Di saat aku sedih, aku tidak butuh pertanyaan 'kenapa sedih?' 

Cukup dekap aku dan katakan 'Everything is fine'. 🍁

 

***

 

Setelah pulang dari danau. Jovan tidak mengantarkan Nara pulang dan malah mengajaknya ke rumah lelaki itu. Nara sempat menolak, namun tetap saja.. Bukan Jovan namanya jika mudah menuruti perintah Nara. 

 

Sesampainya di rumah cowok itu, Nara terkesima dengan bangunan megah bergaya modern dari setiap desain sisi sepanjang jalan ia memasuki rumah. Tangga yang melingkar dengan pantulan kaca dan chandelier cantik di tengah ruangan membuat Nara kagum. Benar-benar cantik. Pikirnya. 

 

Saat memasuki ruang tamu, mereka tersentak saat sebuah suara berat mengalun di pendengaran nya. Mereka menoleh serentak. 

 

"Kemana saja kamu Jovan? Kenapa kamu selalu tidak di rumah di saat kami pergi?" Jovan menghela napas. Menatap sang papa dan mamanya bergantian. 

 

"Jovan punya urusan lain, dan Yah.. Diem di rumah sendirian bener-bener bikin Jovan bosen." Nara melirik Jovan sekilas, kembali menunduk saat Diana memerhatikan nya. 

 

"Gadis ini, apa dia pacarmu?" tanya Diana mama Jovan. Nara mengeleng cepat. 

 

"Bukan. Saya bukan pacarnya, kebetulan kita satu kampus. Dan Jovan adalah senior saya di kampus tante." jawab Nara cangung. Diana mendekatinya. Nara semakin gugup. 

 

"Wah, sayang sekali. Padahal tante kira kalian pacaran. Kamu pasti gak betah sama sikap bossynya kan?" 

 

Eh! Nara mengaruk kepala tidak gatal. Apa dia harus menjawab jujur?

 

"Lebih tepatnya semua sikap dia yang nyebelin tante." jawab Nara membuat Diana terkekeh. Jovan mendengkus melihatnya dengan tatapan protesnya.

 

"Kapan gue nyebelin? Sejak kapan juga lo jadi suka ngadu gini?"

 

"Lo gak punya kaca sih, dan gue gak ngadu ya.. Gue cuma jujur jawab pertanyaan orang tua. Emangnya apa yang salah?" jawab Nara tidak terima. Sebelum sempat membalas ucapan Nara, David ayah Jovan terlebih dulu menyela.

 

"Sudah jangan ribut. Apa kalian sudah makan? Mamamu sudah masak, ajak pacarmu makan bersama." Nara mengerjap. Bukankah sudah ia katakan jika mereka tidak berpacaran?

 

"Tapi kita gak_"

 

"Jangan menolak cantik. Kita makan siang bersama." potong David cepat. Diana menggeplak lengan David pelan.

 

"Jangan mengoda nya." David terkekeh pelan.

 

"Apa kamu cemburu?" balas David mengoda istrinya. Diana mencebik geli.

 

"Kamu sudah tua. Nara sudah pasti memilih Jovan di banding kamu yang sudah berumur." balas Diana membuat David mendengkus.

 

Nara berkedip dua kali. Dari mana mereka tahu namanya sedang Nara saja belum memperkenalkan diri? 

 

"Meski sudah berumur, tapi aku masih terlihat tampan bukan?"

 

Jovan yang merasa jengah menatap mereka bergantian.

 

"Jadi makan atau enggak?" mereka mengalihkan atensi berganti melihat Jovan yang melihat mereka dengan pandangan bosan.

 

"Jadi dong. Ayo kita keruang makan." seru Diana menggiring mereka kerang makan. Sebenarnya Nara sangat cangung. Tapi dia bisa apa jika sudah di paksa seperti ini, mau menolakpun sungkan.

 

Mereka makan dalam diam. Sejenak, keluarga Arion memang terlihat harmonis dan menyenangkan. Namun tidak bagi Jovan. Meski sikap kedua orang tua nya terbilang humoris. Namun dia tetap merasa sendirian. Apalagi keluarga kecilnya sudah jarang menemaninya lagi.

 

Nara melirik Jovan mengunakan ekor matanya. Jovan nampak lebih diam dan murung. Nara tidak mengerti kenapa, yang jelas Nara merasa jika Jovan tidak benar-benar bahagia dengan keluarganya. Padahal keluarga nya terlihat menyenangkan.

 

Dering ponsel di atas meja membuat David dengan segera mengangkat nya.

 

"Ada apa?"

 

Jovan menatap David dengan pandangan yang sulit di artikan. Nara semakin tidak mengerti keadaan nya saat ini. Diana menoleh ke arah David saat suaminya telah selesai bertelfonan. "Siapa?"

 

"Albert memberi tau jadwal penerbangan sore ini." Diana mengernyit.

 

"Bukannya besok pagi?" David mengangguk.

 

"Ya, tapi karena beberapa hal terpaksa harus di majukan. Kamu siap-siap, satu jam lagi kita berangkat." Diana mengangguk mengerti. Ia menatap putra semata wayangnya dengan pandangan bersalah.

 

"Mama sama papa sebenernya ingin tinggal lebih lama di rumah, tapi kamu tau sendirikan.. Kakek mu udah pensiun dan menyerahkan semua tanggung_"

 

"Aku tau. Kalian pergilah. Aku sudah terbiasa sendiri." potong Jovan cepat. Menunduk dengan mengaduk-aduk makanannya. David melihatnya sekilas.

 

"Papa tau kamu memang paham keadaannya son. Jadi Mengertilah. Maafkan mama dan papa yang tidak lagi punya waktu untukmu. Kami akan terbang ke London satu jam lagi. " Jovan mengangguk samar.

 

"Aku mengerti. Tidak usah khawatirkan Jovan. "

 

Nara melihat mereka bergantian. Sekarang Nara mengerti mengapa Jovan terlihat murung meski orang tuanya sangat menyenangkan. Well, orang kaya memang jarang memiliki waktu luang dan selalu di buru pekerjaan. Untuk itu, Nara tidak ingin menjadi kaya. Dia hanya ingin hidup berkecukupan. Cukup membeli barang yang diinginkan dan cukup membuatnya tidak perlu lagi memikirkan kesusahan dunia. Well, mudah bukan?

 

Mereka sudah selesai. Nara mengambil alih pekerjaan membereskan meja makan, ia tahu jika mereka sedang terburu-buru. Untuk itu ia menawarkan diri untuk mencuci piring kotor bekas mereka makan. Meski Jovan telah melarang nya, namun Bukan Nara jika menuruti perintah cowok itu. Setelah kedua orang tua Jovan berlalu untuk berkemas. Nara berniat mencuci piring, dengan cepat Jovan mengambil alih.

 

"Gue yang nyuci, lo yang ngelapin." ucap Jovan membuat Nara mendengkus mendengar nada bossynya.

 

"Biar gue aja. Mending lo bantuin bokap lo aja sana." balas Nara melihat David sibuk dengan kertas-kertas di tangannya. Jovan berpura tidak mendengar dan mulai mencuci piring tanpa menjawab Nara.

 

Nara melihat Jovan lama. 

 

"Jadi orang kaya gak seenak yang gue pikirin ternyata. Kebersamaan yang di renggut waktu terkadang emang menyiksa." Jovan menghentikan kegiatannya.

 

"Lo salah kalo mikir gue juga kayak gitu, karna Gue bukan salah satunya." balas Jovan memberikan piring yang sudah bersih pada Nara. Nara menerimanya, meski Jovan tidak melihatnya dan terdengar seperti biasa saja. Namun Nara tahu jika dia tidak benar-benar baik-baik saja.

 

Mereka kembali hening. Nara tahu Jovan membutuhkan waktu menenangkan pikiran nya. Ia tidak akan mendebatnya.

 

Kedua orang tua Jovan menghampiri mereka yang sudah selesai dengan kegiatan mencuci piring. Mereka pamit untuk pergi selama dua minggu.

 

"Nara sering main-main aja kesini biar Jovan punya temen. Semenjak Gavin nikah dan Reza sibuk sama adiknya, Jovan udah gak punya temen lagi. Tapi inget, jangan sampai lewat batas ya." pesan Diana membuat Nara mendengkus tidak suka.

 

"Kita gak bakal ngapa-ngapain tante. Lagian Nara gak bisa janji buat sering main kesini. Nara juga punya pekerjaan soalnya." Diana mengangguk paham. Mereka sudah tahu jika Nara bekerja dengan keluarga Arion. Untuk itu, bukan hal sulit mencari tahu mengenai nya yang sedang dekat dengan anak semata wayang mereka.

 

"Oke. Kalau begitu kami pamit ya. Jovan sering telat makan, ingetin dia kalo dia udah larut sama kerjaannya dia juga jarang tidur. Tante nitip Jovan." Jovan mencebik.

 

"Jovan bukan anak kecil ma. Udah jam empat tuh, kalian cek in jam lima kan? Mending buruan pergi takut macet."

 

"Mentang-mentang ada yang nemenin langsung ngusir kita. Ya udah ma, kita berangkat sekarang aja."

 

"Jangan mulai pa.." Diana terkekeh. Berjalan mendekat ke arah Jovan dan mencium pipi anaknya sayang.

 

"Jaga kesehatan, mama bener-bener pengin kita sering kumpul kayak dulu, tapi kamu ngerti keadaan nya kan sayang.." Jovan mengangguk lesu.

 

"Kalian hati-hati dijalan. Jaga kesehatan juga disana." ucap Jovan tersenyum kecil. Diana mengangguk. David menepuk pundaknya dua kali.

 

"Jangan terlalu memaksakan diri Jovan, papa sering denger kamu terlalu serius dan mengabaikan istirahat mu. Papa tidak suka melihat kamu sakit, apalagi kita jauh darimu. Untuk itu, papa ingin menyelesaikan ini lebih cepat. Kami pergi." ucap David mengandeng Diana keluar. Jovan menatap mereka lurus.

 

Nara masih setia memperhatikan nya. Di balik sikap nyebelinya, Jovan adalah sosok kesepian yang mencoba menghibur dirinya sendiri. Ia kehilangan kehangatan keluarga nya.

 

"Gue mau makan es krim sekalian keliling rumah lo. Boleh kan?" ucap Nara membuat Jovan mengalihkan pandangan nya.

 

Jovan mengangguk.

 

"Gue punya taman di samping rumah. Mau kesana?" Nara berbinar.

 

"Mau lah. Sekalian bawa cemilan sama soda ke sana. Gue mau baca Novel." jawab Nara antusias. Nara tipikal senang membaca dengan alam terbuka. Ia selalu mengisi waktu sendirinya dengan membaca.

 

Jovan tersenyum samar. Setidaknya.. Dia tidak benar-benar sendirian. Dengan melihat senyum Nara membuat ruang kosong di hati Jovan sedikit terisi dengan kehadiran Nara. 

 

Ah.. Jovan benar-benar membutuhkannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

876 557 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

590 461 14
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8