Pahitnya mimpi buruk tidak mudah terlupakan meski telah berganti abad, untuk itu.. Setiap orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik agar tidak kembali pada masa silam yang membuatnya terlihat lemah. 

 

 

***

 

 

"Gue udah bilang gue gak mau ketemu lo lagi, paham gak sih lo bahasa manusia heh?!"

 

"Tapi gue bener-bener serius sama lo. Gue mau kita bisa kayak dulu lagi." mohon Dilon menatap Nara sendu. Nara berdecih.

 

"Sia-sia emang ngomong sama orang idiot kayak lo! Jijik in." Nara berbalik, dengan cepat Dilon menarik tangannya. Mengukungnya di antara kedua lengan nya.

 

"Kalo dengan cara baik-baik masih gak bisa bikin lo mau nerima gue kembali, apa gue harus pakek cara kotor biar kita bisa kembali kayak dulu?" bisik Dilon rendah. Mengancam. Nara gemetar di tempatnya. Ia tidak pernah berfikir jika Dilon masih memiliki nyali untuk menemui nya bahkan mengancamnya seperti ini.

 

Dilon semakin merapatkan tubuh mereka. Nara meneguk ludah susah payah.

 

"Lo.. Lo..mau apa! Jauh-jauh sana. Lo bikin gue muak!" pekik Nara yang terdengar seperti cicitan. Dilon berdecih, menatap Nara tajam.

 

"Lo makin kasar baby, apa perlu gue bikin lo hamil dulu biar kita bisa bareng-bareng lagi? Kalo iya.. Gue gak keberatan untuk itu." 

 

Nara sudah tidak bisa lagi menahan kegugupannya. Airmata yang di tahannya sedari tadi mengucur tanpa bisa di tahan-tahan. Tubuhnya trempor hebat saat Dilon mulai menciumi lehernya rakus. Tidak ada yang bisa ia lakukan di gudang belakang kampus ini. Disini sepi. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya menghentikan aksi gila Dilon yang sedang di kuasai amarah.

 

Dilon mulai merobek kemeja atasnya hingga dua kancing atas bajunya terlepas, Nara sekuat tenaga melawan, namun apa daya, kekuatannya tidak sebanding dengan laki-laki. Ia lemah, ia benar-benar putus asa. 

 

"GUE BENER-BENER BENCI ELO BRENGSEK! LEPAS IN GUE! GUE JIJIK SAMA LO BEDEBAH! " 

 

Nara tersentak dalam tidurnya. Jovan yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung saja menghampiri nya yang seperti orang linglung. Perlahan air matanya turun tanpa bisa ia cegah, wajah pucat dengan tubuh gemetar. Jovan mengoyangkan tubuh Nara beberapa kali. 

 

"Hey! Sadar Ra, lo kenapa?" Nara tidak berkata-kata. Ia terisak dalam diam. Jovan meraih kepala nya dan mendekapnya erat. Nara menumpahkan segala kegelisahan nya dalam dekapan cowok itu. 

 

Pagi ini Jovan memang sudah di perbolehkan untuk pulang. Nara yang menungguinya sedari malam kemarin membuat keadaan Jovan menjadi lebih baik. Tapi, mengapa keadaan justru terbalik seperti ini? Jovan merasa heran sekaligus khawatir saat dirinya baru saja berganti pakaian dan langsung melihat Nara dalam keadaan kacau. Padahal saat ia tinggal tadi, Nara masih terlelap damai dalam tidurnya. 

 

Setelah dirasa mulai tenang. Jovan berganti mengangkup wajah Nara membuat iris mata mereka bertemu. Jovan dengan jelas melihat kesedihan mendalam dari iris mata cokelat milik gadis di depannya. Perlahan ia Mengusap bekas air mata Nara dengan ibu jarinya. 

 

"Everything is Fine, trust me, Oke?" Nara menggigit bibir bawah nya. Menatap iris mata yang menjanjikan kepercayaan padanya. Ia mengangguk pelan, Jovan tersenyum simpul menenangkan. Mengusap puncak kepala Nara lembut. 

 

"Kita pulang sekarang?" Nara mengangguk lagi. Jovan tidak akan bertanya mengapa, ada saatnya Nara akan menceritakan kesedihan nya sendiri. Suatu saat nanti. Bukan sekarang. Dan ia percaya itu. 

 

Jovan mengiringnya keluar rumah sakit. Hening. Didalam mobil mereka masih tidak bersuara. Lebih tepatnya, Nara belum ada niatan untuk berbicara. Jovan memaklumi. Mungkin mimpi yang menghampirinya sangat buruk. 

 

Supir membelokkan setir memasuki kediaman Arion. Nara mengerjap kan mata. Ia menoleh ke arah Jovan. 

 

"Kenapa kesini dan bukan nganterin gue pulang dulu?"

 

Ah, akhirnya setelah beberapa jam mereka saling terjebak hening, Nara sudah mau membuka suara. 

 

"Lo udah bilang sedia nemenin gue di saat gue butuh, dan saat ini.. Gue emang lagi sendirian dan butuh teman, lo gak akan ingkarkan?" Nara mendengkus sebal. 

 

"Gue juga butuh istirahat." Jovan mengangguk santai. 

 

"Gue udah siapin kamar tamu, kalo elo gak suka bisa pake kamar gue. Jadi apa masalah nya sekarang?" Nara tidak mendebat lagi. Selain malas memperpanjang masalah, tubuhnya saat ini benar-benar membutuhkan istirahat bukan hanya fisiknya namun juga pikiran nya. 

 

Mereka keluar dari mobil. Jovan mengarahkan kamar yang di sebut nya tadi. Nara masih setia mengikuti dari belakang. Entah kenapa ia merasa lelah, padahal ia belum melakukan hal apapun. 

 

Sesampainya dikamar tamu, Nara menghempaskan bokongnya di pinggir kasur. Jovan memperhatikannya dalam. 

 

"Gue ada di kamar sebelah kalo Lo butuh sesuatu. Jangan sungkan, anggap rumah ini kayak rumah lo sendiri. Bibi ada di belakang kalo Lo butuh yang lain." Nara mengangguk pelan sembari matanya menyusuri isi ruangan. Jovan mengacak rambutnya kemudian berlalu meninggalkan Nara yang menatap punggung nya dengan pandangan sendu. 

 

Perlahan Nara menghempaskan tubuhnya di kasur. Matanya terpejam dengan sebelah tangan menutupi kedua matanya. Ingatan mimpi buruk yang sering kali menghampirinya sangatlah mengganggu hidupnya. Selain membuatnya terlihat lemah, Nara sangat membenci harus diingatkan dengan mimpi buruk itu. 

 

Nara sudah sering kali menerapi dirinya sendiri untuk menghapus kenangan pahit masa kelamnya dua tahun lalu, namun apa daya jika hal itu sangatlah sulit terlupakan oleh ingatannya. Kejadian itu menjadi mimpi buruk yang membekas di pikiran nya. Entah sampai kapan Nara bisa melupakan mimpi buruknya itu, tidak ada yang tahu. 

 

**

 

Nara tersentak saat merasakan kain basah menempel di keningnya. Ia membuka mata. Dan langsung bertemu pandang dengan manik hitam menenangkan milik Jovan. Entah sudah berapa lama ia tertidur, Nara tidak menginggatnya. 

 

"Gue baik-baik aja." Ucap Nara serak. Jovan mencebik. 

 

"Apanya yang baik-baik aja? Lo demam." 

 

"Eh, masa?" Nara meringis saat tanganya menyentuh keningnya sendiri. Memang panas ternyata.

 

"Kok gue bisa sakit, padahal tadi pagi baik-baik aja.." gumam Nara pelan. Jovan menghela napas. 

 

"Ralat. Sejak pagi elo emang udah gak baik-baik aja." Nara hanya diam. 

 

Seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya dengan membawa nampan di tangannya. Nara mengernyit, ia tidak pernah melihat wanita ini sebelumnya, dia siapa? 

 

Wanita itu meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas. Ia menoleh ke arah Nara. 

 

"Kamu sudah baikan, Nak? Oma masakin bubur buat kamu, di makan terus minum obat ya." Nara mengerjap. Ia mengalihkan atensi pada Jovan yang tersenyum kecil. 

 

"Kenalin, ini Oma gue, namanya Camelia Arion, panggil aja Oma Amel." Nara sedikit terkejut ia tersenyum bersalah. 

 

"Maaf Oma, Nara gak tau kalo anda neneknya Jovan." Amel tersenyum hangat. Mendekati Nara dan duduk di sampingnya. Jovan berdiri memberi ruang untuk sang nenek. Ia menempelkan telapak tanganya di kening Nara, masih hangat. 

 

"Alhamdulillah panasnya turun. Oma udah rencana bawa kamu kerumah sakit kalo sampe panasnya gak kunjung turun." Nara mengeleng kan kepalanya. 

 

"Nara baik-baik aja Oma. Makasih perhatian nya." Amel tersenyum tipis. Membelai sisi wajah Nara lembut. 

 

"Oma yang seharusnya berterima kasih sama kamu, makasih udah mau jagain Jovan dan maaf udah merepotkan kamu." 

 

"Sama sekali enggak kok, Nara nemenin Jovan atas dasar kemauan Nara sendiri. Biar dia mikir sedikit, kalo masih ada banyak orang yang peduli sama dia. Karna dia gak sendirian di dunia ini." jawab Nara melirik Jovan dengan ekor matanya. Jovan hanya diam. Amel tersenyum kecil. 

 

"Apa oma boleh berharap sama kamu?" Nara berkedip dua kali. 

 

"Jangan percaya siapapun oma, apalagi menumpukan harapan sama orang lain termasuk Nara. Karena dari kita, sama-sama gak ada yang tau takdir Tuhan kedepannya akan seperti apa."

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

700 520 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4