Bagian Tiga Empat 

Tangis dan canda πŸƒ

Sikap dan candaan mu sedikit mengalihkan ku dari kesedihan yang melanda. 

 

 

***

 

"Saya sudah menemukan tersangka nya Tuan. Kami sedang dalam pengawasan dan hanya tinggal menunggu perintah anda selanjutnya." Deryl tersenyum sopan dengan menyerahkan sebuah laptop yang menjelaskan keadaan pengamatan.

 

Jovan menghubungi Deryl dan memintanya menghadap untuk memastikan keadaan yang terjadi. Jovan menaikkan sebelah alisnya saat melihat pergerakan dari layar laptopnya.

 

"Dia.." Deryl mengangguk.

 

"Saya sudah menyelidiki semuanya dan bukti memang terarah pada dia. Lalu bagaimana perintah selanjutnya?"

 

Jovan terlihat berfikir. "Seperti nya dia belum tahu siapa aku. Well, ini semakin menarik." ucapnya tersenyum culas.

 

"Kami sudah mengumpulkan bukti dan semuanya sudah siap jika anda ingin mengajukan ke meja hijau." Seringaian di bibirnya semakin lebar. Jovan tahu mereka tidak akan tinggal diam, tapi Jovan salah prediksi. Dia tidak pernah menyangka jika mereka masih mau menuntut balas. Sangat menarik.

 

"Serahkan pada pihak berwajib. Dan selesaikan kekacauan yang sempat tertunda kemarin. Aku ingin semuanya tuntas besok, biar mereka tau siapa lawan mereka." jawab Jovan lugas. Rendah dan menekankan. Deryl mengangguk paham dan menutup laptop nya kembali.

 

Pintu ruangan terbuka. Nara masuk dengan membawa sekantong plastik makanan juga minuman ringan. Jovan menatap nya lurus.

 

"Bahas apaan sih? Tegang amat." Jovan melirik Nara yang sudah duduk di sampingnya.

 

"Ngapain bawa banyak penyakit kesini?" Nara mengerutkan dahi.

 

"Bawa penyakit?" Jovan mengangguk. Ia menunjuk kantong belanja yang di bawa Nara menggunakan dagunya. Seketika Nara menatap Jovan jengkel.

 

"Itu yang banyak warnanya, minuman juga banyak pemanisnya. Makanan lo micin semua sih ya, pantes sering marah-marah." cibirnya. Deryl sendiri berusaha menahan tawa melihat itu. 

 

"Gak ada hubungannya anoa! Diem deh dari pada banyak nyiyir. Kek cewek lo!" ketus Nara. Jovan tersenyum tipis. Ia beralih melihat Deryl yang terlihat salah tingkah kepergok menertawakan perdebatan mereka. 

 

"Sepertinya saya harus undur diri. Untuk kabar selanjutnya silahkan Tuan memantau dari laptop anda." Jovan mengangguk. Sebelum berlalu keluar Deryl memberikan laptop itu pada Nara yang ia terima dengan muka jengkelnya. 

 

"Tolong jaga Tuan muda, nona." Nara melengos kesal. 

 

Bodo amat. Batinnya. 

 

Jovan menggeleng kan kepalanya. Mengusap puncak kepala Nara pelan dengan tersenyum manis. Nara mendengkus tidak suka. 

 

"Ngambek?" 

 

"Gak!" Jovan terkekeh. "Dih galak." 

 

Mereka kembali hening. Jovan melihat Nara dan kantong plastik yang dibawa nya bergantian. Jovan tahu apa maksudnya ini. Ia kembali memjamkan matanya lelah. 

 

"Udah makan belom lo?" tanya Nara melihat Jovan menutup mata. Jovan menggeleng. Belum sempat Nara mengomel, Jovan lebih dulu membuatnya diam. 

 

"Mama pasti nyuruh lo jagain gue 'kan? Kerjaannya tanggung dan gak bisa di tinggalin?" Nara sedikit terkejut. Tapi bukan Jovan namanya jika ia tidak tahu mengenai keluarga nya sendiri. 

 

"Mungkin mereka emang bener-bener sibuk. Gue akan hubungi mereka lagi nanti." 

 

"Gak usah." Tolak Jovan. "Gak usah kabarin apa-apa lagi tentang gue ke mereka. Gak ada pengaruhnya dan gak ada manfaatnya sama sekali. Gak usah lakuin hal yang selalu berujung sia-sia itu. Gue muak denger nya ." 

 

"Van.."

 

"Udahlah Ra. Gak usah lo tutup-tutupin pun gue udah sangat tau. Hapal malah. Gue gak butuh mereka. Cukup lo disini, disamping gue dan jangan pernah kemana-mana. Gue akan baik-baik aja."

 

Nara berdiri. Meraih kepala Jovan lalu mendekapnya. Sebelah tangannya menepuk-nepuk punggung Jovan pelan. Tidak ada yang bersuara. Nara bisa merasakan baju yang ia kenakan sedikit basah. Jovan menangis dalam diam. Di saat kondisi nya yang sudah seperti ini saja orang tuanya tidak memedulikan nya lalu dengan siapa lagi ia mau bermanja dan menceritakan keluh-kesahnya?

 

Jawabnya tidak ada. Dari awal dia memang sendirian.

 

Nara ikut menangis merasakan bagaimana jika menjadi Jovan saat ini. Pasti berat harus merelakan ini semua. Kesendirian dalam hidup yang ia jalani sangat menyiksa jiwanya.

 

Dia.. Kesepian di tengah kehidupannya yang bergelimang harta. Dan ia tidak benar-benar bahagia.

 

"Lo butuh gue 'kan? Tenang aja. Gue akan tetap disini. Di samping lo." jawab Nara menenangkan.

 

Jovan menarik diri. Mereka terlihat canggung.

 

"Sori buat baju lo." Nara menunduk.

 

"Ntar juga kering." jawabnya santai. Jovan melihat Nara lurus.

 

"Lo nggak ngejek gue?"

 

"Buat apa? Bukannya lo pernah bilang.. Bahkan orang paling hebat pun pernah menitikan air matanya. Justru salah kalo ada orang yang ngejek lo, karna mereka gak tau rasanya jadi lo." jawab Nara bijak. Jovan tersenyum dalam hati.

 

Gak salahkan gue pilih orang?

 

Nara membuka plastik yang ia bawa. Mengeluarkan sekotak makanan dan sebotol air mineral. Bubur ayam. Iya, Nara tahu Jovan memang tidak suka makanan rumah sakit, untuk itu ia keluar untuk membelikan bubur ayam. Setidaknya sedikit lebih baik di banding bubur rumah sakit.

 

Nara mengarahkan tangannya ke arah Jovan. "Makan. Jangan banyak protes." ucapnya tegas. Jovan menerima suapannya, ia tersenyum samar.

 

"Karna lo lagi baik, gue gak akan debat lo." Nara tersenyum dalam hati. Entah kenapa..

 

"Lo sendiri udah makan?"

 

"Udah. sambil nungguin bubur lo tadi." Jovan mengangguk paham. Hening. Jovan makan dalam diam.

 

Selesai makan Nara membereskan bekas makanannya lalu melihat Jovan serius.

 

"Ngomong. Gue bukan peramal yang tau lo mau nanya apa." Nara mendengkus.

 

"Dan lo udah jadi peramal karna tau ada hal yang pengen gue tanya." Jovan terkekeh.

 

"Kali ini gue serius. Udah dua hari tapi kenapa pelaku tabrak lari lo belom ketangkep ya? Padahal bawahan lo banyak, masa gak ada yang bisa selidikin dengan cepat." Jovan mengendik acuh.

 

''Mungkin pelakunya bukan orang biasa. "

 

Nara mengernyit," Lo tau? "

 

"Gak. Cuma asal tebak." 

 

Bosan. Jovan merasa bosan dengan bahasan mereka. Terlintas ide jahil di pikiran nya. Ia menoleh, menatap Nara dengan pandangan jahil. 

 

"Ra.." Nara hanya menjawab dengan berdeham. Ia masih berupaya membujuk Diana agar segera kembali. Meski Jovan selalu mengatakan akan baik-baik saja meski hanya dengan kehadiran nya. Tentu saja dua hal itu berbeda. Dan Nara merasa harus mengembalikan hubungan baik mereka. 

 

Terlihat lucu. Tapi itulah kenyataannya. Sekilas mereka terlihat baik-baik saja, namun siapa pun yang mengetahui keadaan nya pasti berkata lain. Mereka tampak dekat dan menjaga nya sepenuh hati, padahal hal yang sebenarnya terjadi adalah mereka sendiri yang seperti membangun dinding pembatas antara anak dan bisnis. 

 

Sikap Jovan yang egois di tambah keras kepala nya, membuat dia tidak pernah memprotes apapun yang orang tuanya lakukan. Meski kadang hatinya meronta meminta keadilan, namun egonya terlalu tinggi untuk mengatakan itu semua. Dan berakhirlah mereka bertemu hanya beberapa kali dalam sebulan dan sudah seperti orang asing. 

 

Ironis. Tapi begitulah kenyataannya. Kehidupan orang kaya tak seindah yang terlihat. Terlalu rumit untuk di mengerti. 

 

Jovan mencebik saat Nara terus saja mengabaikannya. Apakah harus spontan saja? 

 

"Kemaren ada cewek yang nangis di sebelah gue sambil ngomel.." Nara meliriknya sekilas. "Masalahnya?" tanya Nara malas. 

 

"Agak aneh sih sebenarnya. Setiap kali gue ketemu dia itu hampir gak pernah akur, tapi kemarin ngeliat dia nangis dan khawatirin gue itu kayak ada manis-manisnya gitu."

 

"Lo kira Le mineral?" jawabnya acuh.

 

"Gue serius." Nara mengangguk malas, "Sebahagia lo aja."

 

"Klimaks dari cerita gue itu, masa dia ngomong gini ..' Apa gue harus cium lo dulu biar lo mau bangun? Kayak snowhite itu?' gitu, manis gak sih? Tapi abis itu dia mukul gue. "

 

Nara melotot. Seperti dejavu dan ia menyadari sesuatu. "Lo ngejek gue 'kan?!" tuduhnya.

 

Kena! 

 

Jovan mengulum senyum dengan menggeleng kan kepalanya. 

 

"Kepedean banget. Lo kan bar-bar mana bisa bersikap semanis itu." 

 

"Tapi lo ngulang omongan gue! Jujur deh, lo nyindir gue' kan? Ngaku lo!" Seolah sadar Nara menutup mulut. Seketika ia menutup rapat bibirnya. 

 

Ia Keceplosan! Dan kali ini Jovan benar-benar menertawakannya. 

 

"Jadi tanpa sadar lo ngaku kalo yang ngomong gitu kemaren itu elo? Kok bisa manis gitu? Kenapa gak lo lakuin juga kemaren?" gencar Jovan menggoda nya. Nara memejam kan matanya malu. 

 

Jovan sialan! 

 

 

 

 

 

 

 

.. 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11