Bagian Empat Empat 

PrioritasπŸƒ

Bahagia ada karena di ciptakan dan bukan oleh merusak hubungan orang lain.

 

 

***

 

 

Dua hari berlalu. 

 

Jovan mengendarai mobilnya pelan. Sudah dua hari ini Nara menghindarinya, Nevasha juga menolak untuk menemui nya. Dua cewek itu benar-benar membuat Jovan kalang kabut, setelah paham situasi yang mereka hadapi kemarin.. Jovan benar-benar merasa bersalah pada Nevasha. 

 

Sebelum ini Jovan tidak pernah tahu jika sikapnya selama ini membuat banyak hati tersakiti. Jovan selalu merasa jika apa yang di lakukan nya hanyalah tindakan biasa. Namun seperti yang pernah dikatakan Nara, Jovan memang selalu memperlakukan cewek manapun dengan baik namun Jovan sering lupa jika setiap perempuan itu sangat sensitif. 

 

Perhatian sekecil apapun selalu di anggap penting bagi para perempuan, dan Jovan hampir melakukan itu kepada setiap cewek yang ia kenal. 

 

Jovan menghembuskan napas berat. Memarkirkan mobil lalu turun untuk menyelesaikan masalah yang bersangkutan dengannya. 

 

Jovan membuka pintu perlahan, setenang mungkin agar tidak membuat sang empunya tempat terkejut melihatnya dan langsung mengusirnya. 

 

Jovan melangkah mendekati seseorang yang tengah meringkuk di balik selimut. Perlahan Jovan mengelus sisi kepala nya pelan membuat sang empunya mengeliat dengan perlahan membuka matanya. 

 

"Jovan.. Lo ngapain disini?!" tanya Nevasha beringsut duduk. Jovan menghembuskan napas berat - menatapnya bersalah. 

 

"Gue minta maaf.." 

 

"Maaf?" ulang Nevasha dengan binar matanya yang kosong. 

 

"Gue udah tau semuanya. Beberapa hari ini gue udah nyoba nemuin lo tapi lo selalu nolak dengan alasan butuh istirahat total. Gue minta maaf udah buat lo kecewa, Nev." 

 

Oh ini.. 

 

Perlahan Nevasha mendonggak - balas menatap Jovan hampa. 

 

"Apa aja yang udah lo tau?" 

 

"Semuanya. Tentang kenapa lo marah, dan tentang perasaan lo." Jovan menatapnya bersalah. "gue.. Maaf udah buat lo berharap banyak sama gue" 

 

Nevasha mengukir senyum sakit. Sorot mata sendu nya menatap Jovan terluka. 

 

"Kalo aja kita gak pernah ketemu, mungkin gue gak akan tau rasanya di perhatikan itu kayak apa. Dan kalo aja gue gak salah mengartikan perhatian lo.. Mungkin kita masih bisa ketemu kayak biasanya. Tapi sekarang beda,." Nevasha menunduk dalam. 

 

"Gue malu ketemu lo, ketemu tunangan lo. Mungkin lebih tepatnya gue malu sama diri gue sendiri." 

 

"Nev.." 

 

"Jujur gue kecewa, tapi gue sadar kalo yang lo pilih memang bukan gue dan gue sadar diri, untuk itu gue berhenti. Tapi.. Boleh gue minta satu hal dari lo?" 

 

"Apa?" 

 

"Jangan jauhin gue, jangan benci gue. Gue capek sendirian Van, untuk itu.. Bisa kita tetep temenan?" pinta Nevasha mencengkram baju pasiennya erat. 

 

Jovan meraih kepala Nevasha lalu mendekap nya. "Sampai kapanpun kita akan tetap menjadi teman. Maafin gue udah nyakitin lo, dan maaf karna gue gak bisa balas perasaan lo." ucap Jovan dengan mengelusi punggung Nevasha menenangkan. Tangisan Nevasha berubah menjadi isakan. Pasa akhirnya dia memang sendirian.. Namun.. 

 

"Makasih Jovan.. Gue bener-bener mensyukuri pertemuan kita. Dari lo gue tau rasanya mencintai itu kayak apa, dan dari lo juga gue tau rasanya mengikhlaskan meski tidak sepenuhnya rela itu seperti ini. Gue bangga sama lo karna tetap setia mencintai satu wanita di hidup lo. Jangan pernah Lepasin dia ya.. "

 

"Pasti. Gue bukan apa-apa tanpa dia." jawab Jovan mengulas senyum mengingat Nara. Nevasha menekan dadanya nyeri. Hatinya terasa seperti di remas namun dia tetap merasa senang melihat orang yang di cintainya bahagia dengan pilihannya sendiri. 

 

Ah, Nevasha benar-benar harus mulai menghapus perasaan Nya saat ini. Mau tidak mau, rela tidak rela dia memang tetap harus melakukannya. Bukan hanya untuk orang yang di cintai namun juga untuk hatinya, dirinya sendiri. 

 

Nevasha melepaskan pelukan nya. Menghapus air mata dengan punggung tangan. Sedikit mencuri pandang pada seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu. 

 

"Boleh gue tanya sama lo sekali lagi?" 

 

"Dengan senang hati." 

 

"Nara buat lo itu apa sih?" 

 

Jovan mengusap dagu, terlihat berpikir. 

 

"Nara buat gue itu.. Segalanya." 

 

"Wah.. Kok bisa?" tanya Nevasha menahan senyum. 

 

"Prioritas gue itu bertumpu pada satu titik." Jovan memberi jeda, "Dunia. Dan dunia gue itu ya, Nara Sidzkia. Si galak yang entah kenapa bikin gue gak bisa berpaling. Tapi gue paham satu hal dari dia.." 

 

Nevasha menaikkan alis, "Mencintai itu bukan cuma sebatas aku dan dia. Tapi tentang semuanya, keluarga, sahabat juga permasalahan hidup. Dari semua itu gue mengerti kalo cinta itu menguatkan. Untuk itu lo juga harus nemuin cinta lo sendiri." ucap Jovan menepuk-nepuk puncak kepala Nevasha. 

 

Nevasha tersenyum haru. 

 

"Lo cinta banget ya sama dia?" 

 

Jovan terkekeh pelan, "Bukan cuma banget. Tapi udah cinta mati." jawab Jovan mantap. 

 

Nevasha memiringkan kepala - mengulas senyum kecil lalu berkata, "Yah, gue bener-bener gak punya kesempatan. Lo beruntung banget, Ra." 

 

Ra? Nara maksudnya?

 

Eh! Jovan membalikkan badan dan langsung bersitatap dengan Nara yang tengah bersedekap tangan dengan bersandar pada daun pintu. 

 

"Sejak kapan lo disitu?!" tanya Jovan terkejut. Nara mengulum senyum. 

 

"Baru aja." 

 

"Bohong!" 

 

"Beneran." Nara menjawab dengan melangkah mendekati mereka. Jovan memicing kan mata. "Lo pikir gue bego?!" 

 

Nara menarik kedua sudut bibirnya, "Siapa yang bohong sih, gue emang baru kok, baru 20 menit yang lalu Lebih tepatnya." jawab Nara membuat Jovan mendengkus. 

 

"Jadi lo denger semua nya?" 

 

"Yang mana?" 

 

"Berhenti pura-pura bego, Ra." 

 

Nara tertawa renyah. Melirik Nevasha sekilas lalu menjawab, "Owh, yang tentang dunia lo? Kayaknya gue denger semuanya sih, emang kenapa?" tanya Nara sengaja mempermainkan Jovan. Jovan menatap meraka bergantian kemudian membuang muka. 

 

"Terserah!" desis Jovan hendak pergi, Nara meraih tangan Jovan - menahannya 

 

"Idih baperan.. Jangan ngambek-ngambek gini ah, gak lucu muka lo yang tegas itu mendadak cemberut gak jelas. Ya kan, Nev?" 

 

Nevasha mengangguk, "Iya." 

 

"Bodo amat." Jovan menepis tangan Nara dari wajahnya. Dengan secepat kilat Nara mencium pipi Jovan gemas. 

 

"Masih ngambek?" 

 

Nevasha memalingkan muka ke arah lain. Ia butuh waktu, setidaknya mulai saat ini dia harus Membiasakan diri melihat kemesraan mereka. 

 

Ya tentu saja, karena Nevasha sendiri yang meminta pada Jovan untuk mereka tetap berteman jadi.. Dia harus benar-benar melupakan perasaannya dan ikut bahagia melihat mereka bersatu. 

 

Jovan mendengkus. "Masih." 

 

Nara bergelayut manja di lengan nya - menoel-Noel lengan kekar Jovan dengan jari telunjuk. 

 

"Jangan ngambek lama-lama.. Nanti gue sedih." rayu Nara dengan suara imut nya. Jovan mengalah. Mendengkus dengan Mengapit hidung Nara gemas. Mereka saling menatap kemudian tertawa bersama. 

 

Perlahan Nevasha mengukir senyum tipis - melihat kedekatan meraka membuatnya iri. Tapi dia harus sadar diri. Jovan tidak menginginkan nya, dan sudah seharusnya dia mulai mundur perlahan. Bahagia ada karena di ciptakan dan bukan oleh merusak hubungan orang lain.

 

Ah, Nevasha sudah mulai berpikir dewasa.

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9