Maaf memang tidak bisa menyelesaikan masalah, tapi setidaknya bisa membuat suasana sedikit terkendali. 

 

***

 

Menjelang acara besar mereka, Nara juga Jovan kompak menampilkan wajah masamnya. Sedari kemarin mereka memang sudah perang dingin. Alasannya klise. Nara tidak suka Jovan memgekang kehidupan pribadinya, dan Jovan yang merasa tidak suka karena Nara seolah tidak menganggapnya.

 

Cukup rumit jika itu menurut mereka berdua, sedari awal mereka memang selalu menggunakan logika masing-masing. Ketimbang melihat keadaan yang terjadi, mereka lebih memilih untuk saling membenci tanpa tau caranya berdamai.

 

Mereka semua sedang berkumpul di ruang makan hotel Haston milik keluarga Arion. Karena acara besar mereka akan di selenggarakan besok malam di ballrooms hotel. Mereka semua sepakat untuk menginap di Haston selama menjelang acara. Nara dan Jovan masih saling melempar tatapan sinis. Dengan masing-masing kedua orang tua mereka di sebelah kanan-kiri mereka dan Hanson-Camelia yang berada di ujung meja memimpin. 

 

"Opa bosen liat kalian kayak Tom and Jerry gini. Kapan baikannya?"

 

"Never." ucap mereka bersamaan. Mereka saling melirik, saat kedua iris mata mereka bertemu, mereka saling melempar tatapan permusuhan. Percikan api permusuhan di antara mereka seolah tidak pernah padam. 

 

Mereka semua mengeleng kan kepala tidak habis pikir. Sebenarnya mereka hanya tidak tau caranya mengungkapkan dengan baik, dan di banding berbicara Pelan-pelan, mereka lebih memilih untuk tidak saling mengalah. Keduanya beranggapan jika mereka benar. Sebab itu, membuat pertemuan antar keluarga seperti ini sangatlah terasa aneh. 

 

"Gini deh, coba kalian bicarain Pelan-pelan.. Permasalahan kalian disini itu sebenarnya apa sih?" tanya Diana mencoba bersabar menghadapi sikap keras kepala keduanya. 

 

"Nara bilang selimut tetangga banyak, bukan kemungkinan dia bakal selingkuh suatu saat nanti." ucap Jovan menatap Nara datar. Nara meliriknya sinis. 

 

"Gue cuma bercanda kemaren, tapi ya dasarnya udah susah kalo ngomong sama orang baperan. Dikit-dikit pake hati." cibir Nara mengelak. 

 

"Bercanda lo gak lucu!" balas Jovan tidak suka. Nara menghela napas panjang. 

 

"Terus lo maunya apa?!" 

 

Mereka saling menatap nyalang. 

 

"Jangan pernah libatin siapapun diantara kita. Siapapun!" ucap Jovan menekan kalimat terakhirnya. Nara mencebik. 

 

"Lo cemburu?" 

 

"Pedean lo! Intinya gue gak suka!" 

 

"Gak usah ngegas dong!" 

 

"Cukup! Jadi intinya Jovan marah karena cemburu, jadi.. Kalo dari kamu Nara?" ucap Hanson menengahi. Saat Jovan hendak memprotes, Hanson lebih dulu mengangkat sebelah tangannya. 

 

"Opa tidak menerima penjelasan. Jadi diamlah." Jovan mendengkus tidak suka. Melihat Nara yang masih menatapnya kesal. 

 

"Nara gak suka di kekang Opa. Belum jadi apa-apa nya aja udah di ribetin kayak gini. Nara juga kan punya kehidupan pribadi Opa." jelas Nara balas menatap Jovan menantang. Hanson mengangguk mengerti. 

 

"Semua keturunan Arion memang sebagian besar memiliki sikap possessive Nara. Opa bukan membela Jovan, tapi dari kami para lelaki di keluarga Arion punya cara sendiri dalam menunjukan sikap. Untuk itu, tolonglah sedikit memaklumi." jelas Hanson meminta pengertian. Jovan tersenyum culas. Nara semakin jengkel. 

 

Ya, mereka semua tahu. Keluarga Arion memang cukup terpandang di masyarakat. Untuk itu, mereka kaum lelaki akan lebih protectif dengan pasangan mereka. Sadar atau tidak mereka selalu menunjukan itu dimanapun mereka berada. Tidak heran jika Jovan merasa tersinggung saat Nara mengatakan selimut tetangga banyak. Meski hanya bualan, namun bagi Arion itu adalah penghinaan. 

 

"Tapi Nara gak nyaman." Hanson mengangguk. Ia berganti melihat Jovan sesama. 

 

"Dari ini, kalian sudah tau masalah apa yang sebenarnya menjadi pemicu pertengkaran kalian. Cobalah lebih berkepala dingin. Kalian sudah dewasa, kalian jelas tau caranya menyelesaikan masalah. Apalagi yang sepele seperti ini." ucap Damar menasihati. Nara memberengut. 

 

"Pa.." 

 

"Papa tidak membela siapapun. Ini berlaku untuk kalian berdua. Besok kalian akan melangsungkan acara besar kalian. Tolong jangan merusak semua usaha kami dengan sikap kekanakan kalian." sahut Damar tegas. Jovan menghela napas. 

 

"Jovan akan berusaha lebih mengerti pa.." Damar mengangguk, ia beralih pada Nara yang masih menunduk. 

 

"Nara juga akan berusaha lebih memahami.." mereka semua tersenyum senang. 

 

"Bagus. Jadi kita anggap ini selesai. Kalian istirahatlah." Hanson mengakhiri pertemuan mereka. Mereka berdua mengangguk singkat. Kemudian berlalu menuju kamar inap masing-masing. 

 

**

 

Kinan terlelap di samping baby Kayla. Gavin yang baru pulang kantor mengelus sisi kepala istrinya sayang. Menghampiri kedua anaknya dan mencium mereka bergantian. Gavin lalu beralih pada Kinan yang terlihat nyenyak. Gavin menunduk kan kepala, mengecup sekilas pelipis Kinan sayang. 

 

"Kamu pasti capek banget ya harus ngurusin si kembar sendirian. Maaf aku udah jarang bantuin kamu jagain mereka." ucap Gavin menunduk. 

 

Gavin mengangkat Kinan dan membawanya ke kamar mereka. Sayup-sayup Kinan membuka matanya. Senyumnya terbit melihat wajah suaminya dari bawah. Ia meringsek kedalam dekapan Gavin. Dengan hati-hati Gavin meletakkan Kinan dan menyelimutinya. Saat hendak berbalik, Kinan menahan tangannya. 

 

"Aku yang harusnya bilang makasih karna masih sempat perhatiin kami di saat-saat waktu sibuk kamu. Walo sebenernya aku masih pengen manja-manjaan." ucap Kinan pelan. Gavin tersenyum kecil. Mengecup sekilas kening Kinan dan mengelus pipinya pelan. 

 

"Kalian memang tanggung jawab aku. Untuk manja-manjaan nya kan bisa nanti-nanti kalo kamu juga sengang. Maaf ya bikin waktu kamu terkuras abis ngurusin si kembar." Kinan mengeleng samar. 

 

"Mereka tanggung jawab kita berdua. Dan berhenti buat minta maaf terus. Dalam cinta tidak mengenal kata maaf dan terimakasih. Aku punya kamu juga memiliki mereka itu udah lebih dari kata bahagia kok. Dari awal.. Kamu buat aku itu anugerah loh." Gavin terkekeh. 

 

"Aku kalah kalo soal ngegombal. But, thanks for everything sweety. Aku bukan apa-apa tanpa kalian." balas Gavin tersenyum. Mata mereka saling menumbuk. Perlahan Gavin mendekatkan wajahnya, mencium sekilas bibir Kinan dan membisikkan kata-kata yang membuat Kinan tersipu. 

 

"Makin hari kamu makin manis aja. Jadi gak sabar mau manja-manjaan nya." mereka tertawa bersama. Gavin mencuri ciuman kilat di bibir Kinan dan berlalu menuju kamar mandi dengan berteriak. 

 

"Aku bahagia punya kalian. Makasih sayang. Jangan tidur dulu ya!" 

 

***

 

Bunyi ketukan jendela kamar membuat Nara beringsut duduk dari tidur rebahannya. Hidungnya mengernyit menerka siapa yang iseng malam-malam begini?

 

Perlahan Nara menyibak tirai yang menutupi jendela. Ia tersentak saat melihat Jovan berdiri di balik jendela kamar nya. Nara langsung memasang wajah tidak suka. Ia melengos sembari berdecih.

 

"Biang rusuh.." gumam nya pelan. Jovan memberi arahan untuk membuka jendela yang menjadi penghalang mereka. Nara menatapnya datar.

 

"Apa?!" Jovan berbicara tanpa mengeluarkan suara dan hanya menggerakkan mulutnya. Nara mengalah, ia sudah berjanji akan berusaha memahami Jovan untuk itu dia mau membuka jendela sesuai perintah Jovan.

 

Nara melangkah kan kakinya keluar. Ia sedikit mengernyih melihat pembatas antara balkon mereka. Satu kata di pikiran nya, 'Niat'. Nara Berdiri di pinggiran balkon kamar dengan melihat pemandangan malam dari tempatnya berdiri. Ya, kamar mereka memang bersebelahan, Jovan dengan mudah bisa melewati pembatas hanya dengan meloncati pagar balkon. 

 

Jovan turut melakukan hal yang sama. Ia sedikit melirik Nara yang tengah memejam kan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Jovan sedikit mengakui jika Nara memang selalu terlihat cantik bagaimana pun penampilannya. Ia tersenyum samar. 

 

"Gue minta maaf udah bikin lo gak nyaman." Seketika Nara membuka mata. Ia menoleh melihat Jovan yang masih diam melihat depan. 

 

"Sori?"

 

Jovan menoleh, mereka saling berhadapan. "Maaf udah bikin lo ngerasa gak nyaman sama sikap gue. Gue tau gue salah, tapi gak sepenuhnya salah karna gue cuma terbawa emosi lo." Nara mendengkus. Tadinya ia berfikir jika Jovan memang tulus meminta maaf padanya karena ia memang merasa bersalah. Tapi apa ini? Dia masih mengungkit hal yang lain?! 

 

"Sebenarnya lo niat gak sih, minta maaf?" 

 

"Niat kok," 

 

"Tapi kenapa masih bilang gak sepenuhnya salah karna terbawa emosi. Namanya salah ya udah salah aja, gak usah bawa hal yang lain." Jovan mengendik. 

 

"Seenggaknya gue udah mau minta maaf. Mau maafin atau enggak itu hak lo."

 

Mereka kembali diam. Hening. Kesunyian malam menjadi harmoni tersendiri untuk mereka. Ini tenang. Dan terasa damai. Bukan sepi yang menyiksa, melainkan sunyi yang saling melepas rasa.

 

"Dari sini gue mulai paham satu hal." Jovan menoleh.

 

"Oh ya?" Nara mengangguk. 

 

"Apa?"

 

"Cowok sombong dan keras kepala kayak lo juga bisa ngerasain yang namanya cemburu. Lucu sih, tapi lebih banyak bikin jengkelnya."

 

"Gue gak cemburu ya." Nara menahan senyum.

 

"Iya. Semerdeka lo aja maunya gimana."

 

"Gue beneran gak cemburu. Gue cuma gak suka lo ngelibatin orang lain. Pokoknya intinya gue gak cemburu."

 

Nara terkekeh. Entah kenapa Ia jadi teringat dengan kisah Gavin juga Kinan. Saat Kinan bilang tidak suka dan Gavin menurut tanpa mau mendebat. Karena baginya, Kinan bisa merasa cemburu saja sudah menjadi suatu Kebanggan untuknya.

 

Jovan berlalu meninggalkan Nara dengan mengerutu tidak jelas. Ia kembali memanjat pagar balkon untuk kembali kekamarnya, Nara sedikit meringis. Ingin sekali ia mengomei namun Nara tidak akan melakukannya. Jovan pasti akan besar kepala dan menganggap jika ia mengkhawatirkannya. Untuk itu Nara memilih diam. Jovan menutup jendela kamar. Nara melangkah masuk, saat hendak menutup jendela Jovan sedikit menyembulkan kepalanya di antara pintu.

 

"Ra.." pangillnya. Nara menoleh, "Hm?"

 

"Dengerin gue baik-baik ya. ." ucap Jovan menekankan. Nara mengerjap.

 

"Dengerin gue dulu." Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

Nara tersenyum tipis. "Gue udah maafin lo." Jovan berdecak. 

 

"Itu emang udah seharusnya." 

 

"Cih.."

 

"Sekarang gantian dengerin gue.." 

 

"Apa?"

 

"Gue beneran gak cemburu." setelah mengatakan itu pintu jendela tertutup sempurna. Nara mendengkus geli. 

 

"Padahal gue cuma becanda. Aneh." gumam Nara menutup jendela dengan senyum geli di bibirnya. 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11