Caraku menarik perhatianmu memang berbeda bahkan terlihat menjengkelkan, tapi percayalah.. Tidak ada yang membuatku melakukan hal itu selain dirimu. 🍁

 

***

 

Kesiangan. Nara berdecak, berulang kali mengecek jarum jam pada pergelangan tangannya. Mengoleskan lip balm pada bibir nya dan langsung menarik tasnya kasar keluar kamar. Aqila sudah kembali ke rumahnya kemarin sore. Dan kini, Nara kembali pada rutinitas nya tanpa Aqila. 

 

Ya, jika ada Aqila, ia pasti tidak akan repot untuk membuat susu ataupun membuat sarapan. Aqila tergolong orang yang rajin bangun pagi. Nara mengambil selembar roti dan memakannya sembari keluar apartemen. 

 

Pagi ini dia ada konsultan dengan salah satu pasiennya, Nara yakin jika Rea akan mengomel karena membuat dia lagi-lagi harus menggantikan Nara. Ya, Rea adalah rekan kerja Nara, terkadang dia juga sering menggantikan Nara jika Nara tidak bisa hadir. Baru saja di katakan, Rea sudah menghubungi nya. Nara mengangkat nya sembari menyetir. 

 

"Telat lagi Nara Sidzkia, apalagi sekarang heh? Kasih gue alasan yang masuk akal." sembur Rea mencerca. 

 

"Gue telat bangun beb. Alarm gue rusak kayaknya." Rea berdecak, 

 

"Sejak kapan lo punya alarm? Lo kira gue gak tau kalo di kamar lo bahkan gak ada jam dinding." Nara meringis. Rea tahu sejeli itukah? Bahkan ia saja tidak ingat jika dia tidak memiliki jam dinding di kamarnya. 

 

"Pak darman Jadi konsul sama lo?" tanya Nara mengalihkan. 

 

Rea menghela napas, "Iya, tapi ya gitu, dia cuma nganguk sama geleng-geleng kalo di tanya. Dia pernah cerita sama lo apa yang buat dia kayak gak punya daya hidup gitu? Gue kasian ngeliatnya. " Nara menghela napas panjang, pikirannya menerawang. 

 

"Dulunya dia sama sang istri punya komitmen buat tinggal di desa yang banyak pepohonan. Tapi suatu malam pak darman nyari istrinya yang ngilang dan ketemu. Lo tau apa yang dia lihat waktu nemuin istri nya?" Rea mengeleng. Meski Nara tidak melihat, dia tahu Rea juga turut merasa penasaran. 

 

"Dia ngeliat istrinya pingsan dengan keadaan bajunya yang koyak. Dia di perkosa sama salah satu orang desa sana dan akhirnya depresi. Karna dia ngerasa kotor dan gak bisa jaga dirinya sendiri, akhirnya dia bunuh diri minum obat-obatan dosis tinggi. Lo tau, Akibat di tinggalkan orang yang paling berharga itu jauh lebih buruk dari yang kita pikir. " Rea terdiam. Sekarang ia tahu masalahnya. 

 

Di pertengahan jalan, mobil Nara berhenti. Sial! Nara merutuk saat melihat bensin nya habis. Karena terburu-buru dia sampai tidak memperhatikan bahan bakarnya. 

 

"Udah sampe mana lo?" Nara mengerutu sembari keluar dari mobilnya. 

 

"Bentar lagi sampe, tapi sialnya mobil gue abis bensin. Lo bisa jemput gue gak?" 

 

"Yah, gue gak bawa mobil beb. Di anter Dafa tadi." Nara memejam kan mata kesal.

 

Suara klakson membuat Nara tersentak kaget. Ia melotot saat kaca mobil diturunkan.

 

"Kenapa sama mobil lo?" 

 

Nara melirik sinis, "Bukan urusan lo!" Rea mengernyit. 

 

"Apa deh Ra, gaje lo." Nara menjauhkan ponselnya. Ia lupa masih bertelfonan dengan Rea. 

 

"Gue tutup ya, bye." ucap Nara memutuskan panggilan sepihak. 

 

Jovan melihat jam tangannya. Ia melirik Nara sekilas. 

 

"Udah setengah sepuluh, lo gak kerja?" Nara mencebik. 

 

"Mobil gue abis bensin." 

 

"Miskin sih, mau bareng gak? Gini-gini gue dermawan loh," tawar Jovan tersenyum mengejek. 

 

Nara mendelik kesal. Hari ini dia benar-benar sial. Sudah terlambat, bertemu dengan makhluk Astral macam Jovan Arion. Wah, benar-benar kesialan haqiqi. 

 

"Gue bisa naik taksi." ucap Nara melihat sekelilingnya. 

 

Jovan turun dari mobil nya, menghampiri Nara yang tengah memberengut. Menarik tangan Nara menuntunya masuk ke mobil nya. Nara melotot, mencoba menghempaskan tangan Jovan darinya, tapi apa daya jika sikunya masih terasa nyeri jika banyak bergerak. 

 

"Gue bilang gue bisa naik taksi." Jovan tidak mendengarkannya. Memaksa Nara untuk masuk dan menutup pintu mobil nya. Nara meliriknya sinis. 

 

"Dasar pemaksa." 

 

"Gue terlalu baik hati masalahnya." 

 

Nara memutar bola matanya jengah, "Selain sombong dan pemaksa, tingkat kepedean lo udah akut kayaknya." Jovan tersenyum miring. 

 

"Cuma sama lo doang." 

 

"Ha?" 

**

Bayu melihat Reza bergandengan tangan dengan seorang gadis. Bayu mendekatinya. 

 

"Weh bro. Siapa nih, pacar lo ya?" tanya Bayu melirik gadis bersama Reza yang diam menunduk. Reza tersenyum kecil. 

 

"Bukan. Kenalin, namanya Audy, adek gue." jawab Reza memperkenalkan. Bayu bersiul. 

 

"Sejak kapan lo punya adek manis gini, lo sembunyiin di mana kemaren-kemaren?" Reza tertawa pelan. Gadis yang ia ketahui namanya Audy itu tetap menunduk sembari memilin jemari tangannya. Ia terlihat tidak nyaman. 

 

"Kinan gak pernah cerita sama kalian?" tanya Reza. Jovan mengeleng. 

 

"Lo tau sendiri kalo Kinan itu bukan biang gosip. Masalah dia sendiri aja di Males cerita apalagi ngomongin orang." jawab Bayu tersenyum geli. Reza mengangguk. 

 

Kinan memang tidak suka menceritakan sesuatu pada orang lain, tapi minus dengan Gavin. Entah mengapa mereka tidak pernah mempermasalahkan sesuatu dan menganggap jika apapun yang mereka lakukan hanyalah untuk saling mengerti, Dan bukan sebagai permasalahan. Well, itu sebabnya mereka dengan pasti memutuskan untuk menikah di usia yang terbilang muda.

 

Bayu mengulurkan tangannya ke arah Audy. Refleks. Audy menepisnya kasar beringsut di balik tubuh tegap Reza. Bayu mengerutkan dahi. Reza tersenyum bersalah. 

 

"Sori, Audy arrhenphobia. Dia takut berdekatan ataupun di deketin laki-laki." Bayu tersenyum cangung. Mengaruk kepalanya.

 

"Gue yang harusnya minta maaf, sorry gue bener-bener gak tau tentang itu." Reza mengangguk. Meilirik Audy yang masih mencengkram erat bajunya. Reza mengelus tangan Audy lembut.

 

 

"Inget sama janji kamu, katanya mau belajar adaptasi, kok masih kayak kura-kura gini." Audy mengeleng. 

 

"Inget kok, Dy cuma masih belom terbiasa aja." jawab Audy pelan yang bahkan terdengar seperti bisikan.

 

Bayu melihat Audy dengan pandangan yang sulit di artikan. Reza mengacak rambut Audy pelan.

 

"Kalo kamu beneran mau berubah, kenalan sama temen nya abang coba.." pinta Reza menarik Audy kesamping. Audy semakin menundukkan kepalanya. 

 

Bayu mendekat, kembali mengulurkan tangannya. Mereka terlihat menunggu Audy memulainya. Lama tangan Bayu mengantung, terdengar isak tangis tertahan. Audy berjongkok, terisak menutup wajah dengan kedua tangannya. Reza langsung meraih tubuh Audy dan memeluknya. Membisikkan Audy dengan kalimat-kalimat menenangkan.

 

Bayu mundur dua langkah.

 

"Gue minta maaf. Gak seharusnya gue mendekat. Sekali lagi maaf." Reza menatapnya bersalah.

 

 

"Maafin Audy juga ya, gue tau lo pasti kaget liat reaksi Audy." Bayu mengeleng. Ia tersenyum maklum.

 

"Gue udah terbiasa sama sikap ataupun penyakit aneh dari para sahabat gue, lo ngerti maksud gue kan? Hal kayak gini bukan masalah besar." Audy mendengarnya. Namun ia terlalu takut untuk melihat wajah Bayu.

 

Reza berdiri. Masih dengan mendekap Audy ia melirik Bayu sekilas.

 

"Gue paham. Kalo gitu kita duluan ya, Audy butuh waktu buat sendiri." Bayu mengangguk. Mereka berlalu dari hadapan Bayu. Audy mengintip Bayu dari balik tubuh tegap Reza dan saat mata mereka bertemu, Audy dengan cepat menyembunyikan wajahnya. Bayu tersenyum tipis.

 

Lucu. Batinnya.

 

Previous <<
Next >>
How do you feel about this chapter?
0 0 0 0 0 0
 
Save story

atinnuratikah
2019-12-09 15:12:40

Wah seru banget ceritanya, brasa gak mau berenti baca. Berkunjung juga ke ceritaku ya.
Mention


yurriansan
2019-08-05 22:10:19

@R_Quellaiyaa. kalau sempat mampir ya, ceritaku yang jdulnya Story About Three Boys and A man. 😊
Mention


R_Quella
2019-08-05 20:51:24

@yurriansan makasih atas saran dan kritiknya☺️
Mention


yurriansan
2019-08-05 16:48:57

gemes ya. Naranya galak di kelilingin temen2 yang super absurd :D.
nice story.
tapi kalau aku boleh kasih masukan. tokoh utama cewk psikiatr 'kan? nah sethuku bahasa mereka itu tertata rapi, dan hampir nihil menggunakan bahasa kasar apalagi psikolog.
jadi, supaya ceritanya lebih 'real' mungkin dilaognya nara, bisa lebih diperhalus.
itu cuma masukan aja sih, :D. aku juga masih belajar dalam menulis novel, boleh kasih saran juga ke ceritaku. semoga bermanfaat ya..

Mention


Page 1 of 1 (4 Comments)

Recommended Stories

IP 3.98 Minus

IP 3.98 Minus

By najwaania

722 543 8
Puisi, Untuk...

Puisi, Untuk...

By pepentha

6K+ 1K+ 9
Anne

Anne's Pansies

By murphy

1K+ 852 8
Kubikel

Kubikel

By rickqman

1K+ 897 15
Boy Who Broke in My Window

Boy Who Broke in My Window

By DeeDee

3K+ 1K+ 11
KENIKMATAN KURSI

KENIKMATAN KURSI

By Dhani

286 228 3