Bagian Tiga Enam

perkembangan πŸƒ

Caraku memedulikan mu memang berbeda, tapi aku tahu.. Kamu suka kan? 

 

***

 

Diana dan David sudah siuman. Nara masih menunduk dengan rasa bersalah. Semua ini karena nya. Jika saja ia tidak memaksa mereka untuk segera pulang, mereka sekarang pasti masih baik-baik saja. Jika saja ia sedikit memahami mereka pasti..

 

"Hey.. Kenapa melamun?" tanya Diana. Nara mendonggak dengan mata berkaca-kaca. Ia menggigit bibir bawahnya agar tidak terisak lagi. Diana meraih tangan Nara lalu mengenggamnya erat.

 

"Kami baik-baik aja sayang, jangan terlihat merasa bersalah seperti itu terus. Lihat.. Matamu bahkan sudah bengkak." hibur Diana dengan tersenyum simpul. Nara menunduk lagi.

 

"Kalo bukan karna Nara kalian gak akan kayak gini tante.." jawab Nara serak.

 

Diana mendonggak kan kepala Nara untuk menatapnya. Ia tersenyum tulus.

 

"Kalo bukan karna Nara juga, sampai sekarang kami gak akan pernah sadar sama keadaan yang udah berlangsung lama ini. Kamu telah membuka mata kami. Jovan dan harta sangat berbeda. Dan selamanya tidak akan pernah sama. Tante.. Bersalah padanya." ucap Diana pelan di akhir kalimat. Nara mengerjap.

 

"Jadi tante pulang bukan karna paksaan Nara?" Diana mengeleng. Sebelum sempat menjawab suara di belakangnya membuat mereka menoleh serentak. 

 

"Tentu saja bukan. Kami pulang murni karna kami sudah benar-benar sadar tentang semua ini. Terima kasih Nara. Kami tidak akan pernah sadar tanpa kamu yang menyadarkan kami." ucap David tulus.

 

Nara tersenyum kecil, "Saya hanya mencoba membantu. Untuk selebihnya kalian lah yang sudah berusaha keras. Maaf karna membuat keadaan nya kacau seperti ini." David terkekeh.

 

"Berusaha keras? Bukankah kamu yang sudah melakukan itu dan bukan kami? Semua orang sudah tahu jika kamu benar-benar mengupayakan yang terbaik untuk kami semua. Tanpa kamu, kami tidak pernah baik-baik saja."

 

Tanpa mereka sadari, Jovan mendengar semua obrolan mereka. Bukan berniat menguping, hanya saja saat ia hendak masuk ke ruangan Diana tak sengaja ia mendengar pengakuan mengharukan dari sang papa. Egonya tersentil, ia benar-benar tidak bisa memungkiri jika dia merasa senang. Sudut hatinya menghangat mendengar mereka mengatakan jika dirinya dan harta adalah sesuatu yang berbeda dan tak akan pernah sama. 

 

Bolehkah Jovan sombong sekarang? 

 

Mendengar tanggapan David, Nara tersipu. Apakah itu termasuk pujian? 

 

"Om udah baik-baik aja?" alihnya, David mengangguk. 

 

Keadaan mereka tidak begitu buruk, David pun hanya terkena beberapa luka jahit yang masih tergolong aman. Hanya saja Diana mengalami sedikit cidera di kepalanya akibat benturan kaca. Namun untuk keseluruhan mereka baik-baik saja. 

 

Jovan membuka pintu. "Lagi ghibahin Jovan, ya?" ucapnya melihat mereka bergantian. Nara menatapnya malas. 

 

"Biang rusuh dateng." gumamnya. Orang tua Jovan terkekeh mendengar gumaman Nara. Jovan dan Nara memang tidak pernah searah. Bahkan selalu saja ribut tidak jelas namun itulah yang membuat mereka kian dekat. Meski selalu berselisih paham dan selalu berdebat. Mereka selalu berakhir berjalan beriringan. 

 

Jovan ikut duduk di sebelah David. Mereka saling melirik. 

 

"Papa tau kamu sudah mendengar semua nya." Jovan tersenyum kecil. 

 

"Sekarang Jovan tau kenapa Jovan bisa sering nebak perasaan orang lain. Itu karna turunan papa 'kan?"mereka tertawa bersama. Meski tidak mengatakan dengan jelas, tapi mereka itu Arion. Bahasa mereka memang berbeda dengan yang lain. Terdengar tidak masuk akal. Namun begitulah kenyataannya. 

 

"Kita perbaiki semuanya perlahan. Jangan menekan kami dengan tatapanmu." 

 

"Ya ya.. Jovan udah maafin kalian jadi mari kita lakuin yang terbaik mulai sekarang." jawab Jovan setengah terpaksa. David menepuk pundaknya dua kali. 

 

"Arion sekali." 

 

Nara yang mencuri - dengar mengernyit kan hidung. Bagaimana bisa mereka mengerti padahal mereka tidak ada yang mengucapkan kata maaf tapi mengapa bisa? 

 

Diana terkekeh. "Kamu pasti bingung cara mereka bicara 'kan?" Nara mengangguk. 

 

"Arion jarang sekali mengatakan kata maaf dan terimakasih. Jika mereka sudah mengatakan mari itu artinya mereka sudah baikan. Serumit itu hanya untuk meminta maaf namun terdengar unik bukan?" Nara mengangguk lagi. Ia paham sekarang. Seperti saat Jovan mengatakan baik-baik saja, itu artinya dia memang sedang tidak baik-baik saja. 

 

"Ikut gue." Jovan menarik tangan Nara, sebelum sempat protes Jovan lebih dulu mengandengnya keluar. 

 

"Ngajak baik-baik kan bisa. Sehari gak cari ribut gak sempurna ya hidup lo." cebik Nara kesal. Jovan mengendik acuh. 

 

"Gue bosen. Apalagi dari minggu lalu gak keluar kemana-mana. Temenin gue jalan-jalan." 

 

"Pake kalimat tolong apa plis gitu kek." 

 

"Lo sensi mulu kalo sama gue." Nara menatap Jovan tak percaya. Dia tidak bodoh kan? 

 

"Sadar diri dong! Yang selalu bikin gue sensi itu siapa? Elo!" tunjuk Nara kesal. Jovan menggigit jari telunjuk Nara pelan. 

 

"Sakit bego! Lo waras gak sih?!" protes Nara menarik tangannya. Jovan tertawa renyah. 

 

"Lo juga harus sadar diri. Gak warasnya gue itu juga karna lo." jawabnya ambigu. Nara mlengos.

 

"Gak jelas dasar." 

 

Mereka berjalan kaki dari rumah sakit mengelilingi kawasan sekitar sana. Udara malam membuat Nara yang hanya mengenakan pakaian tipis memeluk dirinya sendiri. Jovan menyeret Nara memasuki sebuah toko baju wanita.

 

"Mau ngapain sih?" tanya Nara melihat Jovan memilah beberapa jaket dan switer. Ia mengambil jaket bertudung kucing lalu menempelkan nya pada Nara. Nara mengernyit. 

 

"Buat siapa sih? Selera lo bocah banget." cibirnya. 

 

"Lo bego apa dongo? Buat lo lah, lo gak nyadar kedinginan gitu.." omelnya ketus. Nara berkedip dua kali. Jovan tahu ia kedinginan? 

 

Terdengar kasar sih, tapi kok baper ya? 

 

Jovan membawanya ke kasir lalu membayarnya. Nara masih diam memperhatikan. Ia baru sadar jika Jovan juga hanya mengenakan kaos biasa untuk itu dia membawa Nara membeli jaket? Nara tersipu. Sedikit manis. Pikirnya. 

 

Tanpa di sadari Jovan sudah memakai kan jaket bertudung kucing kepada Nara. Ia menyentil kening Nara saat selesai memakaikan tudungnya. Nara yang sedari tadi melamun cemberut dengan mengelus bekas jitakan Jovan. 

 

"Manis." ucap Jovan tanpa sadar. 

 

"Ha?" Jovan mengeleng kan kepalanya. 

 

Nara mendengkus dengan menyentuh tudung jaketnya. Seketika ia menatap Jovan malas. 

 

"Kenapa harus kucing?"

 

"Karna lo galaknya kayak kucing. Di ganggu dikit marah. Di jitak apalagi, langsung pengen gigit orang." jawab Jovan mengejek. Nara mengambil ancang-ancang dan sebelum sempat membalas, Jovan lebih dulu berlari meninggalkan nya di belakang. Nara semakin kesal dan mulai mengejar Jovan. 

 

"Gue gigit beneran lo ya!" pelik Nara kesal. Jovan tertawa. Senang karena berhasil menjahili Nara. Berada jauh dari jangkauan Nara, Jovan membalik badan dengan berjalan mundur. 

 

"Gue rela kasih tangan gue kalo kena. Gigit sepuas lo." ejeknya. Membuat Nara semakin terbawa emosi. Ia merasa di permainkan. 

 

Di pertengahan jalan Nara berhenti dengan memegang lutut nya. Capek. Jovan cepat sekali larinya, kalau begini terus maka Nara tidak akan bisa membalas dendam. Ia terdiam sebentar. Tak lama senyumnya terbit.

 

"Aduh.." pekik Nara menjatuhkan diri. Jovan berhenti. Ia menengok ke belakang dan melihat Nara yang sudah terduduk di jalan. Ia menaikkan sebelah alisnya.

 

"Lo kira mempan ngerjain gue? Sori aja." ucap Jovan hendak melanjutkan langkahnya. Melihat itu Nara semakin mengeluh kesakitan dengan memegang pergelangan kakinya. Kalah ego. Jovan berbalik dan berlari menuju ke arah Nara yang sudah mengulum senyum.

 

"Kena lo!" Gumam nya.

 

Saat sudah di hadapan Nara Jovan melihat kondisi kaki Nara dan terlihat baik-baik saja tidak ada yang luka. Saat ia hendak protes Nara sudah lebih dulu menarik tangan kirinya lalu menggigit nya kuat. Jovan berteriak. Mengapit hidung Nara agar berhenti. Jovan berdiri dengan mengibaskan lengannya.

 

"Kan.. lo udah beneran mirip kucing galak. Sakit bego!" omelnya. Nara menjulurkan lidahnya mengejek.

 

"Salah lo sendiri ngeselin. Mamam tuh sakit!"

 

Jovan menatapnya jengkel. Nara menyuruh Jovan untuk berjongkok di depannya. Awalnya Jovan menolak, tapi bukan Nara namanya jika semudah itu tidak bisa memaksanya. Saat Jovan sudah berjongkok, dengan cepat Nara mengalungkan kedua tangannya ke leher Jovan.

 

"Karna lo udah bikin gue olahraga malem-malem, gendong gue pulang."

 

"Udah gigit gue dan lo masih berani minta gendong?" tanya Jovan galak. Nara menarik rambut Jovan kebelakang.

 

"Kenapa.. Gak Mau? Atau mau protes? Jangan banyak harap, buruan jalan." jawab Nara tak kalah galak. Sudah di katakan bukan jika berdebat dengan perempuan pasti sulit untuk menang, apalagi jika sudah sayang. Mau marah juga tidak tega, di biarkan suka nglunjak. Tapi ya gimana lagi ya 'kan.. Terlanjur sayang. Akhirnya Jovan berdiri dan mulai berjalan. Nara tersenyum bangga.

 

Siapa suruh nantangin Nara.. Batinnya. 

 

Mereka mengobrol santai dan masih sedikit berdebat selama perjalanan kambali ke rumah sakit. 

 

"Sidang minggu depan lo udah dapet undangannya belom, Ra?" Hening. Nara tidak menjawab. Jovan melirik menggunakan ekor matanya. Ia menghela napas, Ternyata si kucing galak sudah tidur pulas. Pantas saja tidak bersuara lagi. Ya sudah biar besok saja ia menanyakan perihal undangan itu. Tapi melihat Nara masih tidak bereaksi seperti nya ia memang belum tahu. 

 

Jovan tersenyum tipis melihat Nara menyandarkan kepala pada pundaknya. Sudah pernah di katakan bukan.. Jika meskipun mereka kerap kali bertengkar dan berselisih paham. Namun pada akhir nya mereka akan berjalan bersisian dengan tujuan yang sama. Tidak ada yang tahu takdir Tuhan. Untuk itu Jovan hanya sedang berusaha menjaga apa yang menurutnya berharga. Ia tidak akan menuntut namun ia juga tidak akan melepaskan. Karena Jovan tahu, bahagianya adalah kita.

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8