Sebaik apapun sikapmu terhadap orang lain, pasti masih ada yang akan membencimu. Sebaik apapun perlakuanmu, pasti masih akan menimbulkan rasa sakit untuk orang lain. Jangan pikirkan mereka dan ucapnya. Mereka orang asing, yang bahkan hanya tahu caranya mencaci tanpa tahu caranya menghargai perasaan orang lain. 

 

 

***

 

Nara duduk termanggu dari balik cafeteria, duduk di meja pojok yang mempermudahkannya melihat suasana luar. Banyaknya pasangan muda-mudi sering kali membuat Nara heran. Apa mereka akan tetap bahagia sepanjang hari seperti itu? Atau mereka juga salah satu seseorang yang menyembunyikan kepedihanya dengan cara mereka? Entahlah, Nara tidak peduli itu. Satu yang menjadi prioritas nya saat ini.

 

Apa dia juga bisa bahagia dengan cintanya suatu saat nanti?

 

Yah, meski Nara takut menjalin hubungan, bukan berarti dia tidak pernah memikirkan tentang pernikahan ataupun hubungan serius lainnya. Ia hanya terlalu pengecut untuk mulai memberanikan diri mencoba sesuatu yang ia percaya mampu membuatnya terluka kembali.

 

Ah, ini akan terasa semakin sulit. 

 

"Lo mau coba kembali?" Nara tersentak kaget. Memegang dadanya yang berdetak cepat. Ia memberi sorot permusuhan.

 

"Sehari aja lo gak bikin gue naik darah bisa gak, sih?!" ucap Nara melotot. Jovan terkekeh mengambil tempat duduk tepat didepan Nara.

 

"Udah kebiasaan."

 

"Ya jangan dibiasain dong! Lama-lama lo bikin gue mati muda terus-terusan bikin gue kesel." Nara mulai mengomel.

 

"Gue gak akan biarin lo mati muda kok," Jovan tersenyum manis, "paling cuma bikin lo stres ngadepin gue." Nara melotot. Bibirnya terbuka hendak protes namun kembali terkatup rapat. Jika terus di ladeni, itu hanya akan membuat Jovan semakin gencar menganggunya. Jadi biarkan saja.

 

Nara kembali mengalihkan pandangannya keluar. Mendonggak melihat awan yang bergumul di atas sana. Kembali matanya melihat beberapa pasangan remaja yang sedang di landa kasmaran. Saling menautkan jemari juga tak sungkan saling memeluk di tempat umum. Nara menatap kosong. Sebenarnya melakukan hal seperti itu tidaklah sulit, hanya saja.. Mengapa hanya memikirkan saja membuat Nara beranggapan jika sang laki-laki mempunyai niat lain dengan cara mereka berdekatan.

 

Ah, Nara memang selalu menganggap setiap laki-laki yang melakukan kontak fisik dengan perempuan Memang lah mempunyai niat buruk. Selama ini itulah yang ada dipikirannya.

 

Jovan setia memperhatikan nya dalam diam. Setelah tahu kondisi Nara dari Bayu kemarin, Jovan benar-benar tidak akan membiarkan siapapun menyentuhnya apalagi menyakitinya, Jovan tidak akan tinggal diam. Ia telah berjanji untuk melindungi miliknya. Apapun itu.

 

Rintik hujan mulai berjatuhan. Menyapa gersangnya bumi yang mulai menua. Nara berbisik sendu, "Yah.. Hujan. Gue pengen ngulang, tapi gue sadar umur gue udah bukan masanya main-main lagi."

 

Jovan mendengarnya. Sedari tadi mereka hanya diam dengan pikiran masing-masing. Tanpa ada niatan untuk berdebat kembali. Jovan menarik tangan Nara keluar.

 

"Mau kemana pe'a! Lo gak liat di luar hujan!" sentak Nara kaget. Jovan hanya diam sembari terus menyeretnya keluar. Sesampainya di teras depan Cafe, Jovan melepaskan pegangannya. Nara mengernyit melihat Jovan menggulung kemejanya sampai siku.

 

"Lo mau ngapain? Jangan bilang_ AAA! " Nara menjerit tertahan saat Jovan menariknya turun dibawah guyuran hujan. Jovan tersenyum kecil.

 

"Lain kali, jangan pikirin apa yang bakal orang lain pikirin tentang lo, cukup lakuin sesuatu yang lo mau. Lakuin dengan ringan." Nara menengadahkan kedua tangannya. Memejam kan mata menikmati deras air yang menyentuh setiap inci tubuhnya. Rasanya dingin dan Menyenangkan.

 

Nara membuka mata, melihat sekelilingnya yang memperhatikan mereka heran. Nara menggeplak lengan Jovan.

 

"Kita jadi pusat perhatian bego!" Jovan terkekeh melihatnya cemberut malu. Ia mengedarkan pandangan nya. Mengendik saat orang-orang mulai berbisik mengenai aksi kekanakan mereka.

 

"Gue gak peduli omongan orang. Emangnya mereka siapa? Temen gue juga bukan, terus ngapain gue harus peduli dan ambil pusing." balas Jovan santai. Nara terdiam. Benar juga. Pikirnya.

 

Jovan menarik tangan Nara menuju taman sebrang cafe. Mereka tertawa lepas menikmati Rintik hujan yang menyertai setiap langkah mereka. Nara menengadahkan kepalanya. Berputar dengan kedua tangan di rentangkan. Ini menyenangkan. Sungguh!

 

Jovan Mengusap wajahnya. Tersenyum tipis melihat binar dari wajah wanita yang membuatnya tidak bisa berpaling. Nara membuka mata.

 

"Lo baru sembuh beberapa hari lalu, kenapa malah hujan-hujanan lagi?"

 

Jovan menatapnya. Mata mereka saling menumbuk. Ia tersenyum tulus.

 

"Apapun kalo itu bikin lo seneng, gue rela kalo harus sakit lagi. Lagian, kalo gue sakit gue jadi punya suster yang setia jagain gue." kedua sudut bibirnya berkedut. mereka saling melempar senyum. Bukan senyum menyebalkan seperti biasanya, melainkan senyum tulus tanpa keterpaksaan.

 

Jovan menarik tangan Nara lalu memutarnya. Nara tertawa, Jovan kembali mengulangnya beberapa kali, bergantian saat Nara dengan sengaja menarik tangannya untuk ikut memutar. Mereka tertawa bersama. Saling berhadapan dengan senyum yang setia terpasang di wajahnya. Jovan terpaku melihat iris mata yang selalu membuatnya jatuh. Perlahan wajahnya mendekat. Nara berkedip dua kali. Sebelum sempat bertanya, Jovan sudah lebih dulu menempelkan bibir mereka. Nara tersentak. Tubuhnya kaku merasakan hangat bibir Jovan yang mendarat di bibirnya.

 

Nara mendorong dada Jovan sampai mundur dua langkah. Matanya berkaca-kaca menyorot Jovan dengan nyalang. Kedua tangannya terkepal kuat. Dia dilecehkan. 

 

Pada akhirnya, mereka yang mendekati hanya mengincar bagian tubuhnya saja. Mereka sama. Tidak ada bedanya. Guyuran air hujan menyatu dengan bulir-bulir air matanya. Baru saja ia beranggapan jika Jovan berbeda dengan kaumnya yang lain, tapi sekarang.. Dia benar-benar membuat Nara mengecapnya brengsek.

 

"Cowok sampah! Lo dan species jenis lo, bener-bener bikin gue jijik!" setelah mengatakan itu, Nara berbalik dengan cepat Jovan menahan tangan nya.

 

"Gue_" ucapnya terputus saat Nara dengan rasa sakitnya menamparnya kuat. Jovan Mengusap sudut bibirnya yang sedikit robek, tamparan Nara benar-benar dahsyat. Kekuatan seseorang yang tengah sakit hati memang sangat kuat.

 

Ah, Jovan benar-benar telah membangunkan singa dalam diri Nara mengaum marah.

 

"Gue benci kalian!"

 

Jovan menatap punggung rapuh itu menjauh. Apa yang sudah ia lakukan? 

 

Jovan bodoh! Tolol! Kenapa lo bisa lost control kayak tadi. Lo beneran brengsek Arion! Rutuknya pada dirinya sendiri.

 

**

 

Dua hari berlalu. Nara mengurung diri di kamar serta menolak kunjungan dari para sahabat nya. Hatinya kacau. Kenapa bisa ia sempat terlena dengan perlakuan manis cowok itu. Sedari awal, harusnya dia sadar dan menjaga jarak. Tidak ada laki-laki yang melihatnya tanpa ada niat buruk. Dan Jovan membuktikan nya. Mengingat itu, air mata nya kembali mengalir dari dua sudut matanya.

 

Jovan brengsek! Gue gak akan maafin lo seumur hidup bedebah! Umpat Nara dalam hati.

 

Meski ia kecewa, entah mengapa bagian sudut hatinya tetap bertanya-tanya mengenai bagaimana kondisi cowok itu. Apalagi, dua hari ini dia juga tidak ada niatan meminta maaf padanya.

 

Huft..memang cowok sampah!

 

Dering ponsel membuatnya berdecak. Nara Mengusap pipi sembabnya sedikit kasar, merangkak malas meraih ponselnya di atas nakas. Keningnya mengernyit melihat nomor baru. Ia mengabaikannya. Ia sedang bersedih dan menata hatinya kembali. Ia tidak ingin diganggu.

 

Lagi. Ponsel nya berdering beberapa kali. Dengan terpaksa Nara menggeser tombol hijau.

 

"Gue lagi sibuk. Tolong jangan ganggu gue!" ucap Nara ketus dengan suara seraknya.

 

"Maaf Nara, tante gak tau kalo kamu lagi sibuk. Kalau begitu, tante tutup telfonnya. Maaf sudah mengganggu waktumu." 

 

Suara ini.. Nara gelagapan. Ia berdehem. 

 

"Eh itu.. Bukan itu maksud Nara tante, Nara gak lagi sibuk kok, beneran deh." Diana menghela napas.

 

"Kamu lagi ada masalah ya? Maaf kalo tante bikin kamu terkejut." Nara mengeleng. Saat ia sadar orang di sebrang sana tidak akan melihatnya akhirnya ia menjawab.

 

"Hanya sedikit. Mph.. Tante ada apa ya nelfon Nara. Maaf kalo Nara sempet gak sopan." terdengar helaan napas dari ujung sana. Nara mengernyit heran.

 

"Tante.."

 

"Udah tiga hari Jovan gak ada kabar. Para pembantu dirumah juga semua penjaga nya tidak ada yang tau keberadaan nya, dia gak ada pulang kerumah. tante khawatir.. Maaf, apa kamu tau dia ada dimana?" Nara sedikit terkejut. Ia bahkan tidak mengetahui hal itu sama sekali. Memang semenjak ia pergi meninggalkan cowok itu, Nara tidak mau menerima satupun panggilan ataupun kabar dari siapapun. Ia hanya berdiam diri di kamarnya.

 

"Nara gak tau tante, udah dua hari ini kita gak ketemu, jadi Nara gak tau keberadaan nya." Diana menghela napas berat.

 

"Dia kemana ya Tuhan.. Tante beneran khawatir sama dia. Dia gak pernah mau cerita apapun kondisinya meski dia sendirian. Dia selalu gak mau ganggu kami dan bikin kami khawatir, tapi sekarang.. Dengan menghilang nya dia aja udah bikin kami bener-bener khawatir. Tante baru bisa pulang dua hari lagi. Tante gak tau harus gimana? "

 

Nara menggigit bibir bawahnya. Ia bingung, haruskah ia menolong Tante Diana atau berpura tidak tahu apa-apa?

 

Satu sisi dia kecewa, namun ada bagian hatinya yang turut merasakan khawatir mendengar ia tidak ada kabar sama sekali. Lalu dia harus apa?

 

"Tante udah cari tau dari Gavin sama Reza?"

 

"Udah. Tapi nihil, bahkan mereka bilang nomor Jovan gak bisa dihubungi. Tante benar-benar khawatir dan gak tau lagi gimana cari dia. Om udah nyebar orang buat nyari keberadaan nya, tapi sampai hari ini belum ada kabar juga." jawab Diana pelan. Nara mengerti pasti berat untuknya sebagai ibu yang mengkhawatirkan anaknya yang tidak ada kabar bahkan menghilang tanpa jejak.

 

Lama Nara terdiam. Ia menghembuskan napas panjang. Ia sudah memutuskan.

 

"Nara akan bantu cari, tante gak usah khawatir. Semuanya pasti baik-baik aja."

 

_

 

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8