Kita dalam hubungan orang lain hanyalah orang asing. Tidak memiliki hak apalagi wewenang untuk mereka. 

 

 

***

 

 

Hari pertunangan terselenggara. Nara mematut dirinya di depan cermin. Jemarinya saling menaut dan memilin. Aqila menghela napas melihat Nara gugup. Ia mengelus lengan Nara menenangkan.

 

"Lo yakin mau lanjutin kesepakatan konyol kalian?" tanya Aqila memastikan. Nara mendonggak. Ia mengeleng samar.

 

"Gue gak tau.." jawabnya pelan. Aqila meraih tangan Nara. Mata mereka saling menumbuk.

 

"Gue beneran takut sama semua kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya, but.. Gue bener-bener gak tau caranya buat lo coba berfikir ulang." Aqila menghela napas, "Ra.. Kita semua tau, lo udah gak utuh kayak dulu.. Kalo pun suatu saat nanti Jovan berulah, apa lo masih sanggup berdiri di saat hati lo udah jatuh? " Nara terdiam. Ia tidak tahu jawabannya.

 

"Gue emang selalu dukung lo buat bangkit dari rasa takut lo, tapi kalo akhirnya lo nyoba tapi dengan dasar terpaksa dan bukan suka sama suka, gue takut jadi sahabat yang buruk buat lo. Semua ini.. Bikin gue ngerti kalo Lo bener-bener belom siap buat menjalin hubungan serius. Sekali lagi gue tanya, lo yakin sama keputusan lo? " kali ini Nara balas menatap Aqila. Ia menghembuskan napas panjang.

 

"98% gue masih gak tau jawabannya, tapi lo taukan? Mereka usah berusaha keras untuk hari ini, dan gue.. Gue bakal merasa jadi orang paling gak tau diri kalo sampe hancurin ini semua. Dari awal.. Gue udah terlambat la. Gue udah gak bisa lari semua pilihan yang gue pilih. Pada akhirnya gue bakal tetep melangkah maju. Suka nggak suka, gue tetep harus kan? " 

 

Aqila menatap iba. Ia tahu ini pasti berat untuk Nara. Terpuruknya masa lalu buat dia menjadi pribadi yang takut dengan ikatan. Nara selalu beranggapan mereka kaum lelaki hanya melihat wanita dari fisik mereka. Untuk itu Nara malas berhubungan dengan spesies jenis laki-laki.

 

Pintu ruangan terbuka. Nina melangkah masuk. Ia mengusap kepala Nara pelan.

 

"Kalian kenapa jadi melow begini?" mereka menoleh serentak. Aqila tersenyum manis.

 

"Biasa tan, perpisahan status jomblo ini namanya." canda Aqila membuat Nina tertawa. Nara melihat sang mama dan Aqila bergantian. Mana mungkin ia tega menghilangkan binar kebahagiaan yang mamanya tunjukkan untuknya, Nara tidak sebodoh untuk tahu jika Nina sedari awal memang sudah setuju bahkan merestui hubungan semu mereka.

 

Nina menatap Nara. "Cie.. Yang bentar lagi melepas status jomblo. Gimana, udah siap belum?" Nara tersenyum kecil. Mengangguk pelan menjawab pertanyaan sang mama.

 

"Acaranya udah mau di mulai tuh, tan.. Kuy ke bawah." ajak Aqila memecah keheningan mereka. Nina mengangguk kemudian menarik tangan Nara dan mengiringnya. Mereka berjalan bersisian dengan Nina dan Aqila yang berada di samping kanan-kiri Nara.

 

Nina mengenyam tangan Nara." Gak usah gugup, rileks aja. Semuanya akan baik-baik aja." bisik Nina membuat Nara menoleh terkejut. Nina tersenyum manis. 

 

"Kamu lupa kalo mama ini yang udah ngelahirin kamu? Mama tau semuanya, bahkan sesuatu yang kamu sendiri belum tau, mama udah tau sayang. Percaya sama mama. Gak ada orang tua yang mau melihat anaknya jatuh terpuruk." 

 

"Ma.." lirih Nara tak mengerti. Nina tersenyum menenangkan. 

 

"Percaya sama mama okay? Everything be fine." 

 

Tamu hadirin yang datang sudah memenuhi ballroom. Nara melihat sekelilingnya, ia melihat Kinan yang melambaikan tangan di samping Gavin. Nara tersenyum sekilas dan berlalu saat suara MC mengharuskan nya menaiki podium. Disana ia melihat Jovan yang berdiri rapi dengan Jaz Navy yang senada dengan gaun yang dipakainya. Nara memejam kan mata sesaat dan menghembuskan napas panjang. 

 

Gue harus siap. Batinya. 

 

Saat sudah berada di depan Jovan. Nara memilin gaun bawahnya gugup. Jovan menyadari dan langsung menarik pinggang Nara kemudian berbisik. 

 

"Sebenernya gue males ngakuin ini, tapi..Kucing galak gue bener-bener keliatan cantik malem ini." Nara mendelik tidak suka. Jovan tersenyum manis. 

 

"Gue anggap itu pujian. Lo juga keliatan ganteng, tapi bakal keliatan lebih ganteng kalo Lo diem." balas Nara tersenyum paksa. Jovan terkekeh. Gagal heh? Tidak masalah. 

 

"Ah gue merasa bangga udah di bilang ganteng sama calon tunangan gue, apa gue perlu kasih hadiah untuk itu?" Nara mengernyit kan hidung. Sebelum sempat menjawabnya, Jovan sudah lebih dulu mencuri ciuman di pipi kirinya. Nara mendelik garang. 

 

"Demi Tuhan! Ini tempat umum Jovan Arion. Lo bisa jaga sikap gak sih?!" pekik Nara tertahan. Nara melirik sekilas ke arah para tamu, ia memejam kan matanya saat semua tamu melihat mereka dengan pandangan geli. 

 

"Yah, udah kelewat Bee, gimana dong? Apa mau gue cium lagi buat ngilangin bekas ciuman yang tadi?" Nara semakin menatap Jovan tajam. 

 

"Jangan coba-coba Arion.. Bisa gak sih lo sehari aja jangan ajak gue kelahi?!" 

 

"Gak bisa." jawab Jovan tersenyum manis. 

 

"Gue cekik mampus lo!" balas Nara pelan. Jovan menyeringai. 

 

"Mau dong di cekik, leher bawah tapi ya?" balas Jovan mesum. Nara menutup mata sesaat.

 

"Gue cekik beneran lo abis acara ini. Dasar omes!" Jovan tersenyum culas. 

 

"Gue sangat menantikannya Bee." 

 

**

 

Bayu, Kinan, Gavin dan Aqila berkumpul di meja yang sama. Mereka masih memerhatikan kedua sahabat mereka yang kini tengah bersanding. Gavin menyesap orange jusnya perlahan, ia berkata, "Semuanya akan baik-baik aja. Kita semua tau Jovan ke Nara itu gimana, kita sebagai orang asing dalam hubungan mereka cuma bisa berdoa yang terbaik buat mereka kedepannya." mereka semua menoleh, mengalihkan atensi pada Gavin yang terlihat santai. Kinan menatapnya lama. 

 

"Kamu ngomong gini bukan karna dia sahabat kamu 'kan?" tuduh Kinan. Gavin meraih sebelah tangan kinan dan mengengamnya. Ia mengedarkan pandangannya kearah mereka bergantian. 

 

"Gue laki-laki, terlepas dari status kami yang sahabatan.. Kita bisa liat cara Jovan mandang Nara itu emang beda, gimana sama lo Bay?" Bayu mengangguk samar. Sebenarnya dia masih sedikit tidak rela melepaskan salah satu anaknya dengan pilihan yang masih abu-abu. Tapi seperti kata Gavin, kita dalam hubungan mereka hanyalah orang asing. Dan kita tidak punya hak untuk menentang keputusan mereka. 

 

"Sedari awal kita tau, tapi seperti yang lo tau Gav, Nara udah cidera sejak dua tahun yang lalu.. Lo, paham maksud gue kan?" Gavin mengangguk mantap. 

 

"Gue paham. Untuk itu gak ada yang bisa kita lakuin selain doain yang terbaik buat mereka. Untuk kedepannya, kita semua cuma bisa masrahin sama takdir. Sama kayak lo waktu relain Kinan sama gue nikah." Bayu mendengkus. Ia kesal harus diingatkan mengenai konyolnya mereka waktu itu. Bagaimana tidak, Bayu sangat menentang pernikahan Gavin dan Kinan kerena Bayu menganggap mereka masih terlalu dini, dan Kinan masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Yah, singkat cerita.. Saat-saat meminta restu mengenai pernikahan mereka, Gavin di buat kalang kabut. Meminta restu dari Bayu lebih sulit dari meminta restu pada Mario ayah Kinan. Benar-benar konyol jika dipikirkan kembali. 

 

Kembali ke topik. 

 

"Gue cuma takut Jovan berulah, kalian sendiri tau kalo Jovan sama egonya itu udah gak bisa di pisahin. Dua hari lalu mereka bahkan perang dingin buat masalah yang sepele, semua karna masing-masing dari mereka gak ada yang tau cara nunjukin rasa kehilangan mereka. Simple sih sebenarnya, tapi kelihatannya sulit banget buat ditembus. " ucap Aqila menatap mereka bergantian. Kinan menghela napas. 

 

"Gue udah kasih pengertian ke Nara, tapi nihil. Mereka punya pribadi yang sama, sama-sama keras kepala" 

 

"Apalagi si Jovan, gengsiannya setengah mati. Kadang suka heran sih, cara dia narik perhatian suka bikin kesel kalo di pikir." sahut Bayu menambahi. Ia mengedarkan pandangannya. Seperti ada yang kurang. 

 

"By the way, temen lo yang satu lagi kemana? Kaga ada keliatan kayaknya." tanya Bayu menyadari jika Reza tidak ada di antara mereka. Aqila mendengkus mendengar nama Reza di sebut-sebut. 

 

"Lo nanyain abangnya apa adeknya?" Bayu nyengir. 

 

"Kalo ada dua-duanya kenapa cuma nanya satu, sekalian lah semuanya."

 

Kinan menoyor kepala Bayu pelan. 

 

"Yeuu.. Lo kenal Audy Bay?" Bayu mengangguk. 

 

"Diakan udah jadi anak FHU. Tapi kata Reza lo udah tau tentang Audy dari lama, kok lo tega gak ngenalin yang manis gitu ke gue. Ratu tega emang lo." Kinan mencibir. 

 

"Yang tau lo normal siapa? Selain sama kita lo 'kan gak mau deket-deket sama cewek lain."

 

"Gue normal ya! Sembarangan lo kalo ngomong. Cuek gini Gue masih doyan apem." mereka tertawa melihat Bayu kembali ternista. 

 

"Siapapun pilihan kalian, gue harap kalian serius jalanin itu semua." ucap Gavin membuat mereka mengernyit. 

 

"Maksudnya?" tanya mereka serempak. Gavin mengendik. 

 

"Gue tau semua tentang kalian. Pesen gue cuma satu, jangan mainin hati mereka dan cobalah buat lebih peka. Itu penting buat kalian kedepannya." mereka melonggo. 

 

Maksudnya apa? 

 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6