Bagian Tiga Tiga

Sadar hatiπŸƒ

Apapun Takdir nya, aku berharap itu yang terbaik.

 

 

***

 

 

"Sudah ada petunjuk?" Deryl menatap anak buahnya satu persatu. Mereka menggeleng masih dengan menunduk hormat. Deryl mengusap dagunya berfikir. Tersangka itu pasti bukan orang biasa. Jika tidak sudah di pastikan tidak sampai satu hari pelakunya pasti tertangkap.

 

Pintu terbuka. Mereka berada di gedung belakang rumah sakit. Seseorang memasuki ruangan dengan membawa sesuatu seperti cd? 

 

"Saya mendapatkan kecurigaan pada mobil yang sengaja orang itu gunakan Tuan. Lihat saja cd ini. Ini rekaman cctv yang ada di pertigaan jalan tak jauh dari tempat kejadian." Deryl langsung menyuruh anak buahnya untuk memutar cd tersebut dan mulai memperhatikannya. 

 

Semula keadaan baik-baik saja. Namun di menit ke tigapuluh lima empatpuluh detik mulai terlihat keanehan. Deryl memperhatikannya dan mengulanginya beberapa kali. Perlahan senyum liciknya terukir. Ia tahu siapa orang itu. Dan ia akan segera memberi tahu pada Tuan muda Arion. 

 

"Ku rasa dia bukan orang biasa. Selidiki lebih lanjut lagi. Segera laporkan situasi apapun dari tempat kalian berjaga. Menyebar." ucap Deryl memberi aba-aba. Setelahnya mereka membungkuk hormat lalu membubarkan diri menuju lokasi masing-masing.

 

Deryl sendiri sudah melangkah kan kakinya menuju ruangan Jovan. Sesampainya disana ia bisa melihat jika sang Tuan masih belum sadarkan diri sejak kemarin. Deryl menunduk hormat saat Nara memasuki ruangan. Ia terlihat kesal. 

 

"Apa-apaan dengan kalian. Kenapa sekarang kemanapun aku pergi harus ada pengawal? Dan disini ataupun di apartemen kenapa banyak body guard? Demi Tuhan aku bukan presiden yang harus menerima perlakuan seperti ini." ucap Nara kesal karena dimana pun ia berada pasti disana terdapat banyak pengawal. Nara sudah terlihat seperti selebriti saja.

 

Deryl tersenyum sopan,"Semua demi keamanan anda, Nona." jawabnya singkat.

 

"Keamanan?" tanya Nara tidak mengerti. Deryl mengangguk sopan.

 

"Keamanan dari apa? Aku bahkan hanya orang biasa tidak akan ada yang mau mencelakai ku. Aku tidak mau ada pengawal. " bantah Nara keras kepala.

 

"Keadaan sedang bermasalah nona. Bahkan Tuan muda saja sudah menerima ancaman itu, tolong nona jangan mempersulit keadaan kami. Disini kami hanya menjalankan perintah." 

 

"Perintah siapa?" 

 

"Tentu saja Tuan muda Arion. Ia selalu menegaskan jika ada hal yang tidak terduga terjadi kami harus sudah siap pada posisi masing-masing, untuk itu mohon kerja samanya Nona. Saya permisi. "ucap Deryl sopan kemudian membungkuk hormat sebelum benar-benar keluar. 

 

Nara menghela napas. Ia tahu jika berhubungan dengan orang berpengaruh pasti akan berdampak besar pada kehidupannya. Dan Nara sedang merasa kan itu saat ini. 

 

Ia duduk di samping Bangkar Jovan dengan mengenggam erat tangan besarnya. Entah mengapa Nara selalu di landa rasa khawatir padahal dokter sudah mengatakan jika Jovan baik-baik saja, namun mengapa masih terasa sesak? 

 

"Lo kenapa betah tidur sih? Lo gak kangen ribut sama gue, bangun gih biar gue punya temen debat." Nara terkekeh pelan, "Aneh gak sih, saat lo belum sadar gini gue tiba-tiba kangen lo yang rese kayak biasanya? Gue pikir gue mulai gila, tapi jujur.. gue bener-bener kangen lo yang selalu keras kepala dan songong seperti biasanya. Lo yang kayak gini bikin gue bosen. Gak asik." 

 

Nara berbicara sendiri dengan menyembunyikan wajahnya di telapak tangan besar Jovan. Tak lama air matanya mengalir kembali. Ini sudah dua hari dan Jovan belum sadarkan diri, Nara tidak tahu harus bagaimana lagi. Terbesit ide aneh di pikirannya, Nara tersenyum aneh. 

 

"Apa gue harus cium lo dulu biar lo mau bangun? Kayak snowhite itu?" 

 

"Kenapa gak lo coba aja?" 

 

"Apa akan berhasil?" 

 

Eh! Bukankah ia sedari tadi berbicara sendiri? Lalu ini.. Seketika Nara tersadar. suara serak diiringi usapan halus di kepalanya membuatnya langsung menegakkan punggung. Ia melotot kesal. 

 

"Sejak kapan lo sadar?!" pekik Nara nyaring. Jovan mengernyit kan dahi. 

 

"Plis jangan teriak di rumah sakit. Lo mau bikin gue pingsan lagi?" cibir Jovan. Nara melengos.

 

"Bodo amat. Salah lo sendiri ngerjain gue!" sentak Nara galak. Jovan meringis sakit. Nara sedikit khawatir. "Lo kenapa?" 

 

"Kepala gue sakit lo ngomel mulu. Gue baru aja bangun dan udah langsung di sambut sama suara galak lo. Lo emang gak pengen gue bangun 'kan?!" tuduh Jovan tak kalah galak. 

 

Nara semakin memanyunkan bibirnya. Baru tadi ia bilang kangen Jovan yang selalu mendebatnya tapi seperti nya Nara salah, ia sama sekali tidak merindukan itu. Namun, di sudut hatinya ada perasaan lega melihat Jovan sudah sadar dan terlihat baik-baik saja. Dan Nara bersyukur untuk itu. 

 

Nara mengambil kan air dan menyodorkan pada Jovan. Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Minum dulu. Dua hari lo belum makan makanan apapun." Jovan mengernyit. 

 

"Gue pingsan selama itu?" Nara mengangguk. 

 

"Itu karna lo lemah." cibirnya. Nara kembali menyerahkan segelas air putih. Jovan menatap Nara malas. 

 

"Lo gak Rabun 'kan? Gimana gue bisa ngambil di saat kondisi gue kayak gini?" Nara menepuk jidat. Ia lupa jika tangan dan kakinya di perban. Dengan terpaksa Nara membantu Jovan duduk untuk memberinya minum. 

 

"Gimana keadaan lo? Udah mendingan?"

 

Jovan mengangguk santai. "Seperti yang lo liat. Gue masih napas." Seketika Nara menggeplak lengan Jovan yang tidak sakit. Ia melotot kesal karena Lagi-lagi Jovan mempermainkan nya. 

 

"Berhenti bercanda Arion! Gue tanya gimana keadaan lo?" tanya Nara dengan berkaca-kaca. Ia sudah mengkhawatirkan nya sampai segini nya dan Jovan malah mempermainkan nya? Tidak 'kah Jovan tahu jika ia sangat khawatir?

 

Jovan yang merasa sudah keterlaluan menarik tangan Nara hingga duduk di bangkarnya. Ia mengambil tangan Nara lalu mengecup nya singkat. 

 

"Liat.. Gue baik-baik aja bahkan masih bisa debat sama lo. Gak ada yang perlu lo khawatirin. Dan maaf untuk tadi. Gue cuma gak mau lo terlalu khawatirin gue." jawab Jovan tersenyum menenangkan. 

 

"Tapi tubuh lo.." 

 

"Gue laki-laki, luka kayak gini gak akan bikin gue mati. Meskipun bisa, gue masih gak tega ninggalin lo dengan status janda. Gak lucu banget kan kita belom nikah tapi lo udah mau jadi janda aja." canda Jovan membuat Nara mengusap setitik air matanya. Nara tahu Jovan sengaja bersikap menyebalkan padanya agar ia tidak perlu mengkhawatirkan nya lagi. 

 

Apakah ia harus merasa terharu? 

 

Jovan menatap Nara jahil, "Lo gak mau lanjutin rencana konyol lo tadi?" Nara bersemu. 

 

Jovan sialan! Kenapa ia harus mengingatkan dengan perkataan bodohnya tadi. Ah menyebalkan!! 

 

"Gue pangilin dokter dulu." Jovan menahan tangannya. Nara menatapnya seolah bertanya 'kenapa?'

 

"Gue gak butuh dokter. Cukup lo di samping gue pasti gue cepet sembuh." Nara menepisnya. 

 

"Gak usah aneh-aneh. Awas ah!"

 

"Gue serius Ra. Gue gak butuh siapapun asal lo selalu di samping gue." Nara mengurung kan niatnya untuk memangil dokter. Ia tahu jelas kemana arah ucapan Jovan. Nara kembali duduk dan mengusap-usap puncak kepala jovan lembut. 

 

"Mulut lo emang bilang cuma butuh gue, tapi disini.. Gue yakin seribu persen kalo Lo butuh semua orang terdekat lo. Sekali aja jangan bohongin perasaan lo sendiri bisa 'kan Van?" ucap Nara menunjuk dada jovan. Jovan tersenyum lirih. 

 

"Terus apa kabar lo yang hampir setiap saat bohongin hati lo sendiri. Lo gak malu ngomong gini ke gue? Kita sama Nara, cuma kasusnya beda. Gue butuh mereka tanpa gue meminta dan lo butuh gue tanpa melibatkan perasaan. Egois tapi inilah kita. Bukan begitu?" 

 

Nara teepojok. Tahu darimana jovan tentang hatinya. Nara mengalihkan pandangan nya kemudian berdeham. 

 

"Efek bangun tidur nyawa lo masih setengah, jadi ngomongnya nglantur. Tenang aja, gue maklum kok. Udahlah gue mau panggil dokter dulu." ucap Nara berlalu tanpa menoleh kebelakang. 

 

Di depan pintu Nara menyandarkan tubuhnya. Ia menyentuh detak jantungnya yang seakan berpacu cepat. Nara tidak tahu sampai kapan bisa menyembunyikan semua ini. Satu hal yang pasti, tidak boleh ada orang lain yang tau mengenai ini. Dan Nara berharap semuanya berlalu seperti semestinya. 

 

Sebelum memangil dokter Nara berdiam sebentar di taman rumah sakit. Banyak hal yang Nara takutkan pada hidupnya kembali terulang. Sungguh perasaan ini juga menyiksa Nara. Di satu sisi ia ingin mencoba dan berani namun disisi lain ia takut terjatuh dan cacat selamanya. 

 

Lalu Nara harus apa? 

 

Banyak kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya, dan Nara belum siap untuk itu. Bolehkah Nara mundur? Ia masih belum mempersiapkan hatinya kembali bahkan belum menata kembali hatinya yang pernah hancur. Jadi bagaimana bisa ia mau menerima orang baru? 

 

Ya, Nara sadar jika dia memang telah jatuh pada si lucifer songong itu. Tapi dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama pada laki-laki yang berbeda, lalu dia harus bagaimana? Sungguh Nara sangat pusing saat ini. Logika dan hatinya tengah berperang batin entah mana yang akan menang. Nara tetap harus menjalani hidupnya tanpa bisa memundurkan langkah kembali. 

 

"Apapun Takdir nya, aku berharap itu yang terbaik." gumamnya.

 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6