Mulai peduli πŸƒ

 

Perhatian kecil darimu, terkadang membuat aku merasa jika aku akan baik-baik saja meski hanya berdua denganmu. 

 

 

***

 

Hujan.

 

Waktu menunjukan pukul delapan malam. Artinya, Jovan sudah menunggunya di taman. Namun Nara ragu. Di luar hujan deras dan mungkin Jovan juga pasti sudah pulang. Ia tidak akan melakukan hal bodoh dengan menunggunya 'kan?

 

Malam ini Bayu berkunjung keapartemennya. Sehabis pulang kuliah tadi Bayu memang mampir dengan alasan 'kangen' karena tidak lagi memiliki waktu bersama tri Angel akhir-akhir ini. Terpaksa Nara tidak jadi mengusirnya. Bayu tidur di pangkuannya. Nara berdecak namun tetap membiarkannya sembari memainkan ponsel. Ia ragu untuk menghubungi Jovan.

 

"Lo ngapa dah gelisah gitu?" Nara menyandarkan punggung nya.

 

"Mungkin gak, ada orang yang nungguin kita di saat hujan kayak gini?" Bayu mengernyit. Mengambil ponsel Nara dan menjauhkannya. Ia melihat Nara dari bawah.

 

"Lo ada janji sama orang ya? Ngaku lo!" tuduh Bayu memicing kan mata. Nara mengeleng cepat.

 

"Engak. Gue cuma nanya doang." jawab Nara cepat. Bayu masih memicing.

 

"Maksud gue, masih ada gak sih orang bodoh yang bakal nunggu seseorang di tengah hujan kayak gini? kan, konyol aja gitu." ucap Nara meralat. Bayu membulatkan bibir.

 

"Kayaknya gak ada deh, ngapain juga bertindak bodoh dan ngerugiin dirinya sendiri. Tapi lain halnya kalo dia cinta sama seseorang itu, mungkin beda lagi ceritanya." balas Bayu mengendik. Nara mengangguk paham.

 

"Seriusan lo gak ada janji sama orang?" ulang Bayu. Nara mengeleng ragu.

 

Yah, dia memang belum mengiyakan ucapan Jovan tadi siang. Itu artinya dia belum berjanji 'kan? Dan lagi, kalau pun Jovan datang dan menunggunya, itu akan terdengar mustahil. Iya mustahil, seperti yang di katakan Bayu tadi, kemungkinan seseorang akan tetap menunggu di tengah hujan itu jika seseorang itu mencintai orang yang di tunggunya bukan? Dan Nara yakin jika Jovan memang tidak memiliki itu untuk Nara.

 

Setidaknya itulah yang ada di pikiran nya saat ini.

 

Di lain tempat, seseorang berulang kali melihat jam yang melingkar ditanganya. Ia menghembuskan napas panjang kemudian beranjak dari tempatnya berdiri di bawah guyuran hujan.

 

Dia tidak akan datang. Pikirnya.

 

Nara menarik sebelah tangan Bayu, melihat waktu menunjukan pukul setengah sembilan. Nara menghela napas. Dia pasti gak dateng kan?

 

Bayu beringsut duduk. Melihat Nara dengan pandangan menelisik.

 

"Sebenarnya apa yang bikin lo kayak lintah kepanasan gini, Hm? Lo gak bisa diem dan beberapa kali ngeliat jam terus, cerita sama gue." pinta Bayu menuntut. Nara menggigit bibir bawahnya. Ia ragu untuk bercerita.

 

"Gue gak papa. Udah setengah sembilan tuh, kaga pulang lo? " Bayu mendengkus.

 

"Ngusir gue lo!" Nara meliriknya sinis.

 

 

"Udah malem pe'a! Disini kita cuma berdua, kalo di grebek berabe urusannya. Lagian gak ada Aqila, mending lo pulang sana. Jangan bikin fitnah gue lo."

 

"Halah basi lo! Lagian itu anak satu masih aja ngarepin si kadal darat, udah tau ujung-ujungnya nangis masih aja bertahan. Heran gue." decak Bayu menarik tasnya di atas meja.

 

"Susah di bilangin. Batu kayak lo!" balas Nara mengejek. 

 

"Enak aja. Keras kepala kayak Kinan yang bener mah, ya udah gue pulang. Kunci pintu sama jendela. Jangan tidur malem _"

 

"Iya papi iya.. Udah gak usah banyak pidato, pulang sana!" potong Nara cepat. Bayu mencebik, mengacak rambut Nara kemudian berlalu.

 

"Besok ajakin tuh anak mabar. Biar gak ada alesan Ngusir gue lagi lo." Nara terkekeh melihat wajah kesal Bayu.

 

"Iya papi.. Bawel amat elah kayak emak-emak." balasnya terkikik. 

 

**

 

Pagi ini Nara tidak melihat Jovan datang ke rumah sakit. Nara sedikit merasa gelisah memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi semalam. Ia sudah menghubungi cowok itu namun tidak ada jawaban, bahkan pesannya saja belum dia baca. 

 

Rea berjalan di sampingnya, merangkul pundak Nara membuat sang empunya berdecak. 

 

"Tumben pangeran lo kaga ada nyamper, dia kemana?" tanya Rea ingin tahu. Nara mengendik. 

 

"Emang gue emak nya. Mana gue tau dia dimana." 

 

"Biasanya kan pagi-pagi udah ngasih drama picisan sama lo, eh pagi ini sepi tanpa ngeliat kalian cek - cok . Gak seru ah." 

 

"Gak seru pale lo!" balas Nara menjauhkan wajah Rea dari nya. 

 

Terlihat dua orang bersetelan hitam berhenti di depan mereka. Nara mengernyit. Melirik Rea yang mengendik tidak tahu. 

 

Salah satu dari mereka memberikan paper bag berukuran sedang pada Nara. Nara sedikit ragu menerimanya. 

 

"Dari siapa? Kalian juga siapa?" tanya Nara tidak mengerti melihat kotak Bekal di dalamnya. 

 

"Kami pesuruh dari Tuan Muda Arion, Nona. Itu juga darinya." jawab salah satu dari mereka. 

 

"Kenapa kalian yang nganter? Jovan sendiri kemana?" tanya Nara memastikan. 

 

"Tuan muda sedang sakit Nona. Bekal itu juga di buat oleh pembantu keluarga Arion. Jika sudah tidak ada yang ingin di tanyakan ksmi permisi, Nona." 

 

"Tunggu.." kedua orang itu berhenti. 

 

"Jovan, dia sakit apa?"

 

"Saya kurang tau Nona, Tuan hanya memerintahkan kami lewat telfon. Kami juga belum melihat keadaan beliau." Nara mengangguk mengerti. 

 

"Sampaikan terimakasih ku padanya." mereka mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Nara. Rea mengerjap. 

 

"Pak Jovan beneran idamanable banget Ra. Lagi sakit aja dia masih inget ngasih lo sarapan sehat. Astaga, gak salah kalo gue kagum sama dia." ucap Rea melihat pancake buah dan salmon wrap di dalamnya. Nara bergeming.

 

Jovan sakit apa?

 

***

 

Nara izin setengah hari. Ia berniat menemui Jovan di rumahnya. Tak bisa di pungkiri jika dia juga turut merasa khawatir mengenai keadaan nya. Apalagi Jovan tidak mengangkat tefon darinya sedari tadi.

 

Tak perlu waktu lama, Nara sudah sampai di rumah Jovan. Ia mengetuk pintu dan langsung di sambut oleh pembantunya.

 

"Anda mencari siapa Nona?"

 

"Jovan nya ada?" pembantu itu mengangguk.

 

"Panggil saya Tini. Saya pembantu disini. Tuan belum turun sedari pagi Nona." Nara mengangguk.

 

"Bisa tolong antarkan saya." Tini mempersilakan masuk. Membimbing Nara menaiki tangga melingkar menuju kamar Jovan. Setelah sampai Tini pamit undur diri.

 

Lama Nara bergeming di tempatnya. Ia harus mengetuk atau langsung masuk saja?

 

Akhirnya setelah lama menimang, Nara memutar handle pintu pelan. Ia tidak ingin membangunkan sang pemilik. Tujuannya hanya ingin mengetahui Jovan sakit apa, dia tidak ingin membuat Jovan besar kepala jika tahu Nara mengkhawatirkannya.

 

Nuansa hitam perpaduan cokelat di setiap sudut ruangan dengan harum masukulin membuat Nara tersenyum samar. Benar-benar cowok sekali.

 

Ia berjalan mendekat ke arah ranjang dan melihat Jovan masih meringkuk di balik selimutnya. Nara berjongkok di depannya hingga bisa dengan jelas melihat Jovan dari dekat. Ia meletakkan telapak tanganya di kening cowok itu. Panas. Jovan demam ternyata.

 

Saat hendak menarik tangan nya kembali, Jovan menahan tangan nya.

 

"Siapa yang ngizinin lo nyentuh gue di saat tidur?" tanya Jovan membuka mata. Nara gelagapan.

 

"Eh, itu.. Gue_"

 

"Gue gak terima apapun alasan lo." Nara mendengkus. Meski sedang sakit, Jovan tetaplah Jovan. Cowok itu selalu saja ingin berdebat setiap kali bertemu dengannya.

 

Jovan mencoba duduk, Nara menahannya.

 

"Jangan paksain diri lo. Tiduran aja."

 

Nara mengambil thermometer di atas nakas. Mengarahkan pada Jovan untuk mengecek tinggi panasnya. Jovan menolak.

 

"Gue gak mau. Gue baik-baik aja."

 

"Orang gila kalo di suruh periksa juga bilangnya baik-baik aja. Udah buruan." Jovan mendengkus.

 

"Tapi gue bukan orang gila." balas Jovan tidak terima. Mengambil thermometer dari tangan Nara dan meletakkannya di antara bibirnya. 

 

"Serah lo aja." 

 

Jovan meringis melihat thermometer di tanggannya. 38° pantes aja gue ngerasa lemes banget. Pikirnya. 

 

Nara mengambil alih, ia berdecak melotot ke arah Jovan. 

 

"Demam tinggi gini dan gak mau periksa? mau mati muda lo!" Jovan tersenyum geli. Melihat Nara dengan mata sayunya.

 

"Nanti lo debat sama siapa kalo gue mati muda." 

 

"Jovan!" 

 

"Iya sayang kenapa? Sini-sini peluk dulu, ngomelnya ntar aja kalo gue udah sembuh, gue gak ada tenaga sekarang." Nara menghela napas. 

 

"Udah minum obat?" Jovan menggeleng. 

 

"Udah makan?" Jovan menggeleng lagi. 

 

Nara melihat Jovan serius. Sebenarnya ia tidak yakin, hanya saja ia ingin memastikan sendiri. 

 

"Kenapa bisa sakit?" 

 

"Karna gue juga manusia biasa." jawab Jovan santai. Nara mencebik. 

 

"Bukan itu maksud gue, jangan pura-pura bego. Lo sakit karna hujan-hujanan semalam 'kan?" 

 

Jovan tersenyum kecil. 

 

"Lo mau gue jujur?" Nara mengangguk ragu.

 

"Kalo iya emang kenapa?" Nara berkedip dua kali. 

 

"Kenapa lo bodoh banget sih, udah tau hujan tapi malah hujan-hujanan dan bukannya neduh? Lo nyari apa sih," 

 

"Kalo gue bilang karna gue sengaja nunggu lo karna takut lo nyariin gue gimana, apa lo percaya?" 

 

"Van.. Sebenarnya apa yang mau lo buktiin? "

 

"Ketulusan." 

 

"Maksudnya?" 

 

"Cinta tulus gak pernah berharap balasan Ra, itu yang mau gue buktiin ke elo." 

 

"Gue gak ngerti." 

 

Jovan tersenyum tipis. "Suatu saat lo bakal paham. Mungkin bukan sekarang."

 

 

***

 

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9