Setiap orang memiliki topengnya masing-masing, ada yang menyembunyikan lewat tawa ada juga yang menutupinya dengan diam. Karena diam adalah salah satu cara terbaik menghadapi masalah di saat bibir tak lagi mampu mengungkapkan segala yang dirasa. 

 

***

 

Mereka kian dekat. Meski sering kali tetap berdebat, namun hubungan mereka bisa dikatakan lebih akrab dan terkesan romantis. Tentu saja Mereka tidak menyadari itu, yang bisa merasakan itu hanyalah orang-orang yang melihat interaksi mereka. 

 

Seperti sekarang, mereka tidak akan berhenti berdebat meski berujung dengan berjalan melangkahkan kaki searah. 

 

"Gue mau makan ramen. Kalo Lo mau makan bento ya udah sana gak usah ganggu gue. Hush.." ucap Nara mengibaskan sebelah tangan nya. 

 

Siang ini memang jadwal praktik Nara. Jovan berusaha memaksakan diri meski tubuhnya belum benar-benar pulih. Mereka sibuk berdebat hanya mengenai menu makan siang kali ini. 

 

"Lo temenin gue, gue masih gak enak makan gegara sakit kemaren. Lo harus tanggung jawab." Nara melirik sinis. 

 

Sungguh merepotkan. 

 

"Gue gak buntinggin elo. Gak usah sok minta pertanggung jawaban. Gak guna!" balas Nara berbalik. Dengan cepat Jovan menarik tangan nya menuju Cafe sebrang rumah sakit. Nara mendelik. 

 

"Lo apa-apaan sih, lepas. Gue mau makan ramen." pekik Nara sebal. Jovan tidak mengindahkannya. Tetap menyeret tangan Nara memasuki kedai Cafe. Jovan memaksa Nara untuk duduk. 

 

"Biar adil, kita makan disini. Gak ada korea ataupun Jepang disini. Jadi pesan mau lo apa!" Nara berdiri. 

 

"Gue gak mau. Kenapa lo ngotot maksa gue!" pekik Nara tertahan. Jovan menatapnya sebentar. 

 

"Duduk atau gue cium di sini. Pilih!" Nara melebar kan matanya. Menunjuk Jovan dengan jari telunjukknya. 

 

"Lo! Lo pikir gue takut, heh? Ini tempat umum, reputasi lo yang bakal tercemar." Jawab Nara mencemoh. Jovan segera berdiri, menarik pinggang cewek itu mendekat. Nara menahan dada Jovan dengan sebelah tangannya agar tidak terlalu dekat. 

 

Jovan memajukan wajah," Gue gak pernah main-main Nara Sidzkia, tapi kalo Lo butuh bukti, gue gak masalah meskipun Nama gue taruhannya." bisik Jovan rendah. Nara bergidik. Mendorong tubuh Jovan menjauh darinya.

 

"Fine. Gue duduk nih!" ucap Nara menarik kursi sedikit kasar. "Mau makan aja ribet gini, Astaga.." geruru Nara kesal. Jovan mengendik acuh.

 

Yang jelas, Jovan tidak akan membiarkan Nara jauh darinya. Hanya Nara yang Jovan miliki saat ini. Hanya Nara yang mampu mengisi kekosongan dirinya. Dan hanya Nara yang benar-benar membuat Jovan lebih bersemangat menjalani harinya untuk membuat Nara kesal.

 

Dalam hal ini, izinkan Jovan menjadi egois. Tamak akan setiap perhatian yang cewek itu berikan. Jovan tidak akan mengalah lagi dengan keadaan. Egonya mengambil alih. Dia harus mengorbankan perasaan orang lain untuk meraih kebahagiaan diri nya sendiri. Meski dengan cara yang salah.

 

Dering ponsel Nara terdengar. Bayu. Nara segera mengangkatnya. Jovan melirik sekilas. Ia mendengkus tidak suka. 

 

"Paan?" 

 

"Tolongin gue dari si ulet bulu, bisa alergi gue di tempelin sama itu makhluk." mohon Bayu putus asa. Nara terkekeh. Ia tahu siapa yang Bayu maksud. Sejak tahu jika Bayu memiliki sikap peduli terhadap orang lain berlebihan. Orang lain sering memanfaatkan nya, tidak terkecuali tri angel. Namun tidak separah cewek yang sedang gencar mendekati Bayu kali ini. 

 

"Gue lagi makan siang, urusin sendiri masalah lo." Bayu berdecak. 

 

"Gimana caranya gue ngusir dia, kalo dia aja selalu tau kegiatan gue selama di kampus. Nyesel gue pernah nolongin sesil." Ya, namanya Sesilia meidina. Gadis blasteran indo-eropa membuatnya terlihat sangat cantik dan anggun. Namun tidak dengan sikapnya yang seperti wanita nakal. Gadis itu terobsesi dengan Bayu karena sikap Bayu yang selalu peduli dengan orang lain. Dan dia memanfaatkan nya. 

 

Benar-benar tidak tahu diri. Nara menghela napas, "Lo aja kesulitan ngadepin dia, gimana sama gue pe'a!" 

 

"Gini aja, dia kan gak gitu berani sama gue, gimana kalo pulang kuliah lo alasan keapartemen gue buat ngerjain tugas. Tapi sekalian bawa cemilan sama soda. Gue pulang jam tiga sore ini." tambah Nara mengimbuhkan. Bayu berdecak. 

 

"Itu maunya elo rentenir. Gak ikhlas amat lo nolongin sahabat sendiri." Nara semakin terkekeh. 

 

"Mau apa enggak terserah lo. Lagian yang dikintilin dia elo ini bukan gue, so.. Serah lo papi jelek." ejek Nara. Bayu mendengkus kesal di sebrang sana. 

 

"Kalo dia tetep mau ikut ke apartemen lo gimana?" Nara mengukir seringaian. 

 

"Gak bakal berani. Dia takut sama sikap anarkis gue soalnya." 

 

"Iya juga. Mana ada yang berani sama cewek sadis macam lo. Mau nelanjangin orang di depan umum. Psiko sih," 

 

Sebenarnya itu sudah lama, hanya saja mungkin sesil sedikit trauma dengan aksi tanpa ampun Nara saat melihat sesil menampar Aqila yang sedang dekat dengan Juna kala itu. Seperti yang kalian tahu, jika Juna memang sering kali berganti cewek asalkan itu cantik dan tidak membuatnya malu. Dan rupanya, hal itu membekas untuk seorang Sesilia meidina. 

 

"Bacot lo! Kalo bukan karna dia berani main tangan sama Aqila, gue juga gak bakal kalap. Pilihan di elo, selamat menikmati penderitaan sayang.. Dadah." ucap Nara sebelum mengakhiri panggilan sepihak. 

 

Jovan diam memerhatikan nya sedari tadi. Tidak di pungkiri, kedekatan Bayu dengan para sahabat nya sering kali membuat orang lain cemburu. Selain dia menjadi tameng untuk mereka, Bayu juga sering kali mendapat perhatian lebih dari para sahabatnya. Untuk hal ini, Jovan sedikit iri. Karena kedua sahabatnya sudah mempunyai tanggung jawab masing-masing membuat pertemuan mereka menjadi rengang. Dan mengharuskan dia melewati kesepiannya sendirian. 

 

Nara yang melihat Jovan menundukkan kepala mengengam tangan besarnya. Jovan mendonggak, mata mereka saling menumbuk. Lagi. Iris matanya memancarkan kekosongan. Entah apa lagi yang kini ada dipikiran cowok itu, yang jelas Nara sedikit terusik melihat binar mata yang sering mengejeknya berubah sendu. 

 

"Lo terlalu banyak berfikir yang gak penting. Bisa sehari lo nikmatin hari tanpa memikirkan keadaan?" Jovan tertegun. Menatap Nara dengan mata sendunya. 

 

"Nyatanya, gue emang bener-bener sendirian. Gak ada yang peduli sama gue selain diri gue sendiri." Nara mengeleng. Balas menatap Jovan menenangkan. 

 

"Siapa bilang? Gue peduli sama lo, meskipun lo nyebelin dan sering bikin gue naik darah, tapi lo selalu tau apa yang gue butuhin. Lo.. Bahkan mengenal gue jauh dari yang gue kira." 

 

Jovan tergugu. Dia tidak tahu harus menjawab apa. 

 

"Sebenarnya udah lama gue mau nanya ini, dari mana lo tau kebiasaan gue, bahkan sesuatu yang kadang gak gue sadarin pun, elo lebih paham dan ngerti itu. Gue gak mau ge-er, tapi apa lo emang ada rasa sama gue?" 

 

Kalo iya lo mau apa? Batinnya berontak. Namun yang keluar malah, 

 

"Kepedean lo. Lo gak perlu tau jelasnya, cukup ngertiin setiap pergerakan gue, tapi kalo Lo masih gak ngerti ya udah. Cukup diem dan gak usah banyak komentar." sebenarnya bukan ini yang ingin ia utarakan. Namun Egonya terlalu tinggi. Jovan takut Nara menghindarinya. Dan dia belum siap untuk sendirian lagi. 

 

Nara mendengkus kesal. Tidak ambil pusing dengan perkataan tidak jelasnya. Tapi ada satu yang mengganggu pikiran nya, mengerti setiap pergerakan yang dia lakukan itu, maksudnya apa?

 

**

 

Seperti yang dikatakan Nara tadi siang. Kini Bayu benar-benar datang ke apartemennya. Dengan membawa camilan juga bebarapa minuman soda pesanannya. Harusnya Nara merasa senang, namun ada hal yang membuatnya setia menekuk wajah.

 

"Lo kenapa bisa ada disini?" Bayu bertanya heran. Bukan dengan Nara melainkan dengan seseorang yang berada di samping nya kini. Nara mendengkus, mengambil alih kantong kresek pesanan nya. Berlalu menuju kulkas untuk menatanya.

 

"Cuma main, emang gak boleh?" jawab Jovan santai. Bayu terkekeh. 

 

"Ya enggak sih, cuma heran aja bisa ketemu lo di tempat sahabat gue. Gak salah 'kan gue nanya ini?" 

 

Jovan bukan tidak mengerti maksud pertanyaan Bayu. Ia mengerti dengan jelas nada yang Bayu tujukan untuknya. Seperti yang kalian tahu, Bayu merupakan undakan pertama untuk bersanding dengan sahabat yang selama ini ia jagai. Bukan tanpa maksud, Tapi sikap kebapak an Bayu memang sudah mendarah daging jika bersangkutan dengan para sahabat-sahabatnya. 

 

"Gak usah basa basi. Dari pertama lo juga paham sikap gue ke dia. Lo gak ada hak buat melarang gue 'kan?" Bayu tersenyum kecil, menatap Jovan lurus. 

 

"Emang gak ada, tapi kayak yang lo tau, mereka tanggung jawab gue, selama gue belom yakin sama kalian yang deketin dia, gue gak akan tinggal diem." Jovan mengangguk. Paham dengan posisi Bayu diantara mereka. 

 

"Nara bener-bener rapuh, sekali lo buat dia sakit dan terpuruk. Gue gak bisa jamin kalo dia tetap bisa bertahan sama dinding yang sengaja dia buat." Jovan melirik Bayu yang duduk disampingnya. 

 

"Apa ini karna ulah si brengsek itu?" Bayu mengangguk. 

 

"Nyaksiin penghianatan di depan matanya sendiri, bahkan hampir ngalamin pelecehan. Bener-bener berpengaruh besar sama pemikiran nya. Mulai saat itu, dia bener-bener nutup diri dan cuma fokus sama impian nya jadi psikiater hebat. Hatinya cidera terlalu dalam oleh cinta yang udah dia Percaya in. Lo tau, sikap galak dia selama ini.. Cuma tameng buat pertahanan diri biar gak dianggap mudah sama seseorang yang deketin dia. "

 

Jovan berkedip dua kali. Ia memang tahu mengenai kejadian itu, namun dia tidak benar-benar tahu jika hal itu memengaruhi kehidupan masa depannya. Nara bagaikan burung pipit yang cacat. Sebelah sayapnya tidak lagi bisa ia gerakan, meski bisa.. Ia takut terluka dan menjadi cacat selamanya. Untuk itu, dia tidak ingin mencoba dan memilih berdiam diri dalam zona nyamannya. 

 

Semua ini semakin rumit. 

 

"Gue ngasih tau ini, biar lo berfikir dua kali buat mantapin hati deketin dia, dia gak akan mampu bangkit kembali setelah luka untuk kedua kalinya dengan alasan yang sama. Gue harap lo ngerti." 

 

Jovan terdiam beberapa saat. 

 

"Gue bakal mengingatnya." 

 

Nara mendudukkan diri dan menyandarkan kepalanya di bahu Bayu. Bayu mendengkus. Namun tetap mengelusi sisi kepalanya lembut. 

 

"Kalian ngomongin apa, tegang banget kayaknya?" Bayu mencubit pipinya. Membuat Nara mengaduh. 

 

"Sakit pe'a!" 

 

"Kepo sih, jadi orang." Nara tidak menjawab dan asik bermain hape tanpa memedulikan dua pasang mata yang memandangnya prihatin. 

 

Sekilas dia terlihat baik-baik saja. Tapi siapa yang tahu jika dia menutupi semua rasa sakitnya dengan segala tawa yang dia tunjukkan pada dunia. 

 

Mencoba keluar dari lubang hitam masa kelam sangatlah sulit untuk di lewati. Dan Nara butuh seseorang untuk menariknya dari belenggu berkabut derita itu.

 

 

 

***

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4