Carilah seseorang yang berbeda pendapat denganmu, seseorang yang bisa kamu ajak bertengkar setiap hari. Karena jika sudah nyaman tidak akan membuat mudah bosan. 🍁

 

***

 

"Saya sudah menemukan apa yang anda perintahkan Tuan, selanjutnya bagaimana?"

 

Jovan berjalan santai melewati lorong rumah sakit yang sepi, dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana membuat pesona nya semakin terlihat. Bibirnya membentuk seringaian.

 

"Kamu sudah jelas tau apa yang harus kamu lakukan. Untuk itu, aku menyerahkan semuanya pada kalian. Tangani sampai tuntas. Jangan mengecewakan ku." ucap Jovan rendah lalu memutuskan panggilan sepihak. Meski ia mengucapkan dengan aksen santai, siapapun yang melihat seringaian di wajahnya pasti berkata lain. 

 

Diam nya menakutkan, Tenang nya lebih berbahaya dari singa sungguhan.

 

Ya, Jovan akan berubah menjadi lucifer menakutkan jika bersangkutan dengan apa yang membuatnya terganggu. Karena ia merasa harus melindungi miliknya. Apapun itu.

 

Rea membuntuti Nara kemanapun. Merengek meminta penjelasan mengenai keberangkatannya pagi tadi. Nara sudah menjelaskan jika saat ia tengah menunggu taksi, dengan kebetulan Jovan melewati nya dan memberikan ia tumpangan. Namun dengan keras kepala nya, Rea tetap menuntut penjelasan secara rinci mengenai bagaimana Jovan menawarka tumpangan. Hah.. Apa itu tidak keterlaluan? Berulang kali Nara menghembuskan napas panjang namun Rea tetaplah Rea, si gadis keras kepala yang tidak akan berhenti jika tidak mendapatkan apa yang ia mau. 

 

Satu kata untuknya.. Batu. Nara berhenti membuat Rea juga turut menghentikan langkahnya. Nara menatapnya jengah. 

 

"Lo gak ada kerjaan sampe ngintilin gue mulu, heh?" Rea nyengir. Menarik sebelah tangan Nara dan mengapitnyanya. 

 

"Lo jelas tau gimana biar gue gak ngintilin lo lagi, kan?" Nara berdecak. 

 

"Mau lo tanya seribu kalipun, jawabannya tetep sama Re. Gue sama Jovan gak ada apa-apa. Kita cuma sebatas kenal dan kebetulan satu kampus. Gak lebih." jelas Nara mencoba membuat Rea mengerti. 

 

"Nah kan, lo aja panggil dia cuma pake nama tanpa embel-embel kak atau pak, gimana gue gak curiga kalo kalian gak ada hubungan lebih coba?" Nara memejam kan mata. 

 

"Ya karna kita udah kenal dan dari awal gue emang gak pernah manggil dia pake kak atau pun pak, meskipun dia pemilik rumah sakit ini, itu gak bisa ngrerubah yang udah jadi kebiasaan Re." jelas Nara gemas. 

 

Lagian, memang nya apa yang bisa di harapkan dari mereka? Setiap pertemuan mereka, Nara selalu di buat kesal oleh Jovan. Bahkan lebih bisa di katakan mereka itu seperti Tom and Jerry yang tidak pernah akur.

 

Rea manyun."Intinya Gue gak percaya." Nara menghela napas, ia menyerah. Rea benar-benar membuatnya sakit kepala. 

 

"Terserah Re, serah lo aja maunya gimana." ucap Nara pasrah. 

 

"Mangkanya jelasin biar gue bisa_" ucap Rea terputus saat melihat orang yang menjadi objek pembicaraan mereka berdiri di belakang Nara. Nara mengernyit melihat Rea tiba-tiba diam. Ia menoleh ke belakang mengikuti arah pandang Rea. Seketika wajahnya muram. 

 

Jovan tersenyum miring melihat Nara. Jika orang lain menganggap senyum miring cowok itu membuatnya smakin terlihat Tampan, beda dengan Nara yang mengartikan jika senyum yang di tunjukannya itu adalah pertanda permusuhan mereka. 

 

"Mobil lo udah beres." ucap Jovan menunjukkan kunci mobil nya. 

 

Ya, Jovan meminta kunci mobil nara untuk bisa di isi bensin saat ia sudah mengantarkan Nara sampai rumah sakit. 

 

Nara hendak mengambilnya, dengan cepat Jovan menariknya kembali. Nara berdecak. Menatap Jovan tidak suka. 

 

"Balikin kunci mobil gue." pinta Nara mengulurkan tangan. Jovan menaikkan sebelah alisnya. 

 

"Apa menurut lo gue bakal balikin semundah itu? Apa yang udah di tangan gue, gak mudah gue lepas." Nara melotot. 

 

"Tapi itu mobil gue!" jovan mengangguk. Ia tersenyum miring. 

 

"Gue tau, lagian gue gak mau ngakuin yang bukan milik gue. Mobil lo bahkan gak ada separuhnya dari mobil gue, apa yang bisa gue lakuin sama mobil butut lo?" 

 

Si songong ini.. 

 

Nara mengeram. Mengapa Jovan selalu menghinanya? Bahkan mobil yang di pakai Nara adalah mobil keluaran terbaru. Tapi jovan masih saja menghinanya huh? Benar-benar songong. 

 

"Terus mau lo apa kalo mobil gue gak sebagus dan semahal mobil lo? Mau pamer atau apa?!" 

 

"Kenapa lo selalu marah-marah kalo ngomong sama gue?" 

 

Karna lo gak bisa di ajak ngomong baik-baik setan! 

 

"Padahal gue cuma ngomong fakta loh, masih aja salah di mata lo." lanjutnya dengan wajah polosnya. Nara memjamkan mata. Jika ia sedang berada dalam perfilman, sudah pasti kedua kupingnya akan menguap. Kesabaranya sudah sampai di ubun-ubun. 

 

"Serah lo setan!" desis Nara kesal. 

 

Jovan terkekeh, membuat Nara kesal memang sudah menjadi salah satu hobinya. Entah mengapa ia selalu merasa senang jika sudah membuat Nara marah. Itu menjadi hiburan tersendiri bagi Jovan.

 

Nara kembali mengulurkan tangannya," Cepet balikin. Gue sibuk. Debat sama lo cuma bikin waktu gue terbuang sia-sia."

 

"Yah, padahal gue masih mau main-main, tapi berhubung gue lagi baik, nih, gue balikin." ucap Jovan meletakkan kunci di tangan Nara dan mengengam tangan Nara erat. Nara berusaha menarik tangannya namun susah.

 

"Lepas in tangan gue." pinta Nara mendelik garang. Jovan tersenyum kecil, menarik tangan Nara mempertipis jarak mereka. Belum sempat Nara menyumpah serapahinya, Jovan sudah lebih dulu membisikkan sesuatu yang membuat Nara melotot kesal.

 

"Gue udah bilang gak akan semudah itu Nara Sidzkia. Kalo Lo mau mobil lo balik, temuin gue di city park jam 9 besok pagi. Gue gak ambil resiko kalo sampe lo telat apalagi gak dateng. Pilihannya cuma satu." bisik Jovan rendah mengacak rambut Nara pelan. Kemudian berlalu dengan bersenandung melempar-tangkap kunci mobil Nara.

 

Nara mendesis, menatap punggung tegap itu menjauh dengan pandangan membunuh.

 

"Gue racuni lo lama-lama. Ah sial! Dasar lucifer brengsek!" umpatnya mengepalkan kedua tangan.

 

**

 

Nara merutuk saat lagi-lagi Jovan bertindak semaunya. Sepulang kerja, Jovan memaksa Nara untuk masuk kemobilnya dan berkata akan mengantarnya pulang. Jangan kira Nara tidak menolak, bahkan Nara sudah berupaya untuk lari dari lucifer itu, namun lagi-lagi gagal saat Jovan dengan seenaknya membopong tubuhnya menuju mobil. Ah lupakan tentang itu, hanya mengingatnya saja membuat Nara ingin sekali mencekik lelaki di sampingnya kini.

 

Sejak tadi mereka saling diam. Nara tidak berniat membuka suara. Ia sudah teramat kesal dengan Jovan hari ini.

 

Jovan meliriknya sekilas. "Marah huh?" Nara diam tak menyahut.

 

Saat berhenti di lampu merah, Jovan duduk menyamping ke arah Nara. Menarik tangan Nara untuk menatapnya. Kalah tenaga, Nara terpaksa menghadap Jovan.

 

"Gue emang suka bikin lo kesel, tapi kalo Lo diem kayak gini, gue gak bisa tenang. Gue tau lo marah, tapi jangan cuekin gue, itupun kalo Lo masih mau selamat sampe apartemen." Nara meliriknya sinis. 

 

"Apa hubungannya?"

 

Jovan kembali menatap depan saat lampu berganti hijau.

 

"Gak ada. Gue cuma gak bisa konsentrasi nyetir kalo Lo diemin gue." Nara mendengkus. 

 

"Konyol!" Jovan tidak menyahut, ia hanya terkekeh dengan tanggapan Nara.

 

Mereka kembali diam. Sesampainya di depan gedung apartemen Nara. Jovan melirik Nara yang sibuk membuka sea belt. Saat hendak keluar Jovan menahan lenganya. Nara menoleh.

 

"Apa?"

 

"Gue tau gue pemaksa, tapi gue bakal ngerasa gagal kalo sampe lo kenapa-napa."

 

Nara mengerjap. Menatap Jovan tidak mengerti. Jovan menyentil keningnya pelan.

 

"Sakit Pe'a!" 

 

Jovan tersenyum miring, "Turun, Atau lo mau gue gendong Hm?"

 

Nara mendelik. "Jangan coba-coba sentuh gue lagi!" sentaknya galak, turun dan menutup pintu mobil Jovan keras.

 

"Pelan-pelan Woi! Mobil mahal ini." Nara tersenyum miring. 

 

"Bodo amat." ucapnya menggerakkan bibirnya tanpa suara, sembari menjulurkan lidahnya mengejek. Kemudian berlalu pergi.

 

Nara memelankan langkahnya saat mendengar deru mobil Jovan pergi. Ia berbalik melihat mobil Jovan menjauh. Sebenernya apa yang mau lo tunjukin Jovan? Kenapa lo bersikap manis dan menjengkelkan di waktu yang bersamaan, Lo bikin gue bingung. Tanyanya dalam hati.

 

 

 

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

Dalam Genggaman Doltar

Dalam Genggaman Doltar

By FU

699 519 8
Anne

Anne's Tansy

By murphy

875 557 9
THROUGH YOU

THROUGH YOU

By raissa2606

587 458 14
Between Clouds and Tears

Between Clouds and Tears

By Zahrahardian

480 388 6
Heart To Heart

Heart To Heart

By DeeDee

723 534 9
Rahasia Kita

Rahasia Kita

By febyolanda13

1K+ 768 13