Sekolah Menengah Pertama

Beberapa teman dekat memanggil Soonyoung dengan nama Hoshi, dan Ji Hoon dengan nama Woozi. Mereka sudah terlalu terbiasa mendengar kedua sahabat itu memanggil satu sama lain dengan nama ‘keren’ mereka. 

“Hoshi-Woozi!” Soonyoung memperkenalkan nama tim mereka dalam presentasi di kelas, membuat satu ruangan bersorak sementara Ji Hoon hanya bisa tertawa dan menunduk malu atas kelakuan Soonyoung. Si konyol Soonyoung selalu memperkenalkan nama ‘keren’ mereka dengan bangga, dan diam-diam Woozi menyukainya; meski ia selalu memukul lengan Soonyoung dan menunduk malu. Ji Hoon tidak akan pernah mengakui perasaannya. 

Tidak jauh berbeda dengan masa-masa di Sekolah Dasar, Soonyoung dan Ji Hoon masih menghabiskan hari-hari mereka bersama; meski keduanya seperti dua polar yang berbeda. Soonyoung yang mudah bergaul dan selalu bertindak konyol, dan Ji Hoon yang pemalu dan canggung, yang selalu bersikap serius. 

Masa Sekolah Menengah Pertama mereka akan segera berakhir, dan Ji Hoon kembali menemukan dirinya di kamar Soonyoung; masih dengan seragam sekolah mereka. 

“Soonyoung…” Ji Hoon berkata pelan, dan mendengar nama itu, Soonyoung segera mengalihkan pandangannya pada Ji Hoon. Ji Hoon hanya menggunakan nama ‘Soonyoung’ saat ia sedang serius. “Kau sudah memilih SMA-mu?”

Soonyoung terdiam, tidak yakin bagaimana harus menjawab pertanyaan Ji Hoon, “Mungkin… Bagaimana denganmu?”

Ji Hoon menghembuskan nafas panjang, “Seni… Aku ingin pergi ke sekolah musik.”

Soonyoung menatap Ji Hoon untuk waktu yang lama, menimbang-nimbang apakah ia harus mengeluarkan isi kepalanya, dan ia memutuskan untuk melakukan itu, “Orang tuamu setuju?”

Ji Hoon mengangkat bahu, “Entahlah. Tapi aku juga tidak peduli. Ini hidupku, ‘kan?” 

Tatapan Ji Hoon pada Soonyoung membuat Soonyoung tidak bisa bernafas, seakan dirinyalah yang menjadi penentu hidup Ji Hoon. Tetapi mungkin itu memang benar, karena bagi Ji Hoon, Soonyoung adalah tempatnya bersandar.

“Kau sudah mendaftar?”

Ji Hoon menggeleng pelan, “Besok…”

Soonyoung menganggukkan kepala. Ia meninggalkan laptop dan tontonannya, merangkak mendekat ke ranjang besar miliknya yang sudah dikuasai Ji Hoon sepanjang siang ini. Menepuk pelan punggung Ji Hoon, Soonyoung kembali mengeluarkan suaranya yang menenangkan, “Kau tau aku akan selalu mendukungmu ‘kan?”

Dan malam itu, di saat Ji Hoon akhirnya bisa kembali tidur nyenyak setelah menyerahkan semua keyakinannya pada Soonyoung, Soonyoung justru terjaga hingga subuh. Soonyoung yang belum pernah benar-benar memikirkan masa depannya itu kali ini benar-benar terpaksa berpikir keras; tidak hanya untuknya, tetapi juga untuk Ji Hoon. Mungkin Ji Hoon sudah melupakan janji mereka saat SD dulu; janji untuk selalu bersekolah di tempat yang sama, bahkan hingga bekerja di perusahaan yang sama, tetapi Soonyoung tidak pernah melupakannya. Soonyoung bahkan sangat serius dengan itu.

Seni… Soonyoung menyukai seni; ia menyukai musik, pertunjukan, dan… menari. Tetapi apakah itu adalah karir yang ingin ia tekuni? Soonyoung belum pernah berpikir tentang itu…

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

Page 1 of 0 (0 Comment)