Sering kali manusia merasa tinggi dengan kekuasaan dan kepercayaan nya. Hal itu sering membuat mereka lupa diri bahwa Maha yang memberi rasa bisa kapan saja membalikkan hati mereka. 

 

 

***

 

 

Audy berdiam diri di atas balkon kampus. Ini sudah dua minggu ia menjalani harinya sebagai mahasiswi. Meski ia belum terbiasa dan cenderung menutup diri. Segala aktivitas yang ia lakukan masih di anggap normal oleh teman sekelasnya, karena dari mereka menghormati sosok Kakaknya yang menjadi tameng utama Audy selama kuliah.

 

Ia terlihat mencatat sesuatu di sebuah buku kecil di tangannya. Pandangannya silih berganti sesuai mood tulisan yang ia muat di dalam bukunya. Sesekali ia mengigiti ujung pulpen nya.

 

"Aku harus lebih bisa terbiasa kayaknya.." gumamnya memainkan pulpen di jarinya. Ia tersentak kaget saat suara berat berbisik tepat di belakang nya.

 

"Elo emang harus terbiasa dan mulai membuka diri."

 

Audy langsung berdiri, mundur dua langkah dari hadapan cowok yang membuatnya kaget. Ia menatap cowok itu takut-takut.

 

"Aku, aku.. emang udah membuka diri kok, hampir terbiasa juga." jawab Audy pelan. Bayu mengangguk-anggukan kepalanya. Ia memasukkan kedua tanggannya dalam saku celana. Menatap gadis didepannya dengan pandangan lembut.

 

Saat Bayu hendak melangkah maju, Audy terlebih dahulu memundurkan langkah kembali. Bayu kembali diam.

 

"Ah, sori. Gue suka lupa kalo lo takut sama laki-laki. Padahal lo gemesin tau, bikin gue pengen meluk lo." Audy berjingkat jijik. Ia balas menatap Bayu tidak suka.

 

"Jangan berani apalagi coba-coba deketin aku, liat kamu dari jarak lima meter gini aja udah bikin aku jijik apalagi kalo kamu meluk aku, aku.. Mungkin bakal mati ketakutan." Bayu terkekeh pelan. Ia tidak merasa tersinggung ataupun kesal dengan perkataan Audy padanya. Semua yang dikatakan Audy hanyalah pertahanan dirinya untuk menghindari setiap orang yang ingin mencoba berdekatan dengannya. Dan Bayu justru melihat itu sebagai kejujuran seorang Audy Natela.

 

"Tuh kan, lo makin keliatan gemesin. Gue harus gimana coba?" Audy mengeleng kan kepala heran. Perkataan nya barusan masuk dalam kategori kasar, tapi mengapa tanggapan dari cowok di hadapan nya kini malah terlihat santai? Bahkan menganggap nya gemas?

 

Astaga.. Mungkin dia minus.

 

Audy melihat Bayu sinis.

 

"Toling, jangan terus ganguin aku ataupun nemuin aku lagi. Aku muak sama species kalian." setelah mengatakan ini, Audy lagi-lagi meninggalkan Bayu sendirian yang masih menatapnya dengan pandangan tidak terbaca.

 

Perlahan ia menunduk melihat sebuah buku tergeletak di atas sofa beserta pulpen nya. Bayu mengambilnya kemudian duduk menempati sofa yang sempat Audy duduki sebelum dirinya datang. Ia mulai membuka halaman pertama. Matanya terpaku pada sebuah kalimat tercetak miring di tengah kalimat panjang sepanjang halaman pertama.

 

'Aku dan rasa takut ini membuatku rapuh dan tak memiliki arti hidup. Kesakitan ini mengerogoti jiwaku yang kian meluruh di terpa rasa takut. Aku hancur, dan aku sadar.. Jika selamanya tidak akan pernah bisa kembali seperti semula. '

 

Bayu mengalihkan pandangannya, menutup buku lalu membawanya pergi.

 

**

 

Sore ini Nara menghabiskan waktunya dengan berendam air hangat. Nara harus berterima kasih dengan fasilitas di kamar tamu yang telah Jovan siapkan. Sangat lengkap dan membuatnya betah berlama disini.

 

Setelah merasa puas. Nara berganti pakaian dan berjalan menuju keluar. Oma Amel mengajaknya berbincang di kolam renang dekat taman di samping rumah Jovan. Saat melewati ruang keluarga ia terpekik saat kakinya tergelincir lantai yang licin. Suara teriakan nya membuat semua orang berdatangan untuk melihatnya. Nara meringis malu memegangi pinggang juga sebelah kaki kirinya. 

 

Sakit sih, tapi yang terasa sangat menyedihkan adalah rasa malunya. 

 

"Astaga, Nak.. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Amel pada Nara yang terduduk di atas lantai basah. 

 

Seorang pembantu menghampiri mereka dan menunduk bersalah. "Maaf Nona, saya baru saja selesai mengepel lantai. Mungkin lantainya masih licin. Sekali lagi maafkan saya Nona." ucap Tini pembantu di rumah Jovan. Jovan yang kebetulan baru sampai langsung melihat Tini dengan tajam saat mendengar permintaan maafnya.

 

"Sejak kapan kamu ceroboh seperti ini? Seharusnya beri tanda jika masih basah bukan malah membiarkan nya, jika sudah terjadi seperti ini, apa yang bisa kamu lakukan selain meminta maaf?" marah Jovan membuat Tini semakin menundukkan kepalanya bersalah. Nara mendonggak melihat Jovan dari bawah. 

 

"Jangan Salah in orang lain, lagian ini salah gue juga yang gak hati-hati kok," 

 

"Mereka tetap salah, jangan membela kesalahan orang lain. Dari ini mereka bisa belajar lebih hati-hati dan bertanggung jawab sama pekerjaan nya." ucap Jovan keras kepala. Nara mencebik. 

 

"Dari pada marah-marah, mending bantuin gue berdiri. Kaki gue sakit, nih." Jovan langsung mengalihkan atensi pada Nara, menekuk sebelah kakinya untuk melihat kondisi kaki Nara yang sakit. Ia mengeram tertahan. 

 

"Lo keseleo. Harusnya lo lebih hati-hati tadi. Kenapa ceroboh banget sih," Nara tidak menghiraukannya. Ia memekik saat Jovan mengendongnya dan membawanya duduk di kursi dekat kolam renang. Amel dan Tini masih setia mengikuti dari belakang. 

 

"Gue bisa jalan sendiri bego!" 

 

"Bisa diem gak?" Nara memberengut. Jovan beralih melihat Tini. 

 

"Ambilin p3k di belakang. Sekalian bawa es batu juga." Tini mengangguk manut lalu segera pergi mengambilkan perintah Jovan. Nara menggeplak lenganya. 

 

"Kalo minta tolong biasain pake kalimat tolong atau plis gitu, gak sopan!" Jovan mengendik acuh. 

 

"Iya maaf. Gak lagi." 

 

"Bukan sama gue, tapi sama bi Tini." Jovan berdecak. 

 

"Banyak maunya.." 

 

"Tau diri dong kalo diingetin." 

 

Amel tersenyum kecil melihat interaksi mereka. Sebelum ini, Jovan tidak pernah mau menuruti nasehat orang lain. Bahkan ia selalu bertindak sesukanya. Ucapan tolong ataupun please hanya akan membuatnya terlihat lemah. Dan Jovan tidak akan mau menunjukkan itu pada orang lain. Bahkan kata Maaf dan terimakasih jarang terucap dari bibir cucu kesayanganya itu. 

 

Tini kembali dengan kotak p3k di tangannya, Jovan menerima dan terlihat mengoleskan salep pada pergelangan kaki Nara lalu memperban nya. Nara mengerutu tidak jelas. 

 

"Gue gak patah tulang astaga, ribet amat elah." Jovan meliriknya acuh. Amel menahan tawa melihat wajah masam Nara. 

 

Setelah selesai, Tini undur diri dengan membereskan kotak obat. Amel duduk di sebelah Nara. Mereka masih betah berdiam. Amel melihat Nara seksama. 

 

"Apa kamu punya pacar Nara?" Nara mengeleng kan kepala. 

 

"Dia anti menjalin hubungan serius sama lawan jenis oma." sahut Jovan yang duduk tak jauh dari mereka. Nara meliriknya sekilas. Amel terlihat terkejut. 

 

"Benar itu Nak? Kenapa begitu?" Nara mengerjap beberapa saat. Ia terlihat berfikir. 

 

"Mph..mungkin, karna Nara gak mau terluka lagi Oma." Jawab Nara pelan. 

 

"Karna lo selalu menganggap semua cowok sama bejatnya." sahut Jovan malas. 

 

"Tapi mereka emang kayak gitu, gak kecuali lo." balas Nara sinis. 

 

"Sebagian dari kita emang kayak yang lo pikir, tapi gak semua. Berhenti mandang semua cowok sama. " 

 

"Emang gak semua, Tapi kebanyakan dari kalian emang nyata kayak gitu. Bahkan lo termasuk salah satunya." balas Nara tidak mau kalah. Jovan menatapnya kesal. 

 

"Gue kelepasan waktu itu. Jangan Salah in gue, lo juga salah kenapa bisa bikin gue hilang kendali." jawab Jovan tidak terima. Amel melihat mereka bergantian dengan pandangan bingung. 

 

"Jangan limpahin kesalahan sama orang lain dong. Gak gentle banget jadi cowok." 

 

"Sepertinya kalian cocok untuk Tunangan minggu depan." sebuah suara berat menghentikan Jovan yang sempat ingin membalas, Mereka menoleh kearah sumber suara. 

 

"Opa.. Sejak kapan Opa dateng?" tanya Jovan sedikit terkejut.

 

Nara melihat pria paruh baya itu dengan pandangan kagum. Wah, ternyata sosok Hanson Arion memang sangatlah tampan dan sangat berwibawa. Bahkan di usianya yang mulai menua, ia masih terlihat tampan. Keluarga Arion memang terlahir sempurna. Dengan hidup berkekuasaan dengan dikaruniai Wajah yang rupawan. Tidak heran jika mereka sering kali terlihat arogan dan sedikit sombong. Jovan Arion contohnya. 

 

"Opa sudah mendengar semuanya, lalu.. Kapan keluarga Arion akan memiliki anggota baru?" Nara mengeleng kan kepalanya beberapa kali. 

 

"Saya bukan pacarnya Jovan, Opa." jelas Nara mengerti maksud Hans. Jovan melihat Hans dan Nara bergantian. Perlahan, bibirnya mengukir seringaian . 

 

"Jovan tidak pernah merasa tertarik dengan perempuan Opa. Apalagi, mereka sejenis wanita galak dan bar-bar macam dia." jawab Jovan melihat Nara dengan pandangan mengejek. Nara mengeram tertahan. Egonya tersentil mendengar ucapan songong cowok di depannya. 

 

Nara mengalihkan atensi pada Hans. Hans tersenyum samar melihat binar mata kesalnya. 

 

"Saya memang bukan pacarnya, tapi saya tidak keberatan dengan tawaran Opa." Hans menatapnya tertarik. 

 

"Well, apa artinya kamu menerima pinangan keluarga Arion saudari Nara Sidzkia?" 

 

Nara sudah tidak terkejut banyak keluarga Arion yang telah mengetahui namanya. Ia tidak akan menanyakan bagaimana bisa, karena ia tahu, kekuasaan sudah jelas menjawab semuanya. 

 

"Tentu saja. Saya juga ingin melihat sejauh mana seorang Jovan Arion bisa menahan diri dari pesona seorang wanita galak dan bar-bar macam saya." jawab Nara tanpa ragu. Ia memberi sorot permusuhan pada Jovan yang masih tidak percaya dengan jawabannya. Perlahan seringaian di wajah Jovan melebar. Balas menatap Nara tertarik. 

 

"Hm, mari kita buktikan saja. Siapa yang akan jatuh pada siapa. Yang jelas itu bukan gue. " 

 

Nara meliriknya sinis. 

 

"Percaya diri sekali Tuan sombong. Well, gue gak keberatan, karna gue yakin orang itu bukan gue." 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9