Aku tidak perlu mengatakan padamu betapa besar perasaan yang aku miliki. Satu yang perlu kamu tahu, aku hanya akan membuktikan pada dunia. Jika kamulah Wanita ku, the one and only. 

 

 

***

 

Terlihat Nara mengerutu saat ban mobilnya kempes di pinggir jalan. Ia terlihat beberapa kali mengecek jam pada pergelangan tangannya. Hari ini orang tuanya datang kejakarta. Dan Nara hendak menjemput nya, but.. Kenapa mobilnya sangat tidak tahu kondisi seperti ini.

 

Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mobilnya. Seorang cowok tampan menghampiri Nara.

 

"Ada yang bisa di bantu?" Nara yang sedang mengetikan pesan untuk orang tuanya bahwa ia akan terlambat terhenti. Ia mendonggak melihat cowok tampan berdiri di depannya.

 

"Mph.. Ban gue kempes, gue gak tau cara gantinya." jawab Nara kaku. Cowok itu mengangguk mengerti.

 

"Bawa ban serep?" Nara mengangguk, berjalan ke arah bagasi mobilnya. Cowok yang tidak ia ketahui namanya mengambil alih dan mulai mengganti ban nya yang kempes. Nara masih setia memperhatikan cowok itu. Alis tebal, hidung mancung dan punya lesung pipi. Manis. Pikirnya.

 

Tak lama cowok itu berdiri. Nara mengaruk kepala tidak gatal. Mengambil dua lembar seratus ribuan dari tasnya. 

 

"Makasih buat bantuannya. Ah ya, buat lo, gue cuma punya segini. Gapapa ya.." cowok itu tersenyum geli. Nara mengerutkan dahi.

 

"Gue ikhlas kok. Simpen lagi gih, oh ya, punya tissue?" Nara melihat telapak tangan cowok itu yang kotor. Nara segera mengambil tissue dari dalam mobil dan memberikannya pada cowok itu.

 

"Makasih." ucap cowok itu. Nara tersenyum tipis.

 

"Gue yang harusnya bilang makasih. Gue gak tau kalo gak ada lo." cowok itu tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat jelas. Nara mengerjap.

 

Nikmat mana lagi yang engkau dustakan.. Batinnya.

 

Perlahan cowok itu mengulurkan sebelah tangannya.

 

"Nama gue Alan. Lo?" Nara balas menjabat tangannya.

 

"Nara." Cowok yang ia ketahui namanya Alan itu mengangguk. Ia terlihat melihat Nara dengan seksama. Nara yang di tatap intens seperti itu merasa sedikit gugup.

 

"Lo ngapain ngeliat gue segitu nya, ada yang salah?" Alan mengeleng.

 

"Ah sori, kalo gue bikin lo gak nyaman. Cuma, gue inget-inget gue pernah liat lo." Nara menatapnya tertarik.

 

"Oh ya, dimana?"

 

Alan terlihat berfikir. Ia menjentikan jarinya.

 

"Nah, lo temen nya Bayu kan? Anggota trio Angels meskipun sekarang Kinan udah gak ngampus lagi." Nara mengangguk. Ia masih tidak mengingat Alan meski Alan tahu jika ia teman Bayu.

 

"Gue tau lo pasti gak inget, soalnya gue juga cuma sering liat lo dari jauh." Nara membulatkan bibirnya. 

 

"Bye the way, lo mau kemana rapi banget?" Seketika Nara menepuk jidat. Ia lupa menjemput kedua orang tuanya. Nara melihat jam yang melingkar di tanggannya.

 

"Aduh, sori banget ya gue mesti duluan. But, thanks buat bantuannya. Sori banget gue lagi buru-buru." ucap Nara meminta maaf. Alan mengangguk mengerti. Sebelum Nara berbalik hendak pergi, Alan memanggilnya.

 

"Ra.." Nara menaikkan sebelah alisnya.

 

"Boleh gue minta nomor lo? Buat ngobrol-ngobrol aja sih," ucap Alan menyodorkan ponselnya. Nara tersenyum tipis.

 

"Sure." jawab Nara mengetikan nomor ponselnya. Kembali ia menyerahkan pada Alan.

 

"Sekali lagi makasih ya, gue duluan. Dah.. " Alan tersenyum kecil melihat kepergian Nara. 

 

Menarik. Batinnya.

 

Di tengah perjalanan ponsel Nara berbunyi. Ia mengangkat nya sembari menyetir.

 

"Hallo Ma, aduh Nara masih di jalan nih, tadi ada masalah sama mobil." ucap Nara tanpa mendengar ucapan Nina sang mama.

 

"Kamu puter balik pulang aja. Mama udah sampai di apartemen kamu." Nara melonggo. Kok bisa?

 

"Ma.. Mama nggak lagi ngeprank Nara kan? Mama aja gak tau apartemen Nara, bisa sampe tau dari mana coba?" Nina terkekeh pelan.

 

"Kan udah ada calon mantu. Hal kayak gini udah gak sulit. Kamu buruan pulang, nanti mama ceritain detailnya." jawab Nina memutuskan panggilan sepihak. Nara mengerutu. 

 

Calon mantu heh?

 

"Si lucifer tau darimana coba kalo mama kejakarta hari ini. Tuh anak emang susah di tebak sih,"

 

**

 

Nara membuka pintu kasar. Berjalan tergesa melewati Jovan yang baru saja mengambil minum dari dapur. Jovan mengeleng kan kepala. Nina melotot kaget melihat Nara datang langsung memeluknya erat. Ia tersenyum tipis. 

 

Kalau tadi Nara melihatnya, sudah di pastikan ia akan lebih dulu mengomel di banding melepas rindu. 

 

"Hei! Kamu ini, dateng-dateng ngagetin aja. Salam dulu gitu." Nara mengeleng dalam dekapan Nina.

 

"Kangen mama. Miss you much.." jawab Nara mengecup kedua pipi sang mama. Nina tersenyum kecil. Mengelus puncak kepala Anaknya sayang.

 

"Mama juga kangen Nara. Kamu baik-baik aja kan selama disini?" Nara mendonggak masih memeluk Nina. Ia mengangguk lalu mengeleng. Nina yang gemas mencubit pipi anaknya.

 

"Ngangguk terus geleng, yang bener yang mana coba? Labil dasar." Nara manyun. Meletakkan kepalanya kepundak sang mama.

 

"Pokoknya kangen mama.. Udah titik gak pake koma." Nina terkekeh geli melihat wajah Nara memberengut.

 

"Cuma sama mama doang ya? Sama papa enggak, Hm?" Nara mengalihkan pandangannya. Ia meringis melihat sang papa bersedekap duduk di sofa sebrang. Ia lalu berdiri dan langsung berganti memeluk sang papa.

 

"Kangen papa juga dong. Kan kalian sepaket." jawab Nara tersenyum manis. Damar mengelusi rambut Nara sayang.

 

"Sejak kapan anak papa udah gede begini? kayaknya kemaren-kemaren masih minta uang jajan kalo mau sekolah." ucap Damar bercanda. Nara terkekeh pelan.

 

"Nara udah gede dong. Udah bisa cari duit sendiri lagi. Papa harus bangga pokoknya. Harus." ucap Nara semangat. Damar tertawa pelan. Ia mengangguk.

 

"Iya udah gede, buktinya udah dilamar orang. Mau jadi calon istri lagi. Peri kecilnya papa udah dewasa ya ma?" Nina tersenyum mengangguk.

 

"Jangan diingetin dong pa. Bikin mood Nara anjlok aja." gerutu Nara sebal.

 

Damar mengernyit. Sedikit melirik Jovan yang tersenyum tipis melihat interaksi mereka. "Kalian lagi berantem Hm? Lagian, Jovan anaknya baik loh Ra, sopan juga. Kayaknya juga bertanggung jawab dan kelihatannya tulus sama kamu. Jangan sering berantem sama dia ya, gak baik. Belajar lah jadi calon istri yang baik buat nanti." Nara semakin memberengut. 

 

Baik? 

 

sopan? 

 

bertanggung jawab? 

 

tulus? Hell.. Papa nya ini Rabun atau bagaimana?

 

"Orang nyebelin plus ngeselin kayak dia di bilang baik pa? Papa gak salah liat kan ya?"

 

"Nyebelin ya? Ngeselin juga? Hm, gue gak marah lo nganggep gue gitu, baik 'kan gue?" ucap Jovan berdiri di belakangnya. Nara berbalik kaget.

 

"Lo! Dari kapan disitu? Ngapain juga kesini?!" Jovan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Gue udah disini dari tadi. Dan ya, gue yang jemput calon mertua gue, ada yang salah?" Nara mendelik kesal.

 

"Kenapa bisa lo tau mama sama papa sampe jakarta hari ini? Lo gak nguntit gue kan?!" tanya Nara menuduh. Jovan terkekeh kecil.

 

"Nguntit lo? Gak ada kerjaan banget." jawab Jovan santai. Nara memicing kan mata.

 

"Bohong! Terus lo tau dari mana?" 

 

"Tebak aja." 

 

"Jovan!" pekik Nara kesal. Jovan menahan tawa. 

 

"Apa sayang?" jawabnya duduk di sebelah Nina. Nara mendengkus. 

 

"Jawab gue, lo tau dari mana? Bahkan gue gak ada cerita sama Bayu dkk. Tapi lo.." Jovan menatapnya lurus. Melirik calon mertuanya sekilas.

 

"Gak ada yang gak gue tau dari lo Nara Sidzkia. Semuanya. Everything about you, it's no secret for me. Even about the design of the engagement dress that Aqila made specifically for you, it's already in your room now. Do I still look annoying to you?" tanya Jovan mengulum senyum. Nara terpengarah. Desain Aqila udah ada dikamar nya? Yang benar saja!

 

Untuk memastikan kebenaran ucapan Jovan, Nara berlalu menuju kamarnya. Hanya sekedar memastikan jika Jovan tidak mengerjainya. Cowok macam dia kan tidak bisa di percaya.

 

Setelah memasuki kamarnya, Nara menutup mulut. Ia terlihat meneliti dan menemukan sebuah kertas yang tersalip di badan gaun. Ia mengambilnya dan mulai membacanya. 

 

'Sebenarnya gue gak mau berbagi, but, gue lebih gak suka liat muka cemberut lo di hari pertunangan kita. Satu fakta yang perlu lo tahu, This dress is beautiful. But in my opinion, it's more your favor.' 

 

Nara mengulum bibir bawahnya. Menangkup wajahnya yang terasa panas. 

 

'Jantung gue! Jovan sialan!!' 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15