Pada dasarnya lelaki melindungi wanita bukan karena mereka lemah, Tapi karena setiap wanita itu berharga. 

 

***

 

 

"Kamu harus sering minum obat ya Dy. Meskipun keadaan kamu udah mulai membaik, tapi kamu masih butuh terapi mengenai Phobia kamu." Audy mengangguk. Nara melihat Reza yang setia mendampingi Audy setiap Chek up. Audy sangat beruntung mempunyai abang yang peduli dan sayang padanya.

 

Setelah melahirkan, Kinan benar-benar pensiun dari dunia psikiater dan menyerahkan pasiennya pada Nara. Termasuk menangani Audy dan traumanya. Gavin benar-benar melarang Kinan untuk bekerja. Untuk itu, pengobatan Audy sekarang beralih pada Nara.

 

"Apa aku bisa sembuh?" tanya Audy menatap Nara sendu. Reza Mengusap pundaknya.

 

Nara melihat Reza sekilas, "Semua perlu waktu dan butuh proses untuk sembuh Audy. Setiap orang pasti bisa sembuh kalo kalian punya keinginan untuk sembuh. Jadi tetap positif, oke."

 

"Tapi aku masih takut berdekatan sama laki-laki selain abang, itu gak akan mengganggu aktivitas kuliahku 'kan?" tanya Audy penuh harap. Nara bergeming. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut salah bicara, pasalnya.. Keadaan Audy mengenai phobianya sangat memerlukan waktu lama dan butuh penyesuaian diri.

 

Nara menggenggam tangan Audy tersenyum menenangkan.

 

"Ayo kita sama-sama berusaha. Kamu harus mulai menyesuaikan diri dan aku akan melatihmu agar lebih nyaman di ruang terbuka. Ingin mencoba?" Audy menggigit bibir bawah nya. 

 

"Apa itu membantu?" Nara mengangguk yakin. 

 

"Selama kamu punya niat untuk sembuh, aku yakin kamu pasti mampu." 

 

Reza Mengusap kepala Audy sayang. "Kamu denger 'kan? Kalo kamu benar-benar ingin sembuh, tidak ada yang tidak mungkin Audy." Audy mendonggak. Memeluk perut Reza membenam kan wajahnya. 

 

"Dy bener-bener butuh abang.. Abang jangan ninggalin Dy kayak papa sama mama ya bang?" cicit Audy pelan. Reza memejamkan mata. Mengelusi kepala Audy pelan. 

 

"Abang gak akan ninggalin kamu. Abang janji." 

 

Nara melihat mereka bergantian. Meski terlihat baik-baik saja, Reza sebenarnya juga butuh seseorang untuk menguatkan nya. Di tinggal begitu saja oleh kedua orang tuanya dan harus menjadi sosok pengganti keluarga, Reza benar-benar tertekan. Ia juga butuh pelukan di kala ia merasa lelah menjalani harinya. Reza harus menjadi sosok kuat untuk melindungi adiknya yang rapuh. 

 

Pintu ruangan terbuka. 

 

Mereka mengalihkan atensi pada seseorang yang baru saja masuk. Nara menatapnya datar. Reza melirik sinis saat merasakan pelukan Audy semakin erat. 

 

"Hay Audy.. Gimana perkembangan kamu?" tanya Jovan berdiri di samping Nara. Audy meliriknya sekilas. 

 

"Lo bikin dia kaget setan! Ketuk pintu dulu kan bisa." jawab Reza melotot. Jovan terkekeh. Menatap Reza dan Audy bergantian. 

 

"Sori, sori.. Gue gak tau kalo kedatangan gue ngagetin kalian. Maafin abang Jovan ya Dy, mau 'kan?" 

 

Nara menepis tangan Jovan yang bertengger di pundaknya. Mendelik tidak suka saat Jovan tersenyum manis di depannya. 

 

"Lo makin gak tau diri, ini ruang praktik gue.. Hargai pasien gue juga dong." Jovan mengendik santai. 

 

"Gue bener-bener gak tau kalo masih ada mereka disini." jawab Jovan santai. Audy melirik mereka. 

 

"Kalian pacaran?" Nara melotot. Jovan merangkul pundak Nara. 

 

"Doain aja ya Dy, dokter kamu suka tarik ulur sih, sok jual mahal jadi orang. Jadinya susah di dapetin." jawab Jovan tersenyum miring kearah Nara. Nara mendengkus. 

 

"Amit-amit aku pacaran sama lucifer kayak dia."

 

Audy mengernyit, "Lucifer?" Nara mengangguk. 

 

"Iya, dia kan jelamaan iblis berwujud manusia jadi ya gitu." Audy tersenyum kecil menatap mereka tertarik. 

 

"Tapi kalian beneran cocok. Kenapa gak pacaran beneran aja?"

 

"Gak sudi aku sama dia, yang ada bikin darah tinggi kelamaan bareng dia." Reza terkekeh melihat Jovan dengan tatapan mengejek. 

 

"Kamu tau gak Dy? Jadi pengangum bertahun-tahun itu rendah banget ya? padahal udah di depan mata tapi sok-sok an gak mau di anggap membutuhkan padahal mah, aslinya emang butuh." Audy mendonggak. 

 

"Kasian banget pasti. Kenapa gak mau ngungkapin aja, siapa tau yang ditaksir juga punya perasaan sama kayak dia?" tanya Audy polos. Reza menahan tawa. 

 

"Iya kasian banget. Menurut lo kenapa seseorang itu gak mau ngungkapin perasaan nya, Van?" Tanya Reza pada Jovan. Jovan mendengkus melirik Reza sinis. 

 

"Setiap orang punya caranya sendiri buat mencintai seseorang. Entah mereka memilih terbuka atau cuma jadi pengangum rahasia, masing-masing dari mereka punya cara melindungi miliknya." balas Jovan datar. 

 

Nara mengernyit. "Kenapa malah bahas orang lain sih? Audy juga, kenapa nanya yang enggak-enggak." Reza dan Jovan menatap Nara datar. 

 

'Dasar gak peka!' pikir mereka. 

 

Audy tersenyum manis. "Aku bakal berusaha semaksimal mungkin. Kapan kita bisa mulai terapi?" Reza beralih melihat Audy terkejut. 

 

"Kamu serius mau coba di ruangan terbuka?" Audy mengangguk. 

 

"Dy gak akan tau kalo belom nyoba bang, untuk hasilnya.. Audy gak mau berharap banyak, tapi Dy bakal berusaha buat sembuh biar gak ngerpotin abang terus." 

 

"Kamu gak ngerpotin abang sama sekali. Jangan ngomong kayak gitu. Ini udah tanggung jawab abang buat jagain kamu. Abang gak suka denger kamu ngomong gitu." Audy menunduk memilin jari tanggan nya. 

 

"Abang juga butuh pendamping suatu saat nanti. Dy cuma gak mau terlalu bergantung dan bikin abang gak mau cari pasangan karna alasan jagain Audy. Maaf udah bikin abang marah." Reza mendekap Audy. 

 

"Sebelum ada yang bisa gantiin abang buat jagain kamu, selama itu juga.. Kamu adalah tanggung jawab abang. Jangan pernah merasa jadi beban buat abang. Abang sayang kamu." 

 

"Audy juga sayang abang." 

 

Reza melirik mereka berdua. Nara dan Jovan hanya diam melihat mereka. 

 

"Kita pulang ya, " jedanya melihat Nara, "Untuk terapinya, lo bisa hubungin gue kapan waktunya, Ra. Sebelumnya, makasih udah mau nanganin Audy sejauh ini. Gue harap ini bisa berhasil." Nara tersenyum kecil. 

 

"Udah jadi tugas gue sebagai dokter, Za. Audy sering-sering buat hubungi aku ya. Biar lebih bisa cari alternatif mudahnya." Audy mengangguk. Berdiri kemudian pamit bersama Reza. 

 

Setelah kepergian mereka. Jovan bersandar pada meja di samping Nara. 

 

"Apa Audy bener-bener bisa sembuh?" Nara menyandarkan tubuhnya pada kursi. Melihat pintu yang tertutup dengan pandangan yang sulit di artikan. 

 

"Sulit. Tapi gue bakal berusaha lebih buat nyembuhin dia." 

 

"Phobia dia gak jauh-jauh dari Kinan dulu. Meskipun masalahnya lebih berat Audy, tapi gue lihat.. Penanganan nya mungkin hampir sama." Nara mengangguk. 

 

"Memang. Tapi lo tau kan, bahkan Audy udah nangis duluan kalo di deketin cowok, gimana dia mau nyesuain diri kalo rasa traumanya selalu muncul setiap kali lihat cowok asing di dekat dia," Nara memberi jeda. 

 

"Kinan sembuh dengan cepat karna Gavin bener-bener bisa buktiin kalo cinta gak seburuk yang dia pikir. Tapi Audy, dia udah terlanjur menganggap laki-laki sekejam dan menakutkan seperti binatang liar yang harus dia jauhin. Gue tau ini bakal butuh usaha extra baik dari gue ataupun dari dia sendiri. " lanjut Nara memejamkan mata. 

 

Baru memikirkan cara apa yang cocok untuk ia terapkan pada Audy saja sudah membuat nya lelah. Ini adalah pr untuk Nara menguji kemampuannya. 

 

Usapan lembut di kepalanya membuat Nara membuka mata. Jovan tersenyum kecil. 

 

"Gue tau lo mampu. Untuk itu, jangan terlalu dipikirin. Lo juga butuh waktu buat menghibur diri lo sendiri selain harus membuat orang lain merasa bahagia dengan hidupnya sendiri." Nara mengerjap. 

 

"Malem ini, temuin gue di taman deket apartemen lo." 

 

"Ngapain?" Jovan tersenyum kecil. 

 

"Ntar juga lo tau." jawab Jovan kemudian berlalu keluar tanpa menunggu jawaban Nara. 

 

"Selalu dengan sikap bossy_nya." gerutu Nara melihat punggung tegap itu hilang di balik pintu. 

 

 

***

 

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9