Bagian Tiga Sembilan 

Pembenaran & pembuktianπŸƒ

Setiap wanita membutuhkan pernyataan, Juga pembenaran dan pembuktian di saat bersamaan. 

 

***

 

"Maaf.. Gue tahu gue egois, sangat egois. Tapi asal lo tahu Van, kalo bukan karna Alan.. Mungkin sampai saat ini gue bahkan gak mau mengakui perasaan gue sendiri." Nara menunduk dalam. 

 

Mobil berhenti di depan apartemen Nara. Mereka masih terjebak hening. Nara menghembuskan napas berat lalu menoleh pada Jovan yang sengaja mengabaikan nya. Nara tersenyum lirih. 

 

"Gue gak bisa jelasin apapun, tapi lo harus tahu satu hal.. Gue sama sekali gak punya perasaan sama Alan, Terserah lo mau percaya atau enggak itu hak lo. Gue gak akan maksa karna percuma, apa yang gue coba jelasin selalu lo anggap kalo gue melindungi Alan. Gue capek Van, makasih buat semuanya. " ucap Nara membuka pintu mobil. Jovan meliriknya enggan. Tidak tega namun egonya membuat Jovan tetap diam pada pendirian nya. 

 

Setelah memastikan Nara memasuki lobby apartment Jovan menyandarkan punggung ke belakang. Matanya terpejam lelah, lelah dengan semua perasaan yang ia coba perjuangkan selama ini. Juga lelah dengan dirinya sendiri yang entah mengapa meski tahu Nara tidak pernah melihatnya tapi Jovan tetap bertahan bahkan sampai sejauh ini. 

 

Jovan tahu jika apa yang dia lakukan adalah bodoh. Tapi apa boleh buat, memutuskan untuk pergi lebih sulit di banding dengan bertahan meski harus menahan sakit. 

 

"Jalan." perintah Jovan pada Deryl yang sedari tadi menyimak perdebatan mereka. 

 

"Kenapa anda tidak mengatakan yang sebenarnya saja, Tuan muda?" tanya Deryl melihat Jovan dari kaca spion. Jovan membuka matanya enggan. 

 

"Aku mau dia menyadari nya sendiri." jawab nya singkat. Deryl menghela napas. 

 

"Tapi ini membuat kalian semakin sulit untuk di pahami. Anda sendiri tahu jika Nona memiliki trauma mengenai hubungan di masa lalunya, dan meski ia memiliki perasaan terhadap anda bukan tidak mungkin ia akan diam dan memilih untuk menyimpan nya seorang diri. "

 

"Itu bukan urusanmu." Jovan menyahut tidak minat. 

 

"Maaf tuan, bukan saya lancang. Tapi dengan sikap nona, saya rasa dalam hal ini anda perlu menurunkan sedikit ego untuk memulai semuanya dengan jelas. "

 

Jovan terdiam beberapa saat. Menaikkan alis, "Kenapa kamu berfikir begitu?" 

 

"Nona sulit di pahami tuan, tapi nona mudah merasa nyaman. Tugas anda hanyalah meyakinkan dirinya jika masih ada laki-laki baik di dunia ini yang tidak hanya memandang fisiknya saja. Bukankah selama ini itulah yang selalu nona pikirkan tentang laki-laki?" 

 

Jovan berkedip dua kali. Entah mengapa semua yang dikatakan Deryl memang ada benarnya. Nara bukan seseorang yang mudah menaruh hati pada orang lain Karna selalu menganggap bahwa laki-laki selalu memandang fisik dan hanya menginginkan tubuh mereka bukan hatinya.

 

Ah! Apa kali ini Jovan harus benar-benar mengalah? Haruskah ia menurunkan egonya? 

 

Jovan memijit Pelipisnya. Kepalanya pusing hanya dengan memikirkan segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi nantinya. 

 

"Sudah sampai, tuan muda." ucap Deryl membuat Jovan tersentak. Jovan mengangguk lalu turun dari mobil. Baru beberapa langkah ia membalikkan badan, menatap Deryl lurus. 

 

"Siapkan mobil ku sore ini. Dan belilah beberapa Novel terbaru juga camilan seperti biasanya." ucap nya membuat Deryl mengangguk mengerti dengan menahan kedua sudut bibirnya. 

 

"Baik, Tuan muda." 

 

Jovan kembali melangkahkan kaki memasuki rumah. Saat melewati ruang keluarga Jovan hanya melirik acuh pada Amel dan Diana membuat mereka berdua menatapnya bingung. Di tangga pertama Amel memanggilnya - meminta nya untuk mendekat. Jovan berdecak tak urung tetap berbalik untuk menghampiri Amel. 

 

"Ada apa denganmu? Kenapa lesu begini? Dan gimana sama sidang nya? " tanya Amel bertubi Jovan mendengkus. 

 

"Jovan baik-baik aja. Sidangnya lancar dan udah di proses sesuai hukum." 

 

"Terus kenapa muka kamu lesu begini? Oh ya, Nara mana? Kamu gak bereng dia? " tanya Diana membuat Jovan menatap mereka malas. 

 

"Ma, plis.. Jovan capek mau istirahat." 

 

"Kalian lagi berantem ya?" tanya Amel membuat Jovan melihat Amel enggan. Diana menggeleng kan kepala. 

 

"Udah dewasa bahkan udah mau jadi kepala keluarga tapi masih gedein ego? Turunin dikit lah Van, kamu ini cowok loh, ngalah sama cewek itu perlu." 

 

"Kita gak ada masalah." 

 

"Mengalah bukan berarti kalah Jovan. Salah satu tugas laki-laki itu membuat wanitanya merasa nyaman dan aman, Bukan menekan nya dengan sesuatu yang kamu sendiri masih tidak mau mengakui dengan jelas sama dia. Cowok itu harus gantle." 

 

"Pa.." Jovan menatap David protes. Entah dari mana papanya tiba-tiba sudah berdiri di belakang mereka. Namun yang jelas perkataan David yang terakhir sangat menyinggung nya. 

 

"Memangnya sampai kapan kamu mau kucing-kucingan kayak gini sama dia? Kalian udah dewasa, bahkan udah tunangan. Kamu mau terus diam sampai dia direbut orang lain atau menunggu Nara menemukan kenyamanan dengan yang lain? Keduanya sama-sama merugikan buat kamu 'kan? "

 

Jovan terdiam. Menatap mereka jengkel. 

 

"Kenapa kalian tiba-tiba hakimin Jovan kayak gini? Sekongkol buat mojokin Jovan? Iya?" tanya Jovan menatap mereka bergantian. Amel mencubit lengannya gemas membuat sang empunya mengaduh. 

 

"Karna kamu itu bodoh! Udah tau Nara gak bisa percaya sama sesuatu yang abu-abu tapi kamu selalu gantungin dia. Oma juga perempuan, dan sebagai perempuan oma perlu kasih tau kamu kalo setiap wanita perlu kejelasan. Mereka membutuhkan pembuktian dan pembenaran di saat bersamaan Jovan Arion. Haduh.. Darah tinggi oma bisa-bisa naik kalo gini ceritanya." ucap Amel membuat Jovan tertegun. 

 

Setiap wanita perlu kejelasan? 

 

Apa Nara juga Membutuhkan pembuktian dan pembenaran? 

 

" Tapi kita udah Tunangan, memang apa lagi yang harus Jovan buktikan? "

 

"Kamu itu beneran bodoh kalo tentang cinta ya? Kamu cuma kasih dia pembuktian, tapi kamu selalu lupa kalo wanita juga butuh pernyataan." 

 

"Maksud oma kamu itu Nara bukan cuma butuh status dari kamu, tapi dia juga butuh pernyataan kamu untuk membuktikan pembenaran dari perlakuan kamu itu. Aduh.. mama jadi ikutan gemes sama kamu." 

 

Jovan terdiam beberapa saat kemudian berlalu - kembali melangkahnkan kakinya menuju kamar. Mengabaikan tiga pasang mata yang tengah menatapnya gemas. 

 

"Punya cucu satu tapi bikin sakit kepala," Amel menoleh pada anak dan mantunya, "Ini salah kalian, kalo kalian luangin waktu buat Jovan sedari lama dia pasti gak terlalu egois jadi orang. Benar-benar ya.." gerutu Amel meninggalkan Diana dan David yang saling menatap tidak mengerti. 

 

"Kenapa Lagi-lagi kita yang disalahin? Padahal keras kepala juga ego tinggi itu udah murni turunan keluarga Arion. Gak ngerti deh sama mama kamu." 

 

David mencium pipi Diana gemas, "Kamu udah bosen jadi mantunya ya? Itu juga mama kamu." 

 

Diana mendengkus geli, "Oh iya. Hampir aja lupa." jawabnya terkekeh. 

 

**

 

Setelah sampai di kamar Jovan menghubungi Nara untuk memastikan sesuatu. Jovan berdecak saat sudah kelima kalinya ia menenlfon nara namun tidak kunjung di angkat. Jovan mencoba sekali lagi dan ia berjanji jika Nara masih tidak mengangkat nya ia akan langsung menghampiri nya. 

 

Sedang Nara yang baru saja keluar kamar mandi mengernyit saat mendengar dering ponselnya. Jovan. Nara menaikkan alis. 

 

Bukankah Jovan sedang marah? Lalu angin dari mana ia mau menghubungi lebih dulu? 

 

Tak ingin mengira-ngira Nara segera menggeser tombol hijau. 

 

"Ad_a" 

 

"Lo mau bikin gue khawatir heh? Kemana aja gue telfon dari tadi gak diangkat - angkat? Ngambek soal tadi? Iya?!" potong Jovan memcercanya. Nara mengerjap tidak mengerti. 

 

"Lo kesambet setan mana, sih? Nelfon tiba-tiba ngomel kayak gini? Lo waras 'kan?!" sembur Nara kesal. 

 

Siapa juga yang tidak kesal baru menerima telfon tapi langsung di marahi seperti ini. Sangat konyol! 

 

"Satu-satunya orang yang bisa bikin gue gak waras itu elo." 

 

"Bodo amat ya, serah lo mau ngomong apa juga. Jadi ngapain lo nelfon gue pake marah-marah segala?!" balik Nara menyentaknnya. Jovan mendengkus. Hampir lupa dengan tujuannya. 

 

"Apa cewek beneran butuh kejelasan?" tanya Jovan membuat Nara mengerutkan dahi. 

 

"Maksud lo gimana, sih?" 

 

"Oma bilang hampir semua cewek pasti butuh kejelasan. Oma juga bilang kalo setiap cewek butuh pembuktian dan juga pembenaran di saat bersamaan, apa itu benar?" 

 

"Lo bego ya?" 

 

"Jangan debat gue sekarang." 

 

Nara terdiam. Apa Jovan menelepon nya hanya untuk bertanya sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini? Padahal jelas-jelas oma sudah memberinya penjelasan. Lalu mengapa dengan bodohnya dia masih bertanya? 

 

"Untungnya gue ngasih tau lo itu apa? Cowok gak peka kayak lo mana paham beginian sih." 

 

"Itu alasan gue nanya sama lo bego! Apa lo juga cewek yang berpikiran demikian?" 

 

Nara menghembuskan napas berat di sebrang sana, "Kalo Lo menganggap gue perempuan, maka gue juga termasuk salah satunya." jawab Nara membuat Jovan diam. 

 

"Gue gak tau kenapa lo jadi bego gini dengan nanya langsung sama gue, tapi disini gue paham satu hal, lo.. gak bener-bener melihat gue sebagai perempuan 'kan? Gue gak berharap banyak sih, tapi tolong dong ya gak usah lo perjelas bisa' kan?"

 

"Pertanyaan yang bagus. Gimana perasaan lo kalo orang yang lo sayang gak pernah melihat lo?" 

 

"Gue gak ngerti." 

 

"Persis sama apa yang gue bilang tadi di mobil. Gue tau lo gak bego, Nara.." 

 

Nara terdiam. Bingung harus menjawab bagaimana. Jujur dia pasti kecewa tapi ia tidak mungkin mengatakannya 'kan? 

 

Jovan menghembuskan napas lelah, "Apapun yang lo rasain tentang itu pastinya gak akan buat lo nyaman' kan? Untuk itu gue harap lo gak memperlakukan orang lain dengan cara yang sama karna lo pasti tau kalo rasanya bener-bener gak enak. Sampe sini gue harap lo paham, Nara Sidzkia." 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9