Caraku mencintai mu itu berbeda. Sedikit lah untuk memulai memahamiku, aku tidak akan menuntut balas namun aku juga tidak akan membiarkanmu lepas. 

 

 

***

 

"Astaga.." Nara mengelus dada melihat Jovan menyandarkan tubuhnya di samping pintu kamar inapnya. Ia mengernyit melihat Jovan pagi-pagi sudah siap di depan kamar nya. Ada apa?

 

"Gue mau ngajak lo jalan. Baik 'kan gue." Jovan berucap dengan tersenyum miring. Nara menghela napas sejenak.

 

"Gue lagi mager kemana-mana, lo sendiri aja sana." tolak Nara halus. Ia memang masih sedikit merasa capek karena harus berdiri semalaman menggunakan sepatu tinggi dengan menebar senyum palsunya.

 

Bohong jika Nara mengatakan ia tidak merasa sedih dengan pilihannya. Ia juga masih tidak tahu apakah ia akan merasa menyesal dengan keputusan konyol ini atau tidak. Yang jelas untuk saat ini ia masih akan berusaha menjalani semampunya. Untuk hasil akhir Nara tidak mau banyak berharap. Biarlah semua terjadi semestinya dan berakhir dengan seharusnya. Biarkan takdir memainkan perannya.

 

Jovan menarik tangan Nara lalu menyeretnya keluar gedung. Nara sempat memprotes tapi apa daya, namanya juga Arion. Kemauan nya harus di turuti, ucapanya adalah perintah.

 

"Mau kemana sih?" Jovan tidak menjawab dan hanya menyuruh Nara untuk masuk kedalam mobil. 

 

Dalam perjalanan mereka masih saling bungkam. Nara mendiamkan Jovan yang tak kunjung menjawab pertanyaan nya. Pula dengan Jovan yang memang tidak ada niatan untuk membuka pembicaraan. Mereka terjebak hening. 

 

Mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah restoran Jepang. Nara mengernyit kemudian menoleh.

 

"Tinggal bilang mau nyari makan aja susah amat." cibir Nara kesal.

 

"Ngomong sama lo itu bakalan panjang. Jadi lebih baik gini aja."

 

"Dengan kata lain lo ngatain gue rewel gitu?" protes Nara tidak terima. Jovan melepaskan sea belt nya. Lalu ia juga melepaskan sea belt yang Nara kenakan. Nara terpojok dengan posisi mereka.

 

"Bisa gak sih lo sekali aja jangan mikir negative sama gue? Gue gak sejahat yang lo pikir." ketus Jovan lalu turun dari mobil. Nara berkedip satu kali.

 

Memang apa salahnya jika ia hanya sedikit merasa was-was. Lagian Jovan memang sering kali mengajaknya ribut dan sering pula menghinanya. Jadi apa masalahnya jika nara selalu berpikir buruk tentang cowok itu?

 

Merasa ditinggalkan Nara segera turun dan menghampiri Jovan yang sudah duduk manis. Ia terlihat sedikit merasa bersalah melihat wajah masam Jovan. Tolong garis bawahi sedikit.

 

"Iya iya gue salah, gue selalu mikir yang enggak-enggak tentang lo." Nara terpaksa mengaku salah saat Jovan benar-benar mendiamkannya. Jovan meliriknya sekilas lalu meraih ponselnya di atas meja.

 

Melihat itu Nara semakin memajukan bibirnya. Ia diabaikan huh? Nara merebut ponsel Jovan dan menahannya. Jovan menatap Nara datar. 

 

"Balikin." 

 

"Enggak sampe lo maafin gue dulu." Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Emangnya kapan lo minta maaf?" pertanyaan Jovan membuat Nara bungkam. Ia baru sadar jika tadi ia hanya mengaku salah dan tidak mengucapkan kata maaf. Tapi dengan bodoh nya ia menuntut Jovan agar memaafkan nya? Benar-benar konyol! 

 

Nara mengaruk kepalanya tidak gatal,"Iya gue salah. Gue minta maaf, jadi?" 

 

"Lo serius minta maaf sama gue?" tanya Jovan dengan tangan bersedekap. Nara mengangguk polos. 

 

Jovan menyeringai, "Bisa sih, tapi gak gratis." Nara mendengkus. Baru ia ingin mulai berdamai namun Jovan tetaplah Jovan. Keturunan Arion itu memang tidak bisa di kasih hati. Maunya terus kelahi. 

 

"Gak usah deh. Serah lo mau maafin atau enggak itu hak lo." dengkusnya memalingkan muka. Jovan terkekeh pelan. Ia menjulurkan sebelah tangannya. 

 

"Siniin tangan lo." dengan kening berkerut Nara memberikan tangannya. Jovan mengelus cincin pertunangan mereka semalam dan mengecup nya lama. 

 

"Disini hubungan kita terikat. Dan ini bukti kalo Lo gak boleh deket-deket sama cowok lain. Paham?" 

 

Nara menarik tangannya, "Gak bisa gitu dong. Dari awal kita pure sepakat tanpa pengekangan kayak gini. Gue gak suka ya lo ngatur-ngatur gue." Nara menolak tegas. Ia paling tidak suka di kekang.

 

Jovan mengendik acuh, "Suka gak suka sekarang lo itu milik gue, dan gue gak menerima bantahan dalam bentuk apapun." 

 

"Kalo gue nolak?" Jovan menyeringai,

 

"Gak masalah," Nara mengangkat alis. Semudah itukah? "Tapi jangan Salahin gue kalau orang yang berhubungan sama lo bakal hilang dalam waktu tiga hari. Keputusan lo yang tentuin." Jovan tersenyum manis mengatakan itu, namun siapapun tahu jika perkataannya mengandung ancaman yang tidak bisa di ganggu gugat. Kekuasaan mengambil alih gerak-gerik Nara. Dan Nara tahu jika mulai saat ini dia tidak akan lagi merasa bebas. 

 

***

 

Hari ini Nara sudah mulai masuk kerja. Nara melatih Audy untuk berada di lingkungan terbuka yang banyak di kunjungi orang. Mereka sudah sepakat untuk melakukan terapi Membiasakan diri di ruang terbuka dan Disinilah mereka sekarang. Taman kota dekat perumahan Audy tinggal. 

 

Audy sedari tadi tidak melepaskan tangan Nara darinya. Mereka tengah duduk di bawah pohon dengan beberapa camilan di depan mereka. Reza memilih memantau dari kejauhan untuk memastikan jika Audy tidak akan sembarangan berteriak dan membuat orang lain mengira jika ia gila. 

 

Nara mengelus tangan Audy dan mulai mengajaknya bicara layaknya teman yang sedang menghabiskan waktu bersama. 

 

"Kemarin aku tunangan loh, tapi kok Audy gak dateng?" Nara mulai mengajaknya bicara. Audy mengerjapkan matanya lucu. 

 

"Dy masih takut keramaian kak. Tapi selamat buat kak Nara ya, semoga langgeng sampai nikah nanti." Audy mulai membalas meski masih terlihat was-was dengan matanya yang sedari tadi bergerak gelisah. Nara tersenyum samar. 

 

"Tapi aku gak merasa bahagia, menurut kamu kenapa?" Audy menoleh kaget. 

 

"Kok bisa?" 

 

"Entah. Aku takut keputusan konyol yang aku ambil bisa membuat aku terluka lebih dalam lagi." Audy mengerutkan dahi. Setahunya Nara itu bertunangan dengan Jovan. Cowok yang ia ketahui selalu mengejarnya dan selalu berusaha menarik perhatiannya. Lalu yang ia takut kan itu apa? 

 

"Apa yang bikin kak Nara takut?" sebenarnya Nara tidak bermaksud Bercerita pada Audy mengenai kisahnya. Hanya saja melihat Audy sudah merasa rileks membuat Nara mau tidak mau melanjutkan sesi curhat nya.

 

"Dia itu terkenal suka php-in cewek, dan aku termasuk seseorang yang udah cidera mengenai hubungan gagal. Aku takut jika suatu saat nanti aku benar-benar jatuh dan dia nyampakin aku seperti yang dia lakuin selama ini. Itu.. Bener-bener akan jadi mimpi buruk. " Nara menatap lurus. Audy mengelus pundaknya menenangkan.

 

"Banyak dari kita memang memiliki kekurangan masing-masing. Setiap orang punya caranya sendiri menunjukkan ketertarikan nya, apa kakak percaya takdir?" Nara mengerjap lalu mengeleng. 

 

Audy melakukan hal yang sama seperti yang Nara lakukan. Pandangan matanya kosong. 

 

"Takdir selalu punya cara menyatukan hati yang pernah patah agar utuh kembali. Takdir punya waktunya sendiri untuk menunjukkan seberapa besar siklus kehidupan yang akan membawa kita pada pilihan yang tidak pernah terfikirkan. Dan itu benar-benar nyata adanya. " Nara tertegun. 

 

"Kamu bener." Audy menundukkan kepalanya. 

 

"Sama kayak takdir yang sekarang aku jalani ini kak. Mereka nyata dan benar-benar merubah siklus kehidupan manusia. Awalnya aku gak pernah berfikir akan seperti ini dan beranggapan kalo aku cuma menyusahkan orang lain.." Audy menelan ludah susah payah, "Dy.." 

 

"Aku kira saat itu aku bakalan mati dan gak harus lagi depresi sama pertengkaran mama sama papa, tapi takdir berkata lain. Ia menyelamatkan ku dan membiarkan aku hidup dengan rasa trauma yang sering kali bikin aku pengen bunuh diri. Takdir benar-benar nyata Yah," Audy menoleh menatap Nara yang juga menatapnya," Nyata kejamnya. " lanjutnya dengan menitikan air mata. Nara ikut merasa iba dengan apa yang Audy alami. Ia masih harus banyak-banyak mensyukuri hidupnya yang masih lebih baik dari mereka yang mengalami cacat mental lainnya. 

 

Nara menghapus jejak air mata Audy lalu memgangam tangannya. Ia tersenyum menenangkan. "Setidaknya kamu juga harus mensyukuri hidup kamu, barang kali Tuhan tidak mengizinkan kamu meninggal karna Ia masih sayang sama kamu. Siapa tau Ia menyiapkan kebahagiaan yang lain untuk kamu, kamu percaya setelah badai pasti akan ada pelangi ?" Audy terdiam dengan matanya yang menyorot Nara sayu.

 

"Aku juga belum tahu itu nyata atau tidak, tapi untuk saat ini entah kenapa aku mempercayainya."

 

"Kenapa begitu?" Nara mengeleng kan kepala sembari tersenyum simpul.

 

"Jawabannya aku tidak tau. Tapi aku percaya jika itu nyata adanya. Meskipun mungkin tidak sesuai harapan, tapi setidaknya ada kebahagiaan kecil lainnya yang masih mau menghiasi hidup kita masing-masing."

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8