakukan para penjahat itu terhadap Mama? Bagaimana Papa?
“Mereka pasti akan mengira aku adalah kamu karena aku memakai gaun biru ini. Kamu akan selamat asalkan kamu tetap diam di dalam lemari dan tidak bersuara.”
Air mataku mendesak keluar. “Kamu mau mengorbankan dirimu demi aku? Jangan Liliana! Kamu yang harusnya berada di dalam sini. Keluarkan aku!” Aku memukul-mukul pintu lemari.
Ketika aku berhenti menggedor pintu lemari, pintu kamarku didobrak oleh seseorang. Aku tidak bisa mengintip jadi yang bisa kulakukan hanya mendengarkan suara.
“Ini dia anakmu. Mari kita habisi mereka berdua sebelum menjalankan operasi,” ujar seorang pria bersuara berat.
“Tolong jangan apa-apakan dia.” Aku mengenal jelas suara itu, suara Mama. Dia terdengar merintih tidak berdaya.
“Tunggu apalagi? Suaminya sudah diselesaikan,” kata pria yang satunya lagi.
Di dalam lemari yang gelap dan sempit, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan mendengarkan suara yang menyeramkan. Suara tendangan, pukulan, tangisan, jeritan, tawa, semuanya bercampur menjadi satu. Aku berusaha menutup telingaku rapat-rapat tetapi percuma karena suaranya begitu keras dan jelas. Ingin sekali aku berteriak tapi pita suarku tidak mengeluarkan suara sama sekali.
“Mereka berdua sudah selesai,” kata pria bersuara berat.
“Ayo mulai dari kamar utama, cari perhiasan dan uang. Kita harus cepat sebelum polisi datang.”
Ketika langkah kaki mereka menjauh, aku menutup mulutku, terduduk, dan menangis. Seluruh tubuhku terasa lemas. Tidak ada yang bisa kulakukan selain berdiam di sini di saat Papa, Mama, dan Liliana disiksa.
***
Aku tidak tahu sudah berapa hari aku terjebak di dalam lemari yang gelap dan sempit ini tanpa makanan dan minuman. Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulakukan di sini selain menahan rasa perih dari lambungku yang memberontak. Juga mulutku yang sudah kering kerontang. Belum lagi aku harus membiasakan diri dengan suhu yang pengab di sini. Ditambah lagi bau busuk yang mengalahkan bau pewangi lemari.
Masa-masa berkabungku sudah selesai. Bukan karena memang masanya telah lewat tetapi karena mataku sudah tidak bisa lagi mengeluarkan air mata. Aku sudah tidak ingin lagi menangis. Yang kuinginkan satu-satunya hanyalah keluar dari lemari ini. Keputusan Liliana untuk mengurungku di lemari memang menyelematkanku tetapi mari kita lihat apakah aku sanggup bertahan melawan lapar dan haus.
Sayup-sayup aku mendengar suara sirine mobil polisi. Awalnya aku kira aku sedang berhalusinasi seperti yang kemarin kulakukan, tetapi semakin lama suaranya makin kencang. Lalu aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Dengan putus asa aku mencoba berteriak apapun agar mereka tahu keberadaanku.
Pintu lemari dibuka, seorang polwan menggendongku di punggung. Aku melihat sekilas mayat Mama dan Liliana. Tubuhnya penuh dengan lebam, darah, nanah, dan luka-luka yang mengerikan. Aku menahan gejolak perutku untuk muntah.
Setelah dua hari, aku keluar dari lemari. Aku dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.
***
Marco—nama pria itu—menutup mulutnya. Matanya membelalak setelah aku selesai bercerita tentang Liliana di sebuah café—dia mengusulkan untuk bercerita di café daripada di pemakaman. Aku menyeruput lemon tea yang kupesan dengan santai. Aku tahu akan sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya sudah meninggal secara tragis.
“Liliana sudah meninggal?” tanyanya tidak percaya.
“Makam tadi adalah makamnya.”
Marco menggelengkan kepala. “Bagaimana bisa? Di makam itu tertulis nama Fransiska, bukan Liliana. Dan lagipula, kaulah yang bernama Liliana!”
Aku berhenti sejenak dan menatap matanya dalam-dalam. Matanya kalut, sulit menerima kenyataan. “Apa kau ini belum juga mengerti?”
“Aku bercerita kepada polisi dalam sudut pandang Liliana, aku berbicara seolah-olah Fransiska telah meninggal. Lalu aku diadopsi oleh orang tua angkat Liliana dan pindah ke kota lain, aku bersekolah, kuliah, dan sekarang bekerja dengan nama Liliana. Kau ini belum juga mengerti? Aku ini Fransiska yang seharusnya meninggal. Aku ini adalah Fransiska yang bermain peran menjadi Liliana,” jelasku sambil menahan air mata.
“Jadi kau ini bukan Liliana?” tanya Marco—masih tidak percaya.
Aku menggeleng. Aku menundukan kepala dan menangis.
Pria ini tempo hari datang ke tempat kerjaku dan mencari wanita yang bernama Liliana. Dia mengaku Liliana adalah cinta pertamanya saat SD. Dia sudah pindah sebelum tersiar berita kematian ‘Fransiska’ dan ‘Liliana’ yang diadopi dan pindah ke kota lain. Tidak pernah terpikir olehku bagaimana aku harus menghadapi situasi semacam ini. Karena aku sudah lelah berpura-pura lagi, akhirnya aku mengajaknya ke makam Liliana yang sebenarnya untuk menceritakan rahasiaku.
“Apa orang tua angkatmu tahu akan hal ini?” tanya Marco.
“Tidak ada seorang pun yang tahu tentang hal ini, Marco.”
Marco tampak begitu terpukul. Aku tidak sanggup menatap matanya lagi. Akhirnya pertemuan kami hari itu selesai. Marco mengucapkan terima kasih padaku dan bela sungkawa atas kematian kedua orang tuaku. Aku juga mengucapkan bela sungkawa atas kematian Liliana.
***
Ketika aku sedang berjalan ke luar café, aku merasa bahuku ditepuk oleh seseorang. Ketika aku menoleh, aku tersadar. Ada sebuah potongan cerita yang tertinggal yang belum kuceritakan kepada Marco.
“Kamu pasti sudah terbiasa dengan nama barumu, Fransiska,” ujar seorang wanita paruh baya.
Aku mengangguk dan tersenyum. Aku tidak akan mengizinkan diriku untuk menangis lagi kali ini. Aku menatap mata hitam wanita itu dalam-dalam. Mata yang sama yang menatapku beberapa tahun lalu.
Sepasang suami istri sudah menantiku di luar kantor polisi beserta seorang wanita. Aku tahu sepasang suami istri itu adalah orang tua angkat Liliana. Mereka segera memelukku dengan erat dan mengelus kepalaku.
“Kamu baru saja melewati sesuatu yang mengerikan, nak,” ujar Ibu angkatku.
Aku mengenali wanita yang berdiri di sebelah mereka, Ibu Rinda. Beliau tidak mengucapkan apa-apa meskipun dia tahu bahwa aku bukanlah Liliana. Ibu Rindah malah ikut berjongkok bersama suami-istri tersebut dan memegang pundakku.
“Kamu harus kuat ya, Liliana.”
“Mengapa Ibu tidak jujur saja kalau aku ini bukan Liliana sejak awal?” tanyaku langsung.
Ibu itu tertawa. “Memangnya kau pikir mereka tidak tahu?”
Aku tertegun. Maksudnya?
“Mereka tahu bahwa kamu bukanlah Liliana. Aku sudah pernah berbicara dengan mereka.”
“Lalu mengapa—“
“Mereka ingin memiliki anak tetapi tidak bisa, Fransiska. Sebentar lagi kamu akan mengerti.”
“Tapi aku bukan Liliana yang mereka dambakan.”
Ibu Rinda mengedikkan bahu lalu tersenyum penuh arti. “Rahasia kalian aman di tangan kami, Fransiska.”
***

How do you feel about this chapter?
1 0 1 2 5 0
 
Save story

eri_kasandra
2019-01-30 07:31:50

Bagus dan enak banget bacanya, alurnya rapi... Makasih udah nulis cerita bagus ini 😁
Mention


dinda136
2018-11-29 14:21:49

Mampir yuk ke cerita ku, makasih
https://tinlit.com/story_info/2957

Mention


EnHaPS
2018-11-17 15:03:20

So Sad and So good
Mention


PriyayiChina
2018-08-29 15:33:09

halo kak
ceritanya bagusss
boleh minta vote-nya di ceritaku juga yaaa hihihi
https://tinlit.com/read-story/2208/6099
thank you

Mention


Fatimahimah
2018-06-07 01:03:33

ka jangan lupa bantu vote temen aku ya ceritanya jg ga kalah seru nih kak..
https://tinlit.com/view_story/1078/1256

Mention


Fatimahimah
2018-06-07 01:02:51

sukaaa sama ceritanyaaaaaa..

Mention


Arjun_Toraya
2017-08-17 06:29:16

Bagus ceritanya
Mention


Page 1 of 1 (7 Comments)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

712 526 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 833 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

277 222 3
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

711 537 8