Jangan bandingin hidup sama orang lain, setiap orang punya caranya sendiri menutupi rasa sakitnya. Jika pun kamu melihat hidupnya bahagia, percayalah di belakang sana ada segudang masalah yang ia coba tutupi dari dunia. 

 

🍁

 

 

***

 

"Makan dulu, ayo." ucap Nara membawakan semangkuk bubur. Jovan beringsut duduk bersandar pada headboard. Nara mengulurkan buburnya. Jovan diam memerhatikan nya.

 

"Buruan di makan, abis itu minum obat. Gue udah siapin tuh," Jovan mengeleng.

 

"Lemes. Lagian gue gak enak makan. Pait." tolaknya manja. Nara berdecak. Duduk di samping nya dan meletakkan mangkuk bubur di pangkuannya.

 

"Gue suapin. Gak usah banyak alasan." Jovan tersenyum samar.

 

"Buka mulut .." Jovan menerima suapannya. Nara kembali menyuapinya.

 

"Lo yang masak?" Nara mengeleng. 

 

"Gue masak mie aja gosong, gimana mau bikin bubur, bisa keracunan lo." Jovan terkekeh. 

 

"Payah." ejeknya. Nara tidak membalas. Mereka sama-sama terdiam.

 

Setelah habis makan. Nara membuka bungkus obat kemudian menyerahkan nya pada Jovan untuk di minumnya. Jovan menahan tangan Nara. Memperhatikan Nara dengan lurus. 

 

"Kenapa lo mau repot gini sama gue?" Nara terdiam. Ia juga bingung mengapa mau melakukan hal merepotkan seperti ini.

 

"Ngomong apa sih, lo. Bonyok lo udah nitipin lo sama gue, lagian.. Lo sakit juga karna gue."

 

Ya. Memang benar kan jika Jovan sakit memang karena nya. Jika bukan karena menunggunya di bawah guyuran hujan, Jovan tidak mungkin demam seperti sekarang. Ya, pasti karena rasa bersalah nya. Jovan menunduk lesu.

 

"Titipan ya..? " gumamnya pelan. Nara mengernyit.

 

"Ngomong apa lo?" Jovan menatapnya datar.

 

"Bukan apa-apa."

 

Mereka kembali hening. Nara mendelik saat Jovan menyingkirkan selimut di tubuhnya. Turun dan berlalu meninggal kannya yang masih tidak mengerti. 

 

Nara mengikutinya.

 

"Mau kemana? Lo masih sakit Van,"

 

"Taman. Gue bosen di kamar." jawab Jovan tanpa menoleh ke arahnya.

 

Jovan merebahkan tubuhnya di atas rumput yang tertata rapi di samping rumahnya. Nara mengikuti hal sama yang di lakukan Jovan. Mereka sama-sama diam sembari melihat langit cerah di bawah terik mentari yang menyapa tubuh mereka.

 

Nara memperhatikan Jovan dari samping. Meski terlihat baik-baik saja, entah kenapa iris matanya selalu memancarkan kekosongan saat mengungkit mengenai keluarga. Nara sudah mengetahui jika orang tua Jovan memang sering kali bepergian dan bahkan mereka berada di rumah paling lama hanya satu hari. Sebab di haruskan menjadi ahli waris, Jovan juga sudah sering menangani rapat-rapat penting juga mengurusi anak cabang perusahaan Arion corp.

 

"Jangan lama-lama mandang gue nya, gue tau gue ganteng." Nara mendengkus mendengar itu. Jovan terkekeh kemudian membuka mata saat tak kunjung mendapat balasan.

 

"Lo harusnya banyakan istirahat bukan malah tiduran disini." ucap Nara mengomel.

 

Jovan tersenyum tipis, "Gue muak harus berlama-lama di dalem rumah sendirian." Nara terdiam beberapa saat.

 

Jovan kembali mengalihkan pandangannya ke atas. Nara menatapnya dengan tatapan tak terbaca.

 

"Masih ada pembantu lo yang nemenin juga nyiapin kebutuhan lo. Lo harusnya lebih bersyukur untuk itu."

 

"Gue gak pernah bilang kalo gue gak bersyukur sama hidup gue. Cuma sesekali, gue juga pengen kehidupan gue selayaknya orang lain. Ngabisin waktu bareng keluarga juga menikmati kehangatan kasih sayang mereka. Gue gak butuh uang kalo hal itu bikin gue sama mereka bagai orang asing kayak gini. " curhatnya mulai terbuka. 

 

Nara hanya diam mendengarkan keluh kesah nya. Jovan menutup mata dengan sebelah lengannya.

 

"Gue bener-bener berharap jadi orang biasa aja. Hidup sendirian itu gak enak Ra, kadang gue selalu mikir, apa punya abang atau adik bisa terasa menyenangkan kayak Reza sama Audy yang saling menguatkan. Itu.. Pasti nyenengin kan? " Mereka diam sesaat, Nara mengulurkan tangan mengusap sisi kepala Jovan pelan. 

 

"Pasti beratkan kan?" 

 

"Memang sehampa itu buat bertahan dalam sepi. Tapi lo harus inget, semua orang punya kebahagiaan nya masing-masing, jangan iri ataupun bandingin hidup lo sama orang lain, karena dari tiap mereka juga punya kesakitan nya sendiri-sendiri." lanjut Nara menyorot Jovan serius. 

 

Jovan menoleh, melihat Nara yang menunjukkan senyum manisnya. Jovan mengambil tangan Nara dari kepalanya. Mengengamnya erat. 

 

"Kenapa cuma lo yang bisa paham situasi gue? Kenapa mereka gak sadar meskipun berulang kali gue nunjukin sikap gak rela gue tiap liat mereka keluar dari pintu rumah. Gue_" 

 

"Gue psikiater kalo Lo lupa. Merawat rasa sakit udah salah satu tujuan gue jadi dokter." sambar Nara cepat. 

 

Iris mata mereka saling menumbuk. Nara dengan jelas melihat pancaran kekosongan dari iris mata hitam di depannya. 

 

"Lo sendiri, kenapa masih gak mau jalin hubungan padahal lo udah dewasa?" tanya Jovan menatap Nara lurus. Nara menelan ludah susah payah. Menarik tanganya dari gegaman Jovan. Matanya bergerak gelisah. 

 

"Males aja." 

 

"Males? Umur lo udah matang buat melangkah maju, apa ini ada hubungannya sama si brengsek itu?" Nara menggigit bibir bawahnya. 

 

"Di umur gue yang sekarang, gue udah gak minat buat main-main. Dan tentang dia, gue gak tau itu berpengaruh atau enggak tapi, gue sadar.. Gue udah cidera sedalam itu mengenai hubungan serius." Jovan menatapnya lama. 

 

"Lo gak mau pacaran atau gak mau nikah?" 

 

"Dua-duanya." 

 

"Kenapa?" 

 

Sesaat Nara terdiam. Ia juga masih bingung dengan luka nya. Namun ada sesuatu yang membuatnya takut terpuruk kembali. 

 

"Hancurnya kepercayaan bikin gue takut jatuh terpuruk dengan rasa sakit. Gue benci penghianatan, dan gue bener-bener gak bisa maafin sesuatu berbau kebohongan. Cukup sekali gue terbelengu rasa sakit, dan gue gak mau ngulang lagi." 

 

**

 

Langit dengan cepat berganti. Nara masih di rumah Jovan. Menemani kesepian yang kian mencekik cowok itu di kala rapuh seperti sekarang. Tidak ada yang bisa ia jadikan sandaran, bahkan orang tuanya tidak mengetahui keadaan nya saat ini. Untuk sementara, Nara lah yang mengambil alih sebagai peran pendamping. 

 

Meski Jovan tidak mengatakan agar Nara tetap tinggal. Namun sorot hampanya sudah menjadi permohonan tak terucap yang tersampaikan lewat mata. Entah mengapa juga.. Nara menjadi peduli seperti ini. Selain pada sahabatnya, nara tidak pernah mau di repotkan dengan urusan orang lain. Apalagi itu mengenai rival menyebalkan nya. Sangat tidak bisa di percaya dia dengan lapang mau menemani cowok itu seharian penuh. 

Nara duduk bersandar di ruang keluarga, menonton serial drama korea yang sedang booming di kalangan masyarakat. Jovan lesehan di atas karpet berbulu tepat di bawah Nara duduk. Mereka hanya diam menikmati waktu damai mereka. 

 

Jovan merangkak naik kesofa. Meletakkan kepalanya di pangkuan Nara. Nara menunduk, melihat Jovan dengan tatapan heran. Sejak sakit, Jovan semakin terlihat manja. 

 

"Gue pinjem bentar, pala gue pusing." ucap Jovan cepat saat Nara hendak memprotesnya. Jovan menutup mata membuat Nara mendengkus. 

 

Usapan halus di kepala nya membuat Jovan membuka mata. Melihat Nara dari bawah saat cewek itu masih sibuk dengan drama di depannya namun tangannya masih mengelusi sisi kepalanya lembut. Jovan terdiam beberapa saat. Hatinya menghangat. Ruang kosong di sudut hatinya sedikit terisi dengan perhatian-perhatian kecil yang Nara berikan. Sadar atau tidak, Jovan semakin jatuh hati dan tidak bisa berpaling dari cinta pertama nya. 

 

Jovan sering bermain perempuan. Bukan dalam hal salah, melainkan hanya dekat dengan beberapa perempuan namun tidak memacarinya. Dia tidak pernah benar-benar merasa tertarik selain dengan cewek yang sedang mengelusi kepalanya kini. 

 

Jovan tersenyum samar. Menutup mata menikmati elusan hangat yang menjalar di relung hatinya. 

 

Ah.. Gue bener-bener butuh seseorang kayak lo, Nara Sidzkia. Batinnya tersenyum dalam tidurnya.

 

***

 

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11