Segala hal adalah ketentuan_Nya. Apapun itu adalah takdir. Berhenti lah menyalahkan keadaan. 

 

***

 

Rea menatap kesal sang objek di depannya dengan tangan bersedekap. Seminggu ini dia di pindahkan ke anak cabang rumah sakit tempat nya bekerja. Dan apa yang dia dapatkan setelah kembali ke rutinitasnya kembali. 

 

Nara Sidzkia tunangan! Mustahil sekali. Si galak itu sudah terkenal tidak mau menjalin hubungan serius, beberapa kali bahkan sesama rekan psikiater nya mengatakan jika Nara memang memiliki sedikit masalah mengenai ikatan resmi. Lalu berita yang Rea terima sangatlah membuat semua rekan-rekan kerjanya mengeleng kan kepalanya heran. 

 

Mengapa bisa? 

 

"Bilangnya gak ada hubungan apa-apa tapi nyatanya malah sekarang udah tunangan? Hey, Ra.. Lo anggap gue apa sih?!" Nara menghembuskan napas berat. Dia dan Rea memang sudah berteman baik mungkin bisa dikatakan teman dekat selama hampir dua tahun terakhir ini. 

 

"Bukan maksud beb, lagian lo juga gak lagi di tempat kemarin-kemarin." 

 

"Alasan aja lo. Nelfon gue kan bisa, atau minimal chat gue kek." Nara meringis. Kemarin dia benar-benar tidak kepikiran. Banyak kemungkinan yang ia terka membuatnya tidak konsentrasi dan sedikit menutup diri kecuali dengan sahabat-sahabatnya. 

 

"Gue minta maaf." Nara mengalah. Ia tidak ingin menjelaskan kepada mereka mengenai kenyataannya. 

 

Rea menghela napas, "Jadi sekarang lo udah resmi jadi nona Arion dong?" Nara mendengkus. 

 

"Gak usah pake embel-embel deh, cukup kayak biasanya aja." 

 

Rea menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa lo kayak gak suka gitu? Harusnya lo bersyukur karna banyak dari mereka yang pengen ada di posisi lo tapi Pak Jovan lebih pilih lo yang galak gini." Nara mencebik. Melirik Rea malas. 

 

"Apanya yang di syukuri, rugi iya gue." 

 

Nara terlonjak kaget saat sebuah ciuman mendarat di pipi kanannya. Ia melotot galak melihat Jovan tersenyum manis tanpa dosa di depannya. Rea segera undur diri saat melihat kedatangan Jovan dan memberikan mereka berdua ruang sendiri untuk bicara. 

 

"Lo bosen hidup ya? Tangan gue udah gatel pengen bunuh lo, gih lo maunya dimana heh!" Jovan tertawa. Memeluk leher Nara dan mengacak rambutnya gemas. 

 

"Berantakan bego!" Nara menepis tangan Jovan kesal. 

 

"Gue kangen.." Nara memicing, "Lo mau bikin gue darah tinggi lagi kan? Ngaku lo!" 

 

Kali ini Jovan benar-benar tertawa keras. Ia menatap Nara dengan tertarik. 

 

"Ya kali gue kangen sama lo yang bar-bar gini, bukan di sayang malah nyawa gue lama-lama melayang dapet amukan lo tiap hari." Jovan berkata santai. 

 

"Kalo Lo gak ngeselin gue juga gak akan galak ya! Jangan bikin seolah-olah gue orang paling jahat deh." Nara berkata seraya masuk dalam ruangan kerjanya. Jovan tersenyum tipis lalu mengikuti Nara dari belakang. 

 

"Gue tadi liat Bayu sama Audy di balkon atas," Nara melihatnya sekilas, "Bayu kayak lagi gencar deketin si Dy, lo gak ada masukan apa gitu?" 

 

"Lo kesini cuma mau tanya itu?" Jovan mengangguk. 

 

Nara berbalik, duduk di kursi kerjanya dengan menopang pipi. Ia melihat Jovan malas. 

 

"Kalo Audy sama Bayu gue justru gak masalah, gue kenal sahabat gue itu kayak apa, Bayu itu penyayang banget jadi orang. Suka gak tegaan juga orang nya, wajar sih dia sering di manfaatin juga sama orang lain." 

 

"Termasuk kalian kan." Nara mengendik. 

 

"Selain kita gak ada yang boleh manfaatin kebaikan si Bayu." 

 

"Egois." Nara menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Ada kalanya Bayu punya orang lain buat dia sayang dan dia jaga melebihi kalian, kalo kalian terus-terusan ngekang Bayu dengan sikap dia yang gak tegaan, gimana dia mau punya orang lain disisinya? Toh, masing masing dari kalian udah mulai punya seseorang yang dia percaya buat gantiin dia, kenapa gak coba buat berhenti recokin hidup dia? " Nara tergugu. Yang dikatakan Jovan memang benar adanya. Selama ini Bayu hanya memfokuskan dirinya dengan tri angel, lalu kapan dia akan mulai mencari pasangan hidupnya sendiri? 

 

"Tapi sebelum kalian bener-bener relain si Bayu ngejar seseorang yang dia inginkan, bisa kalian tanya apa dia siap menerima masa lalu Audy? Kalo iya, gue sama Reza akan berusaha bantu dia, tapi kalo enggak jangan salahin kita kalo dia gak akan bisa lagi ketemu Audy lagi. "

 

Nara kembali terdiam. Seperti dejavu dia baru menyadari jika seseorang yang pernah Aqila ceritakan ternyata adalah pasien nya sendiri. Si arrhenphobia yang mereka maksud adalah Audy Natela. Nara mengerjapkan mata beberapa kali. 

 

"Jadi cewek yang Aqila maksud waktu itu Audy? Si cewek yang takut di dekati laki-laki? Kenapa gue gak pernah kepikiran sampe sana?" Jovan menautkan alisnya. 

 

"Lo gak tau tentang ini?" Nara mengeleng. Mereka sama-sama terdiam. Banyak kemungkinan yang baru terpikirkan oleh mereka tentang fakta ini. 

 

"Gimana kalo Bayu gak bisa nerima masa lalu Audy?" Nara memijit keningnya pelan. 

 

"Gue gak tau." 

 

"Terus gimana?" 

 

Nara membasahi bibir bawahnya. Ia terlihat menimang. "Sementara biarin aja dulu. Lagian Audy juga lagi jalanin terapi di ruang terbuka, siapa tau dengan adanya kehadiran Bayu bisa memperlancar semuanya. Gue gak bisa kasih kepastian buat mereka kedepannya, tapi apapun yang akan terjadi nantinya itu urusan pribadi mereka." 

 

"Masing-masing punya kemungkinan buruk. Dan lo mau ngeliat mereka terluka di saat mereka udah punya rasa satu sama lain?" Nara menghembuskan napas panjang. 

 

"Kita gak berhak ikut campur Arion. Kita dalam hubungan mereka itu orang asing. Apapun yang terjadi nantinya itu adalah takdir. Gue bukan Tuhan yang bisa mencegah ataupun memperbaiki keadaan mereka kedepannya, sebagai sahabat gue cuma bisa kasih support dan apapun nantinya gue harap itu yang terbaik. "

 

"Sama kayak kita?" Nara mengerjap. 

 

"Apapun yang terjadi nantinya gue harap itu yang terbaik." lanjut Jovan menatap Nara dalam. 

 

Mereka kembali diam. Hening. Nara tidak bersuara sama sekali. Entah dia bingung ingin berbicara apa atau dia tidak tahu dan belum memikirkan nantinya, tapi Jovan bisa melihat jika Nara masih belum berani menggerakkan sayapnya menjauh. Sudah pernah dikatakan bukan, jika Nara itu seperti burung pipit yang cacat, sebelah sayapnya patah dan ia takut untuk mencoba kembali karena takut akan menjadi cacat selamanya. 

 

Jovan berdiri, mengusap sisi kepala Nara pelan dan menatapnya lembut. Nara mendonggak. 

 

"Jangan terlalu dipikirin. Kita lakuin selambat mungkin biar lo ngerti, kalau apapun kedepannya adalah cara lo untuk paham tentang situasi sebenarnya." Jovan mengecup sekilas kening Nara kemudian berlalu meninggalkan Nara yang masih menatapnya tidak mengerti. 

 

Paham tentang situasi sebenarnya? Maksudnya apa?! 

 

***

Jovan berjalan santai menuju ruang rawat inap seseorang yang membuatnya ikut merasa sedih jika menyamakan takdir mereka. Seperti yang dikatakan Nara, Jovan masih harus lebih mensyukuri hidupnya yang lebih baik dari orang lain. 

 

Jika Jovan selalu kesepian karena tersisih oleh kerjaan, beda dengan Nevasha yang tersisih dengan kakak nya. Perbedaannya tidak jauh sebenarnya, namun tetap saja kesepian ini mencebik mereka hingga merasa jika lebih baik mereka hidup sendiri saja. Sama-sama hidup sendirian. 

 

Jovan membuka pintu dan langsung melihat Nevasha yang tengah berbaring dengan selang infusan di tangan kirinya. Jovan mendekat dan duduk di samping bangkar nya. Perlahan tangannya mengelus puncak kepala Nevasha pelan. 

 

"Jovan?" Nevasha membuka matanya saat merasakan usapan halus di kepalanya. Jovan tersenyum kecil. 

 

"Gue ganggu tidur lo ya?" Nevasha mengeleng, "Sama sekali enggak." jawabnya tersenyum manis. 

 

"Tau dari mana ruangan gue?" Jovan mengendik. 

 

"Nebak aja." Nevasha terkekeh. Yang benar saja! 

 

"Gue males debat ah, jadi iyain aja biar cepet." Jovan tersenyum simpul. 

"Gimana keadaan lo?" 

 

"Seperti yang lo liat. Gue masih napas." canda nya. Mereka terkekeh bersama. 

 

"Gue tau ini pribadi, tapi kalo boleh tau lo sakit apa?" perlahan Neva mengalihkan pandangannya. Ia menunduk dengan memilin jemari tangannya. 

 

"Kanker otak stadium empat." Jovan terlihat terkejut. Nevasha menoleh dengan senyum simpul di bibirnya. 

 

"Lo pasti gak nyangka kan? Apalagi liat rambut gue masih panjang meskipun udah mulai nipis sih," 

 

"Kenapa gak kemo?" 

 

"Lo tau?" Jovan mengangguk. 

 

"Jadi.." 

 

"Sebenarnya udah lama gue tau tentang penyakit gue, tapi gue milih buat nyembunyiin ini dari keluarga gue. Gue udah sadar diri kalo gue sering sakit-Sakit an dan nyusahin mereka. Untuk itu gue milih diem, " Jovan masih diam memperhatikan, "Dan akhirnya empat bulan yang lalu gue pingsan dan langsung di lariin kerumah sakit. Saat gue sadar betapa kaget nya gue waktu keluarga gue tau dan bilang kalo kanker gue udah stadium empat. Gue balik mikir lagi, kalo gue mati.. Gue pasti gak akan nyusahin mereka, tapi kenapa gue gak mati-mati dan harus sakit-sakitan disini, menyedihkan banget ya? " Nevasha mengusap air matanya. Jovan mengelusi sisi kepala Nevasha pelan. 

 

"Rejeki, Jodoh, Mati.. Semua itu takdir Tuhan. Lo gak boleh ngomong gitu, keluarga lo pasti terpukul juga denger kabar tentang penyakit lo. Jangan nambah beban mereka dengan kata mati bisa nyelesain semuanya." 

 

"Tapi pada kenyataannya gue gak akan sembuh dan akhirnya mati juga kan. Kalimat mana yang bisa merubah keadaan?" Nevasha bertanya dengan berlinang air mata. Jovan mengenyam jemari mungilnya. 

 

"Hey, semua makhluk di dunia ini juga pasti akan mati. Gak ada yang perlu lo pikirin, Kalau pun lo masih hidup dengan nyaman di dunia ini, itu karena Tuhan masih mau melihat gimana lo mensyukuri sisa hidup yang lo punya dan Dia mau lo lebih mendekatkan diri pada_Nya. Berfikirlah positif oke. Semuanya akan baik-baik aja. "

 

Nevasha menyandarkan kepalanya di bahu Jovan, ia menumpahkan segala kegelisahan nya pada pundak Jovan dengan Jovan senantiasa mengelusi punggung Nevasha. 

 

"Everything be fine. Jangan pernah merasa sendirian, lo bisa anggap gue sebagai abang lo. Jangan nangis lagi oke." 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9