Cinta tak mengenal kata Maaf dan terimakasih. 🍁

 

***

 

Nara memekik senang saat meluncur di perosotan air. Kolam renang di city park Memang luas dan memiliki fasilitas lengkap. Jovan setia mengikuti kemauan Nara tanpa membantahnya sekalipun. Karna memang inilah tujuannya, membuat Nara merasa kan kebebasan juga kesenangannya sendiri. 

 

Setelah puas bermain air. Mereka menuju rolecoster saat sudah selesai menganti pakaian mereka. Nara tidak akan menanyakan dari mana Jovan bisa mendapatkan baju ganti mereka. Yang jelas, ia hanya akan menikmati hari ini. Dia tidak mau pusing dan berdebat dengan Jovan. Untuk sehari ini saja, Nara tidak akan mendebatnya, dan syukurnya lagi, Jovan memang tidak membantah satupun keinginan nya hari ini. 

 

"Ayo buruan, udah mau jalan tuh." ucap Nara mengandeng tangan Jovan menuju tempat duduk mereka. Jovan tersenyum samar mengacak rambut Nara sekilas. 

 

"Lo gak capek Hm? Ini udah mau malem, badan lo udah banyak gerak seharian." Nara mengeleng. 

 

"Waktu kayak gini, jarang bisa gue lakuin. Untuk itu, gue mau puas-puas in," Nara menoleh, "Kalo Lo capek, lo istirahat aja. Gue bisa sendiri." 

 

Jovan mengeleng. Menarik Nara duduk dan memasangkan sabuk pengaman pada tubuhnya. Nara tersenyum senang. 

 

"Katanya capek?" 

 

"Kapan gue bilang?" baliknya tanya. 

 

Nara mencebik, "Khusus hari ini gue gak akan ndebat lo, baik kan gue." Jovan mendengkus. 

 

"Semerdeka lo aja." Nara terkekeh. Permainan di mulai. Nara memekik senang. 

 

"I'm flying. It's so happy." pekiknya saat rolecoster melaju cepat. Jovan meliriknya sekilas. Ia tersenyum kecil melihat binar kesenangan di matanya. 

 

Setelah turun. Nara sedikit merasa pusing. Jovan terkekeh membantunya berdiri. 

 

"Tadi aja teriak-teriak gak jelas. Sekarang kepusingan." Nara tersenyum kecil, berpegangan pada lengan Jovan. 

 

"Udah gue bilang khusus hari ini, gue gak akan debat sama lo." Jovan tersenyum geli, menggiring Nara dengan memegang kedua pundak nya menuntun. 

 

Mereka duduk berhadapan di taman. Nara menyenderkan kepalanya di pundak Jovan. Jovan mengelusi sisi kepalanya. 

 

"Pusing banget?" Nara mengeleng. 

 

"Cuma rada keliyengan doang." 

 

Hari mulai gelap. Setelah pusingnya reda, ia kembali bersemangat. Seharian ini entah mengapa perasaannya terasa senang dan damai. Setelah mereka puas berkeliling, Jovan mengengam tangan Nara menuju air mancur di tengah taman. Nara terlihat berbinar melihat air mancur warna-warni yang mengalir bergantian di sisi melingkar air mancur. 

 

Nara melepaskan tangan Jovan mendekati air mancur. Jovan mengikuti, memperhatikan nya dari belakang. Jovan berdiri di samping Nara. 

 

"Gimana perasaan lo hari ini?" pertanyaan simple. Namun entah mengapa, Nara lebih merasa santai. 

 

"Gue gak pernah sebebas ini sebelumnya. Gue bener-bener seneng lo ngajak gue kesini." ia menoleh ke arah Jovan, "Makasih buat hari ini." 

 

Jovan tersenyum hangat. Menatap Nara lurus.

 

"Cinta gak kenal kata maaf dan terimakasih."

 

"Ha?"

 

Jovan terkekeh, "Udah pantes belom gue ngomong gitu?"

 

Entah mengapa Nara merasa sedikit kecewa. Ia segera menepis perasaan konyolnya.

 

"Kadal darat kayak lo gak cocok ngomong gitu. Jatohin citra sastra aja."

 

Jovan menepuk-nepuk rambut kepalanya, pandangannya melembut.

 

"Kalo yang gue bilang barusan itu tulus dari hati gue, apa lo percaya?"

 

Nara terdiam. Ia menunduk menatap sepatunya.

 

"Gue gak pernah percaya ketulusan seseorang. Lo tau, hati yang pernah patah gak pernah benar-benar kuat seperti yang terlihat. Dan gue, termasuk salah satunya."

 

Jovan mendonggak kan kepala Nara memaksanya untuk menatap ke arahnya.

 

"Masa lalu itu untuk pembelajaran. Bukan buat lo berhenti melihat masa depan. Masalah ada buat mendewasakan, bukan untuk membuat lo jatuh sakit dan terpuruk." Nara melepaskan tangan Jovan dari wajahnya. Ia menatap kedepan dengan pandangan kosong.

 

"Gue sadar diri kalo gue emang terlalu cuek dan judes. Gue gak nyalahin mereka yang berpaling dari gue, karna gue sadar gue gak bisa memberi sesuatu macam itu buat dia. Gue Galak selama ini cuma buat pertahanan diri. Lo pasti paham maksud gue." Jovan mengikuti Nara. Ia menatap depan dengan pandangan menerawang.

 

"Pasti berat, kan? Memang Sesulit itu untuk bertahan sendirian. Lo cewek kuat yang pernah gue kenal. Mereka yang banyak menuntut, emang udah seharusnya lo tinggalin." 

 

Nara menoleh, "Cowok macam lo juga punya pikiran semacam itu kah?"

 

"Gue emang bukan cowok baik. Tapi gue menghormati perempuan. Mereka yang tulus sama lo gak akan ada niatan untuk merusak. Karna tugas mereka buat menjaga apa yang menjadi Miliknya, kehormatan nya."

 

Jovan menghadap Nara. Mata mereka saling menumbuk.

 

"Udah masanya lo buka lembaran baru dan mulai dengan cerita yang menyenangkan. Yang lalu biarlah jadi pengalaman. Saat nya lo menata masa yang akan datang." 

 

"Caranya?" 

 

"Dengan mempersiapkan hati lo buat menerima orang baru misalnya."

 

Setelah itu mereka saling diam, terjebak hening.

 

"Gue anter lo pulang. Besok ada janji temu sama direktorat kan?" Nara berkedip.

 

"Lo tau?" Jovan tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis sembari menarik tangan Nara untuk pulang

 

Di dalam mobil mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Nara terlihat berfikir mengenai segala yang Jovan tunjukan seharian ini. Sadar atau tidak, Nara sedikit merasakan jika Jovan memang mengenalnya lebih jauh dari yang ia kira. Entah apa yang sebenarnya terjadi namun dia merasa aman jika bersama Jovan.

 

Haruskah ia menolak perasaan nya? Merasa lelah. Nara menutup matanya sebentar. Rasa kantuk menyerangnya.

 

Sesampainya di depan gedung apartemen Nara. Jovan melihat Nara terlelap. Ia tidak tega membangunkan nya, tapi ini sudah malam. Sudah saatnya Nara untuk beristirahat. Jovan menepuk pelan pipinya. Nara mengeliat namun merasa malas untuk membuka mata. Jovan turun dan membuka pintu samping kemudi.

 

Jovan mengendongnya masuk. Sepi. Waktu sudah menunjukkan jam setengah sebelas malam. Sudah di pastikan suasana malam memang terasa sunyi.

 

Setelah sampai di depan pintu apartemen Nara, Jovan meletakkan Nara di bawah, ia mencari cartu card dalam tas Nara. Nara yang mengantuk berat hanya meletakkan kepalanya di pundak Jovan. Setelah dapat, ia mengambil cartu card milik Nara untuk membuka pintu. Pintu terbuka. Jovan mengendongnya lagi, melengang masuk. Ia terlihat memperhatikan sekitar. Jika di pikir, Ini pertama kalinya ia masuk dalam apartemen Nara. Apartemen milik Nara tidak besar namun juga tidak kecil. Untuk ukuran dirinya sendiri. Ini sudah termasuk luas dan rapi.

 

Yang mana kamar dia ya? Batin Jovan melihat dua pintu kamar.

 

Ia membuka pintu bercat hitam. Dan benar, itu kamar Nara. Jovan meletakkan Nara dengan hati-hati. Melepaskan sepatu Nara kemudian menyelimuti nya sampai leher. Jovan mengelus sisi kepala Nara pelan.

 

"Gak ada yang gak gue tau dari lo Nara Sidzkia. Gue mengenal lo lebih dari diri lo sendiri." bisiknya mengecup singkat kening Nara. Ia tersenyum tulus, menatapnya lama kemudian berlalu pergi.

 

 

***

 

Jadilah Reader yang baik Dan dukung penulis dengan Klik tanda πŸ‘ jika anda menyukai karya saya😊. Terima kasih dan selamat membaca😊..

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

720 541 8
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9