Akan ada saatnya kamu menemukan seseorang yang benar-benar tulus sayang dan cinta sama kamu. Kamu cukup harus percaya itu. 

 

***

 

Nara berjalan kesal menuju ruangan direktur tempat Jovan berada setelah kembali dari rumah sakit. Di karena kan beberapa masalah Jovan harus kembali berkutat dengan dokumen-dokumen sialan yang membuatnya harus mengabaikan ponselnya. Lebih tepatnya ia memang mematikan ponselnya. 

 

"Arion.." pintu ruangan terbuka. Nara berdiri dengan pandangan kesal yang terarah pada Jovan yang tengah membaca dokumen di tangannya. 

 

"Posisi lo menghalangi cahaya, Bee." ucap Jovan tanpa menatap Nara. Ia kembali sibuk dengan berbagai kertas yang menumpuk di atas meja. Melihat itu Nara mengeram kesal. 

 

Nara berdiri di samping meja kerja Jovan dengan berkacak pinggang. Ia melemparkan sebuah dokumen ke atas meja kasar. Kali ini Jovan meliriknya. Hanya sekilas lalu kembali dengan kegiatannya. 

 

"Apa maksudnya ini Arion?!" Nara mendesis jengkel. Ia tahu jika Jovan sengaja mengabaikan kedatangannya. Sudah pasti cowok itu tahu jika Nara akan datang untuk meminta klarifikasi mengenai surat tanah yang baru saja ia terima. 

 

Jovan menatapnya. "Duduk dulu, dan bicaralah yang benar. Gue cuma punya waktu sepuluh menit." 

 

Nara diam saja. Ia sedang kesal dan Jovan masih dengan santai memerintah nya? Hebat sekali. 

 

"Jelasin sejelas-jelasnya tentang dokumen ini. Gue tau lo ngerti maksud gue." Nara berbicara dengan menunjuk dokumen yang ia lempar. Jovan mengambilnya dan membukanya sekilas. Lalu pandangannya beralih pada Nara yang masih menatapnya kesal. 

 

"Ini surat tanah, lalu dimana masalahnya?" Nara melotot. Tidak salahkah ia bertanya dimana masalahnya? Apa dia bercanda?! 

 

"Ini surat tanah beserta rumah yang baru aja lo beli, dan lo tanya masalahnya dimana?" Jovan mengangguk santai. "Kenapa disana tertera nama gue dan bukan nama lo? Demi Tuhan Arion! Itu rumah mewah, bahkan lebih tepatnya bisa di bilang mansion. Dan lo masih nanya masalahnya dimana?! Astaga, gue gak ngerti yang ada di pikiran lo itu apa sih?!" 

 

Jovan menghela napas. Menatap Nara dengan tatapan yang sulit diartikan. Memutar kursi nya menghadap Nara." Itu rumah yang sengaja gue beli buat kita. Dan sengaja pake nama lo karna itu emang milik lo. "

 

"Buat kita?" tanya Nara. Jovan mengangguk. 

 

"Rumah itu milik lo dan kita akan tinggal di sana kalo kita udah resmi." Jovan menajawb mantap. 

 

"Gue gak mau! Ambil balik dokumen itu dan segera balik nama jadi milik lo. Gue gak punya hak atas itu." tolak Nara keras kepala. Jovan menghembuskan napas bosan. Ia menarik tangan Nara hingga terduduk di pangkuan nya. Nara membelalakan matanya. 

 

"Lo!" 

 

Jovan mendekatkan wajahnya dan berbisik tepat di samping telinga, "Sstt.. Siapa bilang lo gak punya hak? Dengerin gue baik-baik Nara Sidzkia .. lo tunangan gue sekaligus calon ibu dari anak-anak gue nanti, itu artinya apapun yang ada di gue itu punya lo juga. Apapun. Lo paham sekarang?" ucap Jovan menekankan setiap kalimat yang ia ucapkan. Nara bergidik. 

 

"Gue masih gak berhak untuk itu Jovan. Status gue masih tunangan lo jadi gue gak punya hak apapun atas kekayaan yang lo punya sekarang." balas Nara menatap Jovan menantang.

 

Jovan tersenyum miring. "Lo ngode gue?" 

 

"Kode apa?" tanya Nara tak mengerti. 

 

"Tentang status kita yang masih tunangan. Sebenarnya gue gak mau buru-buru, tapi kalo Lo udah gak sabar buat jadi nyonya muda Arion selanjutnya gue sih, gak masalah. Sangat gak masalah malah." Jovan menjawab dengan tersenyum culas. Nara melotot. 

 

"Bukan itu maksud gue lucifer! Ah! Lo emang rajanya bikin gue darah tinggi. Enyah sana lo!" Jovan terkikik lalu menatap Nara tertarik. 

 

"Lo nyuruh gue Enyah di saat lo duduk di pangkuan gue? Are you kidding, Bee?" Seketika Nara berdiri dengan wajah merah padamnya. Memejam kan matanya kesal karena Lagi-lagi berhasil menjadi bahan tertawaan Jovan si lucifer arogan itu. Benar-benar memalukan!

 

Jovan tersenyum tipis dan kembali menarik Nara ke pangkuannya. Nara berontak minta dilepaskan namun Jovan malah semakin mendekap Nara erat dan menyeruakan kepalanya ke pundak Nara. 

 

"Plis, biarin kayak gini dulu." Seketika Nara terdiam. Jantung nya berpacu saat merasakan Jovan tengah menghirup aroma tubuhnya. Entah mengapa Nara seolah kesulitan melarang Jovan jika ia sudah dalam keadaan rapuh seperti ini. 

 

Tuhan .. Sebenarnya apa yang terjadi? Batinnya. 

 

Setelah beberapa saat mereka terjebak hening dengan posisi seperti tadi, kini mereka sudah kembali normal. Jovan membawa Nara ke balkon di samping ruangan nya. Dari tempatnya berdiri Nara bisa melihat padatnya aktifitas di bawah sana. Ya karena memang ruangan Jovan terletak di lantai paling atas tepatnya lantai dua puluh lima. Jelas saja semuanya terlihat jelas dari atas kakinya berdiri. 

 

Mereka berdiri bersebelahan. Nara memejam kan matanya menikmati semilir angin yang membelai wajahnya. Setelah acara pertikaian mengenai surat tanah tadi, Nara sudah tidak ingin mendebat lagi. Tahukah mengapa? Sebab Jovan pasti akan membalasnya hingga memojokannya sampai tidak bisa berkutik dan akhirnya sia-sia. Jadi biarkan saja, biarkan Jovan bertindak sesuka nya asalkan tidak merugikan dirinya, Nara sudah tidak mau mendebat lagi.

 

"Mama sama papa balik ke Jerman untuk satu bulan kedepan." Nara menoleh, menatap Jovan seolah bertanya 'dimana masalahnya?' 

 

"Semenjak tau gue sakit waktu itu mama udah mulai perhatiin gue, tapi ya gitu masih tahap kayak perkenalan." 

 

"Terus?" kali ini Nara menghadap ke arah Jovan. 

 

"Gue kira mungkin mama udah sadar dan mau merubah sedikit kebiasaann nya, tapi ternyata gue salah, " Nara masih diam menyimak. "Saat tau gue udah baik-baik aja mereka balik kayak semula. Dan gue tau apa yang mama bilang ke elo waktu hari pertunangan kita berakhir." Nara terlihat kaget namun dengan cepat mengubah expresinya. 

 

Jovan tersenyum sendu, " 'Tolong jaga dia seperti kamu sayang sama diri kamu sendiri ya, tante lebih percaya kamu buat mengurusnya dari pada tante yang emang gak punya apa yang Jovan pinta.' " ucap Jovan mengulangi perkataan Diana waktu itu, Nara tidak bisa lagi menyembunyikan rasa iba nya. Perlahan tangannya mengenggam tangan besar milik Jovan seolah menguatkannya. 

 

"Lo tau maksud mama bilang dia gak punya apa yang gue pinta?" Nara mengeleng samar. Jovan terkekeh miris. 

 

"Kasih sayang." 

 

"Umm.." Nara menatapnya tidak mengerti. 

 

"Mama gak punya kasih sayang seperti yang gue harapkan, untuk itu dia minta sama lo buat jaga dan ngurus gue dengan kasih sayang yang lo punya, meski gue juga gak tau elo punya itu atau enggak sih." Jovan tertawa renyah. 

 

Nara mencubit kecil lengannya hingga Jovan mengaduh. ''Lo ngeraguin gue, huh? Gue tuh psikiater.. rasa sayang gue itu udah luber-luber tau gak?!" Jovan menggeleng polos. Nara berjinjit kemudian menyentil keningnya. Jovan melotot dengan Mengusap-usap keningnya. 

 

Nara terkekeh pelan dan menyuruh Jovan untuk membungkukan badan. Ia menggantikan tangan Jovan untuk mengelusi bekas jitakannya. Jovan menatapnya dalam. Iris mereka saling menumbuk. Perlahan Jovan menutup mata saat merasakan jemari Nara merambat kebawah menyentuh setiap inci pahatan sempurna miliknya. Bulu mata yang lentik, hidung mancungnya, bibir tebal merah mudanya dan jangan lupakan rahang kokoh yang selalu membuatnya besar kepala. Dia .. Benar-benar sempurna. 

 

"Akan ada saatnya lo menemukan seseorang yang benar-benar tulus sayang dan cinta sama lo. Lo cukup harus percaya itu." 

 

'Dan gue berharap itu elo Nara Sizdkia..' 

 

Seolah tersadar dengan apa yang di lakukannya, Nara menarik tangannya kemudian mengalihkan pandangannya kedepan. Ia menggigit bibir bawahnya dengan kedua tangan mengepal erat menahan debaran yang bergemuruh di hatinya. 

 

'Bodoh! Lo bener-bener tolol Nara!! Ah sial! Gue kenapa sih?!' Rutuknya meletakkan tangan di atas dada. 

 

***

 

Nara merasa tidak berguna. Sedari kedatangannya sampai saat ini ia hanya diam dan duduk disofa dengan menghabiskan camilan yang Jovan sediakan. Bukan salahnya sebenarnya, tentu saja. Jovan tidak mengizinkan ya pulang duluan dan meminta Nara untuk menunguinya sampai selesai. Yah, selalu sesukanya seperti biasa. 

 

Nara masih diam memperhatikan Jovan yang masih sibuk dengan berkas-berkas nya. Sedari tadi perasaannya terasa berbeda. Bukan, lebih tepatnya beberapa belakangan ini memang ada yang berbeda. Nara bukan tidak mengerti hanya saja dia memang tidak mau menyimpulkan sendiri bagaimana sebenarnya. Ia takut terjatuh dengan harapan yang tinggi dan Nara takut terpuruk kembali. 

 

Tidak salah bukan? 

 

Jovan meliriknya sekilas. Meski ia terlihat tidak memedulikan Nara tetapi dia tetap memantau Nara dari kejauhan. Seperti biasa. Perlahan Jovan menutup dokumenya dan berjalan ke arah Nara yang tengah membaca sebuah Novel. 

 

"Bosen?" Nara mengangguk, "Dikit." jawabnya singkat. 

 

Jovan memanjangkan lehernya mengintip bacaan yang tengah Nara pegang. Sebelah alisnya terangkat saat membaca sederet kalimat yang tidak sengaja ia baca. 

 

'Kalau saya saja menderita, kenapa kamu harus bahagia?' 

 

"Bacaan lo aneh. Wajar sih, kayak yang baca." cibir Jovan. Nara menoleh dengan secepat kilat ciuman tidak sengaja mereka terjadi. Nara melotot kaget. Menatap Jovan marah. 

 

"Lo sengaja 'kan?!" tuduh Nara dengan mendelik kesal. Jovan menaikkan alisnya. 

 

"Lo cium gue duluan dan nuduh gue sengaja? Jangan bercanda, kalo Lo minta gue bakal kasih gak cuma di pipi, bibir pun gue kasih kalo Lo minta tapi jangan balik fakta yang ada." jawabnya santai. Nara semakin mendelik jengkel ke arah Jovan. 

 

"Gue heran, lo pake pelet apa sampe orang tua gue setuju sama lo yang otak mesum plus kepedean lo yang udah level dewa itu. Malu oy!" balik Nara mengejek. 

 

"Jawabannya udah jelas. Siapa yang bisa nolak pesona gue? Kadar ketampanan gue itu udah di akui dan gak perlu di ragukan lagi." 

 

Si songong ini.. 

 

"Serah lo dah serah.. Angkat tangan gue." Jovan menatapnya jahil. 

 

"Lo beneran udah pasrah? Gue udah_" ucap Jovan terputus saat Nara melemparkan bantal sofa kearahnya dan dengan sigap Jovan menangkap nya membuat Nara kesal karena tidak kena. Cowok itu pandai berkelit. 

 

Sialan!

 

Jovan tertawa senang. Moodnya kembali membaik setelah melihat raut kesal dari wajah Nara. Tak lama bunyi ketukan terdengar. Mereka mengalihkan atensi, dengan cepat Jovan berdeham. Raut datarnya kembali saat seseorang memasuki ruangan. 

 

Deryl. Salah satu tangan kanan Jovan. Orang kepercayaan nya terlihat seperti ingin menyampaikan hal penting dengannya, ia berbisik saat Nara terus memerhatikan mereka dengan wajah ingin tahunya. Nara yang tahu situasi ini berdiri, "Gue mau keluar bentar." 

 

"Mau di anter?" Deryl menaikkan sebelah alisnya. Nara melihat mereka bergantian lalu mengeleng. 

 

"Gue bukan anak kecil." Jovan mengangguk, "Oh, ya udah gih." usirnya. Nara mencebik kemudian berlalu keluar. 

 

Setelah kepergian Nara, Jovan duduk di sofa dengan menatap Deryl datar. Deryl terlihat menyerahkan dokumen yang lalu Jovan baca dengan seksama. Seringaian terbentuk apik di wajahnya. Jovan menatap Deryl dengan senyum yang masih sama. 

 

"Bagaimana sisanya?" 

 

"Saya masih mencari taunya Tuan. Tiga hari, saya akan segera mengirimkan data terkini mengenai nya " senyum culasnya terbit. Siapapun tahu jika hasrat sang lucifer belum tersampaikan ia akan terlihat sangat menakutkan. Tenangnya mematikan. 

 

"Tidak. Satu hari dan aku mau kalian membuat perhitungan dengannya. Buat seapik mungkin karna aku sangat tidak rela si brengsek itu mempengaruhi kehidupan Wanita ku." 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13