Bagian Tiga Lima

Kabar burukπŸƒ

Hubungan buruk itu bukan untuk di biarkan lalu di tinggalkan, tapi untuk di perbaiki dan di hiasi perhatian agar terlihat seperti seharusinya. 

 

 

***

 

Setelah beberapa waktu Diana memikirkan semua ucapan Nara yang hampir tiga hari ini dia kirimkan, kini Diana benar-benar memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Semua proyeksinya telah ia serah terimakan pada orang kepercayaan mereka.

 

David Arion selaku kepala keluarga yang selalu menjadi kebanggaan kini pun seolah tersadar dengan serangkaian kata-kata yang kerap kali Nara tegaskan di setiap kali ia mengirimkan pesan. Semua ucapan Nara tiga hari ini seolah menjadi tamparan keras untuk David yang telah gagal membangun kebahagiaan keluarga nya sendiri. Dan ia merasa bersalah pada anak semata wayangnya.

 

Memang selama hampir empat hari ini Nara selalu rajin mengirimkan pesan singkat dan di akhiri dengan beberapa kalimat bijak di setiap kata terakhir. Bisa di bilang, Nara lah yang menyadarkan mereka dari sikap tidak adilnya mereka selama ini. Dan mereka harus berterima kasih padanya.

 

Keadaan Jovan sudah baik-baik saja sekarang. Ia bahkan sudah pulang dari kemarin. Selama di rumah sakit hingga kini, Nara lah yang selalu mendampingi nya. Dan Jovan bersyukur atas itu.

 

Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan berjeruji. Tepat. Jovan sedang ingin mengunjungi seseorang yang sudah mencelakainya. Lebih tepatnya, Jovan ingin menegaskan pada orang itu agar tidak main-main dengan Arion.

 

"Long time no see, Dilon Danuarta. Gimana sama tempat baru lo? Seneng?" Jovan berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana. Di belakangnya ia di dampingi dengan pengacara juga tangan kanannya, Deryl.

 

Dilon menatapnya marah, "Sebenarnya mau lo apa Jovan Arion?! Gue sama sekali gak ada masalah sama lo tapi kenapa lo lakuin ini semua?" Jovan tertawa mengejek.

 

"Lo tanya apa masalah lo sama gue? Hey boy! Lo harusnya introspeksi diri pernah melakukan apa selama hampir tiga tahun terakhir ini?" Dilon terlihat berfikir, tapi nihil. Dia tidak pernah ingat pernah berurusan dengan keluarga Arion.

 

Jovan mencebik bosan."Oke biar gampang gue bantu lo nginget. Gue gak akan ngulang, jadi dengerin baik-baik." tekan Jovan menegaskan. Ia menoleh ke pengacaranya kemudian mengangguk.

 

"Mengenai tuntutan dua tahun lalu yang sodari Nara Sidzkia ajukan mengenai tindak asusila yang dilakukan sodara Dilon Danuarta resmi di buka kembali. Dan juga pembunuhan berencana terhadap sodara Jovan Arion. Menurut hukum_" Jovan menaikkan sebelah tangannya tanda berhenti. Tatapan nya masih lurus menusuk pada Dilon yang terlihat terkejut.

 

"Gak perlu dijelasin lo pasti paham hal itu."

 

"Gue gak akan bales dendam kalo Lo juga gak pake cara kotor buat hancurin bisnis keluarga gue." dalih Dilon. Jovan mengangguk santai.

 

"Cara kotor? Jadi lo juga gak tau kalo bokap lo sering melakukan korupsi mengenai dana yang seharusnya untuk proyek tapi beliau pakai untuk berlibur bersama keluarga nya? Wah, drama kalian terlihat menjijikan." Dilon semakin terkejut mendengar penuturan Jovan.

 

"Tapi itu gak ada hubungannya sama lo!" Jovan menatap Dilon datar.

 

"Emang enggak. Lo mau tau alasan gue bikin perusahaan bokap lo bangkrut?" Dilon diam menyimak.

 

"Simple sih. Lo inget kan kenapa kasus lo di tutup dua tahun lalu? Itu karna bokap lo dan kekuasaan nya yang udah main kotor dengan hukum. Meskipun Nara udah nutup kasus ini, tapi gue tetep mau lo ngerasain gimana jadi Nara yang selama ini hidup dengan di hantui rasa trauma nya. Dia menderita hampir tiga tahun ini Dilon Danuarta, dan itu karna lo. " Jovan mengatakan itu dengan tatapan marah. Ia tidak benar-benar rela melihat Nara selalu hidup di bayang-bayangi masa lalu.

 

"Sebenarnya gue bikin kalian bangkrut biar kalian mikir kalo bukan cuma kalian orang hebat di dunia ini, lo lupa kalo di atas langit masih ada langit? Gue mengulah biar lo sadar tanpa kekuasaan kalian bukan apa-apa. Tapi gue salah besar, gue kira lo akan introspeksi diri eh taunya lo berniat bunuh gue. Gue cuma mau kasih tau lo, selamat karna udah berhasil bangunin singa dalam diri gue. Ah.. Gue rasa gue banyak ngomong. Buat mempersingkat waktu, sampai jumpa di pengadilan minggu depan Dilon Danuarta." setelahnya Jovan berlalu tanpa memperdulikan Dilon yang terus saja memangil namanya.

 

Biar saja. Biar ia merasakan akibat dari bermain api. Itu kesalahan nya sendiri sudah mengibarkan bendera peperangan di antara mereka. Jovan hanya ingin menegaskan jika kekuasaan ada bukan untuk melarikan diri dari perbuatan salah bahkan menutup-tutupinya.

 

Terlahir sebagai penguasa tidak lantas bisa menginjak-injak kaum lemah.

 

Jovan menaiki BMW nya menuju kantor pusat. Selagi ia masih belum benar-benar pulih, Nara tidak mengizinkannya untuk mengendarai mobil sendiri. Melalui debat panjang dengan Nara, Berakhirlah ia harus pasrah berangkat dan pulang dengan supir pribadi. Berargumen dengan wanita tidak akan menang, bahkan seri pun susah. Dan Jovan baru percaya kalimat itu kemarin.

 

Tapi di sisi lain Jovan merasa senang. Itu pertanda jika Nara memang peduli padanya. Perlahan, Jovan akan membuat Nara mengerti perlahan-lahan seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Nara sosok rapuh, meyakinkannya haruslah menggunakan kesabaran. Dan untuk itu Jovan tetap bertahan.

 

Di lain tempat Nara yang tengah beristirahat di kantin rumah sakit mengerutkan dahi saat melihat panggilan dari Diana. Tumben sekali Diana menelfonnya.

 

"Hallo tante.."

 

"Maaf Nona. Pemilik hape ini mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang dari bandara. Mobil yang mereka tumpangi menabrak pembatas jalan dan mereka tengah di larikan kerumah sakit sekarang." Nara menutup mulut.

 

"Rumah sakit mana pak?"

 

"Arial hospital Nona." air matanya meluruh. Nara menutup mulut agar tidak terisak di keramaian. Arial hospital. Berarti mereka ada di UGD. Dengan segera ia berlari menuju UGD dan meninggalkan Rekan kerjanya yang menatap nya bingung.

 

Ada apa? pikir mereka.

 

Sesampainya di sana ia melihat dua orang bapak-bapak tengah menunggu di depan pintu. Nara menghampirinya.

 

"Gimana keadaan mereka pak?" tanya Nara dengan berlinang air mata. Dua orang tersebut lalu menjelaskan kejadian rinci sebenarnya. Nara mengangguk paham. Ia tersenyum tipis dan mengucapkan terima kasih saat mereka berdua hendak pergi.

 

"Sekali lagi terima kasih pak udah mau bawa mereka kemari." 

 

"Sama-sama nona. Kalau begitu kami permisi." Nara mengangguk dengan tersenyum kecil.

 

Nara meraih ponselnya dan mendial nomor Jovan. Jovan sendiri yang tengah rapat dengan direksi mengernyit saat layar ponselnya menyala. Jovan berdiri pamit lalu menggangkatnya.

 

"Kenapa, Ra?" hening. Hanya terdengar isak tangis dari ujung sana. Jovan terlihat khawatir. 

 

"Lo kenapa, Ra? Siapa yang bikin lo nangis, bilang sama gue." tanya Jovan khawatir. 

 

"Orang tua lo, mereka kecelakaan waktu pulang dari bandara Van.. Hiks.." jawab Nara sesegukan. Bagai tersambar petir. Jovan terdiam beberapa saat.

 

"Lo gak bercanda 'kan Ra.. Bonyok lagi di Jerman gak mungkin kecelakaan." 

 

"Gue mana sempet bercanda Arion! Buruan kesini.." Jovan memijit keningnya. 

 

Kenapa bisa? 

 

"Oke sekarang lo tenang dulu. Lo dimana sekarang?"

 

"Arial hospital." klik. Jovan segera pergi tanpa memikirkan rapat direksi yang sedang berlangsung. Pikirannya kalut. Kenapa mereka bisa pulang padahal ini baru seminggu mereka pergi, dan kenapa harus kabar buruk yang ia terima setelah kepulangan mereka?

 

Didalam mobil, jovan mendial nomor Deryl. Saat sambungan terhubung ia segera mengatakan keperluan nya.

 

"Sampai kan permintaan maaf pada direksi lainnya karna aku tidak bisa melanjutkan meeting. Dan lagi, Gantikan aku. Handle semuanya." klik. Jovan menutup telfon bahkan tanpa mau mendengar balasan dari Deryl. 

 

Di ujung sana Deryl menghela napas, singkat, padat dan jelas. selalu arogan seperti biasanya. Batinnya. 

 

Sampai disana, Jovan menghampiri Nara yang duduk terisak dengan menutup wajahnya. Di sana juga sudah ada Amel dan Hanson yang ikut menemani. Nara langsung memeluk Jovan erat dengan sesegukan. Jovan melihat Amel dan Hanson dengan tatapan bertanya. 

 

"Tenangkan dia." ucap Hanson. 

 

"Dia merasa sangat bersalah Jovan. Padahal ini sama sekali bukan salahnya. Buat dia mengerti." tambah Amel. Jovan semakin tidak mengerti. 

 

Perlahan ia mengelus punggung Nara menenangkan nya. "Hey_"

 

"Semua gara-gara gue. Hiks.. Mereka pasti baik-baik aja kalo gue gak bujuk mereka buat pulang ke Indonesia." potong Nara membuat Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Bujuk?" Nara mengangguk pelan dalam dekapan Jovan. 

 

"Semenjak lo kecelakaan empat hari lalu, gue selalu ngirim pesan berisi bujukan biar orang tua lo mau sedikit berfikir dan pulang buat lo hiks.. tapi gue bener-bener gak nyangka kalo keadaan nya malah jadi kayak gini. Gue yang salah.. Hiks.. Gue minta maaf. " jelas Nara semakin menangis. Jovan tertegun.

 

Nara membujuk mereka untuknya? 

 

Senyumnya terbit. Jovan mengecup puncak kepala Nara berulang kali seolah sebagai pertanda terimakasih. 

 

"Kenapa minta maaf? Gue harusnya berterima kasih sama lo. Berkat usaha lo mereka mau kembali cepat buat gue. Meski keadaan yang sekarang juga bikin kita sedih, tapi gue bener-bener salut sama usaha lo. Makasih Ra. Gimana gue gak makin sayang sama lo coba?" jawab Jovan semakin mengeratkan pelukan nya. 

 

Amel dan Hanson ikut merasa terharu dengan usaha yang Nara lakukan. Amel memang tahu jika Nara selalu berusaha membujuk Diana Namun dia tidak pernah tau jika Nara benar-benar berusaha keras untuk itu. 

 

"Gue tetep salah..hiks.. " Jovan menangkup wajah Nara lalu mengusap pipi sembab nya. Ia tersenyum tipis. 

 

"Semua ini takdir. Gak ada yang berharap akan seperti ini keadaannya. Kami semua tau lo udah berusaha keras buat gue. Dan gue sangat berterima kasih untuk itu." Jovan melihat Nara dengan tatapan lembut, "Lo tau Ra.. lo adalah wanita pertama yang bikin gue sadar kalau hubungan buruk itu bukan untuk di biarkan lalu di tinggalkan, tapi untuk di perbaiki dan di hiasi perhatian agar terlihat seperti seharusnya. Dan gue beruntung punya lo. "

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15