Bagian Tiga satu

Skandal πŸƒ

Dan kali ini gue bener-bener yakin kalo gue gak sayang sama lo, tapi udah cinta.

 

***

 

Sudah dua hari Nara setia mengunjungi Audy. Terapinya masih sama saja belum ada perubahan. Meski ia terlihat baik-baik saja di ruang terbuka, namun ia akan tiba-tiba pingsan saat ada orang asing yang mendekatinya terutama laki-laki. Nara memaklumi karena luka mendalam memang sulit untuk di sembuhkan meski kita mampu memperbaiki namun keadaan hati tidak akan ada yang pernah tahu selain pemiliknya sendiri. 

 

Mereka berdua tengah bersantai menonton televisi di ruang keluarga. Jangan tanyakan dimana Reza. Ia sudah asik bermain game bersama Jovan tentu saja. Akhir-akhir ini Jovan terus saja mengintilinya. Entah karena apa? 

 

Audy berdiri menuju dapur dan kembali dengan membawa sekotak ice cream di Tangannya. Nara berbinar. Meski ia tidak terlalu suka manis tapi dia tetaplah wanita yang menyukai ice cream. Selain enak, ice cream adalah obat penenang di kala Nara tengah di landa emosi. Sejuknya menenangkan. 

 

"Denger-denger ada cowok yang lagi gencar deketin kamu ya, Dy? Kasih tau dong, menurut kamu dia orang nya gimana?" pancing Nara. Audy sedikit terkejut dan berdeham lalu mengalihkan atensi pada layar televisi di depannya. Nara menghela napas, ia tidak akan memaksa. Audy mungkin masih risih ditanyai mengenai laki-laki. 

 

Nara mengganti Chanel bosan dan memakan ice cream nya malas. Ia tidak menyadari jika Audy sedari tadi terdiam dengan pandangan kosong. Perlahan air matanya jatuh dengan cepat Audy menengadahkan kepalanya. 

 

"Aku.. Bener-bener benci kaum mereka. Mereka menakutkan seperti binatang, senyum mereka menjijikan seperti kotoran," Audy menunduk sedih. "Aku pikir.. Mungkin aku akan mati kalo ada seseorang yang maksa aku buat menerima kehadiran mereka." lirihnya dengan berlinang air mata. Nara mendekapnya erat dengan mengelusi punggungnya menenangkan.

 

"Sekarang kamu aman. Kamu ada di sini bareng sama abang kamu dan aku disini. Gak ada orang jahat yang akan nyakitin kamu disini. Semuanya udah berlalu, kamu pasti akan baik-baik aja." 

 

Reza dan Jovan datang menghampiri mereka yang tengah berpelukan. Seketika mereka tahu jika Audy kumat kembali. Audy memang seperti itu, ia akan cenderung menutup diri dan terus menangis jika mengingat kejadian pahit dalam hidupnya masa lalu. 

 

Mereka masih diam di belakang sofa memperhatikan Audy dalam diam. Audy butuh di tenangkan dan tentunya bukan dari mereka kaum yang Audy benci. Reza mengalihkan pandangannya saat mendengar berita mengenai skandal kebrangkutan keluarga Danuarta yang marak di bicarakan publik.

 

"Mereka jarang banget punya gosip sekalinya ada malah skandal tentang kebrangkutan mereka. Gue sedih dengernya," Jovan menaikkan alisnya. "tapi lebih banyak senengnya sih, si tua itu harus sadar posisi. Kalo bukan karna bisnis mereka, gue yakin Dilon udah ngandang dari dulu." mereka saling melirik dengan tersenyum senang. 

 

Nara yang mendengar nama Dilon di sangkut pautkan menoleh kesumber berita. Ia membelalak saat melihat perusahaan milik Danuarta di Kabar kan akan di tutup karena kebangkrutan. Kernyitan di dahinya semakin terlihat seiringnya membaca artikel yang tertera. 

 

"Lo kasian, huh?" tanya Jovan melirik Nara dari ekor matanya. Nara mengeleng. 

 

"Ngapain? Gue justru mikir kenapa gak dari dua tahun lalu biar anaknya tau apa yang di sebut karma." jawab Nara tanpa pikir panjang. 

 

Jelas saja. Ia sangat menaruh dendam pada keluarga itu. Jika bukan karena kekuasaan keluarganya, sudah di pastikan kasus Pelecehan yang Nara alami pasti akan tetap berlanjut. Sayang beribu sayang, hukum negara dapat goyah hanya dengan selembar kertas. Dan mengharuskan kasusnya di tutup tanpa kejelasan sampai sekarang. 

 

Sebenarnya Nara sudah tidak mau membahas ini lagi, tapi karena berita ini membuat Nara kembali gatal untuk mengkritik sistem hukum di negaranya saat ini. Siapa yang berkuasa dialah yang akan menang. Ironis sekali. 

 

Reza duduk di sebrang Nara di ikuti Jovan di belakangnya. Audy sudah mereda dengan terbukti dengkuran halus terdengar ke indra pendengaran mereka. Reza yang hendak memindahkan Audy terhenti saat Nara memilih untuk membaringkan Audy di sofa sebelah nya.

 

"Terus kabar soal tuntutan lo waktu itu gimana, Ra?" Reza bertanya masih dengan sedikit mencuri-dengar tentang gosip di televisi. 

 

"Apanya yang gimana? Kasus di tutup dan selesai. Gak ada yang terjadi dan semuanya sia-sia." Nara berkata datar. Jovan menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan. 

 

"Semudah itu?" 

 

Ingin Nara berteriak 'Gak semudah yang terdengar Za..' Namun yang keluar malah, "Iya." 

 

"Kasus Audy sempet kayak gitu sih, tapi karna gue mau semua ini tuntas akhirnya gue cari agen di bantuin Gavin sama Jovan waktu itu, jadi ya gitu agak lebih mudah buat jeblosin mereka ke penjara." Nara tersenyum lirih. 

 

"Kasusnya beda Za, kalo Audy.. Dia emang bener-bener korban. Sedangkan gue, tindakan asusila dia waktu itu bahkan gak di anggap sebagai kejahatan kriminal. Masih sakit sih, tapi gue bisa apa?" Nara mengusap sudut matanya yang berair. Jovan menatapnya dalam. 

 

"Gue siap bantu kalo Lo mau buka kasus lo lagi." Seketika mereka berdua menoleh karah Jovan. Reza tahu sahabat nya. Meski ia terkesan bercanda, namun ia tahu jika kalimat yang Jovan katakan memiliki arti sendiri. Marahnya lebih seram dari singa sunguhan. Ialah Jovan Arion si lucifer yang tidak akan pandang bulu pada mereka yang menyakiti miliknya. Siapapun mereka Jovan seolah menutup mata. 

 

"Gak usah. Gue gak mau ngerepotin siapapun." tolak Nara menatap Jovan sendu. Jovan tidak suka itu. Ia lebih suka Nara yang sering marah-marah padanya dengan mengomel tanpa henti terhadapnya, bukan pandangan menyedihkan seperti ini.

 

"Terserah lo. Gue gak akan maksa tapi inget, lo milik gue. Siapapun yang berani menyentuh milik gue seujung kukupun gue gak akan segan. Tangan gue banyak, gue gak akan Lepas in mereka." ucap Jovan rendah. Penuh ancaman. Nara menahan napas. Reza menggeleng ngeri mendengar nada yang sirat dengan perasaan tidak rela itu. Well, siapapun akan bersikap demikian tidak kecuali dirinya sendiri.

 

"Van.." Jovan menoleh dengan tersenyum manis.

 

"Gue becanda." ucapnya membuat Nara menghela napas. Ia menatap Jovan tidak suka.

 

"Candaan lo gak lucu!" Jovan terkekeh kecil. Di balik senyum manisnya tersalip bisa beracun yang sanggup membunuh siapapun.

 

Reza meninju lenganya, "Kalo Lo yang ngomong gak kayak becanda, Van." Jovan hanya tersenyum miring menanggapi.

 

***

 

Jovan menghantarkan Nara sampai di apartemen. Saat Nara turun Jovan juga ikut turun. Nara tidak akan mendebatnya. Pikirannya kacau mengenai pemberitaan tadi.

 

Nara merebahkan dirinya ke sofa. Jovan sendiri sudah berlalu menuju dapur. Ia terlihat mengecek ponselnya. Seketika ponselnya penuh dengan chat pertanyaan. Nara hanya melihat siapa pengirim nya lalu mematikan kembali ponselnya. Entah mengapa ia merasa pusing sendiri.

 

Jika perusahaan mereka bangkrut memang apa hubungannya dengannya? Mengapa mereka bertanya seolah-olah Nara adalah orang kaya yang punya kuasa melakukan itu semua. 

 

Hah.. Konyol sekali.

 

Jovan kembali dengan membawa secangkir jahe hangat di tangannya. Ia melihat Nara yang tengah memijit keningnya lalu menyengol lengannya pelan. 

 

"Apa?"

 

"Minum. Jangan pikirin sesuatu yang gak penting. Gak ada gunanya." Nara mengambil jahe hangat dari tangan Jovan lalu menyesapnya perlahan. Nara memejam kan matanya menikmati hangat jahe yang menjalar di kerongkongannya. Benar yang diakatan Jovan, tidak ada gunanya ia memikirkan sesuatu yang tidak penting. Namun mengapa egonya seolah terusik?

 

"Tapi aneh deh Van.. Kenapa tiba-tiba mereka bisa anjlok drastis gitu? Berasa kayak ada yang janggal." Jovan mentapnya acuh.

 

"Bagian mana yang aneh? Itu cuma salah satu karma yang harus mereka tanggung. Timbal balik dan itu manusiawi. Kadang manusia ada di atas dan mungkin sekarang dia lagi dapet cobaan buat tau rasanya jadi orang rendahan. Biar gak sombong." Nara meliriknya malas.

 

"Kayak elo bukan salah satunya aja." cibirnya. Jovan terkekeh.

 

"Gue beda. Yang gue banggain real kerja keras gue dan emang ada yang bisa gue sombongin. Terus apa masalah nya?" jawab Jovan pongah. Seperti biasa. Ia akan kembali ke sifat aslinya jika Nara sudah menyentil egonya. Nara menggeleng kan kepalanya. Pasrah dengan segala sifat aneh Jovan.

 

Lama mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Jovan meraih Novel yang tergeletak di atas meja lalu membacanya. Ia melihat sampul nya yang berjudul What is LOVE? Seketika Jovan mengernyit kan hidung.

 

Cinta bagimu itu.. Apa?

 

Jovan membaca Caption serta blurb yang berada di badan Novel. Apa cinta benar adanya? Ulang Jovan membaca salah satu kalimat yang ia baca, saat itu Jovan langsung melihat ke arah Nara yang sudah terlelap di sampingnya. Dan dia menemukannya.

 

Cinta itu nyata adanya. Bahkan ia selalu mendamba seseorang yang selalu mencuri perhatiannya sejak lama itu. Itu sudah pasti cinta bukan?

 

Jovan mengalihkan pandangannya kembali ke buku. Ia kembali membaca dan tertarik saat seorang cewek itu menanyakan apa cinta juga memberimu kebahagiaan, suka cita, nyaman dan rasa aman? Ia kembali tertarik saat cowok itu dengan pasti menjawab jika cinta juga memberi rasa sakit, rasa bersalah, kepedihan dan kesedihan. Tapi cinta juga memberi kekuatan untuk mengatasi semuanya, sedikit nya itulah yang di sebut cinta.

 

Dan Jovan benar-benar merasa tertarik dengan buku itu. Namun ia kembali mengalihkan pandanganya pada Nara yang masih terlelap, perlahan senyumnya terbit.

 

"Dan kali ini gue bener-bener yakin kalo gue gak sayang sama lo, tapi udah cinta. Ah .. Gue berharap lo punya rasa yang sama kayak gue, Ra. Meski gue tau kemungkinan ada itu kecil banget, tapi bolehkan gue berharap?" Jovan terkekeh seperti orang bodoh saat menyadari ia bicara sendirian. Tapi ia mensyukuri ini, dengan begitu ia bisa menyampaikan perasaan nya dengan leluasa.

 

Perlahan Jovan mendekat kan wajahnya lalu mencium kening Nara lembut. Ia berbisik dengan mengelusi sisi kepala Nara sayang, "Gue beneran tulus sama lo Nara Sidzkia." setelah mengatakan itu Jovan beranjak keluar dan mengunci pintu nya.

 

Nara membuka matanya dan mengusap sudut matanya yang berair. Ia menatap pintu dengan pandangan yang sulit di artikan.

 

"Gue cewek jahat Jovan.." lirihnya menutup wajah dengan berlinang air mata.

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8