Apapun yang sudah berada di tangganku tidak akan mudah untuk aku lepas, 

Cinta itu ada bukan oleh apa yang dikatakan nya melainkan oleh sikap dan perbuatan nya. 🍁

 

***

Nara duduk di tepi ranjang. Pagi Yang menyebalkan untuknya harus bangun pagi namun bukan untuk kerja atau ngampus. Ia masih menimang keputusan yang akan ia ambil. Berulang kali mengecek jam pada ponselnya.

 

"Pergi gak ya? Gue males sebenernya, tapi gimana sama mobil gue.."lirih Nara mengaruk kepala tidak gatal. Sebenarnya ia malas, namun bagaimana dengan mobilnya? Jovan tidak pernah main-main dengan perkataan nya. Lalu dia harus apa?

 

Nara menghembuskan napas panjang. Ia berdiri merapikan sedikit rambutnya lalu keluar kamar dengan menenteng jaket bomber nya.

 

'Gue harus pergi. Gue gak rela kalo mobil jerih payah gue ilang di tangan si lucifer itu.' batinnya.

 

Nara menghentikan taksi dan menyebutkan alamat tujuannya. Waktu menunjukkan pukul 8.30 itu artinya, Nara hanya memiliki waktu tigapuluh menit dari waktu yang di tentukan Jovan.

 

Sesampainya di city park. Nara melihat sekelilingnya untuk mencari Jovan. Namun nihil, tidak ada tanda-tanda keberadaan Jovan di sana. Nara mengambil ponselnya menghubungi Jovan.

 

"Lo dimana? Gue udah sampe. " tanya Nara saat panggilan tersambung. Jovan yang berdiri tak jauh darinya mulai berjalan mendekat.

 

"Lo telat." balas Jovan tanpa menjawab pertanyaan Nara. Nara mendengkus. Melihat jam pada pergelangan tangannya.

 

"Gue cuma telat empat menit. Jangan memperpanjang masalah deh lo." gerutu Nara kesal. Jovan menurunkan ponselnya saat sampai di belakang Nara. Memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.

 

"Jangankan empat menit, satu detik aja kalo telat ya tetep aja telat." ucap Jovan membuat Nara langsung membalikkan badan. Nara mendelik memutuskan panggilan mereka.

 

"Gak usah lebay. Jadi mana mobil gue." balas Nara mengulurkan tangan. Jovan berjalan memasuki city park meninggalkan Nara di belakang. Nara berdecak dan mengikutinya. Menarik tangan Jovan untuk berhenti.

 

"Gue udah ikutin mau lo, jadi balikin mobil gue sekarang." Jovan menaikkan sebelah alisnya.

 

"Tapi lo telat. Remember.. "

 

Nara mengeram. "Gue gak mau tau. Yang penting gue udah mau ikutin mau lo, dan perlu gue tegasin, kalo gue cuma telat empat menit. Empat menit Jovan Arion, Demi Tuhan lo bikin gue kesel pagi-pagi."

 

Jovan mengendik, "Itu karna lo gak disiplin waktu. Selagi gue baik hati, gue kasih lo penawaran, mau?"

 

"Penawaran apa lagi?! Gue gak mau."

 

"Ya udah kalo gak mau, gih pulang sana. Dadah.." ucapnya berbalik. Nara mengepalkan kedua tanganya.

 

"Oke. Sebutin apa penawaran lo?!"

 

Nara menyerah. Ia sudah sampai sini, ia tidak akan kembali tanpa mobilnya.

 

Jovan tersenyum samar. Berbalik menghadap Nara.

 

"Mudah aja. Cukup temenin gue seharian di sini. Dan gue bakal nganterin mobil lo sekarang." Nara mengernyit.

 

"Lo ngajak gue ngedate heh?" Jovan tersenyum miring.

 

"Gue cuma nyuruh lo nemenin gue seharian, tapi kalo Lo mau nganggep kita dating gue gak masalah." balasnya mengulum senyum. Nara memejam kan matanya kesal.

 

Malu. Itulah yang di rasakan nara saat ini. Tak mau menunggu lama, Jovan berjalan mendahului. Nara masih menimang, saat Jovan semakin menjauh Nara berlari mengejarnya.

 

"Tunguin gue." ucap Nara berlari kecil menyamakan langkahnya. Jovan tersenyum kecil tanpa menoleh. Ia meraih ponselnya menghubungi seseorang.

 

"Sudah sampai?"

 

"Sudah Tuan, saya telah mengantarkan pada alamat yang anda perintahkan." Jovan mengangguk.

 

"Aku sudah mengirimkan bonusmu."

 

"Terimakasih banyak Tuan, padahal itu memang tugas saya. Tidak seharusnya anda berlebihan." jawab seseorang di sebrang sana.

 

"Tidak masalah. Hanya ingin." ucap Jovan menutup telepon. Nara mengernyit.

 

"Siapa?"

 

"Orang suruhanku." Nara berdecak.

 

"Bukan itu maksud gue, apa yang udah sampe?" Jovan meliriknya sekilas.

 

"Mobil lo. Gue udah anter sampe apartemen lo dengan selamat. See, gue nepatin janji gue kan?"

 

Nara menghentikan langkah, ia memicing menatap Jovan menelisik.

 

"Lo ngerjain gue?!" Jovan terkekeh, mengapit leher Nara membawanya masuk. Nara berdecak.

 

"Lepas in gue. Lo ngambil kesempatan dalam kesempitan kan? Lepas. Gue mau pulang!" rontanya dalam dekapan Jovan. Jovan tersenyum geli.

 

"Lo inget apa yang gue bilang kemaren?" Nara menaikkan sebelah alisnya.

 

"Apa yang udah ada di tangan gue, gak mudah buat gue lepas. Apapun itu, termasuk lo."

 

Kalah tenaga. Nara akhirnya pasrah. Ia hanya mengikuti kemana arah Jovan membawanya pergi. Lapar. Perut Nara berbunyi, ia memang tidak sarapan tadi. Cacing nya pasti demo.

 

Jovan meliriknya, Nara terlihat menahan malu dengan memalingkan wajahnya. Jovan membawanya ke resto dekat danau buatan di dalam kawasan city Park ini. Ya, city park yang Mereka kunjungi adalah taman rekreasi dan tempat untuk bermain. Sebenarnya bukan tanpa sebab Jovan memilih tempat ini, Dia hanya ingin membuat kesan jalan mereka tidak monoton dan ingin membuat Nara merasakan hawa bebas dari pekerjaan nya setahun ini.

 

Ya, Jovan sering memperhatikan Nara dari jauh. Sudah pernah di katakan bukan, jika Jovan hanya menyimpan perasaan nya sendirian. Ia bertindak sebagai pengagum rahasia yang melindunginya dari jauh. Ia sangat tau, jika selama ini, Nara hanya berfokus pada pekerjaan nya. Ia bahkan tidak pernah pergi berlibur kecuali paksaan dari para sahabatnya.

 

Mereka duduk berhadapan. Jovan memangil waiter dan terlihat memilih berbagai menu yang tersedia di sana. Nara masih diam. Ia malu untuk memulai percakapan setelah di pastikan Jovan mendengar perutnya berbunyi.

 

"Saya pesan omelet keju, pancake buah, tuna wrap sama dua orange jus." ucap Jovan menutup menu. Waiter itu mengangguk kemudian berlalu.

 

Nara berkedip dua kali. Dia tidak salah dengar kan? Semua yang di pesan Jovan adalah makanan kesukaan Nara untuk sarapan. Tapi, Jovan tau dari mana makanan kesukaan nya? Tidak ingin besar kepala, Nara berfikir mungkin saja Jovan juga menyukainya. Selera orang kan siapa yang tau. 

 

"Ngapain begong?"

 

"Lo gak nanyain gue mau makan apa?" Jovan menatapnya lurus.

 

"Apa yang gue sebutin tadi masih kurang? Itu kesukaan lo kan?" Nara mengerjap. Jadi benar Jovan tahu makanan kesukaan nya? Bahkan ia memesan seolah tahu kebiasaan Nara tiap harinya.

 

"Lo tau dari mana?" Jovan mengendik.

 

"Nebak aja." Nara mendengkus. Memangnya dia bodoh bisa di bohongi dengan kalimat tidak masuk akal darinya.

 

Konyol! Pikirnya.

*

Bayu menyusuri lorong kampus. Untuk melepaskan penat, ia memutuskan untuk tidur di atas balkon kampus di hamalan belakang. Baru beberapa langkah, ia terkejut melihat seseorang lebih dulu tertidur di sofa panjang yang ia letakkan di dekat tangga darurat. Bayu mendekat melihat seseorang yang ia kenal. Perlahan senyumnya terbit. 

 

Menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik gadis di depannya. Ia mengamati pahatan wajah sempurna milik gadis itu. Ia baru menyadari jika ia terlihat lebih manis, bulu mata lentiknya, bibir merah mudanya dan hidung kecil mancungnya terlihat pas pada wajahnya yang seperti keturunan blasteran.

 

Ah.. Sejak kapan Bayu merasa kagum dan tertarik pada seorang perempuan? Sepertinya tidak pernah. 

 

Perlahan mata lentiknya mengerjap. Ia tersentak melihat wajah seorang laki-laki berada dekat dengan wajahnya. Dengan refleks, ia mendorong tubuh tegap Bayu sampai sang empunya jatuh terduduk. Karena tidak siap, Bayu meringis saat pantatnya mencium lantai. Bayu berdiri hendak mendekat. Namun suara cicitan membuatnya mengurung kan niatnya. 

 

"Jangan mendekat, atau gue bakal teriak! " sentak gadis itu yang terdengar seperti bisikan. Matanya berkaca-kaca, tubuhnya gemetar. Ia beringsut jongkok di bawah sofa dengan memeluk tubuhnya sendiri. 

 

"Gue gak ada niat jahat sama lo, percaya sama gue. Nih, buktinya gue mundur. " ucap Bayu memundurkan langkah. 

 

Air mata yang di tahannya keluar tanpa bisa ia cegah. Mata sembab itu menatapnya kosong. 

 

"Mahkluk jenis kalian itu nakutin, dan bikin gue jijik. Kalian buas kayak binatang, bahkan terlihat menjijikan dari kotoran." cicitnya menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya. 

 

Bayu terpengarah. Barusan dia bilang apa? 

 

Binatang? 

 

Menjijikan heh? 

 

Astaga.. Bayu mengeram tertahan, Antara kesal dan kasihan.

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

725 536 9
Will Gates

Will Gates

By wishtobefairy

445 330 6
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Embun dan Bulan Dalam Hidupku

Embun dan Bulan Dalam Hidupku

By nuruldaulay

472 361 4
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Hati dan Perasaan

Hati dan Perasaan

By YufegiDinasti

600 459 8