Bagian Tiga Tujuh

Salah pahamπŸƒ

Marah? Apa aku berhak?? 

 

 

***

 

"Apa ini?!" Nara duduk dengan tangan bersedekap setelah melemparkan sebuah undangan dari pengadilan. Jovan melihatnya sekilas.

 

"Gue rasa lo gak bego buat tahu itu undangan apa.."

 

"Jovan Arion.. Kasus itu udah di tutup dua tahun lalu. Kenapa sekarang tanpa gue tau gugatan itu masih di terima? Bahkan udah sampai tahap sidang." Nara menatap Jovan serius. Jovan terlihat mencari sesuatu di laci meja kerjanya. Setelah menemukan apa yang ia cari, Jovan memberikannya pada Nara.

 

Nara mengernyit," Apa ini? "

 

"Buka aja."

 

Nara membuka satu halaman pertama dan ia tahu jika ini adalah barang bukti untuk Jovan mengajukan pembukaan kasus nya. Nara membelalak saat di sana tertera jelas bukti cctv juga hal yang sebenarnya terjadi padanya dua tahun lalu.

 

"Jadi lo udah tau hal ini.." lirih Nara menatap Jovan tak percaya. Jovan mengangguk.

 

"Sebelum ini, jarang ada seseorang yang bisa bangunin singa dalam diri gue. Dan setelah tau kronologis kejadian yang terjadi sama lo, Gak ada alasan buat gue gak marah. Lo tau, Ra? Gue merasa jadi cowok paling gak berguna karna gagal melindungi orang yang gue sayang. "

 

Nara meneguk ludah susah payah. Tenggorokan nya kering seketika. Entah ia harus bagaimana menyikapi ini semua. Segala hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini sangat membuat Nara kehabisan kata.

 

Jovan tersenyum lirih."Gue jemput lo besok. Kita kesana bareng. Sekarang bisa tinggalin gue sendiri?" Nara berkedip dua kali.

 

"Lo marah?"

 

"Apa gue berhak?" tanya Jovan balik. Nara terdiam. 

 

"Tinggalin gue sendiri, Ra. Kerjaan gue masih banyak." Nara menatap Jovan lama. Jovan sudah menyibukkan diri dengan berkas-berkas nya. Nara menghela napas lalu berdiri. 

 

"Gue pulang." Jovan tidak menjawab. Ia mengepal kan sebelah tangannya. Nara melangkah keluar, sebelum benar-benar menutup pintu ia menoleh. Melihat Jovan sekilas lalu menunduk sembari menutup pintu.

 

Setelah pintu tertutup, Jovan memukul meja kerjanya. Darah segar yang mengalir di antara celah jarinya tak membuat Jovan merasa lega. Perlahan ia mendonggak kan kepala dengan menutup kedua matanya.

 

"Gue tau lo gak bego, Ra. Tapi kenapa lo selalu bersikap tolol. Sampai kapan lo akan menutup diri kayak gini? Gue rasa.. gue mulai capek." gumam Jovan dengan tersenyum lirih.

 

Di lain tempat Nara yang tengah berjalan sendirian memelankan langkahnya saat melihat seorang pasangan yang sudah menua masih dengan harmonis menjaga cinta mereka dengan baik. Mereka bahkan tertawa bersama meski Nara yakin yang tengah mereka bicarakan tidaklah semenarik yang terdengar. Tapi mengapa mereka masih terlihat sangat bahagia?

 

Nara tersentak saat merasakan tiupan halus di telinganya. Ia menoleh dan terkejut saat melihat Alan tersenyum manis melihatnya. Nara menatapnya jengkel.

 

"Gue hampir merinding. Lo kayak setan nongol tiba-tiba." cibir Nara. Alan tertawa renyah.

 

"Mana ada setan seganteng gue sih, Ra.." balasnya bercanda. Nara ikut tertawa.

 

"Anjir.. Pedean banget."

 

Mereka berjalan bersisian. Nara tidak ada niatan untuk bertanya dari mana Alan bisa sampai disini. Ia hanya masih bingung cara menyikapi semua ini. Segala hal terlihat rumit.

 

Alan menyengol lengannya. "Kenapa, sih? Banyak hutang lo stres banget kayaknya." Nara hanya tersenyum kecil. Tatapannya lurus kedepan.

 

"Salah gak sih, kalo menutup diri karna takut terluka lebih dalam lagi?" Alan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Gak ada yang salah, sih. Cuma ya, jangan terlalu banget. Lo tau 'kan? Ada masanya hati juga butuh tempat beristirahat. Pulang kerumah yang ia inginkan untuk sedikit melepas penat. Dan gue rasa mungkin, lo butuh itu."

 

Nara berhenti. Ia menoleh menatap Alan yang tersenyum manis di sampingnya.

 

"Lo sama Jovan itu sama-sama keras kepala. Tapi lo gak lupa 'kan, cowok itu ego nya lebih tinggi meskipun kalian sama keras kepalanya. Dan sebaliknya, dari lo sendiri juga terlalu takut dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Untuk itu lo gak pernah siap. Tapi lo selalu lupa, kalo Lo menunggu waktu yang tepat, selama itu juga lo gak akan pernah siap. " Nara menunduk.

 

"Lo tau.."lirih Nara. 

 

Alan tersenyum tipis, "Semua orang gue rasa juga tau kalo kalian punya perasaan satu sama lain. Tapi entah apa yang buat lo takut, lo seakan menutup mata dan hati lo. Gak mau tau dan gak mau menyadari semuanya. Padahal lo sangat tau apa yang hati lo pilih."

 

Nara mendonggak. Mata sayunya berair.

 

"Gue sepecundang itu yah.." Alan mengelus sisi kepala Nara pelan.

 

"Gue tau lo sadar. Untuk itu, jangan menunggu kehilangan dulu baru lo menyesali sesuatu yang telah hilang. Lo harus tau, Segala hal gak akan pernah sama meskipun mereka telah kembali."

 

Tak jauh dari tempat mereka berdiri, seseorang melihat mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia berbalik dengan perasaan yang tidak menentu.

 

***

 

Setelah meyakinkan dirinya sendiri. Nara mulai menguatkan hatinya. Ia ingin memastikan sendiri apakah yang ia rasakan ini nyata atau hanya sebatas kenyamanan semata.

 

Seusai pulang dari kantor Jovan. Amel menelfon Nara dan menyuruhnya untuk berkunjung ke rumah. Amel bilang ia ingin menceritakan sesuatu yang akan membuat Nara tidak percaya. Tentu saja Nara tidak menolak.

 

Disinilah ia sekarang. Nara duduk bersebelahan dengan Amel yang sedari tadi menampilkan senyum manisnya. Nara melihat Amel tertarik.

 

"Wah, kenapa sama oma nih? kayaknya seneng banget." Amel mengangguk. Ia meraih tangan kiri Nara lalu menggenggamnya. 

 

"Emang lagi seneng. Kamu tau gak? Diana udah mutusin buat mengurus perusahaan yang ada di sini. Dan gak akan lagi ikut David ke luar negeri seperti sebelum-sebelumnya. Kamu tau 'kan, ini Diana loh, anak oma. Oma seneng banget dia udah beneran mau memperbaiki kesalahan yang dia lakukan selama ini. Oma beneran seneng banget. " Nara ikut tersenyum. 

 

"Nara ikut seneng denger nya oma." 

 

"Ini semua juga karna kamu loh, ah.. Jovan emang gak salah pilih pasangan." Nara tersenyum kaku seketika. Apa ia juga harus merasa senang karena dari sekian banyak wanita dan Jovan lebih memilih nya? 

 

Jovan datang dan melewati mereka - langsung masuk menuju kamarnya. Amel melihat nya senang," Kamu udah pulang sayang. Sini duduk dulu, ada Nara juga disini." tegur amel membuat Jovan menghentikan langkah.

 

Jovan berbalik, "Maaf oma. Tapi Jovan lagi capek banget, mau tidur." jawab Jovan tanpa menatap Nara. Amel mengernyit kan hidung.

 

Tidak biasanya Jovan bersikap acuh pada Nara seperti ini. Biasanya ia lah yang paling semangat untuk membuat Nara kesal, tapi kenapa dengan malam ini?

 

"Jovan mungkin lagi beneran capek oma, biarin dia istirahat aja." sahut Nara menatap Jovan, Jovan meliriknya sekilas lalu membuang muka.

 

"Kalau gitu Jovan ke atas duluan oma. Oma juga jangan malem-malem tidurnya." Jovan berlalu pergi. Amel semakin melihat nya tidak mengerti.

 

Hanya itu? Tanpa sapaan dan tanpa keributan seperti sebelumnya? Ini aneh. Pikirnya.

 

"Kalian lagi berantem ya? Atau lagi ada masalah serius gitu?" tanya amel membuat Nara tersentak.

 

"Eh, umm.. Kami baik-baik aja oma. Cuma masalah kecil."

 

"Tapi seriusan dia malam ini beda loh, Ra. Biasanya mana pernah nyuekin kamu sampe segininya." Nara tercenung. Benar juga. Batinnya.

 

"Mph, Nara boleh nemuin Jovan gak oma? Ada sesuatu yang masih abu-abu disini." ucap Nara meminta izin.

 

Nara berjalan kearah kamar Jovan di lantai atas setelah Amel memberikan izin. Sebenarnya Nara juga bingung ingin menjelaskan apa, tapi ada yang salah di sudut hatinya. Rasanya Nyeri saat Jovan sengaja mengabaikannya.

 

Nara membuka pintu perlahan. Sepi. Hanya suara gemericik air dalam kamar mandi. Nara duduk di tepi ranjang dengan melihat nuansa kamar Jovan perpaduan warna hitam dan putih yang terlihat elegan dan gentle.

 

Pintu kamar mandi terbuka, mereka saling menatap. Jovan mengalihkan pandangan dan lebih memilih mengabaikan Nara dengan mengambil piyama di dalam lemari.

 

"Lo masih marah?" tanya Nara pelan. Jovan tidak menjawab dan mulai membuka jubah mandinya. Seketika Nara melemparinya bantal yang berada tak jauh darinya. Jovan berdecak - berbalik memberikan sorot malas pada Nara yang tengah melotot.

 

"Jangan ganti baju disini juga bego! Lo gak liat gue disini apa!" pekik Nara jengkel. Jovan berkacak pinggang.

 

"Yang nyuruh lo masuk juga siapa? Ini kamar gue, terserah gue mau ganti dimana. Apa hak lo?"

 

"Gak tau malu lo ya!"

 

Jovan berjalan mendekat, menumpukan keduatangannya pada pinggiran kasur - mengukung Nara yang masih mendelik kesal. Jovan mencondongkan wajah di dekat telinga, "Iya gue gak tau malu karna udah mengharapkan seseorang yang gak pernah Sedikit pun melihat gue sebagai cowok. Terus lo mau apa?!" bisik Jovan rendah.

 

Seketika Nara terdiam. Selain jarak mereka yang sangat dekat, Nara juga turut memikirkan ucapan cowok itu. Jovan tidak sedang membicarakan nya 'kan?

 

"Siapa yang lo maksud?"

 

"Lo masih gak tau?" tanya Jovan balik. Nara terdiam lagi.

 

Jovan menjauh kan sedikit wajahnya, menatap nya malas. Nara balas menatapnya, "Lo marah karna gue nutup diri atau karena masalah dua tahun lalu?"

 

"Dua-duanya. Gak ada yang bisa gue bangga in dari lo sekarang. Tapi ada satu hal yang buat gue makin marah.. " jedanya kembali mencondongkan wajah, ia berbisik pelan dan penuh tekanan.

 

"Gue pernah bilang kalo gue gak suka milik gue berdekatan sama siapapun, tapi lo kayaknya masih belum percaya, jadi.. Kalo gue menghilangkan Alan dari hidup lo itu bukan masalah 'kan?"

 

"Psycho! Jangan lakuin apapun sama orang yang gak bersalah Jovan Arion, lo salah paham."

 

"Oh ya? Tapi gue gak mau tau tuh, jadi bisa pergi dari sini?"

 

"Van!"

 

"Atau lo mau liat gue ganti baju di sini? Terserah lo sih kalo maunya gitu, gue gak akan melarang."

 

"Lo!" Nara kehabisan kata, "Dasar cabul!!" sentak Nara menghentakkan kaki kesal menutup pintu kasar dengan mendumel.

 

Jovan membuang napas kasar, "Gue bener-bener gak akan kasih ampun buat siapapun yang coba merebut lo dari gue, Nara."

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8