Bagian Tiga Depalan 

Sidang putusanπŸƒ

 

Menyesalpun tidak akan berguna karena luka yang mendalam telah membuat seseorang cidera mental. 

 

***

 

 

Nara menunduk dalam dengan air mata yang mengalir dari dua sudut matanya. Jovan di sampingnya hanya diam dengan mendekap kepala Nara untuk bersandar padanya. Sidang putusan sudah keluar dan Jovan sedikit merasa lega karena pada akhirnya Dilon mendapat kan ganjaran yang setimpal dengan apa yang pernah ia lakukan di masl lalu.

 

Dilon berjalan dengan di ikuti dua polisi di belakangnya. Dilon menghentikan langkah saat melihat Nara terdiam dengan kepala menunduk. Ia menghampirinya. Menatap Nara dengan pandangan menyesal.

 

"Ra.." panggil Dilon membuat Nara mengangkat wajah. Jovan sendiri masih setia mengengam tangan Nara menguatkannya.

 

Dilon mengukir senyum sakit, "Gue minta maaf, Ra. Gue bener-bener bersalah sama lo tapi, sekarang.. Menyesalpun gak akan berguna karna gue udah menorehkan luka di batin lo hampir tiga tahun ini. Maaf karna gara-gara gue lo harus menderita dan nutup diri selama ini. Tapi seperti yang gue bilang, Menyesalpun gue tetep gak bisa sembuhin luka batin lo yang udah gue buat. Sekali lagi maaf, Ra. " ucap Dilon membuat Nara mengepal kan kedua tangan. Menahan segala yang ia rasakan.

 

Dilon berganti melihat Jovan,"Dan buat lo, Van. Maaf karna kebodohan yang gue lakuin hampir bikin lo kehilangan nyawa. Awalnya gue cuma mau gertak lo, tapi gue bener-bener gak tau kalo kejadiannya bakal jadi kayak yang udah nimpa lo kemaren. Tenang aja, gue udah gak nyimpen dendam karna lo udah jatuhin perusahaan danuarta. Karna setelah gue telusuri ternyata perusahaan udah melakukan pengelapan dana dan untuk semua yang pernah gue lakuin, gue minta maaf dan gue harap.. Lo juga mau maafin gue ya? Gue bersalah sama kalian. Bener-bener bersalah. "

 

"Sudah waktunya, saudara Dilon." peringat salaj satu polisi di belakangnya. Dilon menoleh, "Sebentar lagi pak."

 

"Gue doain kalian langgeng sampe pernikahan. Gue duluan ya, tolong jaga dia sebaik mungkin, Van. Gue percaya lo." lanjut Dilon menatap mereka bergantian. 

 

Nara mengulum bibir, menahan isakan. Kejadian dua tahun lalu kembali berputar di kepalanya. Semua kenangan yang pernah mereka lalui hingga kejadian pahit dimana sampai saat ini Nara masih menutup diri membuat nya tidak bisa berkata-kata. Lidahnya kelu dan Nara tahu jika semua ini sudah terbayarkan.

 

"Lo butuh tidur kayaknya, Ra." ucap Kinan di belakangnya. Aqila mengangguk setuju.

 

"Setelah ini lo bisa tidur dengan nyaman tanpa bayang masa lalu itu. Meskipun gue tahu ingatan itu masih ada tapi seengaknya lo bisa lega karna orang yang bikin lo trauma sekarang udah dapet balasannya." 

 

"Nangis sepuas lo, Ra. Buat diri lo tenang dengan Lampiasin semua perasaan yang lo tahan selama ini. Kali ini gue gak akan melarang. Tapi inget, untuk kali ini aja oke." tambah Bayu membuka kedua tangannya - Nara sendiri langsung menubruk Bayu menumpahkan segala kegelisahan nya selama ini. Bayu tersenyum lirih dengan mengelusi punggung nya menenangkan.

 

Setelah beberapa saat mereka keluar dari pengadilan. Kinan dan Gavin sudah pamit untuk menjemput baby twins. Mereka Semua memang berkumpul untuk menjadi saksi di pengadilan. Dan bagi tri angel sidang putusan kali ini benar-benar membuat mereka lega.

 

Audy menarik - narik jaket yang Reza kenakan. Mata bulatnya mengerjap lucu.

 

"Mau pulang juga?" Audy mengangguk. Ia sedikit mencuri pandang pada Bayu yang masih setia memperhatikan nya.

 

"Temen kakak yang itu kenapa nakutin banget, sih? Bikin jijik aja." ucap Audy pelan. Reza melihat arah pandang Audy - ia tertawa mengerti apa yang Audy maksud.

 

"Lo mulai gila ya, Za." cibir Jovan di samping Nara.

 

"Enak aja. Lo mau tau kenapa gue ketawa?" 

 

Jovan menaikkan alis."Gak peduli. Gak penting juga." 

 

Reza meninju lengan Jovan kesal. "Sialan sih, emang." 

 

"Abang.." rengek Audy tidak tahan terus di pandang dengan tatapan aneh Bayu. Reza mengangguk. 

 

"Yodah lah. Gue sama Audy pamit dulu. Kasian si Bayu kehina mulu." canda Reza membuat Bayu mendengkus. 

 

Audy menatap Nara sebentar, "Kak Nara harus banyak istirahat. Jangan terlalu di pikirin ya kak." ucap Audy membuat Nara mengukir senyum tulus. 

 

"Makasih ya Audy. Makasih banget loh kamu mau hadir buat kakak disini. Phobia kamu berkurang 00,0001 persen kayaknya." balas Nara tertawa renyah. Audy menatapnya protes. 

 

"Bahkan sama kuman aku rasa lebih gedean kuman deh, kak. Ya udahlah pokok nya kakak jangan banyak pikiran ya. Dadah kak Nara." Audy melambaikan tangan sebelum hilang di balik mobil. Bayu melirik Aqila di samping Nara dan memberinya kode untuk meninggalkan mereka berdua. Aqila mengerti lalu menoleh ke arah Nara. 

 

"Gue sama Bayu mau cabut duluan ya, Ra. Mami bikin cheese cake terus nyuruh ngajak Bayu mampir. Lo gak pa-pa kan kita tinggal?" 

 

"Kok lo jahat gak nagajakin gue juga? Oh gitu kalian udah mulai lupa ya sama gue. Fine!" balas Nara membuang muka. Aqila mencubit pipi Nara gemas. 

 

"Sadar kondisi woy! Lo jangan banyak pikiran dulu. Apalagi sampe mikir hal gak penting. Kondisi lo akhir-akhir ini udah drop banget jadi jangan bikin kita tambah khawatir. Tenang aja, kalo mami bikin lagi nanti kita bakal kumpul bareng kok. Kali ini sama Kinan juga. So, istirahat yang tenang ya sayang. Dadah.. " ucap Aqila membuat Nara mendelik kesal. 

 

" Lo nyumpahin gue mati ya! "

 

Aqila melotot," Si bego! Maksudnya tuh istirahat yang cukup gitu say, ah! Gue jedotin tembok nih lama-lama. Kesel gue!"

 

Nara tertawa pelan dengan menggerakkan tangan nya mengusir," Yodah gih. Syuh Syuh.." 

 

Aqila yang hendak menutup pintu mobil mendelik,"Lo kira gue ayam! Pulang sana!"

 

Nara tersenyum kecil saat mobil Bayu sudah melaju. Jovan menarik tangan Nara memasuki mobil. Hari ini Jovan sengaja menggunakan sopir pribadi untuk mengantarkan mereka ke pengadilan. Nara masih diam dan memilih untuk melihat keluar jendela. 

 

Nara memainkan Jemarinya sendiri. Jovan meraihnya lalu menggenggamnya lembut. Nara menoleh melihat Jovan yang masih sibuk dengan ponselnya. Perlahan ia menghembuskan napas berat. Jelas-jelas Jovan masih mendiamkan nya tapi kenapa di saat yang bersamaan Jovan juga tetap memberinya kenyamanan? 

 

"Masih marah?" tanya Nara membuat Jovan menoleh. Ia menaikkan alis. 

 

"Siapa?" 

 

"Elo lah!" 

 

"Kenapa gue harus marah?" 

 

"Tapi buktinya lo marah dari kemaren. Bahkan nolak denger penjelasan gue dulu." 

 

"Kenapa lo harus kasih penjelasan sama gue?" Seketika Nara terdiam. Bingung dengan dirinya sendiri karena menganggap Jovan marah padanya untuk alasan yang tidak masuk akal. 

 

"Kemaren gue bukan maksud belain si Dilon. Gue cuma kebawa suasana karna tiba-tiba dapet kabar sidang kasus yang udah di tutup dua tahun lalu. Gue-

 

"Oh. Apa lo pikir gue marah karna itu?" Nara berkdedip bingung. 

 

"Kalo bukan karna itu terus karna apa dong?" 

 

"Lo inget gue pernah bilang apa sama lo?" 

 

"Yang mana?" 

 

"Kalo gue gak suka milik gue deket-deket cowok lain." 

 

Nara mengernyit kan hidung, "Bentar, Sebenarnya gue masih kesel kalo denger kata-kata itu tapi bukan itu yang mau gue debat. Lo jelas tau kalo gue kemaren nemuin lo kenapa malah nanya yang gak jelas gini, sih?!" 

 

"Oh lo gak inget ya? Mau gue bantu ngingetin? Boleh.." Jovan memberi jeda, "Kemana lo setelah keluar dari kantor gue?" Jovan menatapnya lurus. Nara mencoba mengingat - kemarin setelah dia keluar kantor dia jalan-jalan lalu bertemu Alan setelah itu _

 

Ah! Tunggu.. Jangan bilang Jovan liat gue jalan bareng Alan kemarin? Tanya Nara Pada dirinya sendiri. 

 

"Udah inget sekarang? Jadi apa yang bisa lo jelasin tentang itu, Nara Sidzkia?" 

 

"Itu.. Gue gak sengaja ketemu dia. Kita cuma ngobrol bentar abis itu gue pulang. Beneran deh. Suer. " jawab Nara mengangkat jari telunjuk juga hari tengahnya. Jovan menatapnya datar. 

 

"Dengan alasan apa gue bisa percaya apa yang lo bilang?" 

 

"Van, plis, gue sama Alan cuma temen gak lebih. Dan soal Kemarin emang bener-bener kebetulan." 

 

Jovan memalingkan muka, "Oh, oke. anggap aja gue percaya." jawab Jovan membuat Nara meraih lengan Jovan untuk balas menatapnya. 

 

"Jovan Arion! Kenapa lo harus egois kayak gini sih? Bahkan sedikit penjelasan gue gak ada yang lo percaya -" 

 

"Lo bilang gue egois? Apa gue harus percaya sama seseorang yang bahkan gak pernah melihat gue sebagai cowok?! Gue orang yang selalu ada di belakang lo, Ra, tapi lo.. Bahkan gak pernah menganggap gue ada! Dan lo masih bilang gue egois?" Jovan menekankan semua ucapanya. Meski ia tidak membentak namun suara rendahnya mampu membuat Nara terdiam seribu bahasa. 

 

Ya Nara tahu dia juga salah dalam hal ini, tapi.. Bukan ini permasalahan nya. Nara hanya tidak ingin seseorang yang tidak bersangkutan menjadi korban kecemburuan Jovan. Itu saja. 

 

Dan kali ini.. Apakah Nara harus jujur? 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3