Kesendirian ini Mengajarkanku agar tidak terlalu menumpukan harapan pada orang lain. Sebab, tersakiti dengan alasan yang sama berulang kali sangatlah membuat diri merasa menjadi seperti sosok tidak berharga. 

 

***

 

Jovan terbangun dari tidurnya, ia sedikit terkejut melihat Nara tertidur di samping bangkarnya. Waktu dengan cepat berganti. Malam ini ia tidak sendirian. Perlahan senyumnya terbit. 

 

Well, hanya melihatnya saja bisa membuat Jovan mengukir senyumannya. Memang sesimple itu bahagianya. 

 

Tangannya terulur Mengusap puncak kepala Nara pelan. Perlahan Nara membuka mata. Ia mengerjap. 

 

"Gue ketiduran ya? Jam berapa sekarang?" tanya Nara sedikit menguap. Jovan menunjukkan jam dinding di sebelah kirinya. Seketika Nara melebar kan mata melihat waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Itu artinya, ia sudah tertidur selama dua jam. Parah sekali. 

 

"Kenapa lo gak bangunin gue!" pekik Nara kesal. Jovan tersenyum samar. 

 

"Gue juga baru bangun. Dan lo.. Sejak kapan ada disini? Tau dari siapa juga?" Seketika Nara terdiam. Perlahan matanya melihat Jovan dengan sendu. Ia meraih sebelah tangan Jovan dan mengenggamnya.

 

"Gue yang harusnya tanya, kenapa nutupin sakit lo dan menghilang hampir lima hari. Gue gak tau kalo Tante nia gak nemuin gue, apa jadinya sama lo!" Jovan terkekeh miris.

 

"Tante Nia ya? Apa gue harus berterima kasih sama dia atau nyalain dia karna udah bawa lo ketemu gue dan liat keadaan kacau gue?" Nara mengeram marah Untuk sesuatu yang ia sendiri tidak mengerti.

 

"Demi Tuhan.. Gue cuma butuh jawaban lo. Jangan ngalihin pertanyaan gue."

 

Jovan menutup mata. Ia tersenyum lirih.

 

"Siapa yang peduli? Gue sendirian. Gue gak punya siapa-siapa. Apa untungnya kalo kalian tau kondisi gue? " Nara terpaku dengan senyum kesakitan yang Jovan tunjukkan. Perlahan ia mengelus tangan Jovan lembut.

 

"Gue peduli kok, tante Nia juga peduli sama lo. Coba lihat sekitar Lo, masih banyak yang peduli sama lo Jovan. Jadi.. Jangan pernah merasa sendirian lagi oke?" ucap Nara tersenyum tulus. Jovan membuka mata. Mata mereka saling menumbuk. 

 

"Lo udah gak marah sama gue?" 

 

"Masih. Bahkan gue gak akan maafin lo meskipun lo sujud di kaki gue." Jovan terkekeh pelan. 

 

"Seriusan?!" Nara mengangguk pasti. 

 

"Intinya gue kecewa sama lo. Jangan berani-berani lakuin hal kayak gitu lagi." 

 

"Hal kayak apa?" tanya Jovan polos. Nara mendengkus. 

 

"Sakit gak bikin lo amnesia 'kan?! Gak usah sok polos, muka lo gak mendukung." kali ini Jovan benar-benar tertawa. Expresi ngambek Nara sangat menghibur. Dan itu lah yang membuatnya gemar menggoda nya. 

 

Dari balik pintu. Rania tersenyum haru mendengar suara tawa Jovan yang hampir tidak pernah ia tunjukkan lagi. Jovan memang masih sering menunjukkan senyumnya, tapi kebanyakan senyum yang ia tunjukkan hanyalah topeng untuk menutupi dirinya yang rapuh. Dan kali ini, ia benar-benar tertawa. Terdengar tulus dan tanpa paksaan.

 

Ah, kehadiran seorang Nara Sidzkia memang sangat berpengaruh dalam hidup cowok itu. 

 

"Udah makan?" Nara mengeleng. 

 

"Gue izin setengah hari dan langsung kesini. Gak ada persiapan, jadinya ya gitu." jawab Nara ogah-ogahan. Jovan mengangguk mengerti. 

 

"Ambilin hape di nakas tengah dong." Nara mengernyit tak urung tetap mengambilkannya. Mati. Nara membolak-balikan ponsel Jovan. 

 

"Sejak kapan lo nutup diri kayak gini? "

 

"Sejak sakit mungkin." jawab Jovan tidak yakin. 

 

"Kenapa?" 

 

"Apanya?" 

 

"Kenapa matiin semua telekomunikasi lo? Bahkan anak buah bokap lo gak ada yang bisa ngelacak keberadaan lo." 

 

Jovan mengendik. "Udah gue bilang kan, apa untungnya buat kalian? Gak ada." 

 

Nara menghela napas pelan. "Nyokap lo nelfon in gue dari kemaren. Dia benar-benar khawatir sama lo." 

 

"Mama pasti bilang kalo dia baru bisa pulang dua atau empat hari lagi 'kan?" Nara sedikit terkejut. 

 

"Gak usah kaget gue bisa tau darimana. Jawaban kayak gitu udah sering gue denger. Maka dari itu, gue lebih baik ngak kasih kabar mereka tentang kondisi gue daripada cuma di kasih harapan untuk waktu yang belom pasti." ucap Jovan dengan menunjukkan senyum paksa. Nara tertegun. Jadi begitukah situasi di antara mereka. Benar-benar buruk. 

 

"Mulai sekarang, jangan ragu buat cari gue kalo Lo butuh teman. Gue bakal luangin waktu buat nemenin lo. Biar lo tau, kalo Lo gak sendirian. Ada gue, sama sahabat-sahabat lo yang bakal bersedia luangin waktu demi lo. Jadi, jangan pernah ngerasa sendirian lagi oke? " Jovan terdiam melihat keseriusan dari iris mata yang selalu membuatnya tenang. Perlahan senyum nya terbit. 

 

"Jangan Salah in gue kalo mulai saat ini gue bakal sering ngerepotin lo. Gue gak akan kasih keringanan buat tawaran lo barusan." Nara meliriknya sinis. 

 

"Tapi tolong, tetep tau diri oke? Jangan rusuhin hari gue sama sikap konyol lo. Paham?!" 

 

"Aye-aye kapten." ucap Jovan meletakkan sebelah tanganya di atas kepala membentuk hormat. Nara mendengkus. Mereka saling melirik dan tersenyum geli. Kekanakan. 

 

Jovan melihat ponselnya yang sudah menyala. Duaratus panggilan juga tigaratus empatpuluh tujuh sms tertera memenuhi layar ponselnya. Ia mendengkus. Mengabaikan semua nya dan mengetikkan beberapa kalimat untuk orang suruhannya. Ia kembali mengalihkan pandangannya pada Nara. 

 

"Udah malem. Gue udah suruh orang buat nganterin lo. Sorry udah ngerepotin lo. Dan makasih udah mau ngelakuin hal sejauh ini buat gue." ucap Jovan tersenyum tulus. Nara meliriknya malas. 

 

"Siapa bilang gue mau pulang?" 

 

"Maksud lo?" 

 

"Gue nginep disini malem ini. Gue gak butuh persetujuan lo. Jadi gak usah banyak omong. Tidur aja sana." ucap Nara memerintah. Jovan tertegun. Sejak kapan ia menjadi pemaksa seperti ini? 

 

"Jangan tanya siapa, jelas elo yang udah ngajarin gue jadi pemaksa. Jadi diem aja oke." 

 

Pintu ruangan terbuka. Dua orang bersetelan hitam memasuki rawat inap Jovan dengan membawa beberapa kantong plastik di tangan nya. Satu dari orang tersebut meletakkan barang bawaan nya di atas nakas. 

 

"Saya membawakan pesanan anda Tuan. Saya juga sudah menyiapkan mobil seperti yang anda inginkan, selanjutnya apa?" Nara berkedip dua kali. 

 

Untuk urusan kekuasaan dan uang. Jovan tidak pernah kekurangan bahkan ia terlihat sangat mengendalikan, tapi untuk urusan yang lain, Jovan sangatlah memaksakan diri. Bahkan ia rapuh jika di haruskan terus sendirian. 

 

"Tidak jadi. Bawa kembali mobilnya, besok pagi jemput aku disini." mereka mengangguk, menunduk hormat kemudian berlalu tanpa memedulikan pandangan tidak mengerti yang Nara tunjukkan.

 

"Ini apa?" tanya Nara membuka kantong plastik. Disana ia melihat bento dan beberapa makanan juga minuman.

 

Nara melotot, "Lagi sakit, siapa yang ngizinin makan kayak beginian?!" Jovan tersenyum simpul.

 

"Buat lo. Tenang aja, tante Nia udah siapin bubur buat gue. Gih, makan." perintahnya. Nara mengerjap.

 

"Jadi ini buat gue?" Jovan mengangguk.

 

"Lo bilang mau nginep, jadi makan dulu sebelum siapin diri buat jagain gue." jawab Jovan mengoda. Nara mendengkus kesal.

 

"Kirain emang pengertian, taunya karna ada maunya aja. Dasar!" gerutu Nara membuka sekotak bento di tanggan nya. Jovan tidak menanggapi. Ia lebih memilih memperhatikanya dalam diam.

 

Malam semakin larut. Kali ini, ia tidak sendirian seperti beberapa hari lalu. Meski mereka hanya diam dengan kegiatan masing-masing, tapi Jovan tetap merasa hangat masih ada seseorang yang mau setia menemani nya. Keheningan yang menyapa mereka seolah tidak memberi arti apapun.

 

Keheningan malam ini terasa damai. Dengan kehadiran Nara tentu saja. Bukan kekosongan seperti yang sering ia rasakan, namun keheningan yang menghangatkan hatinya yang dilanda kesepian.

 

Entah sejak kapan Nara sudah kembali terlelap di sampingnya, Jovan tersenyum kecil. Mengulurkan tangannya membelai sisi wajah Nara lembut.

 

"Udah kenyang, tidur. Dasar kucing galak."

 

Iya kucing galak. Tahu kenapa? Karena Nara sering marah-marah dan selalu saja galak jika sudah berdua dengannya. Seperti seekor kucing yang marah saat ekornya di injak, Nara juga seperti itu, ia akan mengamuk jika ada yang mengangu juga merusuhinya. Seperti apapun dia, Jovan tetap menyayangi nya. Si kucing galaknya.

 

***

HOPE YOU LIKE! 

 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

 

TANGKYUUU DEAR 🌹

 

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

 

BIG ❣️ 

 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 896 15
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9