Bagian Tiga Dua

Kesedihan yang lainπŸƒ

 Kejadian pahit masa lalu memang cenderung meninggalkan luka tapi jika kamu terus-terusan berdiam diri dalam zona aman mu kamu tidak akan punya keberanian untuk memulai hubungan baru. 

 

***

 

Setelah beberapa hari mereka jarang bertegur sapa kini Jovan memintanya untuk mengunjungi rumahnya. Tentu saja Nara menolak, namun Jovan mengatakan jika Amel omanya lah yang ingin menemuinya karena kangen, lalu Nara bisa apa?

 

Disinilah ia sekarang, duduk berhadapan dengan Amel di taman belakang. Mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai dan juga menanyakan perkembangan hubungan mereka berdua. Nara juga telah menceritakan pasal surat tanah yang Jovan beli atas nama dirinya pada Amel, namun dengan santainya Amel berkata jika itu memanglah sudah seharusnya.

 

Sebenarnya Nara masih tidak mengerti namun ia lebih memilih diam dari pada membuatnya harus terpojok dengan singgunganya sendiri. Diam lebih aman.

 

Jujur Nara masih memikirkan pengakuan Jovan mengenai perasaan nya. Karena sebenarnya Nara juga sudah memiliki sedikit rasa untuk Jovan namun ia enggan mengakui. Dirinya seolah tidak mempercayai kata hatinya sendiri dan lebih meyakini jika ia akan semakin terluka kalau ia membuka hatinya kembali. Dan Nara tahu saat ini ia benar-benar di landa dilema perasaan dan logikanya.

 

"Ada sesuatu yang menganjal di pikiran mu, Nak?" tanya Amel yang sedari tadi memperhatikan Nara yang seolah pikiran nya tidak berada dalam raganya. Nara menggeleng ragu.

 

"Nara baik-baik aja oma." ucapnya dengan menampilkan senyum kecilnya. Amel balas tersenyum lalu kembali mengalihkan pandangannya.

 

Mereka kembali diam. Memang sedari tadi Amel lah yang selalu membuka pembicaraan dan Nara hanya sekedar menanggapi dengan kalimat singkat. Amel tahu itu namun ia tidak mau memaksa Nara untuk bercerita padanya.

 

Nara menoleh ke arah Amel yang tengah menyesap teh nya. Amel yang paham situasi ini menaruh kambali cangkir nya seraya berkata, "Bicaralah Nak. Apa aku terlihat sangat menakutkan bagimu?" Nara menggeleng kan kepalanya beberapa kali.

 

"Bukan itu oma, Nara.. Nara cuma bingung mau ngomong dari mana." jawab Nara mengaruk kepalanya tidak gatal.

 

"Sampaikan saja. Buat sesederhana mungkin agar kamu tidak kesulitan."

 

Nara menggigit bibir bawahnya dengan tangan yang saling menaut di atas pangkuannya.

 

"Aku punya temen namanya A, tapi dia punya Phobia mengenai hubungan serius. Sedari lama si A tau kalo si B ada rasa sama dia tapi dia gak pernah mau tau, bukan gak peka tapi dia cuma cari aman. Sebab dia takut untuk memulai kisah baru kembali. Menurut oma apa yang dilakuin si A itu benar gak sih? "

 

Amel menatapnya lurus. Nara melihat Amel penuh harap. Ia harus punya banyak pertimbangan untuk mulai membuka hatinya kembali. Sebab masanya kini ia sudah tidak mau main-main dengan perasaan nya sendiri.

 

"Apa yang dilakukan si A sedikit ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Jika ia sudah tahu kalo si B memang serius padanya ia harusnya percaya bahwa jika si B itu memang tidak main-main. Bukankah seharusnya dia sudah paham dengan sikap si B selama ini?" Nara terdiam.

 

Ia sebenarnya jelas tau itu semua, namun ia tidak mau mengakui. Ia selalu berprasangka lain yang berbanding terbalik dengan hatinya.

 

"Sederhana nya begini Nara, kalau kamu selalu berfikiran seolah apa yang kamu lakukan ini benar sampai kapanpun kamu tidak akan berani melangkah maju. Kejadian pahit masa lalu memang cenderung meninggalkan luka tapi jika kamu terus-terusan berdiam diri dalam zona aman mu kamu tidak akan punya keberanian untuk memulai hubungan baru. Bahkan oma yakin kamu tidak pernah memikirkan perihal pernikahan dalam hidupmu sendiri kan? "

 

Nara mengangguk lemah,"Memang.." ucapnya tidak sadar. Seolah tersadar Nara mendonggak dengan menggeleng kan kepalanya.

 

"Bukan! maksudnya ini bukan Nara oma. Oma salah paham.." Amel tersenyum kecil.

 

"Oma tau."

 

Dering ponsel membuat Nara segera mengangkatnya. Dahinya mengernyit saat mendengar suara asing dari Ponsel Jovan, seseorang itu memberitahu kabar jika Jovan Arion kecelakaan. Seketika Matanya membulat dan matanya pun mulai tertutup embun. Nara menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar.

 

Amel mengernyit kan dahi, "Ada apa Nara?"

 

Nara menatap Amel dengan berlinang air mata. Dan saat itu juga Amel merengkuh tubuhnya menenangkan.

 

"Tenang dan bicara Pelan-pelan." ucap Amel mengusap punggung Nara.

 

"Jovan kecelakaan oma.. Jovan dia.." Amel tampak terkejut dan langsung menatap Nara tidak percaya.

 

"Jangan bercanda sayang." Nara mengeleng, "Nara gak bohong oma, Jovan beneran kecelakaan. Sekarang dia ada di Arial hospital." jawab Nara sesegukan. Amel mengusap pipinya lalu menarik tangan Nara berdiri.

 

"Kita kesana sekarang."

 

***

 

Sesampainya di ruang VVIP mereka berdua melangkah mendekat saat melihat keadaan Jovan yang kacau. Kaki dan tangan kanannya di perban. Luka kepalanya juga terlihat mengkhawatirkan. Jovan sendiri masih belum sadarkan diri.

 

Nara menyentuh perban di tangan kanan Jovan lalu berpindah ke kepalanya. Pandangannya sayu. "Lo kenapa bisa sampe gini sih, Van.."lirihnya.

 

Seseorang Menceritakan jika ia melihat Jovan tertabrak mobil saat hendak menyeberang Cafe sebrang jalan. Dan para bawahan David Arion tengah menyelidiki kasus tersebut.

 

Nara kembali terisak. Ia tidak tahu mengapa bisa air matanya mengalir terus menerus melihat Jovan terbaring lemah di rumah sakit. Ada bagian dirinya yang merasa sesak melihat keadaan Jovan yang masih belum siuman. Amel menyentuh tangannya lalu mengusapnya pelan.

 

"Jovan pasti baik-baik aja. Kamu harus percaya itu.."

 

"Tapi kenapa dia belum siuman oma. Apa dia cidera parah? Atau.."

 

"Sstt.. Kita doain yang terbaik buat dia ya. Jangan nangis terus, dari tadi kamu udah nangis nanti mata kamu bengkak sayang." hibur Amel membuat Nara mengusap pipinya yang basah.

 

Seakan tersadar sesuatu Nara mencari ponselnya di slim bag nya. Nara mendial nomor Diana untuk memberi tahu. Amel mengerutkan dahi," Telfon siapa? "

 

"Tante Diana oma." Amel menghembuskan napas panjang. Ia tersenyum getir menatap Jovan.

 

"Percuma. Mereka pasti akan bilang kalo kerjaan mereka masih banyak dan gak bisa di tinggalin." Nara menoleh, "ini salah oma sama opa juga sebenarnya. Dulu Kita selalu menekankan tanggung jawab besar dalam mendidik David sebagai penerus Arion corp. Yang membuatnya terbiasa mengabaikan keluarga nya bahkan anak semata wayang yang masih membutuhkan perhatian mereka." Amel mengusap air matanya. 

 

"Oma.." 

 

"Oma benar-benar bersalah pada Jovan. Untuk itu sesempat mungkin oma selalu memperhatikan nya. Jovan benar-benar tumbuh dalam kesendirian. Hidup sendirian dan hanya mengenal kata kekuasaan dan uang yang membuatnya tidak mau memedulikan orang lain, tapi beberapa tahun belakangan ini berbeda.. Jovan sedikit berubah pada satu orang wanita yang telah berhasil menarik perhatiannya. Oma harap kamu gak akan ninggalin dia sendirian lagi mulai sekarang. "

 

Sambungan terhubung. Nara kembali beralih pada teleponnya. Ia harus memastikan sendiri dan membujuk mereka agar mau kembali barang sebentar melihat keadaan anaknya. 

 

"Hallo Nara gimana sama keadaan Jovan sayang? Apa dia baik-baik aja? " tanya Diana bertubi. Nara terdiam beberapa saat. 

 

"Belum ada kepastian tante, Jovan masih belum sadar." 

 

Nara bisa mendengar isak tangis Diana di ujung sana. Tidak ada yang menga_

 

"Tante bener-bener khawatir mengenai keadaan Jovan. Tapi di sini proyek tengah di kerjakan. Tante gak bisa apa-apa, apa kamu keberatan jika tante meminta mu untuk menjaga Jovan karna tante gak bisa damping in Dia." Nara tersentak. Ia menoleh ke arah Amel yang seperti sudah tahu jawabannya. Perlahan Nara menghembuskan napas panjang. 

 

"Apa gak bisa sebentar aja kalian pulang buat melihat keadaan Jovan tante? meski ada Nara dan oma tapi kehadiran kalian orang tua nya pasti berbeda. Jovan juga butuh kalian tante." bujuk Nara. 

 

"Tante pengen banget, tapi disini juga gak bisa di tinggalin. Kamu pasti paham posisi kami kan?" Nara menghela napas. 

 

Inikah yang selalu Jovan rasakan setiap saat? Merasa tidak berguna dan tidak sebanding dengan harta? Menyedihkan. 

 

Lama mereka terdiam. Sambungan masih terhubung. Nara melihat Jovan dan Amel bergantian. 

 

"Sebelumnya Maaf tante, bukan Nara bermaksud ikut campur atau gak sopan sama kalian tapi Nara cuma mau tanya, apa pekerjaan kalian lebih penting dari keadaan Jovan anak kalian? Selama ini dia memang gak pernah nuntut apapun dari kalian karna dia mampu dalam bidang finansial, tapi tante gak lupa 'kan? Jovan masih anak kalian, dia masih sangat membutuhkan kasih sayang juga perhatian dari kalian. Bukan hanya support dan bantuan keamanan aja. Sekali lagi maaf tante. Nara tidak bermaksud, tapi tolong pikirkan baik-baik. Saya tutup. "ucap Nara tenang namun terkesan dalam dan menusuk. 

 

Amel melihatnya dengan pandangan kagum. Bahkan Jovan sendiri tidak pernah menyampaikan kalimat menusuk seperti tadi, tapi apa yang dia dengar dari calon anggota baru keluarga Arion ini benar-benar luar biasa. Nara sosok yang tangguh dan Amel tahu jika Nara memang orang yang tepat bersanding dengan Jovan si keras kepala. 

 

Amel tertawa melihat Nara menarik nafas dan menghembuskan nya perlahan lalu mengulainginya beberapa kali. Ia terlihat mengontrol emosinya dengan baik. 

 

"Oma ngapain ketawa?" 

 

"Oma baru pertama kali liat cewek setegas kamu yang berani ngomong blak-blak an sama keluarga Arion dan itu luar biasa. Gak heran sih, Jovan bisa tertarik sama kamu." puji Amel. Nara terlihat salah tingkah. Amel tersenyum padanya. 

 

"Terkadang orang paling hebat pun perlu di sadarkan dengan ketegasan yang sama. Jika mereka galak kita harus lebih galak darinya, jika ia berani kita juga harus lebih berani darinya. Kamu tau apa artinya?" Nara mengeleng. 

 

"Siapapun mereka entah orang kaya ataupun miskin tidak akan pernah ada nilainya jika tidak bisa menjaga keluarga nya dengan baik. Karna pada akhirnya yang kita butuhkan kelak bukanlah harta melimpah, tapi kasih sayang seorang anak terhadap orang tuanya. Bukan begitu? "

 

Nara mengangguk dengan tersenyum tipis. 

 

"Dan pada akhirnya mereka bukan apa-apa tanpa seorang anak di hidupnya."

 

Amel tersenyum, "Menurutmu apa mereka akan pulang?"

 

Nara mengendik. "Pulang tidaknya bukan lagi urusan kita oma. Kita cuma bisa mengingatkan, Iya jika di dengar jika tidak juga tidak apa-apa. Bukan masalah untukku."

 

"Tapi .." Amel menaikkan sebelah alisnya.

 

"Kita semua tahu kalo Jovan mengharapkan nya, untuk itu aku pun berharap mereka mau mendengarkan dan pulang untuknya." potong Nara membuat Amel tersenyum haru. 

 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9