Canduku bukan lah rokok, tapi kamu. 

 

***

 

"Gimana sama kalian? Ada kemajuan?" Kinan bertanya dengan menidurkan baby Kayla di ranjang Nara.

 

"Di bilang ada kemajuan sih, enggak. Tapi dia mulai nyebelin." Nara mulai mendumel. Aqila yang tengah lesehan di depan televisi menoleh.

 

"Nyebelin gimana maksudnya?"

 

Nara mendengkus kesal. Ia memberikan baby Nathan Kepada Kinan Untuk bergantian menyusu. Mereka memang tengah berkumpul di kamar Nara seusai mengantarkan kedua orang tua Nara kembali ke bandung. Nara menarik kursi riasnya dan duduk menghadap mereka.

 

"Dia mulai ngatur-ngatur gue. Dan gue gak suka." Kinan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Bukannya udah dari lama dia suka ngatur-ngatur lo? Kenapa masih lo permasalahin?"

 

Nara mengacak rambutnya bingung. Ia berdecak, "Tapi kali ini beda Kin, dia bener-bener serius ngekang gue."

 

"Maksudnya gimana sih, pe'a! Jelasin yang bener ngapa." Aqila protes karena merasa di permainkan.

 

"Jovan bilang gue gak boleh deket-deket cowok lain dan yang lebih parahnya, kalo gue nolak dia ngancem bakal bikin orang itu hilang dalam tiga hari. Psyco banget kan?"

 

"Kalo Jovan yang bilang kok berasa kayak gak bercanda ya?" Aqila berkomentar.

 

Kinan meletakkan baby Nathan di sebelah baby Kayla dan menyelimuti keduanya. Setelah di rasa cukup aman ia berganti melihat dua sahabatnya.

 

"Kalo menurut gue sih, wajar aja ya." 

 

"Wajar gimana maksud lo?" Aqila mengernyit tidak mengerti. 

 

"Gini, Cara seseorang buat menjaga miliknya itu emang beragam. Ada yang main halus tapi ada juga yang main kasar. Kalo ukuran Jovan gue rasa dia tipe keduanya. Emosi dia susah di tebak, dan lo tau itu kan Ra." Nara mengangguk kemudian mengeleng. Aqila berdecak melihatnya linglung. 

 

"Yang jelas nyuk!"

 

"Ada beberapa emosi yang sering Jovan tunjukin dan kadang kala gue masih sulit buat mengartikan itu. Di tambah lagi sikap dia itu susah di tebak, dan makin kesini gue makin gak ngerti sama sikap dia. Gue sendiri masih suka bingung sih,"

 

"Intinya lo lebih hati-hati aja sih, jangan terlalu akrab sama orang asing terutama cowok. Buat keamanan bersama."

 

"Tapi gue merasa terlalu di kekang."

 

"Percaya sama gue seiring berjalannya waktu lo bakalan ngerti sama semua sikap yang selama ini dia tunjukin. Coba lebih peka deh,"

 

"Lo kere amat sih, Ra. Cemilan sama air putih aja pada kosong. Beli sono lo." Aqila mencibir saat membuka toples dari nakas bawah. Nara nyengir.

 

"Udah hampir seminggu gue gak beli camilan. Tapi kalo air baru abis semalem." Nara menyambar jaket dan kunci mobil nya. Mengikat rambutnya tinggi dan mengambil dompet di dalam tas kerjanya.

 

"Gue beliin bentar. Kalian nitip apa?"

 

"Gue soda sama macaroni yang pedes itu ya."

 

"Gue pocari aja, sekalian biskuit buat si kembar." Nara mengangguk kemudian berlalu. Kinan memperhatikan Nara dengan pandangan tak terbaca.

 

"Gue bingung sama kisah mereka. Kenapa Jovan gak mau jujur dan bikin seolah-olah dia kayak orang jahat yang coba ngekang Nara. Padahal nyatanya dia cuma takut kehilangan aja." Aqila mengangguk.

 

"Tapi gak sepenuhnya salah Jovan sih, Nara juga terlalu nutup diri dan selalu menganggap orang lain itu asing. Entah dia gak peka atau emang pura-pura gak tau. Mereka berdua sama-sama rumit."

 

***

 

Nara berkeliling di supermarket dan terlihat memilah beberapa camilan. Ia mengambil beberapa snack kesukaan nya dan beberapa biskuit untuk si kembar.

 

Ia berganti menuju rak minuman dan membeli beberapa air mineral juga minuman titipan dua sahabat nya. Setelah di rasa cukup mendapat yang ia butuhkan, Nara berlalu menuju kasir. Saat ia mengecek belanjaan nya sembari menunduk tak sengaja ia menabrak seseorang.

 

"Aduh.. Sori sori gak sengaja." Nara berucap tanpa menatap orang yang di tabraknya. 

 

"Nara?" Nara mendonggak. 

 

"Mph.. Alan kan ya?" cowok itu mengangguk dengan menunjukkan lesung pipinya.

 

"Belanjaan lo banyak amat. Camilan semua lagi isinya." Alan bertanya sembari melihat isi keranjang yang Nara bawa. Nara terkekeh pelan. 

 

"Iya nih, titipan. Biasa lagi pada ngumpul." Alan mengangguk mengerti. 

 

"Rame dong di rumah lo." 

 

"Ya gitu deh," 

 

"Bayu juga ada disana?" Nara terlihat mengingat. 

 

"Tadi sih belom ada, cuma katanya mau nyusulin si Kinan soalnya Gavin lagi shift siang." Alan membulatkan bibirnya. 

 

"Boleh mampir gak? Sekalian ada perlu sama si Bayu nih." Nara terlihat menimang. Jika Jovan tahu bisa gawat urusannya. Tapi jika Nara menolak juga tidak enak, lagian Alan hanya ada perlu dengan Bayu dan bukan dirinya jadi tidak ada masalah bukan? Harusnya sih, memang tidak ada masalah.

 

Melihat Nara terdiam Alan tersenyum kecil, "Gak boleh gak papa kok, lain kali gue bisa janjian sama Bayu di tempat lain." 

 

"Boleh kok. Santai aja. Lagian Bayu kebetulan emang lagi padet jadwal sama kita-kita." 

 

"Beneran gak apa-apa? Gue takut ganggu kalian." 

 

"Santai aja. Ya udah gue bayar ini dulu, lo udahan kan belanja nya?" Alan tersenyum dan mengangguk. Mereka berjalan seiringan menuju kasir. Setelah membayarnya mereka berlalu keluar. 

 

"Lo naik apa kesini?" Nara menunjukkan mobilnya. 

 

"Kalo gitu gue ngikutin lo dari belakang aja." Nara mengangguk. 

 

Tak sampai sepuluh menit mereka sampai di depan gedung apartemen Nara. Mereka turun dan berjalan bersisian menuju lantai dimana tempat Nara tinggal. 

 

Mereka masih asik mengobrol dan saling melempar candaan. Sesampainya di apartemen Nara tersentak saat membuka pintu dan mendapati Jovan berdiri dengan tangan bersedekap. Matanya hitamnya Menyorot Nara lurus. Sesaat Nara mati kutu. Ia merasa seperti tengah di pergoki berselingkuh. 

 

Bayu yang baru datang melihat mereka bergantian. Ia hendak menarik Alan namun Jovan menahannya. Bayu menaikkan satu alisnya. 

 

"Biar gue yang jelasin. Urusan lo sama Nara bukan sama dia." Jovan menghela napas, "Buat dia paham dan jangan coba deketin Nara lagi. Atau.." Jovan melihat Alan lurus. Berbisik dengan suara rendah. Mengancam. 

 

"Gue gak bisa ngomong banyak, tapi lo jelas tau siapa gue Bay." sesaat Bayu bergidik. Aura Jovan mendadak menyeramkan. Bayu tahu di balik sikap tenang Jovan Arion ia memiliki emosi yang tidak stabil. Bayu menghela napas dan menepuk pundak Jovan dua kali. 

 

"Gue harap lo juga gak kasar sama sahabat gue. Gimanapun dia cewek, tanya dia baik-baik kronologis nya kayak apa. Jangan sampai lo bikin dia tambah gak nyaman sama sikap lo." Jovan mengangguk. Matanya sedari tadi tak lepas dari Nara. 

 

Setelah Bayu menarik Alan keluar, Jovan berbalik tanpa mengatakan apapun. Nara yang melihat itu mengernyit kan hidung. Ia segera berlari mengejar Jovan yang menuju ke arah balkon. 

 

"Gue bisa jelasin." Nara menahan tangan Jovan yang hendak membuka pintu balkon. Jovan melirik tangan Nara dan membuang muka. 

 

"Gue gak butuh penjelasan lo." Nara tidak menyerah dan berdiri di depan Jovan yang duduk menghadap jalan raya. Jovan mengeluarkan sebungkus rokok dan membakarnya. Nara membelalak. 

 

"Lo ngerokok?!" Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Urusannya sama lo apa?" Jovan menjawab santai. Rendah tanpa emosi. Entah kenapa Jovan yang seperti ini membuat Nara takut. Ia yang biasanya selalu menyebalkan tiba-tiba berubah menjadi lucifer sungguh an. 

 

Nara mengambil rokok yang tersemat di antara bibir Jovan dan membuangnya lalu menginjaknya. Jovan menatap Nara datar. Saat ini emosinya sedang tidak stabil dan Nara menguji kesabarannnya. Jovan mendorong Nara hingga menabrak pembatas balkon. Nara sedikit meringis dengan cepat Jovan mengukungnya dengan kedua lengan kekarnya, ia mendekatkan wajahnya kesamping telinga. 

 

"Sebenarnya apa mau lo, jangan buat gue kalap Nara Sidzkia." Jovan berbisik rendah. Penuh ancaman. Nara menguatkan dirinya untuk balas menatap iris hitam yang tengah terbalut emosi itu. Nara tahu ia telah membangunkan singa dalam diri Jovan. Dan Nara harus meredakannya. 

 

"Jangan ngerokok. Separah apapun emosi lo jangan lampiasin sama racun yang bisa bunuh lo kapan aja. Gue gak mau lo kecanduan." iris mata mereka saling menumbuk. Jovan menatap bibir Nara dan Nara sadar itu. Perlahan Jovan mendekatkan wajahnya. Hidung mereka saling bersentuhan. 

 

"Kalo gitu apa lo bisa kasih solusi lain buat meredam emosi gue? Karna sejauh ini cuma rokok yang bisa bikin gue balik tenang lagi." Nara menelan ludah gugup. Dia tidak pernah berada di posisi seintim ini dengan seorang cowok. Nara membeku di tempatnya karena dia sadar jika ia bergerak sedikit saja, ia tidak akan bisa lari lagi. Jovan masih memperhatikan nya.

 

"Jangan buat gue takut." cicit Nara pelan. Jovan menghela napas hendak menjauhkan wajahnya dengan cepat Nara menarik wajah Jovan dan menciumnya. Jovan terbelalak. 

 

Nara menciumnya huh?!

 

Tak membiarkan ini berlalu begitu saja Jovan menahan tengkuk Nara dan balas menciumnya. Entah setan apa yang membuat Nara berani melakukan hal memalukan seperti tadi yang jelas saat ini dia tidak bisa menolak nya. Ia sadar ia juga menikmati ciuman Jovan. Jovan melepaskan ciuman mereka dan menatap Nara lurus.

 

Nara berjinjit dan mengusap bibir bawah Jovan dengan ibu jarinya.

 

"Gue harap lo gak akan pake barang beracun itu lagi." setelah mengatakan itu Nara berlari menuju kamarnya sembari menutup muka. Jovan terkekeh melihatnya seperti gadis belasan tahun yang baru saja menyatakan cinta. Jovan mengusap bibirnya sendiri dan tersenyum seperti orang yang tengah mabuk kasmaran.

 

Dalam kurang dari lima menit Jovan sudah tidak merasa emosi seperti tadi, well apakah pengaruh Nara memang sebegitu besarnya untuk dirinya? jika iya, apakah Jovan bisa selalu mendapatkan ciuman setiap kali ia tengah di landa emosi? Jovan mengacak rambutnya.

 

Konyol! Pikirnya.

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9