Banyak dari mereka tidak secara langsung menunjukkan keseriusan nya, tapi bisakah kalian melihat usaha di balik semua rencananya? 

No! Mereka yang menyayangi, akan mendekap dengan caranya sendiri. Meski terkadang harus terlihat jahat menurut mereka. 

 

***

 

Nara melihat langit-langit kamarnya. Ini sudah dua hari ia hanya berdiam diri di apartemen nya. Kakinya yang kesleo sudah sembuh dari semalam. Memorynya mengulang kesepakatan bodoh yang ia setuji dua hari lalu. Mengapa ia bisa bodoh dan bertindak gegabah dengan menerima pinangan keluarga Arion? Benar-benar celaka. Nara yakin hidupnya tidak akan bisa tenang apalagi damai seperti Sebelum--sebelumnya.

 

But, Nara harus apa? Nasi sudah menjadi bubur. Upacara pertunangan mereka bahkan akan diadakan besar-besaran di sebuah hotel Ternama milik Arion. Well, Nara benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Menyesalpun tidak ada gunanya sekarang.

 

Nara juga sedikit terkejut mendengar telepon dari keluarga besarnya di bandung. Orangtua nya memberi restu atas pilihan yang Nara ambil. Padahal, sebelumnya Nara bahkan kalang kabut memikirkan bagaimana caranya ia memberi tahu keluarganya. Tapi apa yang ia dengar benar-benar membuatnya tidak habis pikir. Keluarga Arion tidak pernah main-main dengan perkataan nya. Mereka bahkan bertindak jauh dan sudah menyiapkan segalanya dengan matang. Nara hanya bisa pasrah merutuki kesepakatan bodoh yang ia terima.

 

Tak lama ia melihat jam di ponselnya. Ia ada urusan dengan salah satu dosen nya di kampus. Disinilah ia sekarang. Nara sampai di kampusnya untuk mengurusi beberapa hal. Aqila terlihat melambaikan tangan saat melihat kedatangannya.

 

"Mau ngurus proposal tahun lalu ya?" Nara mengangguk. Aqila langsung mengandeng tangannya menyusuri lorong kampus. Seperti biasa, Aqila akan cerewet jika sudah bertemu dengan salah satu sahabatnya.

 

"Gue laper. temenin makan dulu ya, sekalian nunggu sir Jimmy kelar sama kelasnya." Nara terlihat menimang. Aqila mencebik, menarik tanganya menuju warung mba siti

 

"Kelamaan, keburu mati kelaparan gue." ucap Aqila mengerutu. Nara terkekeh mengapit kepala Aqila gemas.

 

"Dasar gak sabaran, tumbenan ampe kelaparan gini, ngapain aja lo dari pagi?" Aqila nyengir.

 

"Ngepoin si papi, tau gak lo_"

 

"Enggak. Gue gak tau apa-apa." potong nara cepat. Aqila mendelik.

 

"Ih! Seriusan ini gue, jangan potong omongan gue, si papi ada gebetan baru loh, manis, cantik juga tapi ya gitu.." 

 

Mereka sampai di warung mba siti. Mereka duduk berhadapan.

 

"Ya gitu gimana?" tanya Nara tertarik. 

 

"Agak gak normal kayaknya." ucap Aqila pelan. Nara mengernyit, ia tidak tahu hal ini. Bayu tidak ada bercerita dengannya meski mereka masih sering kali bertukar cerita. 

 

"Mau pesen apa lo?" 

 

"Es teh manis aja. Gue masih kenyang." Aqila mengangguk. Ia memangil mba siti, memesan bakso dan dua es teh manis.

 

Nara kembali menatap Aqila serius. Tampak penasaran.

 

"Gak normal kayak gimana maksud lo? Ngomong jangan setengah-setengah pe'a." Aqila menghadap Nara serius. Ia menyuruh Nara mendekat.

 

"Dari yang gue tau, dia Takut di deketin laki-laki, tapi parahnya.. Si papi malah tertarik sama dia, kan aneh aja gitu."

 

Nara mengernyit, "Arrhenphobia, maksud lo?" Aqila mengangguk.

 

"Ho'oh."

 

Mereka kembali diam. Nara terlihat penasaran siapa cewek yang sudah bisa membuat seorang Bayu narenda tertarik. Karena sejauh ini, Bayu sering kali menolak banyak cewek yang mendekatinya. Alasannya simple, karena ia merasa memiliki tanggung jawab untuk melindungi trio angel termasuk dirinya. Untuk hal ini, Nara sedikit merasa terharu untuk itu. Bayu sangat bertanggung jawab. 

 

Decit kursi di sebelah Nara membuat mereka mengalihkan atensi pada si pembuat kaget. Nara meliriknya sinis. 

 

"Eh ada Jovan, tumben sendirian?" Jovan balas menatap Aqila. 

 

"Siapa yang lo tanyain, Gavin atau Reza?" Aqila cemberut. 

 

"Bukan gitu, kan biasanya kalian sering barengan. Lagian gue gak nanyain mereka kok." Jovan tersenyum kecil. 

 

"Bercanda." Aqila semakin manyun. Ia melihat Jovan tidak suka. 

 

"Pergi lo, ngapain juga kesini, bikin gue kesel aja." Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Gue cuma mau ketemu calon tunangan gue, ada masalah?" Aqila mengernyit. 

 

"Calon tunangan?" Beonya. Jovan mengangguk santai. Ia mengalihkan atensi pada Nara. 

 

"Lo belom kasih tau mereka, Bee?" Nara menatap Jovan kesal. Sejak mereka menerima kesepakatan bersama, Jovan terus saja memangilnya Bee, entah apa maksudnya? 

 

"Belom. Dan Yah, berhenti panggil gue Bee, lo nyamain gue sama lebah heh?! "

 

"Lo kan emang kayak lebah, suka gerutu gak jelas." Nara mencubit lengannya membuat sang empunya mengaduh. 

 

"Minta di sambit emang sih, lo! Enyah sana!" Jovan Mengusap lengannya. Cubitan Nara memang tidak keras, tapi cukup bisa membuat Jovan kapok dengan cubitan mautnya. Kecil tapi berasa. 

 

"Jangan kasar-kasar sama calon tunangan. Gak baik." 

 

Aqila melihat mereka bergantian. 

 

"Tunggu-tunggu, maksud lo.. Calon tunangan lo itu Nara?" tanya Aqila terkejut. Jovan mengangguk polos. 

 

"Iya. Acara pertunangan kita bahkan tinggal empat hari lagi." Aqila semakin terkejut. Ia melihat Nara menuntut penjelasan. 

 

"Ra.. Apa maksudnya ini Hm?" Nara mendesah lelah. Menatap Aqila enggan. 

 

"Gue bisa jelasin nanti sepulang kuliah. Kalian ke apartemen gue aja. Sekalian ajak Bayu." Aqila masih tidak terima. Nara lebih dulu menyela saat Aqila hendak protes. 

 

"Ikutin kata gue kalo kalian mau tau jelasnya, kalo gak gue juga gak masalah." Aqila menghembuskan napas pasrah. 

 

"Oke. Gue tunggu penjelasan lo Nara Sidzkia." 

 

Nara tahu setelah ini ia akan mendapat amukan dari semua sahabat nya. Tapi apa boleh buat, sedari kemarin dia bahkan belum menemukan cara untuk memberi tahu para sahabatnya. Bahkan orang tuanya tahu pun bukan dari Nara sendiri, melainkan Hanson Arion yang sudah meluangkan waktu untuk meminang Nara secara resmi pada orang tua nya di bandung. Sangat tidak terduga. 

 

**

 

Seperti yang dikatakan Nara tadi. Kini mereka bertiga terlihat memasuki kawasan apartemen Nara. Bayu sedari tadi sudah gatal ingin menanyakan perihal kabar mengejutkan yang ia dengar. Sesampainya di depan pintu, mereka di kejutkan dengan kehadiran seseorang dengan dua anak kecil di samping kanan-kirinya. 

 

"Gue hampir dobrak pintu lo kalo lima menit dari sekarang lo gak kunjung dateng." ucap Kinan menatap Nara tajam. Yang di tatap cuek-cuek bebek dengan menghampiri kedua ponakan nya. Nara meraih salah satu anak Kinan dan mengendongnya. Begitupula dengan Bayu, ia mengambil mereka dan menciuminya gemas. 

 

"Hay kids.. Gimana kabar kalian, astaga.. Kalian makin gembul ih.. Lucunya." ucap Nara mencium Kayla. Aqila berebut baby Nathan Dengan Bayu yang tidak mau mengalah. Kinan menatap mereka jengah. 

 

"Berhenti sekarang. Gue kesini bukan tanpa maksud Nara Sidzkia, bisa lo jelasin maksud nya ini?" lerai Kinan menunjukkan sebuah undangan berwarna maroon. Mereka saling melirik. Bayu menatap Kinan sekilas. 

 

"Maksud kita kesini juga mau tanya mengenai itu sama dia. So, ayo kita masuk dulu biar anak lo bisa maen di dalem." mereka mengangguk setuju. Nara membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Ia melihat punggung para sahabatnya menjauh. Ia menutup mata sesaat. 

 

"Gue berasa kayak kriminal di introgasi ampe segininya. Astaga.." gumamnya lirih sebelum menyeret kakinya kearah mereka yang sudah duduk manis menunggu penjelasannya. 

 

Kinan memberi beberapa mainan untuk kedua anaknya. Sementara ia terus saja menatap Nara tajam. Nara duduk di hadapan mereka dan mulai menceritakan sebenarnya. Expresi mereka berubah-ubah. 

 

"Gue bego waktu itu. Karna merasa gak terima akhirnya gue nyetujuin kesempatan konyol sama Opa nya Jovan, jadi sekarang gue bisa apa?" 

 

Kinan menatapnya datar. "Sedari awal gue udah bisa nebak kalo Jovan punya perasaan sama lo, tapi gue gak pernah mikir kalo keluarga nya bakal berbuat sejauh itu untuk cucunya." 

 

Nara mengerutkan dahi, Jovan memiliki perasaan padanya heh? 

 

Konyol! Jovan bahkan sering menghinanya bahkan Nara terpaksa menerima usulan konyol Hans karena Jovan merasa sombong dengan mengatakan tidak akan tertarik pada wanita bar-bar macam dia. 

 

"Gue rasa lo salah paham, Jovan.. Dia mana mungkin punya perasaan sama gue, sedari lama lagi, mustahil." mereka semua menatap Nara datar. Meski Jovan sering membuatnya kesal, namun mereka bisa melihat ketulusan seorang Jovan Arion pada Nara. 

 

Sejak awal, Jovan memang sudah menjatuhkan hati padanya. Tapi entah dari mana Nara selalu menganggap bahwa Jovan sosok menyebalkan yang selalu merecokinya. 

 

Well, sebenarnya Nara tidak salah juga. Karena sedari pertemuan mereka, Jovan memang tidak pernah menunjukkan ketertarikan nya dan bersikap terbalik pada Nara. Ia sering mendebatnya dan membuat Nara kesal. Tapi mereka tahu, bahwa itu semua hanyalah cara Jovan menarik perhatian Nara. Karena Jovan masih terbilang polos mengenai mengungkapkan isi hati pada seorang perempuan. 

 

"Terserah mau percaya atau enggak. Yang jelas jangan ngambil tindakan gegabah kayak gini lagi. Lo tau sendiri kalo sekali lo terlibat sama keluarga Arion, mereka gak akan ngelepas lo dengan mudah. Mereka berkuasa Ra, dari dulu gue emang setuju lo sama dia, tapi kalo Lo nerima pertunangan ini dengan terpaksa, apa lo juga bakal bahagia? " tanya Kinan lembut. 

 

Nara tertunduk. Ia tidak tahu jawabannya. Hanya saja, terkadang Jovan memang menjadi salah satu orang yang aman menurutnya, namun di sisi lain, Nara masih tidak memiliki kepercayaan pada kaum mereka. Lalu Nara harus bagaimana?

 

"Empat hari lagi ya? Gue usahain dateng buat lo, tapi setelah ini.. Kalo Lo merasa gak bahagia, tolong hentiin ini semua. Gue gak mau lo menderita sama pilihan ego lo." ucap Kinan menghampirinya lalu memeluknya erat. Nara mengangguk pelan dalam dekapan Kinan.

 

Aqila menatap mereka seksama.

 

"Kita semua tau kalo Jovan emang gak pernah main cewek, tapi kalian juga gak lupa kan, Jovan udah terkenal sebagai pangeran php seantero kampus. Yakin kalian mau masrahin kepercayaan sama cowok macam dia?" 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8