Tidak salah jika berharap pada seseorang. Yang salah itu saat kamu berharap pada hati yang sudah memiliki cintanya. Namun masih bersikeras memaksakan cintamu. 

 

 

 

***

 

Jovan melirik mamanya sekilas. Sebenarnya ia malas menemani mamanya memilah baju seragam yang akan dikenakan pada acara pertunangan nya. Namun apa daya jika sang oma sudah kembali cerewet. Jovan menyayangi nya bahkan mengalahkan sayangnya pada sosok mamanya sendiri.

 

Jelas saja, karena sedari ia menginjak usia 15 tahun, Amel lah yang selalu menemani nya, merawatnya jikalau sang mama di haruskan menemani papanya bekerja.

 

"Kita udah disini sejam lebih loh ma, masih belum nemu yang cocok?" Diana mengeleng sebagai jawaban. Ia masih sibuk memilah di butik langganan nya. Diana melirik Jovan sekilas.

 

"Kamu kalo bosen jalan-jalan aja dulu. Mama masih lama kayak nya." Jovan menghela napas lelah.

 

Tak lama seorang wanita paruh baya menghampiri mereka. Ia terlihat menyapa Diana.

 

"Wah Diana, sudah lama kamu jarang kemari. Ada yang bisa di bantu?" Diana menoleh ke arah Tina. Teman arisan sekaligus pemilik butik langganan nya. Diana tersenyum simpul.

 

"Aku mencari baju seragam dengan suami. Apa kamu punya model terbaru?"

 

"Kebetulan sekali, aku baru saja menyelesaikan rancangan terbaruku, kebetulan juga baju couple. Kamu ingin melihatnya?" Diana tersenyum senang.

 

"Tentu saja."

 

Tina melirik Jovan yang masih setia memperhatikan sang mama. Tina menyengol lengannya.

 

"Tumben si ganteng mau nemenin kamu. Biasanya banyak alasan kalo di ajak kesini." Diana terkekeh pelan.

 

"Ini juga terpaksa. Kalo bukan karna acara dia, dia juga gak akan mau nemenin aku kesini." kekeh Diana menjelaskan.

 

"Jadi undangan kemarin benar? Kamu sudah memiliki calon menantu, wah sayang sekali. Padahal niatnya aku ingin mengenalkan anakku dengan anakmu, eh taunya udah taken." jawab Tina ikut tertawa pelan. Diana ikut tertawa.

 

"Mami, Elena kok ditinggal sih?" rajuk seseorang memeluk Tina dari belakang. Tina tersenyum simpul. Menarik tangan anaknya untuk berdiri di sampingnya.

 

"Salam dulu Elen, kenalin.. Dia tante Diana yang sering mami ceritain ke kamu ituloh, inget kan?" gadis berambut pirang yang diketahui namanya Elena menoleh cangung. Ia tersenyum kecil dengan mengulurkan sebelah tangannya.

 

"Elena tante. Salam kenal." ucap Elena memperkenalkan diri. Diana ikut tersenyum.

 

"Diana, temen mami kamu. Ah ya, kenalan juga sama anak tante. Sebentar ya." Diana melihat Jovan yang duduk tak jauh dari mereka. Diana memangil nya.

 

"Van.. Sini dulu bentar." panggil Diana. Jovan mendonggak. Ia berjalan malas mendekati sang mama.

 

"Kenapa ma?" tanya Jovan malas. Elena sedari tadi sudah mencuri pandang kearah Jovan yang bahkan sama sekali tidak meliriknya. Diana berdeham.

 

"Kenalan dulu sama anaknya tante Tina. Biar nambah temen gitu." ucap Diana melirik Elena. Jovan mengalihkan pandangannya pada mereka. Ia mengulurkan sebelah tangannya.

 

"Jovan." Elena menyambutnya dengan senyum simpul di bibirnya.

 

"Elena. Salam kenal ya.. " Jovan tidak menjawab. Ia hanya berdeham menanggapi. Sedari tadi Nara tidak bisa dihubungi. Memangnya anak itu sibuk apa sih sampai nomornya selalu sibuk. Membuat khawatir saja.

 

Diana melirik Elena yang sedari tadi memperhatikan Jovan. Diana berdeham menyengol lengan Jovan pelan.

 

"Kamu katanya bosen. Jalan-jalan dulu gih, biar di temenin Elena sebentar. Elena gak keberatan kan?" Elena mengeleng kan kepala.

 

"Sama sekali enggak tante. Kebetulan Elen juga lagi bosen disini." jawab Elena tersenyum manis. Jovan berdecih masih dengan fokus pada ponselnya.

 

"Munafik." gumam Jovan pelan. Diana mengernyit. 

 

"Ngomong apa kamu?" Jovan mengeleng. 

 

"Ya udah. Jadi jalan gak nih,?" jawab Jovan malas. Elena tersenyum manis menatap Jovan. 

 

"Jadi dong. Ayo." ajak Elena mengiring Jovan keluar butik. 

 

Di lain tempat. Nara masih sibuk dengan acara membuat kue dengan sang mama. Damar sedang pergi untuk mengecek persiapan acara mereka. Nina beralih melihat Nara seksama. 

 

"Cie.. Yang bentar lagi jadi istri orang. Kamu harus sering-sering belajar masak Ra, biar bisa nyenengin mertua nantinya." Nara mendengkus tidak suka. 

 

"Tunanangan aja belum terlaksana. Ngapain udah sebut-sebut calon istri orang. Gak asik mama mah," rajuknya cemberut. Nina terkekeh. 

 

"Abis tunangan kan pasti ujung-ujungnya nikah Ra, jadi harus bisa lebih Membiasakan diri." 

 

Nara membuka oven dan mulai menyiapkan kuenya. Nina sudah menyiapkan perlengkapan untuk menghias kue buatan mereka. 

 

"Nara gak mau berharap banyak ma, biarin aja semua berjalan semestinya." Nina mengerutkan dahi. 

 

"Bentar, maksud kamu itu gimana? Kalian udah ambil keputusan untuk tunangan pasti udah ada pandangan buat masa depan dong?" Nara memejam kan matanya sesaat. Pandangan masa depan heh? Andai mama tahu kalo Nara terima keputusan konyol ini dengan dasar saling ingin menjatuhkan pasti mama gak akan bilang kayak gitu. Batinnya. 

 

"Heh! Malah bengong, mama lagi nanya sama kamu soal kalian loh ini." Nara tersenyum kecil. 

 

"Maksud Nara itu gini ma, semua hal yang udah direncanakan dengan matang juga bisa berantakan di tengah jalan. Untuk itu, jangan terlalu berharap sama siapapun. Di dunia ini cuma ada dua kemungkinan." Jedanya menatap Nina serius. "Kalo gak berjalan dengan baik ya pasti jadi pengalaman. Dan Kalau pun berjalan dengan semestinya ya bakal jadi kenangan juga harapan baru. Semua gak ada yang tau takdir Tuhan ma, Nara gak mau menggantungkan kepercayaan sama orang lain. Cukup sekali Nara terluka dan sebisa mungkin, Nara gak akan mengulang hal yang sama. "lanjut Nara tersenyum simpul. 

 

Ya, Nara tidak akan berharap pada siapapun. Biarlah segalanya berjalan semestinya dan terjadi seperti seharusnya. Nara tidak akan memaksa juga tidak akan menolak takdir Tuhan. Hanya saja, dia akan lebih berhati-hati untuk menjaga hatinya yang pernah patah. 

 

Nina menatap putrinya kagum. 

 

"Wah, pengalaman hebat apa yang udah buat anak mama menjadi dewasa seperti ini. Apapun pengalaman itu, mama harap gak akan menghambat hidup kamu sayang. Percaya sama takdir Tuhan. Ia tidak akan salah memberikan jodoh terbaik untuk setiap hamba nya. Kamu hanya perlu sedikit mempercayai itu. " Nara Mengangguk dengan tersenyum kecil. 

 

"Nara tau, untuk itu.. Nara akan lebih hati-hati jika bersangkutan dengan hati. Nara gak mau terpuruk oleh keadaan ma." Nina tersenyum simpul. Mengelus sisi kepala anaknya sayang.

 

"Anak mama udah bener-bener dewasa sekarang. Mama jadi gak Perlu khawatir buat nyerahin kamu untuk orang lain. Jadilah calon istri yang baik untuk suami dan mertua mu kelak ya." Nara mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

 

"Pasti mama. Nara sayang mama." jawab Nara memeluk Nina erat. Nina mengelusi punggung Nara pelan.

 

"Masih suka cengeng ya?" canda nya. Nara mendengkus geli.

 

"Dikit."

 

**

 

Elena masih mencuri pandang kearah Jovan yang sama sekali tidak menganggapnya ada sedari tadi. Meski begitu Jovan menyadari jika Elena terus saja melihatnya dengan pandangan kagum. Jovan tidak peduli itu. Yang ia pedulikan hanyalah kenapa ponsel Nara masih tidak bisa di hubungi. Apa Jovan harus ke apartemen nya untuk mengecek keadaan Nara dengan mata kepalanya sendiri huh?

 

"Lo mahasiswa FHU kan?" Jovan menoleh kesamping.

 

"Iya." jawab Jovan singkat. Mereka berada di taman dekat butik. Jovan hanya mengikuti kemana Elena membawanya karena Jovan tidak paham daerah sini.

 

"Gue juga mahasiswi FHU loh, jurusan sastra."

 

Gak nanya.

 

"Oh."

 

"Gue sering liat kalian bertiga kalo ngumpul bareng, dulu ngefans banget sama kalian. Mau nyapa malu, eh gak taunya lo anak temen mami gue." Jovan hanya berdeham menanggapi. Ia kembali mengecek ponselnya. Nihil. Tidak ada tanda-tanda Nara membaca pesannya. Sebenarnya dia kemana?

 

"Lo cuek banget ya." ucap Elena pelan. Jovan meliriknya sekilas.

 

"Gue cuma kurang nyaman sama orang asing." jleb. Sedari tadi hanya menjawab singkat, tapi sekalinya menjawab panjang kenapa kalimat menyakitkan?

 

Mereka kembali diam. Hening. Elena menatap Jovan serius.

 

"Gue.. Suka sama lo Jovan. Udah lama gue suka sama lo. Tapi gue gak akan maksa lo kok, gue cuma mau ngutarain isi hati gue aja. " Aku Elena pada Jovan. Jovan tidak terkejut. Ia sudah tahu sedari awal. Untuk itu Jovan mendiamkannya.

 

"Tolong hentiin perasaan lo sama gue." Elena mendonggak.

 

"Kenapa?"

 

Jovan menatapnya datar. "Hati gue udah jadi milik orang. Dan tentunya itu bukan lo. Jadi sorry." ucap Jovan hendak pergi. Elena menahan tangannya.

 

"Siapa? Siapa orang yang udah milikin hati lo?" Jovan meliriknya sinis. Menghempaskan tangan Elena dari lengannya.

 

"Kapan-kapan gue kenalin, tapi gak sekarang. Calon tunangan gue lagi sibuk buat persiapan pertunangan gue sama dia. Tapi tenang aja, kalo ada waktu lain kali gue kenalin." jawab Jovan datar. Kemudian berlalu meninggalkan Elena yang terdiam di tempatnya.

 

Calon tunangan? 

 

Persiapan pertunangan?

 

"Bahkan gue baru aja persiapin diri buat memulai, kenapa lo dengan mudahnya matahin harapan gue Jovan Arion." lirih Elena menatap punggung tegap itu menjauh.

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8