Bagian Empat Tiga 

Sebab - akibatπŸƒ

 

Kamu baik, kamu perhatian, kamu peduli sama semua cewek, Tapi bodoh-nya, kamu tidak pernah menyadari jika itu bisa membuat seseorang merasa nyaman.

 

***

 

 

Mereka bertiga masih menunggui Nevasha, Nara masih diam memperhatikan mereka yang terlihat akrab. Sesekali Jovan meliriknya namun Nara memalingkan muka- sengaja menghindari kontak mata dengan Jovan. 

 

Bayu berdecak, "Kalian masih suka kucing-kucingan ya ternyata?" 

 

Nara menoleh, terlihat berpikir. Sebenarnya dia tidak nyaman dengan perasaan nya melihat Jovan memperlakukan orang lain dengan baik namun, Ah Nara mengeleng kan kepalanya beberapa kali. 

 

Apa yang lo pikirin si saat dia lagi sakit keras Nara? Konyol! 

 

"Oy!" Bayu mengapit hidung Nara gemas. Nara mendengkus - menatapnya kesal. 

 

"Sakit pinter.. Gue biasa aja sih, jadi berhenti khawatirin gue, oke?" jawab Nara menampilkan senyum kecilnya. Bayu mencium pipi Nara gemas. Nara berdecak namun tetap membiarkanya. 

 

Jovan menatap Bayu tajam - menghampiri mereka lalu menendang tulang kering Bayu. 

 

"Sakit bangke!" sentak Bayu kesal. Jovan semakin menatapnya tajam. 

 

"Jangan asal cium Bini gue, setan!" 

 

Bayu menaikkan alis, "Bini lo? Yang bener aja. Lagian kita udah biasa kayak gini ya kan, Ra?"

 

Nara memperhatikan mereka yang saling menatap tajam. Ia mengangguk santai, "Hm.. Biasa banget." jawab Nara berganti mencium pipi kiri Bayu. Jovan melotot, "Ra!" 

 

Bayu mengulum senyum, mencondongkan pipi kanannya pada Nara yang langsung Nara cium kilat. 

 

"Kalian! Mingir lo.." usir Jovan duduk di antara mereka. Bayu berdecak. 

 

"Gangu suasana aja lo." 

 

"Gue aja cuma pernah sekali, kenapa lo belom ada 5 menit udah dua kali? Gue gak rela lah!" 

 

Dua sudut bibir Bayu berkedut. 

 

Apa sekarang dia sudah mengerti arti dari kecemburuan? Well, bukan Bayu sengaja mengalihkan perhatian Jovan dari Nevasha hanya saja jika terlalu lama ia juga tidak tega pada Nara yang setia menahan segala yang berkecamuk di hati juga pikirannya. 

 

Nara melirik Nevasha sekilas. Dari sorot matanya yang sayu Nara sudah dapat menyimpulkan jika Nevasha pasti memiliki perasaan pada Jovan. 

 

Sebenarnya bukan salah Nevasha juga. Perhatian Jovan yang menurut Nara terlalu berlebihan memang terkadang membuat sebagian orang pasti berpikir jika ia menaruh hati padanya. But, he is Jovan Arion. Si Casanova yang sudah terkenal dengan sikap php nya. Semua orang sudah tahu bagaimana tabiat Jovan pada perempuan di luar sana untuk itu juga Nara sempat mati-matian menahan perasaan nya karena takut jovan mempermainkan nya seperti perempuan yang lain. 

 

Nara menghembuskan napas berat. Semua sudah berlalu, bahkan kini mereka dengan terang-terangan saling memasrahkan hati.. Untuk kali ini Nara hanya bisa menguatkan dirinya untuk tetap berada dalam pendirian nya selama ini. 

 

Memang tidak mudah namun dia harus tetap melakukannya. 

 

Cup. 

 

Nara membolakan mata. Menoleh dengan menatap Jovan kesal. "Berani lo cium gue, heh?!" pekik Nara mencubit pipi kiri Jovan. Jovan yang kesal melakukan hal yang sama - menatap Nara tidak suka. 

 

"Di cium bayu diem aja, giliran sama gue yang tunangan lo marah-marah.. Lo pilih kasih!" protes Jovan kesal. 

 

Nevasha berkedip lugu. 

 

"Bayu kan sahab-" 

 

"Kalian udah tunangan?" tanya Nevasha membuat mereka menoleh serentak. Bayu menaikkan alis melihat raut wajah Nevasha menengang. 

 

Jovan tersenyum manis, mengangkat tangan kiri Nara "Ya dong, doa in cepet nikah ya.." jawab Jovan menunjukkan cincin di jari manis Nara. Nara tersenyum kikuk melihat binar mata Nevasha meredup. 

 

"Kenapa lo gak pernah cerita ke gue, Van?" lirih Nevasha menatap mereka terluka. Jovan mengaruk kepala tidak gatal. Perlahan ia berdiri - menghampirinya. 

 

"Gue udah mau cerita ke elo tapi karna kondisi lo sempet drop jadi gue lupa ngasih tau." jawab Jovan tidak mengerti perubahan sikap Nevasha. 

 

"Tapi kenapa lo selalu peduli sama gue? Bahkan sampe sejauh ini?" lirih Nevasha menundukkan kepala dengan mencengkram selimutnya erat. Jovan mengerutkan dahi-mengulurkan tangan mengusap puncak kepala Nevasha pelan. "Lo ngomong apa sih? Gue udah anggap lo kayak adik gue sendiri, masa iya gue gak peduli sama lo?" 

 

Nevasha tergugu. 

 

Adik, ya? 

 

Nevasha mengepal kan tangan - Air matanya mengenang di pelupuk mata dan hanya dengan sekali berkedip semua pertahananya pasti akan hancur. Perlahan Nevasha menganggangkat wajah, balas menatap Jovan terluka. 

 

"Lo kenapa mau nangis gitu? Ada yang sakit? Mau gue panggilin dokter?" tanya Jovan hampir menyentuh tangan Nevasha dengan cepat Nevasha menghindar. Air matanya tumpah dengan menggeleng kan kepala lemah. 

 

"Kenapa lo ngelakuin ini sama gue, Van? Kalo gue tau akhirnya bakal kayak gini gue bener-bener berharap kita gak pernah ketemu." ucap Nevasha tercekat.  

 

"Kalo aja dari awal lo cerita udah punya tunangan.." Ia menelan ludah pahit, "mungkin gue gak akan sesakit sekarang Jovan. lo.. Bener-bener jahat." Jovan menatapnya tidak paham. 

 

Seolah mengerti, Nara melangkahkan kaki menghampiri mereka lalu duduk menghadap Nevasha yang sudah terisak dengan menundukkan kepalanya. 

 

Nara menghela napas, "Maafin Jovan kalo dia udah nyakitin lo ya? Dia gak seharusnya bikin lo berharap banyak." Nevasha tersenyum lirih. 

 

"Gue kira dia adalah malaikat yang dikirim Tuhan buat gue di sisa umur gue.. Tapi gue salah besar, dia.." Nevasha menoleh pada Jovan, "dia lebih tepat di bilang sebagai malaikat maut yang udah berhasil hancurin hati gue lebih dulu sebelum malaikat pencabut nyawa gue dateng. Gue bener-bener menyedihkan, ya?" ucap Nevasha dengan berlinang air mata. 

 

"Gue tau yang lo rasain.. Untuk itu gue minta maaf. Maaf ufah buat lo kecewa sedalam ini." 

 

"Bentar deh.. Maksud lo bilang gue malaikat maut itu apa? Dan lo ngapain minta maaf sih, Ra? Kalian bikin gue gak paham." 

 

Nevasha tersenyum sakit. 

 

Apa Jovan masih tidak mengerti juga? 

 

Ah! Nevasha lupa.. Jovan hanya menganggap nya adik 'kan? Lalu apa yang dia harapkan dari kasih sayang seorang abang untuk adiknya? 

 

Cinta, huh? Benar-benar imajinasi tinggi. 

 

"Jovan mending lo diem deh! Kalo Lo belom paham sama semua ini mending jangan ngomong apa-apa lagi." 

 

"Kenapa lo sukanya marah-marah, sih? Cepet tua lo." 

 

Bayu berdecak di belakang, menatap mereka bosan. 

 

"Kenapa kalian suka banget bertele-tele, sih? Langsung to the point 'Kan bisa?!" 

 

"Bayu diem!" sentak Nara meliriknya sinis. 

 

"Apa cuma gue disini yang gak ngerti sama kalian? Kalian gak pernah ketemu sekalinya ketemu udah bahasan berat gini.." 

 

"Itu karna lo bego, Van!" Bayu berkomentar. Jovan berdecak, "Diem lo!" 

 

Bayu berdecih. Menatap mereka malas. 

 

"Biar gue paham, bisa kalian jelasin ke gue? Gue bener-bener kayak orang bego yang gak tau apa-apa sumpah." 

 

"Lo emang bego!"

 

"Diem Bayu!!" sentak mereka bersamaan. Bayu menampilkan senyum - mengangkat dua jari membentuk v. Ia menggerakkan tangan seolah mengunci bibirnya. Nara mendengkus sebal. 

 

"Jadi bisa jelasin sekarang? Bilang sama gue apa yang sakit, Nev?" tanya Jovan membuat Nevasha memalingkan muka. 

 

"Van, plis..." Nara menatapnya memohon. 

 

"Gue cuma mau tau dia kenapa doang, Ra.. Salah mulu gue perasaan." 

 

"Baperan lo!" 

 

"Ya karn-" 

 

"Bisa kalian pergi? Gue mau istirahat." potong Nevasha tanpa melihat mereka. 

 

"Nev-" 

 

"Plis.. Tinggalin gue sendiri. Gue capek, mau istirahat." potong Nevasha cepat. Nara menghela napas panjang. Dan saat Jovan hendak meraih pundak Nevasha, Nara menahannya. 

 

"Lo denger dia ngomong apa 'kan? Dia baru aja baikan, biarin dia istirahat." ucap Nara membuat Jovan mengurung kan niat. Jovan mengulurkan tangan mengelus sisi kepala Nevasha lembut - Nevasha mati-matian menahan raungannya. 

 

"Kita balik ya.. Lo istirahat yang cukup." ucap Jovan sebelum meraih tangan Nara membawanya keluar. 

 

Mendengar bunyi pintu tertutup Nevasha menutup wajah - menahan isakan. 

 

Kenapa rasanya sesakit ini? 

 

**

Sesampainya di parkiran rumah sakit Nara menyeret Bayu, meninggalkan Jovan dan langsung masuk kedalam mobil Bayu. 

 

"Lo kenapa tiba-tiba marah?" tanya Jovan menahan pintu mobil. 

 

Nara menatapnya tajam. "Plis biarin gue pulang sama Bayu sekarang. Gue capek, Van." 

 

"Kenapa lo ikutan si Neva, sih? Pulang sama gue."

 

"Van, plis.. Lo harusnya mikir kenapa Neva bisa semarah ini sama lo. Jangan peduliini gue dulu." 

 

"Mana bisa? Lo itu prioritas gue, gak mungkin gue gak peduliin lo." 

 

"Jovan Arion! Jangan egois kayak gini, Neva lagi sakit dan dia beneran terpuruk karna lo." 

 

"Terpuruk karna gue? Lo bercanda? Bahkan gue gak ngelakuin apapun." 

 

Nara menatap Jovan dalam. "Lo tau, Van? Kenapa lo bisa di sebut Casanova php seantero kampus?" tanya Nara membuat Jovan terdiam. 

 

Memangnya apa? 

 

"Itu karna lo sering kali memperlakukan semua cewek itu sama. Lo baik, lo perhatian, lo peduli sama semua cewek, Tapi begonya, lo gak pernah nyadar kalo itu bisa bikin seseorang merasa nyaman sama Lo." 

 

Jovan terdiam beberapa saat, ia berkedip lugu. "Lo cemburu?" 

 

Nara menatap Jovan tidak habis pikir. "Ini bukan karna gue cemburu, Arion! Tapi dampak dari sikap sok baik lo itu bisa bikin orang lain salah mengartikan perhatian lo. Lo masih gak paham, heh?!" 

 

"Gue.. Enggak." 

 

"Jovan bego! Neva itu suka sama lo, dan mungkin udah cinta sama lo. Kalo sampe disini lo masih gak paham juga, mati aja sana! Dasar idiot!!" 

 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9