Bagian Empat Lima

Terakhir πŸƒ

Segalanya, apapun yang ada padamu telah membuatku jatuh. 

 

***

 

Segala hal yang terjadi padakehidupan manusia adalah takdir Tuhan. Perasaan, penderitaan juga kebahagiaan.. Setiap manusia pasti akan merasakannya, tidak sekarang atau mungkin nanti.

 

Semua ada masanya. Dan pada akhirnya semua akan berakhir seperti yang sudah di gariskan Tuhan.

 

Dua tahun lalu..

 

Nara sempat berpikir jika hubungan nya bersama Dilon akan baik-baik saja dan sampai di tahap akhir, tapi sekarang..

 

Ah, bukankah Nara sudah menemukan kebahagiaan nya? 

 

Lalu untuk apa dia mengenang masa lalu? Sungguh hal yang sia-sia.

 

"Oy, Ra!" sentak Jovan membuat Nara terhenyak.

 

"Paan, sih?!"

 

"Gue udah mangilin lo dari tadi tapi lo gak respon. Mikir apa, sih?"

 

"Gue gak mikir apa-apa."

 

"Tapi lo melamun."

 

"Mana ada. Dari tadi gue dengerin lo, kok." dalihnya. 

 

"Oh ya. Oke, kalo Lo dengerin gue, coba lo ulang pertanyaan gue yang terakhir." 

 

Nara menggaruk kepala tidak gatal. Dia memang berbohong.

 

Lalu dia harus mengatakan apa?

 

"Bodo ah! Males." 

 

"Kan, lo gak bisa jawab."

 

Nara memalingkan muka ke arah lain. Sengaja mengabaikan nya. Saat ini.. Pikirnya tengah melayang. Banyak hal yang mulai terpikirkan olehnya. Mengenai keluarga juga orang-orang terdekat mereka, kini perlahan mulai kembali tenang.

 

Beberapa hari lalu, Nara sempat mengunjungi Nevasha perihal perasaan yang dia miliki pada Jovan. Bukan Nara merasa cemburu, hanya saja dia tidak ingin suatu saat nanti masalah ini akan berkelanjutan.

 

Nara tidak siap. Bahkan mungkin, tidak akan pernah siap.

 

Cup.

 

Nara langsung menoleh dengan menghadiahi tatapan tajam nya. Jovan tersenyum manis kemudian mengapit hidung Nara dengan jarinya. "Salah lo sendiri kenapa terus nyuekin gue." Jovan kemudian menarik tangan Nara keluar apartemen.

 

"Mau kemana?" Nara mengernyit kan hidung saat sampai di lobby. Jovan menoleh sebentar dan mulai memelankan langkahnya - menyamakan. Ia tersenyum lembut lalu menjawab, "Jalan-jalan bentar. Dari pada diem di apartemen nanti di grebek orang 'kan gak lucu."

 

Nara hanya terkekeh pelan. Ia menghentikan langkah, menatap Jovan bingung. "Jalan-jalan yang lo bilang tadi beneran jalan kaki?" 

 

Jovan ikut berhenti, menaikkan alis, "Yang namanya jalan itu ya pake kaki, Ra. Kalo gue ngajak lo naik mobil itu namanya bukan jalan-jalan." 

 

"Kenapa? Lo keberatan?" lanjut Jovan membuat Nara berdecak,"Bukan itu. Kalo tahu kita mau jalan kaki mending gue nyisir dulu. Gak elit banget kan, lo udah ganteng tapi gue nya kayak gembel gini." Nara memajukan bibir kesal - melihat dirinya sendiri dari atas sampai bawah. Kaos oblong dengan celana pendek dan juga sendal japit.. 

 

Wah, benar-benar gembel. 

 

Jovan mengulum bibir," Owh, sekarang udah gak malu bilang gue ganteng ya? Gak pa-pa, meski lo telat menyadari tapi gue tetep menghargai pujian lo." Nara meliriknya sinis. 

 

"Nyesel gue udah bilang lo ganteng." balas Nara tidak suka. Jovan tersenyum lembut - mengacak rambut Nara sayang. 

 

"Apapun yang lo pake, lo tetep jadi yang paling cantik menurut gue." ucap Jovan membuat Nara bersemu. 

 

"Kadal darat kayak lo udah gak asing buat gue." balas Nara memalingkan wajah. 

 

"Cuma sama lo doang." meski tahu jika Jovan tengah menggoda nya namun kedua pipi Nara tetap blushing. "tapi lebih cantik lagi kalo Lo gak pake apa-apa." imbuh Jovan membuat Nara meradang. 

 

"Sialan! Kenapa orang macam lo gak mati aja, sih?! Bikin muak aja!" Nara berteriak keras. Jovan menahan senyum, "Gue mana bisa ninggalin lo sendirian? Lo tanpa gue itu sepi. Tapi tanpa lo, mungkin gue beneran bisa mati." 

 

Seketika Nara terdiam. Bibirnya terbuka hendak menjawab namum kembali tertutup rapat. Ia tidak menemukan kata-kata yang pas untuk membalas Jovan. Pun Bingung. Ingin marah tidak bisa, mahu senang gengsi.

 

Akhirnya Nara memilih berjalan mendahului-meninggalkan Jovan di belakang. Dari pada mengatakan sesuatu yang dapat membuat dia kehabisan kata, lebih baik ia diam saja.

 

**

 

Jovan membawa Nara ke taman kota. Mereka duduk lesehan dengan beralaskan jaket Jovan di bawahnya. Angin sore membuat helaian rambut panjang Nara melambai-lambai. Langit yang sudah mulai temaram membuat keheningan mereka kian menghangat. Meski tidak mengatakan apapun, namun keadaan saat ini sangatlah tenang.

 

Mereka yang terbiasa saling menghina dan mencaci, kini saling bersandar dengan kedua tangan yang saling mengenyam. Jovan menundukkan kepala melihat Nara yang tengah memejam kan mata dengan tatapan hangat. Tangannya terulur menyelipkan anak rambut yang menghalangi sebagian wajah cantik yang selalu menunjukkan tatapan galak padanya. 

 

Senyumnya terukir seiring nya dengan semua ingatan tentang mereka yang selalu berdebat dan tidak sejalan. Namun..

 

Pada akhirnya mereka akan tetap berjalan seiringan.

 

Berbeda pendapat bukan lah penghalang. Kekonyolan serta merta perdebatan sengit mereka adalah kenangan yang suatau saat nanti akan ia ceritakan pada anak-anak mereka kelak.

 

Ya, karena Jovan selalu menerapkan prinsip jika tidak melakukan hal gila saat ini, apa yang akan mereka tertawakan di hari tua nanti? 

 

Di saat rambut mulai memutih dan raga sudah tidak mampu bergerak bebas, hanya obrolan singkatlah yang akan setia menemani mereka nanti.

 

Nara membuka mata balas menatap Jovan lembut. Sedari tadi ia sadar jika Jovan setia memperhatikan nya namun Nara membiarkan nya.

 

"Gue mau ngomong.." ucap meraka bersamaan. Mereka saling mengulas senyum kemudian tertawa bersama.

 

"Lady's first." ucap Jovan saat tawanya berhenti. Nara kembali bersandar pada Jovan dengan mengalihkan pandangan ke atas. Melihat matahari yang mulai meninggalkan bumi.

 

"Dari cerita lo, gue belum mastiin sesuatu."

 

Jovan berkedip lugu, "Apa?"

 

"Kenapa lo bisa jatuh cinta sama gue? Lo sendiri tahu kalo gue itu galak, judes dan juga gampang marah. Di antara banyak cewek yang ada di sekitar Lo, gue bahkan sama sekali gak ada apa-apanya, Tapi, kenapa lo malah milih gue?"

 

Jovan terlihat berpikir. "Kenapa, ya?" tanya Jovan balik. Nara mendengkus - mendonggak melihatnya dari bawah. Jovan terlihat serius berpikir Namun dia tetap tidak menemukan jawabannya.

 

"Gak tahu." jawab Jovan membuat Nara mengangkat kepala. Melirik Jovan kesal dengan memberinya tatapan protes.

 

"Sekian lama mikir tapi jawaban lo tetep gak tahu? Lo bercanda?!" dengkus Nara kesal. Jovan menatapnya lama. 

 

"Mungkin ini yang di bilang cinta gak butuh alasan." jawab Jovan pada akhirnya. "sekarang giliran gue. Kenapa lo bisa tetap bertahan sama gue meski lo tahu kalo gue itu nyebelin. Suka bikin lo kesel dan selalu ngajak lo ribut. Tapi Pada akhirnya lo milih gue? '' 

 

Nara mengelus dagu - berpikir." Mph.. Lo itu emang nyebelin, pake banget malah. Lo juga rese suka seenaknya sendiri, bahkan di setiap pertemuan kita istilah debat itu gak pernah absen. Tapi semua tindakan konyol lo selalu berhasil bikin gue lupa sama masalah diri gue sendiri. Lo tahu kalo gue udah cidera tapi lo tetep bertahan, selalu care sama gue dan diem-diem gue tahu kalo lo juga selalu menjaga gue dari jauh. " Nara memberi jeda, balas menatap Jovan lama. 

 

"Tapi untuk pertama kalinya gue merasa di istimewakan. Meski lo mesum, tapi di dekat lo gue tetap merasa aman. Bersama lo gue tahu artinya di cintai dengan sepenuh hati, dan tanpa gue sadari gue mulai nyaman. Perlahan, gue mulai sadar kalo gue cinta sama lo."

 

Jovan tersenyum - meraih wajah Nara dengan binar cinta di kedua manik hitam nya. 

 

"Karna lo udah bersedia mengucapkan kata sakral itu, gue rasa lo juga perlu denger ini." Jovan menyentuh kelopak mata Nara, "Mata ini selalu memberi sorot benci," Jemarinya merambat turun kehidung dan sampai pada bibir merah mudanya. "Bibir ini juga selalu mengumpat kasar buat gue, tapi, Semua yang ada sama lo, gue suka." ucap Jovan tersenyum lembut. 

 

Nara berkedip lugu. 

 

"Apapun yang lo lakuin bikin gue gak bisa berpaling. Dan sedari awal gue sadar kalo gue udah jatuh sedalam ini sama pesona lo." 

 

Perlahan Jovan mendekatkan wajah - menciumnya pelan, lembut dan penuh perasaan. Nara terhanyut, Dan untuk pertama kalinya Nara menerima bahkan menikmati ciuman mereka. Tidak ada lagi keraguan dan kecemasan yang selalu membayang-bayangi pikirannya. Semuanya terjadi begitu cepat dan Nara tidak mampu mengelak. 

 

"Gue bener-bener cinta mati sama lo, Nara Sidzkia." ucap Jovan di sela ciumanya. Perlahan Nara mulai membalas dengan gerakan kaku. Jovan tersenyum dalam ciumanya. 

 

Ya, pada akhirnya mereka tetap berjalan seiringan. 

 

Kekuatan cinta benar-benar dapat menyembuhkan. 

 

 

*

 

Dari aku yang tidak pernah percaya cinta.. 

 

Untukmu yang membuatku sadar, jika kaum mu tidaklah semengerikan yang aku pikirkan.. 

 

Terima kasih untuk selalu melindungi ku, menjagaku bagai duri bagi yang lain.. 

 

 

 

TAMAT

 

YEAYYY! AKHIRNYA.. FYUH

DENGAN INI SAYA NYATAKAN JUST YOU TAMAT YA DEAR! SEKIAN DARI SAYA DAN TERIMAKASIH UNTUK YANG SUDAH MEMBACA DAN MENINGGALKAN JEJAK! 

 

TANGKYUUU VERY MUCH UNTUK SEMUANYA, SALAM HANGAT DARIKU PENULIS AMATIR DAN JANGAN LUPA MAMPIR DI WORK KU YANG LAIN YA! 

 

BIG LOVE ❀️

UNTUK TERAKHIR KALINYA SAYA BERI KECUP MANJAH YA,. πŸ’‹

 

DADAH.. SAMPAI BERTEMU DI CERITAKU YANG LAIN!! 

Previous <<
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8