Bagian Empat puluh 

Pacaran?πŸƒ

 

Di balik candaan seorang laki-laki terhadap perempuan sedikit-banyak mengandung keseriusan didalam nya. Apa lo percaya?

 

***

 

 

"Lo ngapain, sih?" tanya Bayu membuat Aqila mengangkat wajah. Aqila membelokkan laptopnya ke arah Bayu. Disana tertera jelas rekaman kejadian dua tahun lalu yang sempat Nara alami. Bayu mereplay nya ulang. Alisnya berkerut melihat kenjangalan di menit tigapuluh lima, lalu semua terjadi begitu cepat, Bayu terpengarah melihat rekaman itu dengan refleks mengebrak meja Cafe tempat mereka singgah. 

 

Aqila melotot tajam, "Ini Cafe pi.. Plis jaga sikap." ucap Aqila menekankan. Ia menoleh kekanan-kiri dengan mengumam kata maaf. 

 

Ya sebenarnya saat Aqila beepamitan tadi hanya untuk sekedar memberi waktu untuk Nara juga Jovan. Dan sinilah mereka sekarang. Aqila menerima email dari Kinan dan langsung mengajak Bayu untuk melihat bersama. 

 

"Siapa yang ngirim?" 

 

"Kinan. Dia dapet dari Jovan seminggu sebelum sidang." 

 

Bayu mengepal kan kedua tangan erat, matanya berkilat marah. Jelas saja, Bayu kira Dilon hanya sekedar memaksa Nara untuk berciuman dan memaksanya berhubungan badan. Tidak disangka Dilon benar-benar melecehkan nya, bahkan sudah hampir menelanjangi Nara jika saja Gavin tidak datang kala itu. Sungguh.. Bayu benar-benar merasa gagal melindungi sahabat nya. 

 

"Gue tau lo marah.. Tapi sekarang kita bisa sedikit lega karna se'engaknya Dilon udah dapet hukumam nya." ucap Aqila mencoba menenangkan Bayu. 

 

"Gimana gue gak marah kalo sahabat yang selalu gue lindungin hampir di perkosa orang? Lo tau la, fakta ini sama aja nyakitin gue. Selama ini kita cuma tau kalo Nara hampir di lecehin tapi faktanya dia bahkan hampir di perkosa. Kalo aja Gavin telat waktu itu gue bener-bener gak bisa bayangin Nara bakal kayak gimana. "lirih Bayu terluka. 

 

Aqila mengusap air matanya yang meluruh. Ia tersenyum pada Bayu, "Semua udah berlalu, bahkan lo denger sendiri kalo Dilon udah minta maaf sama Nara meski kita tau kesalahan dia gak bisa termaafkan. Tapi gue masih bersyukur.. Se'engaknya Nara masih baik-baik aja sampe sekarang. Dia bener-bener wanita hebat 'kan Bay?" 

 

Bayu mengusap wajahnya kasar. Matanya memerah - menahan amarah yang sudah menguasai dirinya. "Gue bakal bunuh si brengsek itu. " ucap Bayu membuat Aqila menatapnya sedih. 

 

"Dan bikin Nara benci sama lo karna udah ngelakuin tindak kriminal buat dia? Jangan Bego Bayu! Kehancuran perusahaan Danuarta udah pasti campur tangan nya Jovan. Jadi plis, jangan kayak gini.." lirih Aqila. 

 

"Gue bener-bener kecewa sama diri gue sendiri, La. 

 

**

 

Nara menghempaskan dirinya di atas kasur. Sedikit - banyak perkataan Jovan tadi sangat menggangu di pikirannya. 

 

Memang apa salah jika ia memendam nya sendiri? Toh Jovan juga tidak ada niatan untuk menjelaskan maksud yang selalu ia ungkit. Sebenarnya Nara bukan tidak tahu tentang semua perlakuan Jovan padanya, hanya saja Nara tidak ingin menyimpulkan nya sendiri. 

 

Nara sudah pernah merasakan kecewa karena telah memberi kepercayaan pada seseorang yang salah. Namun bukan Nara menempatkan Jovan pada posisi itu, Nara hanya berusaha melindungi hatinya yang sudah cidera agar tidak semakin terluka dengan harapan tanpa kepastian seperti ini. 

 

Sungguh ini membuat Nara pusing. 

 

Bunyi notif di ponselnya membuat Nara meraih ponsel yang berada tidak jauh darinya. Ia mendengkus melihat Lagi-lagi nama Jovan yang tertera di layar ponselnya. Tak ingin basa basi Nara memilih untuk menghubungi nya. 

 

"Ngapain?" tanya Nara saat panggilan terhubung. Jovan berdecak dari ujung sana.

 

"Banyak tanya lo. Pokoknya siap-siap aja, setengah jam lagi gue jemput." klik. Jovan memutuskan panggilan sepihak. 

 

"Woi!" protes Nara kesal melihat layar ponselnya sudah mati. Ia mendengkus, "Emang sialan ya Lucifer satu itu. Bikin keki mulu bawaan nya." gerutu Nara memejam kan matanya lelah. 

 

Lelah hati, lelah pikiran lebih tepatnya. 

 

Nara sudah hampir terlelap namun bunyi bel apartemen nya membuat Nara memaksa kedua matanya untuk terbuka. Nara berjalan malas menuju pintu dan saat ia membuka pintu betapa terkejut nya ia saat mendapati Jovan sudah berdiri rapi di depan pintu. 

 

Nara mengernyit kan hidung, "Lo bilang setengah jam?" 

 

"Gue berubah pikiran." jawab Jovan menerobos masuk. Nara berkedip dua kali - berbalik dengan menatap Jovan tajam. 

 

"Heh! Lo bisa gak sih, jangan seenaknya sendiri? Kelakuan lo lama-lama makin gak tau diri tau gak?!" 

 

Jovan balas menatap Nara malas lalu menyahut, "Enggak." 

 

"Jovan!" pekik Nara kesal. 

 

Jovan mengedipkan mata, "Iya sayang.. Gue disini." 

 

Nara mendelik kesal. "Pergi lo!" 

 

"Oh, oke." jawab Jovan membuat Nara menaikkan alis heran. Namun beberapa detik setelahnya nara memekik kaget saat Jovan tiba-tiba menariknya keluar. 

 

"Jovan Lepas. Gue nyuruh lo pergi bukan bawa gue pergi." 

 

"Oh gitu. Lo gak bilang sih, karna udah terlanjur ya udah lo ikut gue aja sekarang." 

 

"Pintu gue.." 

 

Jovan mengoyangkan kunci card apartemen Nara dengan tersenyum culas. Well, Nara bahkan tidak sadar jika Jovan sudah mengunci pintu dan membawa kuncinya.

 

Di dalam mobil mereka masih diam. Hening. Nara tengah merajuk dan Jovan memilih untuk mendiamkan nya. 

 

Mobil yang mereka tumpangi memasuki perhutanan. Nara mengernyit namun masih memilih diam. Setelah beberapa menit mobil berhenti di antara pepohonan tinggi, rindang namun masih terlihat terawat. Jovan turun dari mobil di ikuti Nara dibelakang nya. 

 

"Lo gak ada niat macem-macem kan, Van?" cemas Nara menahan tangan Jovan. Jovan berbalik dan mengarahkan jari telunjuknya pada tubuh Nara dari atas hingga kebawah dengan tatapan menilai - Nara menyilangkan kedua tangan di depan dadanya. Menatap Jovan tajam. 

 

"Gue gak tertarik sama tubuh lo." 

 

Sialan! 

 

"Terus ngapain lo ngajakin gue kehutanan gini kalo Lo gak ada niat aneh-aneh!" tuduh Nara meradang. Jovan menjulurkan tangannya kedepan dan menyentil pelan kening Nara membuat sang empunya mengaduh. 

 

"Jangan mikir jorok. Apa sebenarnya lo berharap gue ngapa-ngapain lo disini? Ya 'kan?" Jovan tersenyum miring sembari menatap Nara dengan pandangan mengejek. Nara membulatkan matanya. 

 

"Gue ngarep lo apa-apain? Mimpi lo ketinggian!" ketus Nara menghentakkan kakinya kesal. Jovan terkekeh pelan dan kembali menarik tangan Nara menuju semak-semak. Nara semakin was-was. 

 

Jovan menyibak semak-semak itu hingga menampilkan pemandangan indah di depannya saat ini. Nara membuka bibirnya terpengarah. Jovan melepaskan tangan Nara dan membiarkan cewek itu berjalan mendahuluinya. Danau yang indah dengan beberapa pohon besar juga hamparan taman bunga di pinggiran danau membuat pemandangan di depannya sangat terlihat hidup. 

 

Masih ada tempat yang seindah ini? Batin Nara kagum. 

 

Jovan memperhatikan Nara dari belakang. Ia memang tahu jika Nara masih memikirkan tentang kejelasan hubungan mereka kedepannya. Namun Jovan bukan bermaksud tidak ingin menjelaskan, hanya saja ia masih membutuhkan waktu untuk memiliki keberanian mengungkapkan segala hal yang telah ia simpan beberapa tahun ini. 

 

"Gue nemu tempat ini sehari sebelum acara pertunangan kita," Jovan mulai bercerita, Nara menoleh kesamping dan memperhatikan nya, "Waktu itu gue iseng-iseng nyari tempat buat nenangin diri dan akhirnya entah kenapa mobil gue berhenti disini dan gue punya dorongan buat jelajah kesini. Dan boom. Seperti yang lo liat sekarang. Gue merasa menemukan keindahan yang lain sebelum gue mendapatkan keindahan yang sesungguhnya nya. "

 

"Keindahan yang sesungguhnya nya?" Jovan mengukir senyum tipis. 

 

"Mengikat lo dan menjadikan lo salah satu bagian dari hidup gue." Nara menatap Jovan tidak mengerti. 

 

"Maksudnya?" Jovan tidak menjawab, ia tersenyum simpul dan menepuk-nepuk kepala Nara pelan. Nara mengerjap bingung. Sedari awal banyak perkataan ambigu yang sering Jovan ucapkan namun sampai sekarang tidak ada satupun yang Nara bisa pahami. Benar-benar rumit cara pikirnya. 

 

Jovan melangkah menjauhi Nara dan duduk di akar besar dekat danau. Nara turut melakukan hal yang sama. Mereka terjebak hening. Jovan menatap lurus dengan pandangan yang sulit terbaca. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang baru-baru ini terpikirkan olehnya. Nara menoleh kesamping dan memperhatikan Jovan dari samping. 

 

"Lo nyesel sama keputusan lo?" 

 

"Gimana sama lo sendiri?" 

 

Nara mengalihkan pandangannya. Ia sendiri juga tidak tahu benar bagaimana perasaannya sendiri. Banyak ketidakmungkinan mengenai kesepakatan konyol mereka. 

 

"Sesekali gue merasa sedih, karna akhirnya gue mengambil keputusan yang gue sendiri gak tau akhirnya akan seperti apa. Tapi ada yang beda, setelah gue pikir-pikir kembali banyak hal ambigu yang selalu bikin gue nyaman dan merasa aman sama lo," Jovan masih diam mendengarkan pendapat Nara mengenai keputusan mereka. 

 

"Lo sendiri tau kalo gue udah cidera sejak kejadian dua tahun lalu. Sebelumnya gue gak pernah mau lagi percaya siapapun, gue selalu menganggap setiap cowok yang deketin gue itu cuma mengincar tubuh gue dan menganggap cewek itu cuma mainan. Tapi gue mulai mikir, kalo Lo sendiri bilang gak pernah tertarik sama tubuh gue lalu yang lo mau dari gue itu apa? "

 

Jovan menatap Nara intens. Iris mata mereka saling menumbuk. 

 

"Gue pernah nanya sama lo, seandainya gue serius suka sama lo apa lo akan percaya? Saat itu gue emang bercanda tapi jujur deh, percaya gak percaya di balik candaan seorang laki-laki terhadap perempuan sedikit-banyak mengandung keseriusan didalam nya. Apa lo percaya? "

 

Nara tertegun,"Jadi maksud lo.." Jovan tersenyum tipis. 

 

Sudah saatnya..

 

"Gue suka sama lo, ralat.. Lebih tepatnya gue cinta sama lo. Sedari tiga tahun lalu sewaktu lo masih sama Dilon." ungkap Jovan membuat Nara mengerjap. Benar-benar tidak menyangka- terkejut dan tidak tahu harus menjawab apa.

 

Apa segitu gak peka nya gue sampai selama ini gue sama sekali gak paham?

 

Jovan tersenyum simpul sembari menyelipkan anak rambut Nara kebelakang telinga. Nara masih tak berkedip seperti orang bodoh. 

 

Iya dia memang bodoh.

 

"Ada sesuatu yang gak bisa dipaksakan dalam hidup, dan itu yang coba gue terapkan sama lo. Gue gak akan nuntut balas sama lo, tapi tolong .. Biarin gue menjaga sesuatu yang gue anggap berharga, lo gak keberatan 'kan?"

 

"Van.. Gue.." Jovan menutup bibir Nara menggunakan jari telunjuknya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya dan mencium kening Nara lama. Nara memejam kan mata - benaknya menghangat. 

 

"Dari dulu gue gak ada niatan maksa lo, tapi karna saat ini status kita udah tunangan.. Bisa gue minta sesuatu dari lo?" Jovan menatap Nara lama, Nara masih belum bisa mencerna semuanya dan hanya mengangguk sebagai jawaban.

 

"Jangan pernah libatin siapapun diantara kita, bisa?" Nara mengangguk lagi. Entah mengapa ia seperti tidak memiliki jawaban lain dan hanya mampu menganggukkan kepalanya saja. Aneh. Tapi di sudut lain hatinya merasa hangat untuk sesuatu yang Nara sendiri masih belum pahami.

 

Tuhan.. Apakah aku memang sudah jatuh pada sosok sempurna di hadapanku sekarang ini? Jika iya apa yang harus aku lakukan setelah ini?

 

"Sekarang boleh gue jujur?" tanya Nara membuat Jovan menatap nya lama. 

 

Nara mengalihkan pandangan ke depan. "Gue gak tau sejak kapan gue gak merasa khawatir sama lo, tapi sejauh yang gue simpulin, Mungkin .. gue juga punya perasaan sama lo, Van." ucap Nara pelan. Jovan memiringkan kepala. 

 

"Gue gak salah denger 'kan?" Nara menggeleng samar.

 

Jovan mengulas senyum, "Apa sekarang kita pacaran? 

 

Nara menaikkan alis, "Pacaran?" Jovan mengangguk. 

 

Nara terkekeh, "Lo bego ya. Ngapain kita pacaran? Gue gak mau." 

 

"Itu tandanya lo belum sepenuhnya membuka diri." 

 

Nara meraih wajah Jovan - membingkainya dengan kedua tangannya. Nara tersenyum tipis, "Coba angkat tangan kiri lo.." perintah Nara yang dengan mudah Jovan lakukan. 

 

Nara meraih tangan besar Jovan lalu memperlihatkan cincin pertunangan mereka. 

 

"Kita gak butuh pacaran." Nara berganti mengangkat tangan kirinya. "Ini.." Nara menunjuk cincin nya sendiri, "Udah jadi bukti nyata kalo hubungan kita lebih sakral dari sekedar status pacaran. Sampai sini paham?" tanya Nara membuat Jovan menarik dua sudut bibirnya. 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9