Bagian Empat Satu 

Kemarahan BayuπŸƒ

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari menyakiti perasaan seseorang yang selama ini selalu berusaha menjaga dan melindungi nya segenap hati.

 

***

 

Nara berdecak dengan mencoba menghubungi nomor Bayu. Hampir seminggu ini Bayu sama sekali tidak menampak'kan dirinya dan apa yang Nara dengar dari Aqila membuat Nara sedikit merasa bersalah karena harus menutupi ini semua dari Bayu.

 

Perlahan Nara berjongkok di taman rumah sakit. Bingung tentu saja. Bayu tidak pernah marah pada tri angel namun kali ini.. Sepertinya Bayu memang benar-benar marah. 

 

"Lo ngapain disitu?"

 

Nara menoleh kaget. Ia menghembuskan napas berat melihat Jovan berdiri tak jauh dari nya. 

 

"Menurut lo?" tanya Nara malas. Jovan menghampirinya, "Lo sakit?" Nara mendonggak - melihat Jovan dari bawah. 

 

"Gue gak papa." jawab Nara mengeleng kan kepala. Jovan menaikkan alis lalu mengulurkan tangannya pada Nara - membawanya duduk di kursi taman. 

 

Jovan melirik Nara dengan ekor matanya. "Kita udah bukan orang lain lagi 'kan, Ra? Apa lo masih sulit buat terbuka sama gue? Atau.. Lo masih gak nyaman sama gue?" Seketika Nara terhenyak.

 

Ya setelah pengakuan dari masing-masing mereka sudah sepakat untuk memulai hubungan baru dengan melibatkan perasaan nyata dan bukan atas dasar keterpaksaan. Nara menggeleng kan kepala beberapa kali. 

 

"Bukan gitu.." 

 

"Tentang Dilon?" tanya Jovan memiringkan kepala. Nara menggeleng. 

 

"Audy?" Jovan kembali bertanya. Nara mengeleng lagi. 

 

Jovan mengernyit kan hidung, jika bukan dua manusia itu memang siapa lagi yang bisa membuat Nara bingung seperti ini?

 

Nara menoleh pada Jovan yang tengah menatapnya penuh tanya. "Bayu gak ada kabar seminggu ini. Dan gue denger dari Aqila kalo Bayu udah liat rekaman yang lo kirim buat Kinan." Nara berucap murung. 

 

"Mungkin dia emang lagi ada kegiatan lain. Secara bentar lagi kita bakal wisuda." ucap Jovan membuat Nara mengerjap. 

 

"Tapi dia gak pernah kayak gini sebelumnya. Meski sepadat apapun jadwal dia tetep luagin waktu buat kita. Gue yakin ini bukan karna itu." bantah Nara merasa tahu dan bahkan hapal dengan sifat sahabat cowoknya itu. Jovan mendengkus. 

 

"Dan lo pikir Bayu marah karna lo gak cerita masalah kemaren sama dia gitu? Iya?" tanya Jovan sewot. Nara mendelik. 

 

"Lo kok sewot gitu? Gue cuma khawatir dia marah sama gue. Sebelum ini di antara kita berempat gak pernah punya rahasia. Dan gue.. Gue nyembunyiin sesuatu dari mereka bahkan sampe bertahun-tahun lamanya." 

 

Jovan menghela napas panjang. "Kenapa lo gak coba tanya dia aja?" 

 

"Gue udah hubungin dia dari kemaren tapi gak asa respon sama sekali." ucap Nara menundukkan kepala. Jovan mengelus puncak kepala Nara pelan. 

 

"Khawatir banget sama Bayu?" Nara mengangguk lesu. Jovan berdecak tidak suka lalu menarik tangan Nara berdiri. 

 

"Mau kemana?" tanya Nara saat Jovan menarik tangannya keluar rumah sakit. 

 

"Lo khawatir sama bayu 'kan? Yodah kita samperin aja biar lo gak kayak orang yang lagi putus cinta gini." jawab Jovan tanpa menoleh. Nara mengerjapkan mata - perlahan dua sudut bibirnya terangkat. Nara tidak tahu jika Jovan sangat peka. 

 

Ah! Atau memang dasar Nara saja yang tidak pengertian hingga tidak pernah menyadari jika Jovan selalu tahu apa yang ia butuhkan. 

 

Memikirkan itu membuat pipinya bersemu. 

 

"Kenapa muka lo merah? Mikir jorok lo ya?" tuduh Jovan membuat Nara memalingkan wajah. 

 

"Mana ada! Mulut lo ya.. Jangan suka asal ngomong kenapa sih? Kalo di denger orang bisa rusak citra gue." dengkus Nara kesal. Jovan tersenyum tipis. Membuka pintu untuk Nara lalu memutar ke kursi kemudi. 

 

Di tengah perjalanan Nara masih mencoba menghubungi Bayu tapi nihil. Bayu sama sekali tidak berniat menjawabnya. Jovan melirik nya sekilas. 

 

"Lacak posisi Bayu sekarang." 

 

Eh! Nara menoleh. 

 

"Gue yakin dia gak lagi di rumah." 

 

Nara mengangkat alis. "Sok tau." 

 

Jovan berdecak. "Lacak aja sih. Ngeyel banget kalo di bilangin." 

 

Nara mencebik kan bibir kesal kemudian mencoba melacak keberadaan Bayu. Beberapa saat kemudian Nara mengedipkan mata beberapa kali. Apa yang Jovan katakan memang benar, posisi Bayu memang bukan berada di sekitar rumahnya. 

 

"Udah dapet?" Nara mengangguk pelan. 

 

"Lokasi dia ada di area kampus. Tapi.." 

 

"Apa?" 

 

"Kenapa lo bisa tahu kalo Bayu pasti gak dirumah? Atau jangan-jangan lo udah tau 'kan?" tanya Nara menuduh dengan memcondongkan badan ke arah Jovan. Jovan mengulurkan tangan-menyentil pelan kening Nara. 

 

"Aw.. Sakit bego!" 

 

"Lo lebih bego dari gue. Kalo gue tau dimana posisi Bayu gue gak akan nyuruh lo nglacak dia. Keliatan banget kan begonya!" 

 

Nara mendelik sebal dengan Mengusap keningnya yang sakit. 

 

"Nyebelin!" dengkus Nara menghempaskan tubuh ke kursi mobil. Jovan terkekeh pelan - memelankan mobilnya melihat lampu merah di depan sana. Jovan menggerakkan jari menyuruh Nara mendekat. 

 

"Sini." Nara memalingkan muka. 

 

"Gak mau!" tolaknya membuat Jovan menatapnya geli. 

 

"Gue yang maju kesana atau lo yang kesini? Pilih." 

 

"Gak mau dua-dua nya." jawab Nara keras kepala. 

 

"Jangan nguji kesabaran gue, Ra. Pilih salah satu." 

 

Mobil berhenti di lampu merah. Nara berdecak - mencondongkan tubuhnya ke arah Jovan. 

 

"Maju lagi. " perintahnya. Nara memajukan wajahnya mendekat. Jovan mengulum senyum. 

 

"Lebih deket lagi." 

 

Nara berdecak dan semakin memperpendek jarak meraka, melihat itu Jovan menahan senyumannya lalu mengecup kening Nara sekilas. Nara berkedip dua kali, masih mencerna apa yang telah Jovan lakukan padanya. 

 

Jovan terkekeh. Mengusap-usap kening Nara yang sempat ia jitak tadi lalu berkata, "Udah gak sakit lagi 'kan?" 

 

Nara masih mengerjap seperti orang bodoh. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum. 

 

"Apa perlu gue ulang biar sembuh total?" tanya Jovan menatap Nara jenaka. Seketika Nara terhenyak -balas menatap Jovan tajam. 

 

"Jangan coba-coba!" sentak Nara membuat Jovan tergelak. Sangat puas melihat expresi Nara yang selalu membuatnya senang. 

 

***

 

Pintu rooftop terbuka. Bayu menatap Nara yang menghampirinya di ikuti Jovan di belakang. Bayu mendengkus lalu meraih tasnya yang tergeletak di bawah sofa hendak pergi namun Nara lebih dulu menahannya. 

 

"Apa gini cara lo memperlakukan sahabat lo sendiri?" tanya Nara membuat Bayu meliriknya malas. 

 

"Gue gak akan kayak gini kalo aja orang yang nyebut gue sahabat mau terbuka sama gue." jawab Bayu datar tanpa expresi. Nara menunduk bersalah. 

 

"Selesain baik-baik. Gue gak akan ikut campur masalah persahabatan kalian." ucap Jovan menepuk pundak Bayu dua kali - menoleh pada Nara yang menatapnya sayu. 

 

"Gue tunggu diluar." ucap Jovan berlalu tanpa menunggu jawaban. 

 

"Tentang masalah itu gue minta maaf. Gak seharusnya gue sembunyiin kenyataan itu sama kalian. Tapi waktu itu gue bener-bener bingung Bay, lo tau.. Gue bahkan hampir depresi setiap kali inget kejadian itu tapi gue bisa apa? Mental gue bener-bener down waktu itu. " jelas Nara dengan mata berkaca-kaca. Bayu memalingkan wajah tidak tega. 

 

"Itu semua gak akan rumit kalo aja lo mau cerita sedari lama sama kita. Lo tau, Ra? Gue sama sekali gak marah sama lo, tapi gue kecewa." Bayu memberi jeda. Nara mengangkat wajah. Air matanya meluruh tanpa bisa ia cegah." Bay.." 

 

"Gue Kecewa sama diri gue sendiri yang udah gagal jagain kalian. Dan gue bener-bener gak bisa maafin diri gue sendiri." ungkap Bayu membuat Nara terisak. 

 

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari menyakiti perasaan seseorang yang selama ini selalu berusaha menjaga dan melindungi nya segenap hati. Dan Nara tahu jika dia salah, sangat salah. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. 

 

"Gue.. Hiks.. Gue minta maaf." Nara meraih tangan Bayu, mengengamnya erat. "Gue salah. Maafin gue Bayu.." pinta Nara dengan berlinang air mata. Bayu mengepal kan sebelah tangannya erat. 

 

"Plis jangan ulangin lagi. Jangan bikin gue merasa gagal jadi sahabat kalian." ucap bayu melembut kan suaranya. Nara tersenyum haru lalu menubruk Bayu dan memeluknya erat. 

 

"Gue janji." jawab Nara membuat Bayu menghembuskan napas berat dengan mengelusi punggungnya menenangkan. 

 

Lama mereka berdiri dengan masih saling memeluk. Bayu berbisik pelan, "Ra.." 

 

"Hm.." jawab Nara mengumam. Tenggorokan kannya kering karena lelah menangis. 

 

"Lo terlalu nempel sama gue." ucap Bayu membuat Nara mendonggak. 

 

"Lo gak mau gue tempelin?" 

 

"Bukan itu." 

 

"Terus?!" tanya Nara galak. Bayu menghela napas. 

 

"Dada lo berasa di gue." jawab Bayu membuat Nara membolakan mata. Dengan secepat kilat mendorong Bayu kasar. 

 

"Bayu sialan! Ngancurin suasana emang lo ya!!" umpat Nara nyaring. Bayu terbahak melihat Nara memelototinya tajam. 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3