Kamu tahu bedanya mata dengan bibir? 

~Bibir bisa berbohong tapi tidak dengan mata, ia tak pernah bisa bohong. 

 

 

***

 

Pagi ini Jovan berencana menemui Nara. Sedari kemarin dia mengabaikan pesan juga panggilan darinya. Sebenarnya Jovan hendak menemui Nara semalam, namun karena larangan dari sang oma akhirnya Jovan menurut dan pagi-pagi sekali ia sudah berdiri di depan apartemen Nara. Nihil. Nara sudah berangkat lima belas menit yang lalu. Kata Nina mamanya.

 

Akhirnya Jovan menyusul Nara di rumah sakit. Sesampainya disana, ia mengedarkan pandangan nya untuk mencari Nara. Cewek itu sulit sekali di temui padahal Jovan selalu tahu kemana arah cewek itu pergi.

 

Di pertengahan jalan, Jovan menabrak seseorang hingga sang empunya terjatuh. Jovan mengulurkan tangannya membantu.

 

"Lo gak papa 'kan?" gadis yang ia tabrak mendonggak. Iris mata mereka saling menumbuk, gadis itu berdeham lalu menyambut uluran Jovan. Ia menepuk pakaian rumah sakitnya yang sedikit kotor.

 

"Gue gak papa. Maaf, gue juga gak perhatiin jalan." Jovan mengangguk. Ia meneliti gadis di depannya. Pakaian rumah sakit juga wajah pucat pasinya. Jovan mengernyit.

 

"Lo sakit dan malah jalan - jalan disini bukan istirahat?" gadis itu menunduk. Memilin jarinya gelisah.

 

"Gue gak papa kok, cuma sakit biasa. Gue cuma bosen di kamar sendirian." Jovan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Keluarga lo?" gadis itu kembali menunduk dalam. Jovan masih setia memperhatikan gerak gerik gadis itu.

 

"Mereka lagi sibuk buat acara wisuda kakak gue. Ah, gue duluan Yah. Maaf sekali lagi." ucap gadis itu hendak pergi. Jovan menahan tangannya. Menariknya menuju taman rumah sakit. Gadis itu tidak menolak dan mengikuti kemana arah Jovan membawanya.

 

Mereka duduk bersebelahan. Sesaat tadi, Jovan sedikit melihat pancaran kekosongan dalam iris mata gadis itu. Sedikit banyak Jovan mengerti arti sendirian yang baik-baik saja. Untuk itu dia menjadi lebih peduli.

 

"Gue Jovan, lo?" ucap Jovan mengulurkan sebelah tangannya. Gadis itu menoleh, menatap Jovan dan tangannya bergantian. Ragu-ragu ia menyambut uluran tangan Jovan.

 

"Nevasha. Panggil aja Neva." Jovan mengangguk. Mereka kembali hening. Jovan sedikit melirik Neva dengan sudut matanya.

 

"Gue gak tau masalah lo, tapi ada satu hal yang gue ngerti dari lo." ucap Jovan membuat Neva menatapnya bingung.

 

"Maksudnya?"

 

"Lo bilang baik-baik aja, tapi enggak sama mata lo yang memancarkan kesedihan. Gue gak tau pasti, tapi gue ngerti lo pasti kesepian harus melewati rasa sakit ini sendirian. Bonyok lo mungkin lebih perhatian sama kakak lo yang lagi wisuda, tapi harusnya salah satu dari mereka tetap ada yang harus nemenin lo disini. " Nevasha tidak berkata-kata, matanya meredup mendengar kalimat Jovan yang seakan tahu kesedihannya. Ia menunduk dalam. 

 

Benar, Nevasha sendirian. Ia berteman sepi di kala melewati setiap rasa sakit tiap ia menjalani pengobatan. Nevasha tidak bisa menuntut lebih pada orangtuanya, dia cukup sadar diri jika keberadaan nya merepotkan. Berbeda dengan kakaknya yang mampu membuat orang tua mereka bangga. Neva sedari lama bahkan tidak di perbolehkan merasa lelah sedikit pun. Bahkan ia pun sudah pasrah jika Tuhan hendak memangilnya cepat. Nevasha sudah ikhlas daripada ia terus hidup dan menjadi beban untuk keluarganya.

 

Jovan menoleh, ia melihat Nevasha yang masih menunduk sedih. Perlahan tangannya mengelus sisi kepala Neva pelan.

 

"Gak ada seseorang yang mau jadi beban buat hidup orang lain apalagi keluarganya. Tapi kita cuma manusia biasa, gak ada yang bisa kita lakuin selain nerima keadaan. Kita gak punya hak untuk memilih, siapa yang menginginkan sakit? Enggak ada. Tapi balik lagi ke awal. Kita bukan siapa-siapa di dunia ini. Kita cuma harus lebih ikhlas jalanin semuanya. So, jangan pernah merasa putus asa. Kesedihan gak akan bikin lo bangkit menjadi kuat. " Nevasha mendonggak. Matanya berkabut tertutup embun yang mendobrak ingin di lepaskan. Perlahan airmatanya jatuh, Nevasha menutup wajah. Jovan tersenyum manis.

 

"Nangis gak akan bikin lo keliatan lemah kok, justru sebaliknya. Manusia terhebat pun pernah menangis, jadi gak usah malu." hibur Jovan menenangkan.

 

Jovan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia kembali melihat Nevasha yang sudah mulai reda. Jovan berdiri.

 

"Gue punya urusan lain, gak papa kan gue tinggal? Atau lo mau gue anter ke ruangan lo?" Nevasha mengusap wajahnya. Ia mengeleng dengan melihat Jovan yang sudah berdiri di depannya.

 

"Gak usah. Gue bisa balik sendiri kok. Makasih buat semuanya." jawab Nevasha tersenyum kecil. Jovan balas tersenyum simpul.

 

"Gue gak ngelakuin apapun. Kebetulan kita punya ruang kekosongan yang sama. Jadi sedikit banyak gue tau apa yang bisa bikin kita kembali nyaman. See you next time, Nevasha." ucap Jovan berlalu. Perlahan senyum tulus di wajah Nevasha terbit. Ia sedikit merasa lega ada seseorang yang mengerti kesepiannya. Bahkan mengajarkan arti mengikhlaskan keadaan.

 

"Gue berharap kita bisa ketemu lagi, Jovan." lrih Nevasha menatap punggung tegap itu menghilang.

 

Jovan memasukkan kedua tanganya dalam saku celana. Ia kembali mengecek nara di dalam ruangannya. Kosong. Nara masih belum kembali. Jovan berdecak. 

 

Sebenarnya dia kemana sih?!

 

Ia kembali melangkah kan kakinya mencari keberadaan Nara. Dari kejauhan, Jovan melihat Nara yang sedang berjalan dengan beberapa rekan sesama dokter menuju kearahnya. Senyumnya terbit. Padahal baru sehari mereka tidak bertemu, tapi mengapa rasanya sangat menyiksa seperti ini?

 

Mereka terhenti saat Jovan berdiri di hadapan mereka. Nara berdecak melihat Jovan yang menatapnya datar. Rekan-rekan kerjanya menunduk hormat, tapi tidak dengan Nara yang malah menatap malas ke arah Jovan.

 

"Kenapa dari kemaren gak bisa dihubungi? Hape lo gunanya buat apa sih?!" Nara mencebik.

 

"Kepo lo!" Jovan menatapnya tajam. Rea beserta dua dokter yang lain memilih untuk undur diri. Mereka tidak ingin mencampuri urusan para petinggi yang mereka segani disini. Nara mengangguk ramah saat mereka berpamitan. Jovan meliriknya sinis.

 

"Sama orang lain bisa seramah itu, tapi giliran sama gue galaknya ngalahin singa betina. Pilih kasih lo!" Nara balas meliriknya sinis.

 

"Orang ramah juga liat orangnya kalik. Kalo orangnya nyebelin bin ngeselin kayak lo, mana mungkin bisa di ramahin."

 

"Kok bandingkan orang. Lo gak tau arti perbedaan heh? Berbeda itu cara menikmati hidup sesuai keinginan, harusnya lo paham dong!"

 

"Kok nyolot!" balas Nara melotot. Jovan balas melototinya.

 

"Lo yang mulai duluan!" Nara mendelik.

 

"Lo yang dateng tiba-tiba terus marah-marah dan malah nuduh gue yang mulai? Heh! Mikir dulu kalo mau ngomong!"

 

"Gue gak akan nyolot kalo Lo gak ngabai in pesan ataupun telepon gue. Lo tau betapa gue nahan diri buat gak labrak lo dirumah? Kalo bukan karna oma, semalem udah gue pastiin gue ngelabrak lo." jawab Jovan kesal.

 

"Lagian ngapain sih lo ngerusuh pagi-pagi disini? Fine, gue emang sengaja matiin hape karna gak mau moment gue sama mama harus rusak karna lo. Lo kan rusuh terus!"

 

"Emang nya lo sibuk apa sampe gak mau di ganggu?! Ini rumah sakit gue, suka-suka gue kalo pun harus ngerusuh. Siapa yang berani Marah in gue?" Nara mendengkus.

 

"Kepo lo kek dora, nanya terus dari tadi! Jangan mentang mentang rumah sakit ini punya lo terus lo bisa sesukanya. Hargai mereka yang butuh istirahat dong. Dasar gak tau tempat."

 

Mereka saling melempar tatapan sinis.

 

"Nyesel gue udah khawatirin lo." Nara mencebik.

 

"Siapa juga yang nyuruh lo khawatir in gue. Gue baik-baik aja tuh, sehat walafiat."

 

"Kalo bukan tempat umum, udah gue cium lo!" Nara mendelik tajam.

 

"Berani, gue sunat gajah lo! Mau apa lo!!" Jovan menatap Nara mengancam.

 

"Gue cium sampe kehabisan napas lo! Liat aja ntar."

 

"Dan gue bener-bener bakal bikin lo kehilangan masa depan lo."

 

"Lo juga yang bakal nyesel karna lo calon istri gue." Nara bergidik.

 

"Amit-amit jibang! Asal lo tau ya, selimut tetangga banyak kok, ngapain harus repot!" ejek Nara menjulurkan lidahnya. Jovan mengeram.

 

"Gue kebiri lo kalo sampe berani! Awas aja!"

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3