Bagian Empat Dua 

No't OkeπŸƒ

Jangan mencari di saat sudah pergi.

 

***

 

Nara duduk bersandar pada Bayu dengan matanya yang masih setia memperhatikan Jovan yang tengah gelisah. Setelah Nara meminta maaf pada Bayu, Jovan tiba-tiba datang dan mengajak Nara untuk kerumah sakit. Dan Disinilah mereka sekarang. 

 

Tepat di depan pintu ICU mereka masih saling diam. Nara sudah menanyakan siapa yang tengah berada di dalam sana namun Jovan tidak menjawab. Karena kesal Nara memilih untuk duduk di samping Bayu dan mengabaikan Jovan. 

 

"Kita udah satu jam lebih loh, disini. Tapi gue sama sekali gak tau siapa yang gue tungguin. Coba tanya lagi deh, Ra." Bayu menuduk melihat Nara memejam kan mata. 

 

Nara menggeleng pelan, "Gak mau." 

 

"Ck! Kalian itu masih sama keras kepalanya ya? Heran gue kalian bisa saling cinta tapi gengsi nya tetep setinggi langit." cibir Bayu membuat Nara membuka mata. Ia melirik Bayu tidak suka. 

 

"Kenapa gak lo aja yang nanya sana. Gue_" ucap Nara terputus saat seorang dokter keluar dari ruangan. Jovan segera berdiri dan menghampiri. 

 

"Bagaimana sama keadaan dia, Dok?" tanya Jovan khawatir. Meski mereka hanya sebatas kenal namun Jovan sangat tahu perasaan nya. Untuk itu ia mencoba menjadi seseorang yang lebih peduli pada luka orang lain. 

 

 

"Nevasha berhasil melewati masa kritisnya, tapi.." 

 

"Tapi apa dok?" 

 

Nara memperhatikan Jovan dalam diam. Banyak pertanyaan di dalam otaknya. Siapa Nevasha? Dan kenapa Jovan harus sampai gelisah mengkhawatirkan perempuan itu? 

 

"Kanker otaknya sudah sampai stadium akhir. Dalam kasus ini saya sendiri masih salut pada dia yang mampu bertahan meski melewati ini seorang diri. Kamu pasti tau ini 'kan?" Jovan mengangguk. 

 

"Apa keluarga nya masih belum menemui dia?" 

 

"Saya kurang tahu masalah ini. Kamu bisa tanyakan pada Neva sendiri nanti. Kalau begitu saya permisi.'' pamit dokter itu. Jovan menghembuskan napas berat. 

 

Nara memundurkan langkah hendak pergi namun Bayu lebih dulu menahan tanganya."Plis, jangan suka lari dari masalah. Kalo Lo emang penasaran sama cewek yang ada di dalem sana lo harus tanya Jovan baik-baik." peringat Bayu membuat Nara enggan. 

 

"Siapa juga yang cemburu." 

 

"Bukan gue yang bilang." Nara mendengkus, "Tau ah. Lepas." Nara mencoba melepaskan tangan Bayu darinya. 

 

"Ra.. Gue kenal lo" ucap Bayu sabar. 

 

"Fine, tapi untuk kali ini biarin gue dulu." Bayu hendak menjawab namun Nara lebih dulu menyelanya, "Bayu, plis.." mohon Nara pelan. Ia sedikit melirik pandang pada Jovan yang masih sibuk dengan ponselnya - seperti tengah menghubungi seseorang. 

 

Bayu melihat mereka bergantian. Perlahan ia membuang napas panjang, melepaskan Nara enggan. 

 

"Mau gue temenin?" Nara menggeleng. Mengangkat ponselnya tinggi dan berkata, "Nanti gue hubungin." jawab Nara dengan mengedipkan sebelah mata. Bayu menatapnya lama lalu beralih pada Jovan yang baru saja selesai dengan telfonnya. 

 

"Boleh gue tau siapa yang cewek yang ada di delem?" tanya Bayu datar. Jovan mengangkat wajah. Alisnya berkerut. 

 

"Ngapain nanya - nanya?" balas Jovan cuek. Bayu meliriknya malas. 

 

"Bukan urusan gue sih, tapi gue gak suka aja lo nyuekin sahabat gue demi seseorang yang gak jelas." balas Bayu membuat Jovan langsung menengok belakang Bayu. 

 

"Jangan mencari di saat sudah pergi. Dari tadi dia ada tapi lo sama sekali gak respon dia. Gue pulang." pamit Bayu hendak berbalik - Jovan menahannya. 

 

"Dia kemana? Gue sama sekali gak ada niatan nyuekin dia tadi, gue cuma lagi gak fokus." 

 

"Oh, ya? Gak fokus kenapa? Tentang cewek itu? Gue peringatin lo Van, meski dia lagi sakit parah tapi dia tetep orang asing. Gak seharusnya lo diemin Nara demi dia. Dan sebagai sahabat yang selalu berusaha bikin dia ketawa, gue gak suka kalo sahabat gue sedih cuma gara-gara orang yang belum lama dia kenal."

 

"Bayu lo salah paham." 

 

"Itu alasanya gue mau tau siapa cewek itu! Biar apa? Biar lo nyadar kalo gue aja bisa salah paham sama dia gimana sama Nara yang sekarang udah masrahin hati buat lo? Mikir!" tekan Bayu membuat Jovan terdiam. 

 

Apa itu alasan dia pergi? 

 

"Nevasha salah satu temen gue. Dia lagi sakit keras dan berjuang buat hidupnya tapi, dia selalu sendirian. Sebagai orang yang pernah berada di posisi dia gue tau rasanya itu gak enak Bay, untuk itu gue berusaha ada sebagai teman buat dia. Apa gue salah?" 

 

Bayu menghela napas berat. Balas menatap Jovan lama. 

 

"Lo gak salah. Tapi apa yang lo lakuin ke Nara tetep salah. Disini dia gak tau apa-apa dan dia udah berusaha tanya lo, tapi lo? Respon pun enggak. Bahkan gue sempat keki sendiri."

 

"Tadi gue-" 

 

"Gak usah jelasin sama gue. Percuma, Bukan gue yang butuh penjelasan lo." potong Bayu cepat. Jovan mengacak rambutnya bingung. 

 

"Terus gue harus gimana?" 

 

"Lo bego? Pergi dan jelasin. Kalian bikin gue keki ya lama-lama!" dengkus Bayu kesal. 

 

"Dia kemana?" 

 

"Cari bego! Mana gue tau sih kalo gue aja disini sama lo." sentak Bayu teramat kesal. Dengan cepat Jovan berlari mencari Nara. Bayu menghela napas. 

 

"Cinta bikin orang bego, ya?" Bayu mengumam tidak habis pikir, "baru kali ini gue percaya kiasan kalo cinta bisa bikin orang pinter jadi idiot. Dan ternyata itu beneran kenyataan. Hais.." 

 

Nara membeli minuman dingin di kantin rumah sakit lalu meminumnya rakus. Wajahnya memerah - terlihat sangat kesal. "Ish.. Kenapa gue masih gerah aja sih? Bikin kesel aja." gerutu Nara mengusap bibirnya kasar. Nara berdecak - kembali meneguk minuman nya lagi. 

 

"Ra.." panggil Jovan membuat Nara tersedak. Ia terbatuk dengan menepuiki dadanya keras. Jovan hendak membantu namun Nara lebih dulu menghindar. 

 

"Ra, lo gak papa 'kan?" tanya Jovan khawatir. Nara meliriknya sinis, berlalu pergi tanpa menjawab - sengaja mengabaikan nya. Jovan meraih tangan Nara hingga mereka berhadapan. 

 

"Gue bisa jelasin semuanya. Tolong dengerin gue." 

 

"Apa itu membantu? Siapa dia dan apa hubungannya sama lo gue gak peduli." Nara mencoba menghempas kan tangan Jovan darinya. Jovan menatapnya bersalah. 

 

"Gue salah. Gak seharusnya gue nyuekin lo. Gue minta maaf." ucap Jovan membuat Nara menatapnya lurus. 

 

"Kalo ada gunanya minta maaf, buat apa ada penjara? " balas Nara datar. 

 

"Gue bukan kriminal." jawab Jovan tidak terima. Nara meilirknya sinis. 

 

"Emang bukan. Tapi lo gak lupa 'kan? Pembohong juga termasuk tidak kejahatan." 

 

"Ra, plis.." Nara memalingkan muka. 

 

"Neva itu temen gue. Dia penderita kanker otak stadium akhir." ucap Jovan membuat Nara sedikit terkejut - tidak menyangka. "Dan kalo Lo pengen tau kenapa gue care sama dia itu karna dia hampir sama kayak gue sebelum lo mengembalikan keadaan keluarga gue. Lo pasti ngeri maksud gue 'kan? ''

 

"Kenapa gue harus ngerti? "

 

"Ra.. Tolonglah.. Gue tau lo bukan cewek yang gampang cemburu - " 

 

"Wait.. Cemburu? Siapa yang cemburu sama siapa? Kalo Lo ngira gue cemburu lo slaha besar." 

 

"OK terserah lo, tapi plis pahamin baik-baik.. Lo juga dokter bahkan psikiater, merawat rasa sakit orang lain udah jadi kebiasaan lo 'kan? Lo pasti tau rasanya harus sendirian di akhir-akhir sisa hidup nya .." melihat wajah Nara melunak Jovan meneruskan, "Neva sendirian Ra.. Meski dia punya keluarga tapi gak ada satupun dari mereka yang peduli sama kondisi nya Neva, lo pasti udah bisa nyimpulin 'kan?" 

 

"Itu alasan lo khawatir sama dia dan nyuekin gue?" tanya Nara membuat Jovan menghela napas berat. 

 

"Untuk yang terakhir Gue minta maaf. Gue gak bermaksud nyuekin lo tapi seperti yang lo liat, gue lagi berusaha kontak keluarganya Neva biar mereka tau kalo keadaannya udah makin buruk." 

 

Nara menghela napas. "Terus gimana sama keadaan nya sekarang?" 

 

Jovan tersenyum lega. Mengangkat sebelah tangan Nara lalu mencium nya sekilas. 

 

"Van.." sentak Nara melemparkan tatapan protes. Jovan tersenyum kecil - menarik tangan Nara melangkah pergi. 

 

"Dia berhasil lewatin masa kritis nya, tapi gue gak tau entah sampe kapan dia masih akan bertahan. Dokter yang nanganin dia bahkan udah masrahin semuanya." jelas Jovan membuat Nara terkejut. 

 

"Udah separah itu?" 

 

Jovan mengangguk, "Sekarang udah tau 'kan kenapa gue sempat khawatir sama dia? Selain gue pernah berada di posisi dia, gue juga turut kasihan tentang segala hal yang dia alamin." 

 

Nara mengigit bibir bawahnya gelisah. Ikut merasakan tekanan yang Nevasha alami. 

 

"Dia udah siuman?" 

 

"Belum tau. Gue langsung pergi waktu liat lo udah gak ada di sana." 

 

Nara terlihat bersalah, "Gue gak tau kalo keadaannya serumit ini." 

 

Jovan tersenyum lembut. "Ini salah gue yang gak jelasin apa-apa ke kalian lebih dulu. Jangan nyalahin diri sendiri, setidaknya dia udah baik-baik aja sekarang." 

 

Mereka sampai di depan ICU. Nara melihat Bayu masih setia duduk disana dengan memainkan ponsel. Nara menghampirinya. 

 

"Gue kira lo udah pulang." 

 

"Dan biarin dia bener-bener sendirian? Gue gak sejahat lo." cibir Bayu membuat Nara menendang tulang keringnya. Bayu melotot tajam. 

 

"Ngak tau diri lo, ya!" 

 

"Lo yang emang minta di sambit, sih! Mangkanya jangan ngeselin jadi orang." jawab Nara galak. 

 

Pintu ruangan terbuka. Sosok yang sempat menjadi permasalahan mereka keluar dengan beberapa alat medis di tubuhnya. Jovan segera menghampiri nya saat melihat Nevasha sudah dalam keadaan sadar. 

 

"Gue kira lo belom siuman." 

 

Nevasha tersenyum lemah. 

 

"Gue cewek kuat 'kan?" ucap Nevasha mencoba bercanda. Jovan tersenyum tipis dengan mengelus sisi kepala Nevasha pelan.

 

"Hm..lo emang cewek kuat." 

 

Nara yang memperhatikan mereka mengepal kan tangan. Meski ia tahu jika Nevasha sakit keras namun tetap saja Nara tidak suka melihat Jovan memperlakukan nya hangat. 

 

Bayu meletakkan tangan di atas pundak Nara "Inget kondisi dia, oke? Jangan cemburu sama adek-adeaan nya, gue kalo di posisi Jovan juga pasti ngelakuin hal yang sama kok."

 

Nara menoleh, Bayu menampilkan senyum kecilnya.

 

"Lo tau kalo gue termasuk orang yang realistis. Gue gak masalah." Bayu menggelengkan kepala heran melihat Nara berusaha keras menjaga egonya. Padahal dengan jelas Bayu dapat meraksan urat tubuhnya menegang - menahan perasaan tidak nyaman nya. 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4