Terbiasa dengan sepi membuat diri tak lagi bisa merasa bahwa bahagia benar adanya. 

 

 

***

Malam yang sepi. Sudah tiga hari ia termanggu dengan rasa bersalah. Bukan hanya fisiknya yang kian melemah, namun hatinya sangat amat terasa kosong. Rasa bersalah itu mengerogoti jiwanya yang berontak meminta kebahagiaan nya. Ia sengaja mematikan semua alat telekomunikasi nya. Ia tidak ingin diganggu dan hanya ingin sendiri.

Yah, ia kembali di masa-masa itu, sendiri berteman sepi dan kekosongan. Entah mau bagaimana lagi, ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini. Kebodohannya membuat dia terpuruk rasa bersalah.

Pintu ruangan terbuka. Jovan terhenyak dari lamunannya. Seseorang yang mirip dengan ibunya tersenyum tulus menghampirinya.

"Gimana sama keadaan kamu? Udah mendingan?" Jovan mengangguk.

"Udah enakan kok, tante bawa apa?"

Namanya Rania, adik sepupu Diana Arion sang mama. Ia berprofesi sebagai dokter di salah satu rumah sakit yang di kelola keluarga Arion selain Arial Hospital. Rania meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas nakas. Ia mengelus sisi kepala Jovan lembut.

"Tante tau kamu pasti bosen makanan rumah sakit. Jadi tante bawain bubur ayam. Se'enggaknya, masih ada rasanya." Jovan terkekeh. Rania memang adik sepupu sang mama yang sangat menyayangi Jovan. Sejak kecil ia sering berkunjung ke rumah Rania, semenjak beranjak dewasa ia jadi tidak ada waktu dan jarang berkunjung.

Ya, Jovan sedang di rawat di rumah sakit. Pacsa hujan-hujanan kemarin, Jovan langsung jatuh sakit dan deman tinggi yang mengharuskan nya di rawat inap. Kondisinya saat lalu memang belum benar-benar pulih, untuk itu saat ia kembali bermain hujan, tubuhnya sudah tidak bisa lagi sanggup menahan rasa sakit dan akhirnya tumbang. Ia juga sudah meminta agar Rania tidak memberitahukan siapapun mengenai keberadaan nya. Termasuk orangtuanya.

Ia tidak ingin merepotkan orang lain, sebab ia sudah terbiasa sendiri. Kesepian ini yang melatihnya untuk menjadi kuat. Dia harus bisa melewati nya sendiri karena dia paham, jika tidak ada lagi tempat ia bisa mengadu dan bermanja. Sejak kecil, ia sudah di ajarkan untuk menjadi pribadi yang mandiri.

Rania menatap Jovan sendu. 

"Kenapa kamu gak mau kasih tau keadaan kamu sama orang tua kamu Jovan? Tante bener-bener gak paham sama cara pikir kamu." Jovan tersenyum lirih.

"Jovan udah biasa sendirian. Hal kayak gini, udah bukan masalah besar tante. Lagian, disini kan ada tante cantik yang jagain jadi Jovan gak harus ngerepotin orang lain."

"Tapi mereka orang tua kamu. Bukan orang lain." Jovan mengerjap.

"Iyakah? Keadaan bikin kita jadi orang asing tante." Jovan tertunduk lesu. Rania menepuk pundak nya dua kali.

"Mau gimanapun, mereka tetap orang tua kamu Jovan. Kamu harus lebih mengerti beliau. Tanggung jawab mereka sangat besar. Dan tante paham posisi kamu." Jovan mengeleng kan kepalanya.

"Tapi Jovan juga masih salah satu tanggung jawab mereka. Salah kalo sesekali Jovan juga pengen hidup kayak keluarga lain?" Rania menatapnya iba. Pasti berat untuknya menjalani ini sendirian.

"Banyakin istirahat. Bukan cuma tubuh kamu, tapi juga hati kamu. Yakin semuanya akan baik-baik saja. Tante punya jadwal lain, tante tinggal gak pa-pa 'kan?" Jovan tersenyum menenangkan.

"Jovan udah biasa sendirian."

"Van.."

"Aku gak pa-pa, tante jangan khawatir." Rania menghela napas. Mengangguk ragu kemudian berlalu keluar.

Jovan menatap pintu dengan pandangan kosong.

"Gue emang udah terbiasa sendirian kan? Gak apa-apa, ini bukan masalah." gumam nya lirih. Ia menundukkan kepala. Mengusap setitik air mata yang keluar dari sudut matanya.

"Gue gak pa-pa."

**

Esoknya, Nara sudah kembali seperti semula. Mata bengkak nya masih terlihat, namun ia tetap menguatkan dirinya. Ia sudah berjanji akan membantu mencari keberadaan Jovan. Ini hari keempat sejak terakhir kali mereka bertemu. Nara sudah mencoba menghubungi nomornya, nihil. Dia benar-benar serius menghilang.

Nara terduduk lesu di taman rumah sakit. Setelah dua hari izin hari ini ia terpaksa masuk kerja. Ia bingung harus memulai dari mana. Ia tidak tahu apa-apa mengenai Jovan Arion. Lalu dia harus bagaimana?

Sepasang sepatu berdiri di hadapanya, Nara mendonggak, mengernyit saat melihat seseorang yang asing baginya. 

"Apa Kamu benar Nara Sidzkia?" Nara mengangguk pelan. 

"Maaf, Anda siapa?" Rania mengulurkan tangganya. Nara menyambutnya ragu. 

"Saya Rania, adik sepupu Diana mama Jovan Arion." Nara mengerjap. Untuk apa sepupu Diana menemui nya? 

"Kamu pasti heran kenapa saya bisa tau tentang kamu, tapi untuk seseorang yang berhubungan dengan keluarga Arion pasti tidak bisa bersembunyi diri dari publik." 

Menyembunyikan diri dari publik? Maksudnya apa? 

"Kamu lagi bingung buat nemuin Jovan 'kan?" Nara sedikit terkejut. 

Kok tahu. 

Rania tersenyum hangat. "Saya bisa bawa kamu ketemu dia kalo kamu mau." Nara berkedip dua kali. 

"Tante serius? Tante tau dimana Jovan?" Rania mengangguk pasti. 

"Jadi mau atau enggak." 

"Mau!" tanpa sadar, Nara menjawab antusias. Entah kerana apa dia sendiri tidak mengerti. Namun, hanya dengan mengetahui ada yang tahu keberadaan nya membuat Nara sedikit lega. 

Mereka sampai di depan gedung tinggi berlogo Arlos Hospital. Nara mengernyit, sedari di perjalanan mereka memang berbincang banyak. Namun Rania sama sekali tidak memberi tahu keadaan Jovan dan malah membawanya kesini, untuk apa? 

Nara menoleh ke arah Rania. "Kita ngapain kesini tante?" Rania tidak menjawab, tersenyum tipis menarik tanganya masuk. Nara hanya mengikuti tanpa tau akan di bawa kemana. 

Mereka berhenti di depan ruang VVIP. Nara semakin tidak mengerti. Rania membuka pintu perlahan, Nara yang berada di belakang nya terdiam kaku melihat seseorang yang tertidur dengan infusan di sebelah tangannya. Ia nampak damai, perlahan Nara melangkah mendekat. 

Jovan meringis dalam tidurnya. Ia terlihat menahan sesuatu yang membuatnya tersiksa. Nara mengulurkan sebelah tangannya, Mengusap kernyitan di kening Jovan pelan. Mendekatkan wajahnya disamping telinga cowok itu. 

"Gue disini. Jangan takut sendirian." bisiknya menenangkan. 

Rania memperhatikan mereka dalam diam. Ia mengukir senyum tipis melihat Nara mengerti yang Jovan butuhkan. Perlahan kernyitan di kening jovan terlihat longgar. Jovan mulai nyaman dalam tidurnya. Nara masih setia mengelusi kepala Jovan lembut. Nara menoleh kesamping. 

"Sejak kapan dia di rawat?" 

"Tiga hari lalu, sewaktu dia berkunjung ke rumah tante dengan badan basah kuyup. Malamnya dia demam tinggi dan akhirnya harus rawat inap." Nara tertegun. 

Tiga hari lalu, huh? Bukankah waktu itu Tepat saat dirinya meninggalkan cowok itu sendirian. 

Ah Nara lupa, Jovan selalu merasa sendirian dan dengan bodoh nya dia meninggal kan cowok itu sendiri di tengah hujan. Nara sedikit merasa bersalah untuk itu. 

"Lalu, gimana sama keadaan dia sekarang?" 

"Sudah mulai membaik. Besok sudah boleh pulang. Sebenarnya tante gak boleh kasih tau ini sama siapapun, tapi tante gak tahan liat dia selalu mencoba Bertahan sendirian. Dia sosok rapuh Nara, sebagai psikiater kamu pasti lebih tahu mengenai kondisi mentalnya. " Nara mengangguk ragu. 

"Tapi kenapa dia matiin semua telekomunikasi nya? Bahkan orang tua nya khawatir banget tau dia gak ada kabar. " tanya Nara tidak mengerti. 

Rania melihat Jovan sendu. 

"Dia bilang, dia gak mau ngerepotin orang lain ataupun bikin mereka khawatir. Untuk itu dia nutupin sakitnya dari semua orang." 

"Tapi kenapa itu berlaku untuk orang tuanya? Mereka bukan orang lain." tanya Nara semakin tidak mengerti. Rania memejam kan matanya sesaat. 

"Tante juga heran sebenarnya, tapi kamu tau apa jawaban dia waktu tante nanya hal yang sama kayak pertanyaan kamu?" Rania tersenyum lirih, "'keadaan yang bikin kita menjadi orang asing. Jovan udah terbiasa sendirian' Begitu katanya. Lalu tante bisa apa setelah itu?" 

Nara terpengarah. Sesakit itukah jiwanya? Semenderita itukah dia selama ini? 

Nara beralih melihat Jovan iba. Mengelus pipinya yang terlihat sedikit lebih tirus. 

Tubuhnya memang sempurna, namun tidak dengan jiwanya yang Renta dengan kekosongan. 

"Maaf, gue gak tau kalo Lo Semenderita ini selama ini. Kenapa lo memilih buat sendirian di saat lo punya banyak orang yang peduli sama elo Jovan? Kenapa lo bego banget jadi orang.." gumam Nara memejam kan mata seolah ikut merasakan kesepian yang setiap hari kian mencekik jiwanya. 

 

 

 

🌹

 

HOPE YOU LIKE! 

TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA! 

Saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kalian, mohon untuk selalu support saya terus. Dengan cara like, coment and follow Ya!

TANGKYUUU DEAR 🌹

MORE INFO SILAHKAN FOLLOW AKIN SAYA BERIKUT DENGAN IG @r_quella99 

BIG ❣️ 

ANN_πŸ’‹

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9