Aku akan memelukmu, mendekap mu hingga tidak ada orang lain yang mampu membuat mu tersakiti. 

🍁

***

Pagi yang cerah. Nara membuka mata dengan perasaan senang. Mood nya sedang baik saat ini. Nara tidak akan menanyakan bagaimana ia bisa masuk dan tidur cantik di ranjang nya. Untuk sesaat, Nara mengingat kejadian kemarin, sebenarnya ia malas mengakui, hanya saja, kemarin.. Ia benar-benar merasa Aman bersama laki-laki selain Bayu. Entah karena apa..

 

Seperti yang dikatakan Jovan semalam. Ia memang ada janji temu dengan direktorat pagi ini. Nara beringsut duduk, mengucek kedua matanya lalu turun untuk bersiap.

 

Dering ponsel membuat Nara yang tengah menyisir rambut terhenti.

 

Aqila.

 

"Kenapa La?" tanya Nara saat sambungan terhubung. Terdengar decakan dari sebrang sana.

 

"Ngapa dah nyuk?" ulang Nara sembari mengikat tali sepatu nya.

 

"Gue lagi kesel." Nara mengernyit. Ia mematut dirinya di depan cermin sebelum berangkat. 

 

"Hubungan nya sama gue apa?" 

 

"Laknat lo! Gak suka gue tuh, di giniin." ucap Aqila merajuk. Nara terkekeh. Berjalan keluar menuju mobilnya. 

 

"Ada apa emangnya? Paling gak jauh-jauh dari si kadal darat kan?" 

 

"Bukan, ini lebih parah dari Kak Juna. Pokoknya gue kesel." 

 

Nara mengernyit heran. Aqila hanya akan curhat jika berhubungan dengan yang namanya Arjuna. Namun kali ini, untuk pertama kalinya ia membahas orang lain selain Arjuna. Wah, apakah ini suatu kemajuan? 

 

"Ceritain bangke. Gue mana ngerti kalo Lo cuma bilang kesel-kesel doang." 

 

"Lo ngampus kan? Gue ceritain di warung mbak siti aja ntar. Gece!" Nara mendengkus. 

 

"Bentar lagi nyampe gue. Tapi gue mau ketemu direktorat dulu, lo tunggu aja di sana."

 

Aqila mengucap siap lalu mematikan panggilan nya. 

 

Tak lama Nara sampai di gedung Fly High University. Ia melangkah riang melewati lorong kampus yang lenggang. Ia berjalan menunduk dengan memainkan ponselnya. Tak sengaja dirinya menabrak tubuh seseorang hingga ia hampir terjatuh. Belum sempat Nara mengumpat, Nara terpaku saat matanya melihat siapa orang yang menabraknya. 

 

"Long time no see, Nara.." sapa seseorang dengan lembut, sesaat Nara bergidik mendengar suara berat itu.

 

Nara mengerjap melihat sosok laki-laki tampan itu berdiri menjulang di depannya.

 

"Lo! Ngapain Lo ada disini?!" ketusnya.

 

Laki-laki didepan nya kini tersenyum manis, menunjukkan smirknya. 

 

"Menurut Lo, ngapain gue ada di kampus? Gak mungkin ngamen kan." 

 

Nara memejamkan mata, dari dulu.. Lelaki ini tidak pernah berubah. Sifatnya yang menyenangkan lah, yang pernah menjerat Nara dalam tipu rasa semunya.

 

Nara mendesis, "Gak guna emang ngomong sama Lo." ucapnya hendak berbalik, dengan cepat cowok itu menahan tanggan nya.

 

"Apa begini, cara Lo nyapa mantan?" Nara meliriknya sinis.

 

"Cuma mantan kan? Gak usah sok penting! Lepasin tangan gue." ucapnya menghempas tangan besar yang menahannya.

 

"Lo berubah, Ra..." lirih cowok itu. Nara menyeringai. 

 

"Menurut Lo, siapa yang udah buat gue berubah?" tanya Nara memandang cowok itu dalam. Sesaat, mata mereka saling menumbuk. Dilon terdiam, Nara dengan cepat mengalihkan pandangannya.

 

"Perlu Lo tau, semua yang pernah hancur, nggak akan pernah sama lagi seperti semula. Sama halnya dengan Hati, Dilon." matanya memanas. Nara mengepalkan kedua tangannya. masih teringat jelas kejadian dua tahun lalu yang membuatnya kehilangan Rasa. . 

 

Ya.. Dia adalah Dilon Danuarta. Mantan kekasih sekaligus cinta pertama nya. setelah penghianatan yang cowok itu lakukan, membuat Nara tidak lagi mempercayai laki-laki, setelah apa yang dia coba percayakan, dengan mudahnya di patahkan oleh cowok di depannya kini.

 

Dilon menunduk dalam, ia sangat menyesal. Namun tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikhlaskan keputusan Nara. Wanita yang dicintainya, namun dengan bodohnya ia mengecewakan kepercayaannya. 

 

"Gue nyesel Ra.. Gue minta maaf." Ucap Dilon mencoba meraih jemari Nara yang langsung di tepis kasar.

 

"Maaf? Apa itu bisa mengembalikan keadaan?!" balas Nara yang membuatnya bungkam.

 

Jawabannya Tidak.

 

 Sampai kapanpun, tidak akan pernah ada Hati yang mampu seperti semula setelah hancur.

 

Seperti Halnya kaca, ia kuat namun akan tetap menjadi rapuh jika sudah retak, atau bahkan hancur. 

 

Dilon menyadari bahwa dia sudah sangat brengsek menghianati kepercayaan Nara yang tidak pernah sekalipun di berikannya untuk orang lain. Lalu ia harus bagaimana jika segalanya sudah terjadi? 

 

"Ra_" ucap Dilon terputus, saat Nara mengangkat sebelah tangannya. 

 

 "Gak ada yang perlu kita bicarain lagi, Dilon. Gue sibuk." setelah mengatakan itu, Nara benar-benar meninggalkan Dilon yang tetap bergeming di tempatnya, menatap nanar punggung yang dulu.. Sering bersandar di lengannya setiap kali main Game.

 

Ah.. Dilon benar-benar kehilangannya huh? Haha lucu sekali, jika ia berfikir mereka bisa kembali seperti dulu. Ya, dulu.. Sebelum ia membuat Nara mati rasa. 

**

Jovan sedang merokok di balik pohon besar di halaman belakang kampus. Dia bukan perokok aktif. Jovan hanya sesekali merokok untuk menghilangkan stres nya. Seperti saat ia selalu merasa sendiri dan jauh dari kasih sayang keluarga nya. 

 

Jovan memang orang berada. Bahkan bisa di katakan jika Jovan berasal dari keluarga terpandang. Namun hal itu tidak membuatnya merasa senang. Ia bahkan sering kali berfikir jika ia ingin menjadi orang biasa saja agar bisa hidup damai dengan keluarga nya tanpa terhalang urusan bisnis.

 

Ya.. Jovan selalu merasa kesepian. Apalagi dia hanya anak tunggal. Tidak ada tempat berbagi baginya.

 

Suara isakan tertahan membuat Jovan mematikan rokok nya, melihat sekelilingnya dan menemukan Nara tak jauh dari tempat nya berada. Jovan berdiri. Menghampiri Nara yang terlihat kacau.

 

Setelah pertemuan nya dengan Dilon tadi, Nara memang berlari menuju halaman belakang kampus. Ia berjongkok dengan menahan isakannya. Ia tidak mau orang lain mendengar kesakitanya, karena ia tidak ingin di anggap lemah. 

 

Usapan lembut di kepalanya membuat Nara mendonggak. Ia melihat Jovan berjongkok mensejajarkan tinggi mereka. Jovan hanya diam menatapnya. Nara menggigit bibir bawahnya dengan mata berkaca-kaca .

 

"Gue gak pa-pa.." lirihnya menatap Jovan sendu. Jovan tidak menjawab, meraih kepala Nara dan mendekapnya.

 

Nara mencengkram baju Jovan erat. Berulang kali membisikkan kata 'Gue gak pa-pa' untuk meyakinkan dirinya sendiri dengan masih menahan tangis. Jovan memejam kan mata. Ia tidak rela, sangat tidak rela melihat Nara terpuruk seperti ini. Siapapun yang menyakiti nya, Jovan akan membalasnya. Siapapun itu termasuk dirinya sendiri.

 

Jovan mengelusi sisi kepalanya lembut.

 

"Lepasin semua yang ada di pikiran lo. Menangislah kalau itu bikin lo lega, tapi janji sama gue.. Setelah ini, Jangan biarin air mata lo terbuang sia-sia buat orang yang emang gak sepantasnya lo tangisin."

 

"Gue.. Gak pa-pa. Gue Baik-baik aja." Jovan mendekapnya lebih erat.

 

"Gue tau. lo cewek kuat, semuanya bakal baik-baik aja."

 

Selama gue masih di samping lo, gak akan gue biarin siapapun itu buat lo serapuh ini. Lanjutnya dalam hati.

 

 

 

***

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

598 459 8
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14